
Pagi itu, Rose bangun lebih awal dari biasanya. Ia harus memasak sarapan untuk dirinya dan Yuan. Melihat Yuan yang sangat lahap memakan masakannya semalam, membuat gadis itu merasa jika sekarang memasak adalah hobinya. Walaupun pria itu tidak memujinya secara langsung, tapi asalkan Yuan menyukainya dan memakannya dengan lahap, Rose sudah cukup senang.
Selesai menyiapkan sarapan, Rose berjalan ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan memakai pakaiannya, lalu bersiap-siap untuk pergi ke universitas karena ada kelas pagi ini.
Rose berhenti melangkah saat dirinya berada di dekat sofa, disana Yuan tidur. Pria itu masih memejamkan matanya dengan lelap.
Semalam mereka hampir tidur larut malam karena berdebat tentang tempat tidur. Rose menyuruh Yuan untuk tidur di kasurnya, tapi Yuan menolak, karena dia seorang laki-laki.
Seorang laki-laki tidak mungkin membiarkan seorang perempuan tidur di atas sofa yang keras. Jika Yuan menuruti perkataan Rose, itu sama saja merusak harga dirinya sebagai seorang gentleman.
Dia tetap terlihat tampan saat tertidur, benar-benar membuat jantung para gadis berdebar kencang. — Batin Rose.
Tanpa sadar, seakan tubuhnya bergerak mengikuti nalurinya. Gadis itu menekuk lututnya, mensejajarkan dirinya dengan Yuan yang masih tidur di sofa.
Tangan gadis itu perlahan menyentuh wajah Yuan, menelusuri setiap lekuk wajah rupawan itu. Semua terlihat sempurna, wajah pria itu seperti patung dewa Yunani yang terpahat dengan baik, sangat indah dan sedap di pandang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Yuan, pria itu tiba-tiba berbicara dengan mata yang masih tertutup rapat.
Rose berjengkit kaget, ia menjauhkan tangannya dari wajah pria itu. Kemudian sedikit menjauh dari Yuan, tapi masih dengan posisi menekuk lututnya.
Kelopak mata yang tadinya tertutup rapat itu perlahan-lahan terbuka, menampilkan sepasang manik mata gelap yang sama seperti ayahnya.
Yuan bangun dari tidurnya, ia kemudian merubah posisinya menjadi duduk, menghadap ke arah Rose yang masih menekuk lututnya.
"Maaf, tadi ada kotoran di wajahmu. Jadi aku berniat untuk membersihkannya." Ujar Rose memberikan alasan tanpa ditanya.
"Oh." Ucap Yuan.
Jawaban pria itu membuat Rose mendongakkan kepalanya, dalam hatinya bertanya, kenapa pria itu tidak marah padanya?
"Aku lapar." Kata Yuan seraya bangkit dari sofa, kemudian berjalan menuju ke arah dapur kecil apartemen itu.
Rose berdiri dari posisinya, lalu melangkah mengikuti Yuan yang sudah duduk di meja makan minimalis yang ada di dapur.
"Langsung makan? Tidak cuci muka atau sikat gigimu terlebih dahulu?" Tanya Rose.
"Nanti saja, setelah makan." Jawab Yuan.
Rose berjalan semakin mendekat ke arahnya,
__ADS_1
"Hanya sikat gigi dan cuci muka, kenapa harus nanti?" Tanya Rose lagi.
"Hah, kau sama seperti mom ku. Baiklah, aku akan melakukannya sekarang, kau puas?" Jawab Yuan yang diakhiri dengan lontaran pertanyaan kesalnya, tangan pria itu berhenti bergerak untuk mengambil makanan. Ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang terpisah dengan kamar.
Sikapnya itu membuatku semakin merindukan mommy saja. — Batin Yuan.
•••
Di ruang makan keluarga Yohan dan Rachel. Nana tampak tidak bersemangat untuk memakan makanannya.
Ia juga di selimuti rasa khawatir-nya pada Yuan. Bagaimanapun, Yuan sudah seperti adik baginya. Ia tumbuh besar bersama pria itu, apalagi ada ikatan darah yang mengalir di tubuh mereka. Perasaan khawatir seperti ini wajar saja ia rasakan.
Sudah dua hari ini si bodoh itu menghilang. Kemana perginya ya? Dia bahkan tidak menghubungiku dan yang lainnya. Hah, pria itu selalu saja bertindak gegabah. Jika ingin mewujudkan mimpinya, tidak harus melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti ini, pergi dari rumah itu sangat konyol sekali. — Batin Nana.
Nana kembali menghela nafasnya, membuat semua anggota keluarga kecilnya itu menoleh padanya.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu Nana?" Tanya ayahnya, Yohan.
Nana diam sesaat, kemudian mendongakkan kepalanya, menatap tanpa minat ke arah ayahnya itu.
"Tidak ada." Jawab Nana. Setelah mengatakan itu, ia bangkit dari kursinya.
"Aku rasa dia sedang khawatir pada Yuan." Kata Rachel sembari menatap punggung Nana yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"Bukankah itu berlebihan? Aku juga khawatir pada kak Yuan, tapi tidak sampai seperti itu." Ujar Daisy.
Rachel tersenyum menatap putri keduanya dari Yohan itu.
"Mereka sejak kecil selalu bersama, berbagi suka duka bersama, tentu saja ikatan mereka sangat kuat, rasa khawatir yang dirasakan kakakmu pasti lebih besar, bagaimanapun juga ikatan kekeluargaan mereka lebih kuat daripada dirimu." Kata Rachel.
Anak haram itu selalu saja lebih unggul dariku. Bahkan kak Yuan sekalipun ia klaim sepenuhnya, aku sama sekali tidak pernah diberinya kesempatan untuk dekat dengan kak Yuan. Dan sekarang ia terlihat seakan-akan dirinya yang paling khawatir. Membuatku merasa kesal saja. — Batin Daisy.
"Aku dengar, Alex akan tinggal lebih lama di negara ini. Semenjak pria itu pulang, dia lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan sekarang berangkat ke kampus pun bersama papanya." Ucap Yohan yang mengalih pada topik sebelumnya.
Rachel menoleh, menatap ke arah suaminya itu.
"Apa kau cemburu dengan papa Nana? Gadis itu hanya sedang melepas rindunya. Aku harap kau mengerti dirinya ya." Kata Rachel.
Yohan tersenyum samar,
__ADS_1
"Kenapa aku cemburu? Tentu saja tidak. Lagipula wajar saja dia lebih sering bersama ayah kandungnya. Bukan masalah." Jawab Yohan.
Jawaban itu memang terdengar baik-baik saja, tapi jika melihat raut wajah Yohan, membuat Rachel merasakan perasaan yang lain. Suaminya itu seperti memendam jawaban yang lain.
•••
"Kau tidak berangkat ke kampus lagi?" Tanya Rose, gadis itu menatap Yuan yang duduk santai sambil menonton acara variety show yang ada di televisi.
"Hm." Jawab Yuan singkat.
"Kau bisa tertinggal materi kuliahmu nanti. Dan juga—"
"Jangan berisik, jika kau ingin pergi ke kampus, pergi saja, jangan pedulikan aku." Ujar Yuan yang menyela perkataan gadis itu.
Rose menghela nafasnya, entah keberanian dari mana, tapi tangan gadis itu bergerak merebut remote televisi yang Yuan pegang. Setelah itu, ia menekan tombol on/off untuk mematikan televisi.
Yuan menoleh kesal padanya, hendak merebut kembali remote televisi itu. Tapi Rose sudah melangkah mundur beberapa langkah darinya, menyembunyikan remote televisi itu di belakang tubuhnya.
"Kau ini, apa maumu? Aku sedang menonton acara kesukaanku!" Kata Yuan yang kesal.
Rose menatapnya dengan ekspresi tidak biasa, gadis itu menatap Yuan datar, membuat Yuan merasa kikuk, sangat aneh melihat Rose menatapnya seperti itu.
"Ro—se." Panggil Yuan, untuk pertama kalinya pria itu menyebut nama Rose.
Rose masih diam tak bergeming, tatapannya masih menatap pria itu.
"Yuan, dengarkan aku. Entah ini akan kau pikirkan atau tidak, tapi aku berharap kau memikirkannya. Aku tidak tahu inti masalahmu apa, tapi yang pasti itu tentang kau dan orangtuamu yang tidak sependapat. Bukan maksudku untuk ikut campur, aku hanya tidak ingin kau menjadi Yuan yang tidak ku kenal. Jangan merasa seakan kau yang tersakiti sendiri, sampai membuatmu bertindak sesuka hatimu. Jika memang dugaanku benar, kau sedang bertengkar dengan orangtuamu, pernahkah kau mencoba untuk memposisikan dirimu sebagai mereka? Kenapa kau tidak mencoba melihat dari sudut pandang mereka? Dari pada pergi dari rumah dan kabur dari masalah, itu sangat kekanak-kanakan, dan Yuan yang aku kenal tidak seperti itu." Ujar Rose.
Semua perkataan itu sebenarnya sudah ingin ia katakan sejak awal mereka bertemu, tapi waktu itu tidak ada keberanian di dalam dirinya. Baru sekarang ia berani mengatakannya, karena tidak suka melihat Yuan yang seperti orang berbeda di matanya.
Yuan yang di cintainya adalah pria yang tidak pernah menunjukkan sikap putus asa dan tidak peduli dengan hidupnya lagi. Itu bukan diri Yuan yang dikenalnya.
Rose melangkah maju mendekati pria itu, ia mengembalikan kembali remote televisinya pada Yuan, menatap sejenak pria itu. Kemudian berbalik membelakanginya.
"Maaf jika aku berlebihan. Aku berangkat ke kampus dulu, sampai jumpa." Ucap Rose yang kemudian berjalan menuju pintu keluar apartemen itu, gadis itu keluar dan menutup pintunya kembali, menyisakan Yuan yang masih terdiam di tempatnya.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1