
Satu bulan kemudian.
Hamparan alam hijau itu sangat menyejukkan mata. Padang rumput yang terbentang sejauh mata memandang tidak dapat memunculkan rasa penat dalam penglihatan.
Dunia milik berdua, kata-kata itu mungkin sering didengar dari dua orang yang memadukan cinta tulus, saling bertukar kasih dan sayang hingga membuat orang lain merasa iri.
Tapi, ketika dunia benar-benar milik berdua. Hati pun terasa sepi. Itulah yang Rose rasakan selama tinggal di pulau ini.
Sebuah pulau yang hanya ada dirinya dan Yuan. Tidak ada orang lain yang menggangu, semua kebutuhannya pun terpenuhi dengan sempurna. Hanya saja, manusia tetaplah makhluk sosial, butuh interaksi agar bisa merasa hidup normal.
Disaat seperti ini, pikirannya terbesit tentang kisah Adam dan Hawa, berdua saja di muka bumi ini. Hal yang paling Rose takutkan adalah mereka yang terpisah, hingga rasa kesepian pun menjadi teman sehari-hari.
Kesepian adalah sebuah perasaan yang tidak pernah dapat diungkapkan, dia adalah sejenis penyakit hati yang hanya memiliki beberapa obat tergantung pada gejala yang orang itu alami. Ketika seseorang terkena penyakit hati ini, rasanya begitu menyesakkan, diri seolah berada di ruangan gelap, tertutup, sempit, tidak ada siapapun disana, hampa dan kosong.
Teman, keluarga, orang terkasih, dan pasangan, mereka itu adalah obat terbaik dari kesepian.
Tapi terkadang, sebelum obat itu menyapa, rasa kesepian sudah lebih dulu menggerogoti hati hingga si penderita merasa sekarat, tidak berdaya.
Rose takut itu semua akan terjadi. Pikiran negatifnya selalu terpenuhi dengan hal-hal semacam itu ketika Yuan tidak ada disisinya walaupun hanya beberapa detik saja.
Matahari sore itu tampak mulai turun, sinaran jingga yang tadinya tersorot indah kini perlahan-lahan berganti menjadi gelap.
“Kau melihat sunset tanpa diriku hum?” sebuah pelukan hangat dari arah belakangnya membuat Rose berjengkit, ia terkejut walau sudah tahu siapa pelakunya.
“Maaf, tadi aku ingin mengajakmu. Tapi kau masih tertidur pulas, aku jadi tidak tega membangunkanmu.” ucap Rose.
Yuan tersenyum, pelukannya semakin ia eratkan. Bahkan kini kepalanya ia sandarkan pada bahu Rose.
“Itu semua salahmu. Salahmu karena sudah membuatku terlalu lelah.” katanya dengan senyum menyeringai sembari mendekatkan wajahnya ke arah tengkuk leher sang kekasih.
“Hentikan Yuan. Hal seperti itu, apa kau tidak punya malu membahasnya? Biarkan semua yang terjadi diantara kita siang atau malam menjadi cerita bisu tanpa suara. Cukup hati dan pikiran kita yang membicarakannya.” ujar Rose.
“Siang atau malam ya. Astaga, waktu bahkan sudah tidak menjadi masalah bagi kita berdua untuk melakukan— ”
“Yuan.” sela Rose, nadanya penuh peringatan.
__ADS_1
“Ah iya, iya. Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan membahas itu lagi.” ucap Yuan.
Keduanya kini saling diam membisu, terpaan semilir angin dan suara hewan malam yang mulai terdengar menjadi teman mereka.
Bintang-bintang di langit pun terlihat sempurna ketika langit malam mulai menyapa mata mereka. Banyak rasi bintang yang dapat mereka bentuk menjadi apapun.
“Ayo masuk ke dalam. Udaranya sudah mulai dingin. Ingat, pulau ini bukan bagian dari negara tropis. Pulau yang belum kita beri nama ini berada di bagian barat dunia, yaitu Eropa, artinya ada empat musim yang akan menyapa kita. Saat ini kita sedang bersiap untuk menyapa musim dingin, udara di musim gugur pun sudah mulai terasa dingin. Aku takut kau akan sakit jika terlalu lama berada di luar. Jadi ayo lebih baik kita masuk ke dalam.” kata Yuan sembari membalikkan tubuh Rose hingga menghadap ke arahnya.
Pria itu kemudian mengecup sekilas kening Rose, membelai lembut wajah cantiknya. Lalu ia menarik lengan Rose, mengajak gadis itu untuk melangkah bersama kembali ke rumah yang Yuan bangun di pulau tersebut.
Rumah itu mirip seperti mansion, tapi lebih besar dan lebih megah. Desainnya elegan, namun juga kental akan kemewahan interiornya.
Luasnya pun tidak dapat Rose utarakan dengan pasti. Yang pertama kali terbesit di benak Rose ketika sampai di tempat itu, Rose pikir itu sebuah desa kecil. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata itu adalah rumah dengan berbagai fasilitas lengkap yang tersedia.
“Kau sudah makan?” tanya Yuan ketika mereka sampai di bagian dapur rumah itu.
Rose menggelengkan kepalanya, “Belum. Aku akan memasak untuk makan malam kita.” jawabnya.
“Tidak. Kau duduklah. Biar aku saja yang memasak untuk makan malam kita.” ucap Yuan.
Bukti kalau wanita itu sudah terlanjur percaya pada pria yang sangat di cintainya itu.
Jangan salahkan Rose yang terlalu naif. Tapi salahkan cinta yang telah menyelinap masuk memenuhi relung hatinya. Hingga membuat Rose tanpa sadar menjadi budaknya. Budak dari sebuah rasa cinta.
“Apa yang ingin kau makan malam ini, sayang?” tanya Yuan ketika dirinya berada tepat di depan kulkas berisi sayuran dan beberapa bahan masakan lainnya.
“Terserah apapun itu kecuali dirimu.” canda Rose.
Yuan menoleh, menanggapi candaan itu dengan senyum menyeringainya. “Apa barusan kau sedang menggodaku, sayang?” tanya Yuan.
Pria itu sepertinya sudah tidak berselera lagi untuk memasak apalagi makan malam dengan lauk pauk dan nasi. Karena ada menu lain yang sangat menggiurkan baginya.
Yuan pun berbalik, meninggalkan kulkas dan berjalan mendekati Rose yang tengah duduk di kursi makan. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia mendorong Rose hingga tubuh perempuan itu kini berada di atas meja makan.
Tapi kemudian, keinginan Yuan untuk segera menyantap makanannya itu harus ia tunda ketika suara nada panggilan masuk terdengar dari arah saku celana jeansnya.
__ADS_1
“Ada panggilan yang harus kau jawab.” ucap Rose.
Helaan nafas menjadi tanda kekesalan hati pria itu. Yuan pun melepaskan Rose, menjauh sedikit dari sang kekasih. Lalu mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku celana.
“Dari siapa?” tanya Rose.
“Orang tidak penting.”
“Siapa?” tanyanya lagi.
“Assisten pribadiku, Sarah.” jawab Yuan.
“Angkat panggilannya. Kau tahu kan, Sarah tidak akan mengganggu kita kalau bukan karena ada sesuatu hal penting yang ingin dia laporkan padamu.” ucap Rose.
Yuan tampak diam, ia berpikir kalau apa yang Rose katakan itu adalah sebuah kebenaran mutlak. Hanya Sarah yang tahu tentang keberadaan mereka berdua, dan perempuan itu tidak akan pernah mau menjadi penggaggu kecuali ada hal penting.
“Baiklah.” kata Yuan yang kemudian menerima panggilan dari assistennya itu.
“Halo.” ucap Yuan mengawali pembicaraan via panggilan itu.
Dengan tenang Rose menatap Yuan yang masih fokus mendengarkan apa yang Sarah katakan dari seberang sana. Lalu kemudian, beberapa kata yang keluar dari bibir Yuan mengakhiri panggilan tersebut. “Baik, aku mengerti. Terimakasih sudah memberitahuku.” ucap Yuan di akhir panggilannya dengan Sarah.
Setelah ia menutup panggilan itu. Yuan tampak menatap ponselnya sejenak. Lalu kembali menatap ke arah Rose. Namun dengan tatapan yang berbeda.
“Ada apa?” tanya Rose.
“Sayang. Maaf, aku— ”
“Berapa lama?” tanya Rose, ia menyela dengan cepat, seakan dirinya sudah tahu apa yang akan Yuan katakan padanya.
“Aku tidak yakin. Aku bahkan ragu, apa aku harus pergi atau tidak.” katanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Rose.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍