The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Spice Things Up


__ADS_3

Bunyi alarm dari jam weker milik Rose terdengar menggema ke penjuru kamar apartemen kecil itu.


Merasa tidurnya terganggu, Rose menggeliatkan tubuhnya, mencari posisi nyaman agar bisa terlelap kembali.


Namun, baru beberapa detik ia akan tertidur kembali, tiba-tiba matanya terbuka lebar, ketika dirinya teringat sesuatu.


"Astaga! Hari ini, hari pertama ujian tengah semester!" Pekik Rose yang kemudian langsung mematikan alarmnya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandinya.


Rose tampak tergesa-gesa dalam melakukan segala hal. Walaupun ia masih memiliki banyak waktu sebelum ujian tengah semester dimulai. Tapi, Rose tetap harus cepat. Karena, sekarang ini bukan masalah waktu ujian tengah semester yang ia khawatirkan. Melainkan, jadwal bus pagi ini. Kalau sampai Rose melewatkan bus pagi, ia benar-benar akan terlambat.


Setelah selesai memakai pakaiannya dan merapikan rambut juga sedikit menaburkan bedak bayi ke wajahnya. Rose langsung menyambar tasnya. Lalu kemudian, ia berlari menuju pintu keluar apartemennya.


"Ah tinggal lima belas menit lagi busnya datang ke halte itu. Aku harap keberuntungan akan menghampiriku." Ucap Rose sembari mengunci pintu apartemennya.


•••


Di rumah keluarga Gavin. Suasana disana tampak kelabu. Terutama Alex, pria itu yang paling terlihat kacau di antara semua orang.


Sebuah lingkaran hitam terlihat jelas di mata pria paruh baya itu. Pandangannya tak pernah beralih pada sosok tua yang terbaring lemah di atas kasur. Selang infus tampak melekat di tangan kanan wanita tua yang tengah Alex pandangi itu.


Tok. Tok. Tok


Suara itu berasal dari pintu kamar nenek Calista yang diketuk. Ya, saat ini, Alex masih kekeuh untuk tetap terus berada di samping ibunya yang masih belum sadarkan diri sejak malam tadi.


"Papa, ayo pergi sarapan dulu." Ucap Nana, ia adalah orang yang tadi mengetuk pintu kamar itu. Lalu, karena merasa tidak ada jawaban dari dalam kamar. Maka dari itu, Nana langsung membukanya begitu saja.


"Tidak, papa sedang tidak memiliki nafsu makan. Nana makanlah lebih dulu." Jawab Alex, ayah kandungnya.


Nana menatap sedih ayah kandungnya yang tampak sangat kacau itu. Ia sendiripun juga merasa sangat khawatir dengan kondisi neneknya. Bahkan, dirinya sampai meminta tolong pamannya— Ray untuk membantunya meminta ijin kepada ayah tirinya agar ia bisa menginap disini dan menemani ayah kandungnya.


Tapi, sebesar apapun rasa khawatir Nana pada nenek Calista, itu tetaplah tidak sebesar apa yang Alex rasakan.


"Papa— kalau papa tidak mau makan dan hanya duduk diam disini terus, papa bisa sakit nanti. Nana tidak mau hal itu terjadi." Ujar Nana.


"Kau jangan khawatirkan papa. Papa baik-baik saja. Papa tidak akan sakit." Kata Alex.


Nana terlihat menghela nafasnya, kemudian berjalan mendekati ayah kandungnya yang masih duduk di samping nenek Calista.


"Papa tahu tidak? Nenek— dia dulu juga pernah berkata seperti itu padaku. Tapi buktinya, sekarang dia sakit. Jadi, ayo kita makan dulu. Tadi, bibi Ana bilang padaku, kalau papa sejak tadi malam belum makan makanan yang selayaknya." Kata Nana yang kini sudah berdiri di samping sang ayah.


"Nana, sekalipun kau memaksa papa untuk makan. Tapi, nafsu makan papa benar-benar hilang. Apalagi, melihat nenekmu terbaring lemah seperti ini. Rasanya tidak akan pernah berpikir kalau makan adalah kebutuhan sehari-hari." Ujar Alex.


Nana tersenyum samar dengan ungkapan tulus dari ayahnya itu. Ia sangat terharu dengan sang ayah yang begitu menyayangi neneknya. Tapi, bagaimanapun juga, ayahnya itu tetaplah makhluk hidup yang butuh makan dan minum.


"Sedikit saja. Makanlah walau hanya sedikit saja. Aku akan ambilkan makanan untuk papa. Berjanjilah untuk memakannya ya." Ucap Nana.


"Kau tidak pergi ke kampus?" Tanya Alex. Pria paruh baya itu sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Papa, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Tapi, masalah kuliah, aku untuk ijin hari ini." Kata Nana.


"Kau mencoba untuk menjadi mahasiswi yang nakal ya?!"

__ADS_1


"Eh? Kenapa papa berpikir seperti itu? Aku ijin juga karena hari ini cuma ada satu mata kuliah, dan itupun mata kuliah ibu. Aku sudah menelpon ibu tadi malam, kalau aku ijin absen mata kuliahnya. Ibu bilang tidak masalah, dan tolong jaga nenek. Begitu." Ujar Nana.


Alex menghela nafasnya. Selama ini yang ia tahu dari putrinya itu adalah kesempurnaan dalam dunia pendidikan. Sejak pertamakali menjalani masa pendidikan, Nana sekalipun tidak pernah minus dalam hal itu. Putrinya itu selalu mendapatkan yang terbaik dan menjadi yang terbaik dalam hal menuntut ilmu.


Pria paruh baya itu sungguh tidak mengira kalau Nana juga bisa berperilaku layaknya seorang penuntut ilmu lainnya, yang akan melakukan pelanggaran aturan sekolah, yaitu membolos.


Yah, walaupun alasan Nana sangat akurat. Tapi, bagaimanapun juga, membolos bukan hal yang baik.


"Kau tidak perlu khawatir. Nenek ada papa yang menjaganya. Ayo cepat ganti pakaianmu dan bersiap pergi ke kanpus. Apa Yuan sudah berangkat?"


"Tidak, aku tidak mau. Aku juga ingin menemani papa dan menunggu nenek. Kalau papa melarangnya, aku akan menjadi gadis keras kepala, aku akan menolak larangan itu. Lagipula, Yuan sudah berangkat sejak tadi, aku tidak punya tumpangan untuk berangkat ke kampus. Dan lagi, paman Ray dan bibi Ana juga belum lama pergi. Itu artinya, benar-benar tidak ada tumpangan lagi untukku pergi ke kampus." Ujar Nana.


"Banyak sekali ya alasannya." Ucap Alex yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Eh? Bukan alasan, tapi itu memang faktanya." Sanggah Nana.


"Papa mau pergi kemana?" Tanya Nana yang melihat ayah kandungnya itu tampak berjalan menuju pintu keluar kamar.


"Bersiap untuk mengantarkanmu ke kampus. Jadi, kau jangan buat alasan tidak ada tumpangan untukmu lagi. Ayo segera pergi ke kamarmu dan ganti pakaian."


"Papa~ " Rengek Nana.


"Papa, kalau papa pergi mengantarku, siapa yang akan menjaga nenek Calista? Papa tega meninggalkannya sendirian?" Bujuk Nana yang sudah melangkah menghampiri Alex.


"Papa akan menyuruh asisten rumah tangga untuk menunggunya selama papa pergi mengantarmu ke kampus. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Tugasmu saat ini adalah berganti pakaian dan bersiap untuk pergi kuliah." Perintah Alex.


"Tidak mau. Asal papa tahu ya, aku ini juga punya sifat keras kepala." Kata Nana.


Jadi, begini rasanya menghadapi anak yang sedang membantah perintah orangtua? Ah ya ampun, pantas saja kak Ray selalu bersikap tegas pada Yuan. — Batin Alex.


"Pelayan!" Panggil Alex.


"Iya tuan Alex?" Tanya salah satu pelayan dari tiga pelayan yang datang karena mendengar panggilan dari Alex.


"Bawa nona kalian ini ke kamarnya. Lalu, bantu dia untuk bersiap pergi ke kampus. Kalau dia menolak, abaikan saja, tetap terus lakukan tugas kalian. Tapi, jangan melukainya." Perintah Alex.


"Baik tuan Alex." Ucap ketiga pelayan itu.


"Papa, aku tidak mau. Aku— "


"Nona Nalika, mari kita ke kamar anda. Anda harus segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke universitas." Ujar salah satu pelayan senior.


"Papa~ " Rengekan Nana semakin menjadi ketika melihat papanya tersenyum samar. Lalu setelah itu, pergi begitu saja meninggalkan Nana yang sudah di tarik menuju kamarnya.


•••


Rose berlarian kecil menyusuri jalanan yang menghubungkannya ke arah halte bus.


Gadis itu tampak sesekali melihat sebuah arloji berwana peach yang melekat sempurna di tangan kanannya.


Saat ini, bagi Rose, satu detik adalah waktu yang sangat berharga.

__ADS_1


"Rose." Suara seseorang yang memanggil namanya itu, mau tak mau membuat Rose terpaksa menghentikan langkahnya. Kemudian, ia menoleh ke sumber suara.


Ternyata, yang memanggil dirinya adalah orang yang akhir-akhir ini selalu bersikap aneh terhadapnya.


"Yuan? Kau datang menjemputku lagi?" Tanya Rose. Gadis itu berjalan mendekati mobil Yuan, ia mendekat ke arah Yuan yang sedang memunculkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka lebar.


"Menjemputmu? Kau masih belum mengurangi kadar rasa percaya dirimu itu ya?! Siapa yang menjemputmu, aku hanya— "


"Hanya kebetulan lewat sini dan tidak sengaja melihatku, begitu?" Ujar Rose yang sengaja menyela perkataan Yuan.


"Ii— ya iya tidak sengaja. Aku tidak sengaja melihatmu. Memangnya kenapa?! Kau tidak percaya?! Kau benar-benar berpikir kalau aku berniat menjemputmu?!" Tanya Yuan dengan nada yang terasa menjengkelkan bagi Rose.


"Aku ini bukan orang bodoh Yuan. Mana ada sesuatu yang kebetulan terjadi berkali-kali. Kau itu— pasti sengaja datang kan? Kau sengaja datang untuk menjemputku kan? Yuan, kau tenang saja. Walaupun itu memang benar, aku bukan orang yang akan langsung panjang hidung saat memenangkan lotre." Ujar Rose.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kau katakan. Tapi, perkataanmu yang terakhir itu— aku mengerti. Hidungmu memang terlihat panjang seperti pinocchio." Kata Yuan.


Mendengar perkataan dari Yuan. Dengan gerakan spontanitas, Rose langsung menyentuh hidungnya, ia meraba hidungnya, memastikan apa yang Yuan katakan itu benar atau tidak. Walaupun, ia sepenuhnya sadar, kalau itu hanya candaan dari Yuan. Tapi, gerakan refleks tubuhnya sungguh tidak dapat ia hindari.


Sedangkan Yuan, pria itu tampak tertawa terbahak-bahak dengan tindakan spontanitas dari Rose. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rose langsung bertindak seperti itu.


"Kau mudah sekali ditipu. Aku hanya bercanda, hidungmu masih sama. Kecuali— kecuali kau melakukan operasi plastik untuk memanjangkan hidungmu itu." Ujar Yuan disela-sela tawanya.


Melihat sikap Yuan yang terasa semakin menjengkelkan, Rose hanya bisa mendengus kesal.


Kemudian, ia melirik arlojinya kembali. Mata gadis itu tampak membulat sempurna ketika dirinya melihat jarum jam itu berhenti di angka yang mampu membuat jantungnya berpacu cepat.


"Astaga! Aku terlambat." Pekik Rose.


"Hei! Kau mau kemana?" Tanya Yuan yang melihat Rose berlari menjauh dari mobilnya.


Rose tak menghiraukan Yuan yang sedang bertanya padanya. Saat ini, yang Rose pedulikan adalah waktu yang sedang mengejar dirinya.


"Rose! Kenapa tiba-tiba berlari?" Tanya Yuan sembari mengendarai mobilnya perlahan, pria itu berkendara mengiringi Rose yang berlarian di sepanjang jalan trotoar.


"Rose, apa kau ketinggalan bus? Masuklah ke mobilku, aku akan memberimu tumpangan." Ujar Yuan masih dalam posisi awal.


"Tidak per— " Jawab Rose. Gadis itu sengaja menghentikan perkataan dan langkah kakinya, ketika dirinya melihat bus yang ingin ia tumpangi sudah melaju cukup jauh darinya.


"Bus-nya sudah pergi." Ucap Yuan.


Rose menghembuskan nafas beratnya. Dua menit terlambat saja, benar-benar sebuah kesialan untuknya.


"Masuklah." Kata Yuan.


Melihat keadaannya yang tidak lagi memungkinkannya untuk menolak. Rose, tanpa penolakan, ia langsung berjalan mendekati mobil Yuan.


Gadis itu kemudian membuka pintu mobil Yuan dan duduk di kursi bagian depan.


"Anak pintar." Ucap Yuan sembari menampilkan senyum penuh kemenangan yang menghiasi wajahnya.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2