
Good Afternoon~
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
“Ayo masuk. Aku akan mengenalkanmu dengannya, sekaligus meminta ijinnya untuk menerimamu tinggal di sini sementara waktu,” ujar Sarah.
“Tinggal di sini?” tanya Rose, “Sarah, aku tidak ingin merepotkanmu lagi, sudah cukup banyak kau membantuku. Jadi aku tidak perlu tinggal di sini. Apalagi sampai harus merepotkan saudaramu,” tutur Rose, merasa tak enak hati.
Sarah tersenyum tipis, kemudian ia menyentuh rambut Rose, mengusapnya dengan penuh kelembutan.
“Jangan sungkan padaku. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, anggap aku ini kakakmu. Tidak. aku rasa mulai sekarang aku akan mengangkatmu sebagai adik angkatku. Dengan begitu, rumah ini adalah rumah saudara angkatmu. Jadi, kau tidak perlu merasa sungkan seperti ini,” papar Sarah.
Rose tersenyum, membalas senyuman yang Sarah lemparkan padanya. Dia senang dengan pengakuan Sarah barusan. Tapi tetap saja, merepotkan orang bukan hal yang menyenangkan, apalagi itu Rose, hatinya sangat menentang untuk terus bergantung pada orang lain.
Melihat Rose hanya diam saja. Sarah menghembuskan napasnya, dia tahu kalau Rose masih sungkan padanya.
“Rose, pikirkan baik-baik. Tempat ini, mansion ini adalah tempat yang paling bagus untukmu bersembunyi dari pria itu. Kalau kau tidak ingin tinggal di sini dan memilih kembali ke apartemenmu, coba kau pikirkan, dia pasti akan dengan mudah menemukan mu. Dan dia bisa saja melukaimu,” kata Sarah.
Rose tertegun, apa yang Sarah katakan ada benarnya, “Tapi, apakah dia akan mencariku? Aku rasa tidak Sarah. Dia tidak mungkin mencariku, tidak mungkin dia akan menemuiku. Jadi kau tidak perlu khawatir, Sarah. Semua akan baik-baik saja,” tukas Rose.
“Kau tidak mengerti, Rose. Kau tidak paham sebesar apa kekuasaan keluarganya. Kalau Ketua Ray ingin melukaimu bagaimana, huh? Aku mohon Rose, hanya untuk beberapa waktu saja. Satu atau dua tahun, kau butuh tempat untuk bersembunyi dari mereka yang mengenalmu. Kau butuh tempat untuk mengatur kehidupanmu dan memulai sesuatu yang baru. Aku mohon, Rose, ya?” bujuk Sarah. Tatapan matanya tampak menampilkan binaran permohonan.
Rose menghela napasnya. Sebenarnya ia sendiri juga butuh tempat untuk mengatur kehidupannya kembali. Karena kalau ia kembali ke tempatnya dulu, semua kenangannya bersama Yuan pasti hanya akan menjadikannya semakin terpuruk dan hancur berkeping-keping.
“Baiklah, aku akan mengikuti saranmu. Tapi... apa sungguh tidak masalah? Bagaimana jika saudara kembarmu tidak setuju kalau aku tinggal di tempatnya?” tanya Rose, mewanti-wanti hal yang terburuk.
Sarah tersenyum, ia kembali menatap Sean yang masih setia berdiri di balik jendela besar nan bening itu. Ia berdiri di sana menunggu adik kembarnya untuk masuk.
“Kau tenang saja. Dia sangat menyayangiku. Apapun yang aku minta, pasti akan dia turuti. Karena aku dan dia adalah keluarga. Kami saling memiliki satu sama lain,” ujar Sarah.
“Begitukah? Dia sepertinya pria yang baik,” ucap Rose dengan senyum tipisnya.
“Ya, dia hanya baik padaku dan beberapa orang lainnya, tidak dengan semua orang. Dan dia itu sungguh pria bodoh dalam hal memilih perempuan. Rose, kau jangan sampai suka padanya ya. Dia itu seekor serigala, tidak cocok untuk domba lugu sepertimu,” canda Sarah dengan tawa kecilnya.
Rose membalas candaan Sarah itu dengan ikut tertawa kecil juga.
“Tapi, Rose,”
__ADS_1
“Apa?”
“Kalau kau ingin mencoba bersamanya, asal itu bagus untuk kalian, aku tidak masalah, sungguh,” ucapnya.
Rose kembali tertawa, “Jangan bercanda, Sarah. Aku bagaimana mungkin, ck.”
“Iya, iya. Aku tahu. Ya sudah, ayo cepat masuk, di luar sebentar lagi akan turun hujan,” ucap Sarah.
Rose mengangguk. Lantas, kemudian mereka berjalan bersama memasuki mansion tersebut.
“Apa kau itu preman? Apa kau sudah puas meminjam helikopternya? Sekarang siapa yang kau bawa ini?” tanya Sean, ia berdiri di sudut ruang tamu, dekat jendela besar yang menghadap ke arah halaman depan mansion itu.
Sarah menoleh ke sisi kanannya, tempat dimana saudaranya itu berbicara.
“Oh, halo Kakak beda lima belas menitku. Apa kabar?” sapa Sarah, mulai mengeluarkan jurus rayuannya.
Sean membalas sapaan itu dengan senyuman manisnya. Tapi, dua detik kemudian, senyum itu luntur dan berganti dengan tatapan tajamnya. Hal itu membuat Sarah langsung menyusutkan keberaniannya.
“Siapa perempuan yang bersamamu itu?” tanya Sean sembari mencoba melihat wajah yang tersembunyi di balik tubuh Sarah itu.
“Aaa...iya, ini, aku perkenalkan padamu,” ucap Sarah sembari menarik pelan Rose, menyuruh gadis itu untuk berdiri sejajar dengannya, “Dia— ”
“Kau.” sela Sean.
Perusahaan konveksi, itulah yang terlintas di benak Rose dan Sean, bersamaan.
Kini, Rose pun ikut menunjuk Sean, ia membungkam mulutnya, tidak percaya dengan kebetulan yang sedang ia alami saat ini.
“Kalian berdua— apa kalian sudah saling mengenal?” tanya Sarah.
“Tidak, tidak, aku sama sekali tidak kenal dengan pria jahat itu,” kilah Rose.
“Benarkah? Apa kau melupakanku, Manis? Aku sungguh kecewa dengan ingatanmu yang buruk,” sahut Sean dengan senyum seringainya, dia bahkan memanggil Rose dengan sebutan seperti itu agar Rose dapat mengingatnya dengan jelas.
Melihat senyum dari saudara kembarnya itu, Sarah yakin kalau sesuatu pernah terjadi di antara Rose dan Sean.
“Rose, katakan saja, aku tidak akan marah padamu,” ucap Sarah.
“Tidak Sarah, aku tidak berbohong. Aku sungguh tidak mengenalnya. Tapi kami memang pernah bertemu sekali,” tegas Rose.
“Bertemu sekali? Tidak mungkin, apa maksudmu... kalian berdua, kalian— one night stand?” tebak Sarah sembari menunjuk Sean dan Rose secara bergantian.
“Bukan, tidak mungkin seperti itu Sarah,” sanggah Rose, cepat.
__ADS_1
“Menarik,” ucap Sean.
“Apanya yang menarik?! Coba kau jelaskan padanya. Kalau kita, kita berdua hanya tidak sengaja bertemu,” kata Rose, memprotes.
Sean tersenyum samar, ia kemudian berjalan maju, lebih dekat dengan kedua perempuan yang berdiri berdampingan.
“Perusahaan konveksi, pengacara, tiga tahun yang lalu. Apa kau sungguh lupa semua itu?” tanya Sean sembari menatap Rose penuh selidik. Wanita itu tidak mungkin lupa, karena Sean menyisipkan sesuatu yang akan sangat membekas di ingatan Rose.
Penculikan dan gudang.
Rose tidak mungkin lupa semua itu. Ia bahkan bisa mengingatnya dengan jelas sampai sekarang. Bau obat bius dari sapu tangan yang membekap mulutnya, ia masih bisa mencium aromanya dalam ingatan.
Rose melangkahkan kakinya, respon tubuhnya langsung bergerak. Ia merasa takut pada pria di hadapannya itu.
Sarah yang sudah paham dengan gelagat Rose, ia langsung menatap kembaran tajam, lalu menghadang pandangan Sean yang terus menatap Rose tanpa teralihkan sedikitpun.
“Kau menakutinya,” omel Sarah.
“Apa kau takut padaku, Manis?” tanya Sean, memiringkan kepalanya, mencoba mencuri pandang dengan Rose yang terhalang oleh tubuh Sarah.
“Jangan memanggilnya seperti itu, kau membuatnya merasa tidak nyaman, Sean,” keluh Sarah, ia kesal dengan sikap kembarannya itu.
“Rose, tolong jangan di ambil hati ya. Saudaraku, dia memang kadang menjengkelkan,” ucap Sarah sembari menoleh ke belakang, menatap Rose sekilas.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku, aku bisa mengatasinya, Sarah,” cicit Rose.
“Apa kau yakin?” tanya Sarah.
Rose mengangguk, lalu kemudian Sarah menghela napasnya, ia menyingkir dari hadapan Rose, memberi akses untuk Sean dan Rose saling berhadapan kembali.
“Aku memang mengingatmu. Tapi maaf, aku sama sekali tidak ingat siapa namamu,” ungkap Rose dengan kepala tertunduk dan tangan yang memainkan tas selempangnya.
Sean mengangguk paham, “Ya, tidak masalah. Walaupun sedikit mengecewakan. Tapi sungguh tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut padaku. Ah iya, kita bisa saling memperkenalkan diri kembali. Lagipula, waktu itu perkenalan kita sangat buruk dan kacau,” sahut Sean.
“Aku, panggil saja aku Rose,” ucap Rose, memperkenalkan dirinya.
Sean pun tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya, “Aku Sean, saudara kembarnya Sarah. Tapi walaupun kembar, wajah kami tidak mirip,” ujar Sean.
Rose membalasnya dengan senyum ramah, ia kemudian membalas jabat tangan pria yang telah menyandang status duda keren di usianya yang masih dua puluh enam tahun itu.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1