The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Ingin Tinggal


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Ma,” panggil Yusen ketika Rose sedang menuangkan air minum padanya.


“Ya? Apa kau mau sesuatu?” tanya Rose.


“Pria itu, pria yang bernama Yuan itu, apa dia— ”


Ting Tong


Suara bunyi bel rumah menggema, Yusen pun sampai terpaksa menghentikan perkataannya.


“Kalian lanjutkan makannya. Mama buka pintu dulu,” ujar Rose sembari mengusap kepala Yusen, lalu menjauh dari meja makan itu.


Sesampainya di depan pintu utama rumahnya. Rose tanpa ragu langsung membuka handle pintu itu.


Ekspresi pertama yang terukir di wajahnya adalah keterkejutan.


“Yuan? Kenapa malam-malam seperti ini kau datang ke rumahku?” tanya Rose dengan kening berkerutnya.


Yuan, pria itu diam, tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Yuan menerobos masuk ke dalam rumah.


“Yuan, apa yang— ” perkataan Rose terputus ketika mata coklatnya menangkap koper hitam besar yang Yuan tarik masuk ke dalam rumahnya.


“Koper itu— kau tidak mungkin ingin tinggal di sini kan?” tanya Rose.


Yuan menoleh padanya. Melalui cahaya lampu rumahnya yang terang benderang. Kini Rose dapat melihat dengan jelas betapa kusutnya wajah pria dihadapannya itu.


Rambut halus yang belum di cukur, mata sembab yang belum normal kembali, dan juga, rambutnya yang berantakan walaupun terlihat menawan di mata Rose, tapi tetap saja melihat kekacauan itu membuat Yuan tampak sangat menyedihkan.


Rose menghela napasnya, perasaan tidak tega mengerubungi hatinya. Ia ingin sekali mengusir pria itu demi kenyamanan anak-anaknya. Tapi melihat kondisi Yuan saat ini, Rose tidak mungkin bisa melakukannya.


Wanita itu pun kemudian mengalihkan pandangannya. Ia menatap kedua anak kembarnya dari sekat-sekat lebar rak hias pembatas. Kedua anaknya itu masih duduk di kursi makan pada sisi kiri ruangan tersebut.


“Mereka marah padaku, mereka juga baru saja keluar dari kamar setelah seharian mengurung diri. Apa kau ingin membuat mereka marah lagi?” jelas Rose. Ia berpikir lebih baik jujur pada pria di hadapannya itu.


Yuan terdiam, kemudian ia mengikuti arah pandang Rose, menatap kedua anaknya yang kini juga menatap ke arahnya.


“Sekalipun aku harus berlutut di hadapan mereka, aku akan melakukannya. Aku ayah mereka, mereka anak-anakku, aku tidak bisa diam saja setelah selama delapan tahun menjadi pria dan ayah yang tidak bertanggung jawab,” tutur Yuan tanpa mengalihkan pandangannya dari Yusen dan Yuna.


Sedangkan kedua kakak-beradik kembar itu, mereka hanya bisa diam dan menunggu.

__ADS_1


Yusen, seharian dia mengurung diri,l. Banyak hal yang Yusen pikirkan tentang kejadian hari ini. Keputusan pun kini telah ia ambil. Tapi, melihat sosok pria yang tampak mirip dengannya itu. Kebimbangan kembali menghantui hatinya.


“Apa kita harus pergi ke kamar?” tanya Yuna, berbisik.


Pelan, Yusen menggelengkan kepalanya, berkata tidak melalui gerakan tubuhnya.


Kemudian, pria kecil itu menoleh pada kakak kembarnya yang lebih tua lima tahun darinya itu.


“Selama mengurung diri di kamar tadi. Kita berbagi pesan singkat kan?”


Yunara mengangguk.


“Kau masih ingatkan keputusan kita?”


Yunara kembali menganggukkan kepalanya.


“Kita lihat seberapa pantas dia menjadi ayah kita. Apakah dia pantas atau tidak, kita harus menilainya sendiri,” ujar Yuna, mengucapkan kesepakatan yang mereka buat.


“Karena itu, kita lihat langsung. Kita cukup bersikap seperti dewan juri, netral. Jangan pernah menunjukkan kalau kita menerimanya, tapi jangan juga terlalu menunjukkan kalau kita menolaknya,” sahut Yuan, berkata dengan nada kecilnya.


Kembali fokus pada Rose dan Yuan, kedua orang dewasa itu, mereka masih diam di tempatnya.


Yuan masih menatap kedua anaknya itu dengan mata berbinar.


“Kau merawat mereka dengan baik,” ucap Yuan setelah beberapa menit terdiam.


“Mengetahui hal ini, rasanya menyedihkan. Mereka bisa tumbuh dengan baik tanpa sosok ayah,” kata Yuan lagi.


Rose mengehembuskan napas beratnya.


“Karena aku berusaha keras untuk menjadi sosok ibu dan ayah secara bersamaan. Aku mengurus mereka, membesarkan mereka, memberikan kasih sayang dan juga menafkahi mereka,” jujur Rose, ia sebenarnya sedang menumpahkan keluh kesahnya yang terpendam.


Rasa bersalah semakin mengakar di hati Yuan. Ingin sekali ia merengkuh tubuh wanita di hadapannya itu. Tapi, rasa tidak pantas membuat dirinya mengurungkan keinginan tersebut.


“Maaf, maaf karena aku datang terlalu terlambat,” ucap Yuan.


“Kau pernah mendengar sebuah kata yang sangat umum?” tanya Rose, “Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali,” sambungnya.


“Mungkin, aku akan lebih kecewa padamu dan juga mereka akan lebih tidak menerimamu kalau kau tidak pernah datang di kehidupan kami,” imbuh Rose.


“Maaf,” ucap Yuan sembari menundukkan kepalanya.


Seorang pria hebat. Di puji dan di sanjung adalah makanan kesehariannya. Tidak ada yang berani menyinggungnya.


Harta, tahta dan wanita bisa saja ia dapatkan hanya dalam kedipan mata. Tapi semua itu ambyar hanya karena satu kata, cinta.


Bukan cinta buta, bukan pula cinta kasih remaja. Tapi, sebuah cinta tulus dari sosok yang luar biasa, sebuah cinta murni dari sosok yang sederhana.

__ADS_1


Sejauh apapun jarak menjauhkan, selama apapun waktu memisahkan, hati mereka tetaplah milik mereka, yang tulus dan murni.


Walaupun menunggu dan mencari membuat hati mereka tersakiti dan hidup mereka hampa. Tapi, ketegasan hati mereka membuat cinta yang bersemayam tak lekas pudar, ia semakin terang dan terus menyala sepanjang masa.


“Temui mereka, dan katakanlah sesuatu. Tapi aku tidak bisa menjamin kalau mereka akan menerimamu. Karenanya, sebelum itu, lapangkanlah hatimu,” kata Rose sembari berjalan melewati Yuan. Wanita itu melangkah lebih dulu mendekati kedua anaknya.


•••


“Ray,” panggil Ana, ia menerobos masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


Pria lanjut usia itu pun berdiri ketika sebuah suara yang sangat ia sukai memanggil.


“Ya? Ada apa?” tanya Ray sembari melepaskan kacamata silindernya.


“Apa kau melihat Yuan? Apa dia pergi? Apa dia pamit denganmu?” tanya Ana pada sang suami.


Ray yang belum paham pun ia mengernyitkan keningnya, lalu beranjak dari kursinya, kemudian berjalan mendekati Ana yang berdiri di seberang meja kerjanya.


“Tenangkan dirimu dan jelaskan padaku perlahan,” ucap Ray, lembut.


Ana menghela napasnya, diam sejenak. Setelah itu, ia mulai berbicara, “Tadi aku pergi ke kamar Yuan, tapi dia tidak ada. Bahkan lemarinya terbuka dan semua pakaiannya tidak ada. Aku tahu kalau Yuan jarang sekali pulang ke rumah. Tapi dia tidak pernah mengemasi pakaiannya. Aku khawatir padanya,” jujur Ana, berkeluh-kesah.


Ray yang kini telah berdiri di hadapan sang istri. Ia merengkuh tubuh istrinya itu dalam hangat, mengusap pelan punggung Ana agar wanita itu tenang.


“Dia sudah dewasa. Kita bahkan baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tiga puluh tiga. Jadi tidak perlu mencemaskannya. Aku tahu kau sangat menyayangi Yuan, begitupun denganku. Tapi ingat, kini dia adalah seorang ayah, dia bisa berpikir dengan cara dewasanya sendiri,” ujar Ray, menenangkan.


“Mungkin saat ini dia sedang berjuang untuk mengobati rasa sesal dan bersalahnya,” ungkap Ray sembari terus memberikan rasa tenang pada sang istri.


•••


Beberapa saat, Yuan tampak diam di tempatnya.


Tapi kemudian, pria itu berjalan mendekati Rose beserta kedua anaknya. Yuan berhenti sejenak untuk melepaskan kopernya, meletakkan koper tersebut di tengah ruangan itu begitu saja. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya, mendekat dan kini berdiri di hadapan tiga orang tercintanya.


Namun, entah bagaimana, pria itu merasa dirinya menjadi bisu seketika. Yuan tidak tahu harus berkata apa dan memulai perkataannya dari mana.


“Kenapa hanya diam saja? Kenapa tidak mengatakan sesuatu? Kalau ada yang ingin Paman katakan, katakan saja. Tapi kalau Paman hanya ingin diam seperti patung, lebih baik Paman keluar saja dari rumah ini,” sungut Yusen dengan ekspresi dinginnya.


Yuan tersenyum tipis, ia menatap kedua anaknya itu secara bergantian. Berapakali pun ia menatap mereka, rasanya tidak akan pernah puas. Mereka seperti batu permata yang menawan hati.


“Papa tidak punya rumah, bolehkah Papa tinggal di sini?” tanya Yuan.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


NP : Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme

__ADS_1


__ADS_2