The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tinggal Bersama (bagian empat)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


 


 


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


 


 


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


 


 


SELAMAT MEMBACA


 


 


✴✴✴


 


 


“Selamat pagi,” ucap Yuna, canggung.


Gadis kecil itu pun dengan langkah cepat melewati ayah dan ibunya, Yuna memilih menghindar dan pergi menuju ruang makan lebih dulu.


Sedangkan Yusen, ia tentu saja curiga karena merasa aneh dengan sikap saudari kembarnya itu.


Yusen pun menghela napasnya, ia kemudian pergi mengikuti langkah Yuna yang sudah duduk diam di kursi makan.


Melihat kedua anaknya itu. Rose menatap ke arah Yuan. Ia geram dengan ayah dari anak-anaknya itu. Seharusnya Yuan tidak perlu keluar dari kamar, dengan begitu mereka hanya perlu merayu Yuna.


Karena Yuna masih mudah untuk di rayu dari pada Yusen yang keras kepala itu.


“Ini semua salahmu. Kalau sampai mereka marah, kau harus bertanggung jawab untuk membujuk mereka,” ujar Rose, kemudian ia pergi menuju dapur yang berada dalam satu ruangan dengan tempat makan dan ruang tamu.


Rose menatap kedua anaknya itu, “Kalian ingin sarapan apa?” tanya Rose.


“Seperti biasa saja, Ma,” jawab Yuna.


“Yusen?”


“Terserah, apa saja,” jawab Yusen.


“Baik, tunggu sebentar ya,” kata sang ibu.


“Oh iya, siang nanti Mama harus menghadiri sidang bersama klien. Kemungkinan besar, Mama tidak bisa menjemput kalian. Jadi nanti Mama pesankan taksi online untuk menjemput kalian. Tidak masalah kan?” tanya Rose, memulai percakapan.


“Biar aku saja yang menjemput mereka,” tawar Yuan yang kini ikut bergabung di meja makan itu.


Rose menoleh ke arahnya. Lalu kemudian, ia menatap kedua putra dan putrinya, Yusen dan Yuna tampak diam, tidak ada dari mereka yang berniat menyahuti tawaran Yuan.


“Itu pun kalau kalian mau,” kata Yuan kemudian.


Pria itu terlihat sedih ketika melihat dua anaknya tidak ada yang merespon tawaran yang ia berikan.


Rose menghela napas pendeknya, ia menatap ketiga orang itu bergantian.


“Duduklah, dan ikut sarapan bersama kami,” suruh Rose.


Yuan mengangguk, lalu menarik salah satu kursi di dekat Yusen, ia duduk di sana dengan canggung.


“Pukul dua belas siang,” ucap Yusen tiba-tiba.


Yuan dan Rose menoleh. Bahkan Yuna pun juga ikut menoleh ke arah pria kecil di sampingnya itu.


“Apa?” tanya Yusen.


“Bukankah Paman Yuan ingin menjemput kami? Aku hanya sedang memberitahu pukul berapa aku dan Yuna pulang sekolah, memangnya ada yang salah? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Dan kau Yuna, kenapa kau juga ikut menatapku dengan ekspresi seperti itu?” tanya Yusen pada semua orang.


“Kau setuju Papa menjemput kita?” tanya Yunara.


“Papa? Yang aku maksud itu Paman Yuan, bukan Papa,” kilah Yusen.


Rose tersenyum, ia menatap Yuan yang juga tengah tersenyum senang.


“Baik, Papa akan menjemput kalian tepat waktu. Bahkan sebelum jam dua belas siang, Papa pastikan kalau Papa sudah ada di sekolah kalian,” ujar Yuan.


“Yusen pegang janji, Paman. Jangan sampai terlambat, apalagi membuat kami menunggu. Jangan sampai itu terjadi, karena aku benci orang yang tidak bisa menepati kata-katanya,” celoteh Yusen.


Yuan mengangguk, ia menepuk pelan bahu putranya itu, “Tentu saja, ini janji sesama laki-laki,” jawab Yuan.


Yusen melirik sekilas tangan ayahnya yang menepuk bahunya itu. Samar, Yusen terlihat menyunggingkan senyuman nya. Jujur saja, Yusen menyukai cara ayah-nya melakukan tepukan ala pria itu.


“Ya sudah, ayo makan dulu, roti panggangnya sudah siap,” ujar Rose, ia meletakkan sepiring roti tawar yang sudah ia panggang beberapa menit lalu.


“Ma, Yuna mau selai kacang saja,” ujar Yuna ketika ibunya itu ingin mengoleskan selai strawberry di roti tersebut.

__ADS_1


“Eh? Tidak biasanya kau ingin selai kacang. Yakin tidak mau selai strawberry seperti biasa?” tanya Rose.


Yuna mengangguk, “Aku mau yang selai kacang,” jawab Yuna.


Rose pun mengembalikan selai strawberry itu ke tempatnya. Lalu ia mengambil selai kacang dan membuka tutupnya.


“Ini hanya tersisa sedikit. Yusen— ”


“Yusen mau yang selai strawberry,” sela Yusen.


Rose tersenyum, begitupun dengan Yuan. Hatinya merasa bangga dengan anak prianya itu. Kedua anak kembarnya itu bisa saling akur dan mengerti satu sama lain. Sungguh menyejukkan hati.


“Aku juga pakai selai strawberry saja,” sahut Yuan.


Rose beralih pandang pada pria dewasa itu, “Kau sudah besar, olesi sendiri rotimu dengan selai, kenapa harus memintaku melakukannya,” ujar Rose.


Terdengar kejam bagi Yuan. Namun, bagi anak-anaknya, itu terdengar sangat lucu. Yusen pun tanpa sadar mengulum bibirnya, ia menahan tawa yang ingin meledak.


•••


“Ray,” panggil Ana pada sang suami yang tengah sibuk mengunyah makanannya.


“Hm?” Ray menatap istrinya itu sekilas. Lalu kemudian, ia kembali fokus pada sarapannya.


“Apa kau tidak ingin melihat cucu-cucu kita?” tanya Ana.


Ray lagi-lagi melakukan tatapan sekilas pada sang istri, lalu kemudian ia kembali fokus pada sarapannya lagi.


“Siapa yang tidak ingin bertemu dengan dua anak menggemaskan. Aku tentu saja sangat ingin bertemu mereka,” jawab Ray.


“Kalau begitu... bagaimana kalau kita temui mereka?” tanya Ana.


Ray meletakkan sendoknya. Kemudian, pria lanjut usia itu menyatukan kedua jari-jari tangannya. Ia menatap istirnya itu sejenak, sebelum kemudian menjawab, “Aku belum tahu dimana Rose dan anak-anaknya tinggal,” ucapnya.


“Kau kan bisa menyuruh bawahanmu untuk mencarinya,” sahut Ana.


“Kalau memang semudah itu, dari dulu kita pasti sudah menemukan Rose dan cucu-cucu kita,” balas Ray.


“Benar juga ya,” ucap Ana.


“Tapi kan— ”


“Permisi, maaf Tuan besar Ray dan Nyonya besar Ana. Sekretarisnya Presdir Yuan sudah datang,” ujar salah seorang pelayan pemberi informasi tamu.


Ana menghela napasnya, ia sebenarnya kesal karena perkataannya di potong. Tapi mau bagaimana lagi, Ana tidak bisa marah, apalagi kalau harus sampai memarahi pelayan yang hanya sedang menjalankan tugasnya itu.


“Selamat pagi, Ketua Ray dan Nyonya Gavin,” sapa sekretaris Iko.


“Kenapa kau datang kemari?” tanya Ray.


Iko pun mengernyitkan keningnya bingung, kenapa Ketua Ray bertanya seperti itu? Bukankah seharusnya dia tahu kalau aku datang ke rumahnya, sudah pasti untuk bekerja dan menjemput Presdir Yuan, — batin Iko.


Sekretaris Iko semakin mengernyitkan keningnya, ia sungguh bingung. Semalam itu bosnya sama sekali tidak menghubungi dirinya. Iko sendiri juga merasa bingung, karena setelah sekian lama, akhirnya Yuan tiba-tiba memberinya waktu untuk tidur dengan tenang.


Iko pun menggelengkan kepalanya, “Tidak. Presdir Yuan semalam tidak menghubungiku, yang artinya Presdir Yuan tidak mungkin tinggal di hotel seperti biasa. Karena kartu kamar hotel itu saya yang menyimpannya,” jelas sekertaris Iko.


Ana menautkan alisnya, ia juga merasa bingung. Kini rasa khawatirnya pun kembali membuncah. Wanita lanjut usia itu langsung menatap ke arah Ray, menatap pria itu tajam karena semalam telah membuat dirinya tak acuh dengan keberadaan Yuan.


Ray menghela napasnya, sejenak ia tampak berpikir. Lalu kemudian, pria itu sepertinya sudah mengambil keputusan.


“Sebenarnya, semalam Yuan pamit denganku. Mulai dari semalam dan seterusnya, dia akan tinggal di rumah Rose. Karena itu, semalam aku menyuruh mu untuk tidak khawatir,” jujur Ray.


“Apa? Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kalau tahu seperti itu, aku juga tidak akan khawatir dan bisa makan-tidur dengan tenang,” oceh Ana.


“Maaf, aku pikir tanpa memberitahukan nya padamu. Kau sudah paham dengan maksud perkataan ku semalam,” terang Ray.


Pria itu pun kemudian menatap ke arah sekretaris Iko.


“Kau lebih baik langsung pergi ke perusahaan Tnp group saja. Karena aku yakin, Yuan pasti akan berangkat ke perusahaan setelah mengantar anak-anaknya dan Rose,” lanjut Ray.


Sekretaris Iko mengangguk paham, “Baik, Ketua Ray. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Maaf, sudah mengganggu sarapan kalian,” pamit sekertarisnya Yuan, Iko. Pria itu kemudian berjalan mundur, lalu berbalik dan pergi dari ruang makan keluarga Gavin.


Setelah kepergian sekretaris Iko. Ana langsung menatap Ray dengan matanya yang melotot tajam.


“Apa?” tanya Ray, meraa bingung dengan ekspresi dari istrinya itu.


“Kau tadi bilang tidak tahu dimana keberadaan Rose dan anak-anaknya. Tadi itu kau berbohong ya?!” sembur Ana, kesal karena sudah di bohongi oleh sang suami.


“Tidak, bukan seperti itu. Aku memang tahu tentang Yuan yang ingin tinggal bersama Rose dan anak-anaknya. Tapi aku sungguh tidak tahu dimana alamat rumah mereka,” jawabnya cepat.


“Benarkah? Sungguh tidak ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Ana.


Ray menganggukkan kepalanya, “Aku tidak berbohong. Lagipula, bukankah aku sudah pernah bilang padamu. Aku mana berani membohongi ibu negara,” kata Ray yang langsung mendapatkan pukulan gemas dari istrinya.


•••


“Ayo masuk, pelan-pelan ya, Yuna awas kepalamu,” ucap Yuan yang sedang memandu anaknya untuk masuk ke dalam mobil Porsche mahalnya.


Pria itu dengan sigap melindungi kepala putrinya yang hampir terbentur pintu mobil berwarna hitam itu.


“Pelan-pelan, Tuan putri,” ujar Yuan.


“Mobilnya terlalu sempit,” keluh Yuna.


Rose tertawa renyah mendengarnya, Yuan pun sampai menoleh pada wanita itu.

__ADS_1


“Apa?” tanya Rose pada Yuan yang seperti tidak suka dengan tawa mengejeknya itu.


“Mobilmu walaupun mahal, tapi kalau tidak muat untuk empat orang, percuma saja,” ujar Rose.


“Ini cukup untuk empat orang. Kursinya pun lebih nyaman,” sanggah Yuan, tidak terima kalau mobil kesukaannya itu di hina habis oleh putrinya dan juga Rose.


“Kita naik mobil Mama saja. Mobil ini membuat ku sesak napas sebelum masuk ke dalamnya,” tandas Yusen yang masih berdiri di sisi kanan mobil tersebut, bersebrangan dengan ibu, ayah dan kakak kembarnya.


“Benar kata Yusen. Naik mobilku saja, lain kali kalau kau ingin memberikan kami tumpangan, bawa mobil yang muat untuk seluruh keluargamu,” sindir Rose. Wanita itu kemudian melemparkan kunci mobilnya ke arah Yuan.


“Yuna, Yusen, ayo masuk ke mobil Mama,” suruh Rose.


Kedua anaknya itu pun mengangguk. Kemudian bergegas menuju mobil milik Rose.


“Ayo cepat, kita bisa terlambat,” ujar Rose pada Yuan yang sudah memegang kunci mobilnya.


Setelah itu, Rose pun melenggang pergi, ia berjalan mengikuti anak-anaknya yang sudah lebih dulu mendekati mobilnya itu.


Melihat ketiga orang yang kini tengah menatapnya. Yuan merasakan ada getaran di jantungnya. Ia merasa hidup kembali. Sesederhana inilah kebahagiaan.


Yuan senang karena bisa berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintainya.


“Yuan, ayo cepat,” seru Rose.


Yuan mengangguk, “Iya, tunggu sebentar,”


•••


Mansion itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya warna cat pada beberapa ruangan yang berganti.


Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan empat tahun tampak duduk pada kursi meja makan itu. Seorang diri, tidak ada yang menemani, kecuali para pelayannya.


Pria itu terdiam, ia menatap meja makan panjang itu dengan hati kosong yang sangat kesepian.


Helaan napas kembali terdengar darinya.


Enam tahun yang lalu, mansion ini sangat ramai. Celotehan dari anak-anak kecil berusia di bawah tiga tahun pun menemani harinya.


Tapi, keceriaan itu hilang ketika si ibu dari anak-anak tersebut, Rose membawa mereka pergi.


Lima tahun yang lalu, Rose memutuskan untuk bekerja dan pindah dari mansion tersebut.


Dan pria itu, Sean. Dia hanya bisa mengerti, lalu mencoba memahami keputusan wanita yang sebenarnya telah mengusik dan memenuhi isi hatinya.


Lalu sekarang, Sarah pun juga pergi setelah wanita itu menikah dengan pria pilihannya.


Kini, Sean benar-benar sendirian, berteman dalam kesepian.


Pria itu meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap makanan yang tersaji rapi itu tanpa selera.


“Tuan besar ingin pergi kemana? Anda bahkan belum menyentuh makanan anda sedikitpun,” kata seorang pelayan, dia adalah kepala pelayan di mansion ini.


“Buang saja semuanya atau kalian makan saja makanannya. Aku sedang tidak berselera makan,” ujar Sean.


“Tapi, Tuan besar. Sejak semalam anda tidak makan apapun. Saya khawatir kalau anda tidak makan dengan benar, anda bisa sakit,” nasihat kepala pelayan wanita itu.


Sean menghela napasnya, “Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja,” balas Sean yang kemudian beranjak dari kursi makanya.


“Tapi Tuan besar Sean. Anda harus tetap mengisi perut anda walau hanya beberapa sendok makanan,” pinta kepala pelayan itu.


“Kalau memang anda tidak suka dengan makanan yang tersaji saat ini. Saya bisa menyuruh pelayan dapur untuk membuat makanan yang lain, makanan yang mungkin Tuan besar Sean inginkan,” lanjutnya.


Sean menatap kepala pelayan itu sejenak, lalu ia berlalu begitu saja dari hadapan kepala pelayan yang sudah berusia paruh baya itu.


“Tuan besar Sean. Nona besar Sarah dan suaminya datang berkunjung. Sekarang mereka ada di ruang tamu,” lapor seorang pelayan yang tampak datang dari arah ruang tamu mansion tersebut.


“Sarah?” tanya Sean.


Pelayan yang melaporkan pun mengangguk dengan cepat.


“Aku akan menemuinya,” ujar Sean.


Pria itu kemudian bergegas menuju ruang tamu. Di sana terlihat Sarah, adik kembarnya tengah duduk bersama suami wanita itu.


“Sarah,” panggil Sean lirih.


Sarah pun langsung menoleh ketika mendengar namanya di panggil oleh saudara kembarnya.


“My twins,” pekik Sarah. Wanita itu langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan Sean.


“Aku merindukanmu, My twins,” ujar Sarah.


“Em, aku juga. Bagaimana kabarmu, dia menjagamu dengan baik kan?” kata Sean diiringi dengan pertanyaannya. Sean menatap pria yang duduk di sofa itu lekat.


Sarah menganggukkan kepalanya, “Dia sangat baik padaku, iya kan, Feng? My Husband,” ujar Sarah sembari meminta dukungan dari pria yang bernama 'Feng' itu.


 


 


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


 


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


 


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2