
"Kau yakin tidak ingin pindah bersama ibu ke kota kecil? Apa kau akan baik-baik saja tinggal di ibu kota yang besar seperti ini sendirian?" Tanya sang ibu pada Rose.
Setelah mereka di usir dari rumah, karena rumah itu diam-diam telah dijual oleh ayah Rose yang menghilang entah kemana, ibu Rose memutuskan untuk pulang ke kota kelahirannya dan melanjutkan hidup disana.
Tapi alih-alih ikut bersama ibunya, Rose lebih memilih bertahan di kota besar dan kejam ini seorang diri. Sekalipun ia harus tinggal di apartemen kecil, itu bukan masalah baginya.
"Hm, percaya padaku, aku bisa bertahan sendiri disini. Ibu jangan khawatir, lagipula aku lahir dan besar di kota ini, sulit bagiku untuk meninggalkannya begitu saja." Jawab Rose.
Ibunya tersenyum, mengelus lembut rambut putrinya itu.
Mereka saat ini sedang duduk di halte bus, menunggu kedatangan bus antar kota.
"Maafkan ibu ya, kau selama ini banyak menderita karena memiliki ayah yang seperti dia, ini semua salah ibu yang bodoh dalam memilih suami." Ucap ibu Rose.
Rose hanya bisa diam dengan raut sendunya, ia menatap wajah ibunya itu lekat, setelah ini, dirinya akan sulit sekali bertemu sang ibu, lalu rasa rindu akan memasuki celah hati mereka.
"Jangan berkata seperti itu, bagaimanapun juga, aku tetap bangga dan sayang pada ibu. Ah, bus nya sudah datang." Ujar Rose, pandangannya terarah pada bus besar yang berhenti di depan halte bus itu.
Mereka beranjak dan berjalan mendekati bus itu, sebelum masuk ke dalam bus, sekali lagi mereka berpelukan cukup lama.
"Hubungi aku jika sudah sampai. Hati-hati dijalan, aku akan sering menelpon ibu. Dan jika ada waktu luang, aku akan mengunjungimu. Daaa!" Teriak Rose saat ibunya sudah masuk ke dalam bus itu.
Bus berwarna biru itu melaju ke jalurnya kembali, menyisakan ketidakrelaan dalam hati. Sedih rasanya harus berpisah dengan seseorang yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Rose menghela nafasnya, ia melirik sebuah jam yang melekat di tangannya, hari ini jadwal kelasnya agak siang, karena itu ia bisa mengantarkan ibunya pergi.
"Satu jam lagi aku ada kelas, lebih baik aku berangkat ke universitas sekarang." Gumam Rose, kemudian berlalu meninggalkan halte bus itu.
•••
Ruang makan itu terlihat sepi dari biasanya, walaupun ada empat anggota keluarga yang sedang duduk disana, tapi satu anggota keluarga tidak hadir membuat keheningan tidak dapat dihindarkan.
"Apa ada masalah? Yuan tidak terlihat pulang semalaman." Alex akhirnya bersuara setelah ia saling lirik dengan ibunya, bertanya-tanya ada apa dengan suami istri itu. Ray dan Ana sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanan mereka tanpa selera.
Ana menoleh ke arah Alex sejenak, namun kemudian menghembuskan nafas beratnya, setelah itu pandangannya kembali pada sarapannya.
"Aku berangkat dulu." Ujar Ray, ia beranjak dari duduknya.
"Hm." Jawab Ana tanpa menoleh sedikitpun.
Ray menghela nafasnya, pria itu kemudian pergi dari meja makan begitu saja, tidak ada rutinitas pagi yang biasa mereka lakukan.
__ADS_1
Kedua orang itu seakan telah kehilangan jiwa mereka, pikiran mereka telah melayang-layang entah kemana.
"Ana, kau tidak ingin mengantar suamimu sampai ke luar rumah?" Tanya ibu mertua Ana.
Ana menjawabnya hanya dengan gelengan kepala.
"Aku permisi ke kamar." Ucap Ana yang kemudian bangkit dari duduknya.
Melihat suami istri yang sedang kacau itu telah pergi, Alex dan ibunya hanya bisa saling memandang dan mengangkat bahunya tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Apa mereka sedang bertengkar?" Tanya Alex.
"Entahlah, tapi ibu rasa tidak, mereka tidak pernah bertengkar sebelumnya. Kalaupun mereka bertengkar, tidak seperti itu sikap mereka, mungkin Ana akan menjauhi Ray. Tapi dari yang tadi kita lihat, sepertinya mereka sedang menghadapi masalah bersama. Ibu pikir itu tentang Yuan, anak itu tidak terlihat pulang semalam, ibu juga mendengar suara keributan, tapi entahlah, itu sudah larut malam sekali." Jawab ibu Alex.
"Apa Yuan membuat masalah?"
"Mungkin saja begitu, coba kau tanya Nana, mereka kan cukup dekat, siapa tahu Nana mengetahui masalahnya." Ujar ibu Alex.
"Tapi semalam Nana pergi bersamaku, tidak ada tanda-tanda jika Nana mengetahui atau menyembunyikan sesuatu." Kata Alex.
"Hah, semoga saja bukan masalah besar." Gumam ibu Alex.
•••
"Rose!" Panggil seorang gadis dari arah kanannya, Rose menoleh, kemudian tersenyum ketika bola matanya melihat sosok yang akhir-akhir ini sangat dekat dengannya.
"Nana." Ucap Rose.
"Hai, selamat pagi!" Sapa Nana saat dirinya sampai di hadapan gadis itu.
"Em, selamat pagi." Balas Rose, gadis itu kemudian melihat ke arah belakang tubuh Nana, mencari seseorang yang biasanya selalu bersama teman barunya itu.
"Mencari Yuan?" Tanya Nana yang paham dengan gelagat dari Rose.
Rose tersenyum malu, tapi kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya." Jawab Rose.
"Aku tidak berangkat bersamanya hari ini. Tapi tadi papaku bilang, dia tidak pulang ke rumah semalam." Ujar Nana.
"Dia tidak pulang ke rumah semalaman?"
__ADS_1
"Iya, terakhir kali aku melihatnya bersamamu, apa kau tahu dimana dia?" Tanya Nana.
"Kemarin dia hanya mengantarku sampai di dekat restoran ibunya, setelah itu dia pergi. Aku juga tidak tahu dia ada dimana. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rose.
Nana mengangkat bahunya,
"Entahlah, sepertinya begitu. Yuan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku juga sudah menghubungi teman-temannya yang lain, tapi tidak ada yang tahu kemana perginya pria bodoh itu." Jawab Nana.
Rose menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba ingatannya tentang kemarin siang kembali melintasi memorinya.
Kemarin siang...saat aku datang ke ruangan YJK2, Kai bilang kalau Yuan pergi ke ruangan ketua yayasan dan bertemu ayahnya, lalu hampir satu jam kemudian dia datang ke ruangan YJK2 dengan wajah muramnya. Apa itu masalahnya? Kemungkinan dia sedang bertengkar dengan ayahnya. Tapi masalah apa yang membuatnya sampai tidak pulang kerumah? Hah, aku harus menemukannya, dia pasti sedang kesulitan, aku harus membantunya, bagaimanapun juga, aku berhutang banyak padanya. Setidaknya aku harus membalas kebaikannya dengan membantunya saat ini. — Batin Rose.
"Rose." Panggil Nana, membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ah iya?" Tanya Rose yang baru saja tersadar dari lamunan panjangnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Eh? Oh itu—tidak ada, aku hanya khawatir pada Yuan." Jawab Rose.
"Hah, dia itu memang suka sekali membuat orang lain khawatir." Ucap Nana.
"Nana, apa kau tahu, tempat yang mungkin Yuan datangi saat dia sedang dalam keadaan tidak baik?" Tanya Rose.
Nana tampak mengernyitkan keningnya, ia sedang berfikir, mencoba mengingat-ingat tempat-tempat yang pernah Yuan kunjungi.
"Aku tidak yakin, dia bukan tipe orang yang sering mendapat masalah." Jawab Nana.
"Hah, begitu ya. Sudah aku duga." Gumam Rose.
"Ada apa memangnya?" Tanya Nana, ia penasaran dengan apa yang Rose pikirkan.
"Ah tidak ada, aku hanya mengambil kesimpulan yang sederhana saja. Biasanya orang akan pergi ke tempat favoritnya untuk menghilangkan kesedihannya. Yah, biasanya seperti itu, tapi orang seperti Yuan, tidak mungkin sedih kan? Dia memiliki segalanya, pasti selalu bahagia." Kata Rose.
Nana mengangguk setuju. Dalam ingatannya, Nana pun tidak pernah melihat Yuan sedih. Marah dan kesal mungkin pernah, tapi sedih, sama sekali tidak pernah Nana lihat.
Tapi memiliki segalanya bukan berarti bahagia. Sekalipun dia terlihat bahagia, pasti di dalam hatinya menyimpan kesedihan juga. Hah, kenapa aku berpikir terlalu jauh. Yuan, kau ada dimana? Apa kau benar-benar pergi rumah? — Batin Rose.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1