The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Keluarga


__ADS_3

Sebelumnya, thor minta maaf karena sudah tiga hari kemarin tiga up. Dan lagi, maaf karena beberapa episode kemarin berantakan dan sudah buat kalian kecewa. Mohon pengertiannya dan di tunggu revisinya.


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Semua orang kecuali Yusen dan Ray terkekeh mendengar keluhan dari pria tiga puluh tiga tahun itu.


Sedangkan Yuan, ia mencebik kesal mendapatkan tawa kecil dari tiga perempuan yang sangat penting bagi hidupnya.


“Oh iya, Nenek punya sesuatu untuk kalian,” ungkap Ana ketika pandangannya tidak sengaja menangkap dua kantong paper bag yang di bawa oleh suaminya.


Wanita lanjut usia itu kemudian mengambil paper bag berwarna putih yang di pegang oleh Ray. Lalu memberikannya pada Yuna dan Yusen secara bergantian.


Dengan senyum merekahnya, Yuna menerima paper bag itu. Tapi berbeda dengan Yusen. Pria kecil itu tampak diam untuk beberapa waktu. Ia tidak langsung menerima paper bag tersebut. Hingga sebuah suara lembut milik ibunya memaksa Yusen untuk menerima hadiah dari neneknya itu.


“Kalian berdua, bilang apa pada, nenek?” tutur Rose pada kedua anaknya. Dirinya pun kini sudah mulai menyebut Ana sebagai nenek dari dua kakak-beradik kembar itu.


“Terimakasih,” Yuna mengatakannya dengan raut berseri-seri, sangat lucu dan menggemaskan. Berbeda dengan Yusen, sejenak pria kecil itu menghela napasnya. Lalu kemudian dengan nada malas ia mengucap terimakasih.


Melihat sikap putranya yang seperti itu. Rose hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak bisa menyalahkan sifat Yusen yang terlalu dingin. Apalagi semua ini terjadi begitu tiba-tiba.


“Apa kalian sudah makan siang?” tanya Ray yang akhirnya bersuara setelah beberapa menit terdiam dan hanya menjadi pendengar setia.


“Kami baru saja ingin mencari tempat untuk makan siang,” jawab Yuan.


“Benarkah?” sahut Ana, sang ibu. “Kalau begitu, makan siang saja bersama kami. Daddy-mu sudah membuat reservasi di salah satu restoran bagus di sini,” sambungnya.


Yuan tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke sampingnya, menatap Rose untuk bertanya pendapat perempuan itu.


Rose yang mendapatkan tatapan seperti itu, dirinya pun kemudian mengangguk setuju.


“Baik, kami ikut bersama kalian,” kata Yuan memberikan jawaban atas ajakan orangtuanya.


Ana tersenyum sumringah.


“Baguslah, ayo,” tuturnya sembari mengusap sayang puncak kepala Yusen yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya.


•••


Ray lebih dulu masuk ke dalam sebuah restoran dengan cahaya redup keemasan. Gaya interiornya tentu saja menonjolkan desain mewah. Warna hitam dan emas menjadi primadona diantara warna-warna lainnya.


Tata letak mejanya pun dibuat berjarak cukup jauh satu sama lain, seakan-akan melambangkan bahwa tidak semua orang bisa masuk ke dalam restoran tersebut.


Seorang pria dengan outfit putih hitam dengan dasi kupu-kupu yang terpasang rapi, dia mendatangi keenam orang itu. Lalu membungkuk hormat dengan tangan kanan terletak di depan dada, sedangkan tangan kiri ia sembunyikan di balik punggung.


“Selamat datang, Tuan Ray,” sambutnya.


Bagaimana dia bisa tahu nama Ray? Jawabannya mudah, karena Ray adalah pelanggan gold card nomor satu di restoran ini.


Tidak lama kemudian, dua orang pria dan tiga orang wanita berlarian mendekatinya. Tepat di hadapan Ray dan keluarganya, mereka membungkuk dengan penuh rasa hormat.


Para pegawai restoran dari tim manajemen VIP itu berbaris rapi sesuai dengan tingkat jabatan mereka.


“Selamat datang, Tuan Ray. Ruangan yang biasa anda pesan sudah kami siapkan. Silahkan,” ucap salah satu dari mereka.


Tangan wanita si pemandu itu mempersilahkan dengan sopan.


Ray pun berjalan, tanpa peduli. Berbeda dengan Rose yang tampak tersenyum dan sesekali menundukkan kepalanya membalas kesopanan para pegawai itu.


Sesampainya di ruangan yang Ray pesan. Keenam orang itu duduk di kursinya masing-masing.


Yuan terlihat mendudukan Yuna di sampingnya. Lalu Yusen, dia duduk di samping Yuna, dan Rose, wanita itu tentu saja duduk di sisi putranya.


Ray duduk di kursi utama. Layaknya kepala keluarga yang memimpin acara makan bersama keluarganya. Sedangkan Ana, wanita lanjut usia itu duduk berhadapan dengan Yuan.


Tak lama setelah mereka mengambil posisi duduk di tempatnya masing-masing.


Para pegawai VIP tadi kembali masuk ke dalam ruangan dengan membawa serta beberapa piring berisi makanan.


Seorang pria dengan topi silinder yang menjulang apik di kepalanya terlihat masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Dia si kepala koki. Juru masak utama di restoran ini. Pemilik banyak penghargaan di negara tropis ini. Dapat dikatakan, dialah si koki terbaik sepanjang abad berjalan.


“Selamat datang kembali, Tuan Ray,” sapanya dengan ramah tanpa mengurangi rasa sopannya.


Berbeda dari sebelumnya. Kali ini Ray menganggukkan kepalanya, ia membalas sapaan ramah itu dengan senyum hangat yang menyertai.


“Saya sudah mempersiapkan semua hidangan yang sangat populer belakangan ini. Semua di masak dengan bahan dan bumbu berkualitas. Ini ada juga beberapa menu baru yang kami khususkan untuk para VIP,” kata kepala koki itu, menjelaskan satu-persatu hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.


Selesai menjelaskan, pria dengan topi silindernya itu keluar dari ruangan.


“Yusen, Yuna. Ayo makan yang banyak. Kalau kurang, kalian bilang saja, nanti Kakek pesankan lagi untuk kalian,” tutur Ray sembari tersenyum lembut ke arah dua kakak-beradik kembar itu.


Yuna mengangguk, gadis itu terlihat ceria. Bekas merah di wajahnya pun juga tampak hilang sepenuhnya. Sedangkan Yusen, pria kecil itu seperti terpaksa. Wajahnya tampak tertekuk masam, tidak sedap untuk dipandang. Dia bahkan terlihat beberapa kali menghela napasnya.


“Yusen, Sayang. Apa ada yang menggangu pikiranmu?” bisik Rose, sepelan mungkin.


Putranya itu menoleh sekilas pada ibunya. Lalu kemudian, tatapannya kembali pada meja makan yang dipenuhi dengan hidangan menggoda lidah. Dan lagi-lagi pria kecil itu menghela napasnya.


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Yusen mulai mengambil makanan yang tersaji dengan apik. Jenis makanan banyak dihidangkan, tapi tidak satupun yang menyangkut selera Yusen.


Rose bisa merasakan itu. Bagaimanapun juga, Yusen adalah anaknya, sosok kecil yang pernah bersemayam di perutnya selama kurang lebih sembilan bulan lamanya. Hati mereka seolah tertaut meski keduanya berbeda gender.


“Makanlah perlahan, setelah ini kau bisa mengajak Mama pulang kalau kau merasa tidak nyaman,” bisik Rose lagi.


Yusen tidak menoleh, tangannya yang sedang menyendok makanan tampak bergeming sejenak. Lalu kemudian, dia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Yuan yang melihat sikap putranya itu. Ia menatap ke arah Rose. Wajah penuh tanyanya tersirat jelas di sana.


Rose pun balik menatapnya. Tatapan yang seakan-akan mengatakan, semua baik-baik saja. Yuan mengangguk, lalu kembali menyibukkan dirinya pada Yuna, putrinya yang mulai terbuka pada dirinya.


•••


Sarah berjalan keluar dari dalam kamarnya. Perempuan itu dua hari ini sengaja menginap di mansion Sean karena dari dua hari kemarin dan tiga hari ke depan, suaminya melakukan perjalanan ke Eropa untuk mengurusi masalah kliennya.


“Sean,” sapa Sarah penuh tanya pada saudaranya yang tampak melamun tak bercahaya.


Sean menoleh, sekilas ia menyunggingkan senyuman-nya.


“Kau sudah makan siang?” tanya Sarah sembari membuka pintu kulkas.


“Kau ingin masak?” tanya Sean, ia menopang dagunya, menatap gerak-gerik adik kembarnya yang mulai memilah-milah isi kulkas.


“Tidak, aku sedang tidak berselera dengan urusan dapur,” jawabnya yang kemudian terlihat mengeluarkan satu bungkus roti tawar juga satu tepak berukuran seratus liter susu cair rasa cokelat.


“Bagaimana kabar suamimu? Kalian masih baik-baik saja kan walau melakukan hubungan jarak jauh?” tanya Sean, dia hanya basa-basi.


Sarah mengangguk sembari menuangkan susu cair itu ke dalam gelas berukuran sedang, lalu kemudian meminumnya beberapa kali tegakan hingga tersisa setengah.


“Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” Sarah balik bertanya.


Sean tampak diam, kini dirinya sedang memperhatikan adik kembarnya itu.


“Ya, kau selalu terlihat baik-baik saja,” kata Sean.


Sarah tersenyum diiringi anggukan setujunya.


“Dan kau selalu terlihat tidak baik-baik saja,” tutur Sarah kemudian.


Sean menatapnya sejenak. Lalu kemudian memutus kontak mata dengan sang adik kembar. Dia tidak ingin kesepian yang menjajah hatinya terbaca jelas oleh Sarah.


“Kau ada masalah?” tanya Sarah kemudian.


“Dari awal aku datang kesini kau terlihat muram. Sama sekali tidak ada cahaya kehidupan pada dirimu. Padahal perusahaan baik-baik saja sejauh yang aku tahu,” sambung Sarah.


Sean menghela napasnya, pria itu kini benar-benar mengalihkan pandangannya. Sikapnya itu menandakan kalau dirinya enggan membahas hal tersebut.


“Aku pergi dulu,” ujar Sean.


Sarah semakin bingung pada saudara kembarnya itu. Sebenarnya dia itu kenapa? Pikir Sarah.


“Jika kau punya masalah, bahuku masih cukup lebar menjadi tempatmu bersandar. Kau ini kenapa? Seperti anak remaja labil saja, terlihat murung sepanjang waktu. Tapi jika ditanya jawabannya, aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Kau itu seperti orang yang baru putus cinta saja. Ingat umurmu,” sergah Sarah.


Sean kembali menghela napasnya. Alih-alih menjawab pertanyaan sang adik kembar. Sean memilih pergi dengan alasan ingin kembali ke perusahaannya.


•••

__ADS_1


Acara makan siang bersama telah usai. Terlihat keluarga besar Gavin yang baru saja di pertemukan oleh takdir itu kini berada di basemen parkiran mobil.


“Hari ini aku sangat senang, apalagi bisa makan bersama dengan Yusen dan Yuna,” tutur Ana dengan senyum yang mengembang, bagai kue yang di beri baking powder.


“Mommy pulang dan istirahatlah. Hari ini Mommy banyak sekali beraktivitas. Kalau Mommy lelah nanti bisa sakit,” pesan Yuan, sang anak yang begitu menyayangi ibunya.


Ana tersenyum begitu juga Rose yang tampak bangga dengan ayah dari anak-anaknya itu.


Jika ibunya saja begitu dia cintai dan hormati, apalagi aku yang menjadi ibu dari anak-anaknya. Dia memang pria sempurna. — Batin Rose.


“Yuna, Yusen. Ayo beri salam perpisahan untuk nenek dan kakek kalian,” suruh Rose pada kedua anaknya.


Seperti sebelumnya, Yuna yang memulai lebih dulu. Gadis kecil itu masih dalam gendongan sang ayah. Ia mengulurkan tangannya, meminta salam dari kedua orang lanjut usia itu.


“Anak pintar, cantik lagi,” puji Ray sembari mengusap lembut kepala Yuna.


Selama ini dirinya selalu ingin memiliki seorang anak perempuan. Tapi melihat kondisi Ana yang setelah melahirkan Yuan tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan lagi. Ray hanya bisa diam dan sabar.


Dan sekarang, seolah kesabarannya itu terbayarkan. Dia kini mempunyai sosok kecil yang akan menjadi bagian dari keluarga besar Gavin, cucunya.


Di tambah lagi ada Yusen yang begitu mirip dengan Yuan. Semuanya sungguh membuat Ray dan juga Ana merasa menjadi muda kembali.


“Yusen, giliranmu memberi salam untuk nenek dan kakek,” kata Rose pada Yusen yang hanya diam memperhatikan.


Sama seperti sebelumnya. Yusen menghela napas pendeknya. Lalu kemudian, barulah ia mengulurkan tangannya, mengikuti cara kakak kembarnya yang tadi lebih dulu memberi salam pada dua orang lanjut usia itu, Ray dan Ana.


“Jagoan kita ini, sungguh menggemaskan,” ujar Ray sembari mengusap kepala Yusen, kemudian beralih menepuk pelan bahu cucunya itu, memberi dorongan mental dan semangat.


“Kalian berdua hati-hati dijalan. Yuan, ingat kau membawa anak-anak. Jangan mengebut. Kalau sudah sampai rumah kabari Mommy ya,” nasihat sang ibu pada anaknya, Yuan.


Yuan mengangguk paham, “Iya, aku mengerti. Mommy cepatlah masuk ke mobil,” balas Yuan lembut.


Ana menghela napas pendeknya, sejenak ia menatap putranya itu yang berdiri diantara keluarga kecilnya. Rasa haru menyelimuti diri Ana. Melihat Yuan yang tampak bahagia bersama keluarga kecilnya, sungguh melegakan rasanya. Ana lantas tersenyum tipis mengekspresikan perasaan tersebut.


“Mommy berharap kalau kalian berdua cepat menikah. Lalu Rose dan anak-anaknya tinggal di rumah kita, jadi Mommy tidak akan pernah merasa kesepian lagi,” jujur Ana, nadanya terdengar lirih dan samar.


Yuan tersenyum tipis, ia mengangguk, tapi bukan sebuah anggukan 'tentu saja', itu adalah anggukan kalau dirinya akan berusaha membawa keluarga kecilnya pulang ke rumah utama keluarga Gavin.


“Kalau begitu, Mommy pulang dulu, sampai jumpa,” pamit Ana.


“Yusen, Yuna. Nenek pulang dulu ya. Nenek pasti akan sangat merindukan kalian,” ucapnya sembari mengusap puncak kepala Yusen dan Yuna bergantian, “Bye, daaahhh,” pamitnya pada dua kakak-beradik kembar itu.


Yuna mengangguk diiringi dengan senyum lucunya, gadis kecil itu melambaikan tangannya pada sang nenek. Sedangkan Yusen, jangan pernah ditanya. Karena pria kecil itu hanya diam dan seolah acuh dengan semua ini.


“Sekarang, ayo kita pulang,” ajak Yuan pada keluarga kecilnya.


Yusen yang mendengar kata itu. Dia langsung melenggang pergi menuju mobil yang akan di tumpanginya. Yusen sebenarnya merasa lelah dengan semua ini.


•••


Sean menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sudah lama tidak dia kunjungi.


Semenjak hari itu. Sejak tiga tahun yang lalu. Dan sejak kata-kata itu terlontar dari bibir ranum milik Rose. Sean tak lagi setiap saat mengunjungi rumah di hadapannya itu.


Sean, aku tahu ini akan terdengar kejam bagimu. Tapi aku harus mengatakannya.


Sean, aku ini seorang ibu tunggal. Aku tidak punya suami, tapi punya dua anak.


Di sini, bukan seperti di mansionmu. Di sini aku punya tetangga yang melihat dan memperhatikan.


Karena itu, aku mohon padamu, jangan datang lagi ke rumahku. Ini semua bukan hanya sekedar untuk kebaikanku. Tapi untuk Yusen dan Yuna.


Aku tidak mau nantinya mereka akan menjadi bahan olok-olokan bagi anak-anak tetangga lainnya ketika mereka bermain.


Sean menghembuskan napas beratnya ketika mengingat semua perkataan Rose itu.


Semuanya benar, tidak ada yang salah. Apa yang wanita itu katakan memang benar adanya.


Kalau saat itu Sean memaksa terus datang, sedangkan mereka tidak memiliki hubungan yang jelas, pasti hanya akan menimbulkan fitnah yang berujung pada gosip publik. Dan itu akan sangat buruk bagi anak-anak.


Tapi sekarang. Entah kenapa Sean ingin sekali bertemu dengan perempuan itu. Rasa rindu ini menjalar sampai mengakar kuat di dalam hatinya.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2