The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Night Mode


__ADS_3

Sebelum ia menutup pintu mobil, Rose kembali melemparkan senyum manisnya kepada Yuan.


"Apa sekarang kita sepasang kekasih?" Tanya Rose.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Yuan langsung menolehkan kepalanya, mengindari tatapan mata Rose.


"Ya." Jawab Yuan tanpa menoleh ke arah gadis itu.


Senyum Rose semakin lebar melihat sikap dari pria yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu.


"Baiklah, sampai jumpa besok my boy." Ucap Rose sembari menutup pintu mobil.


Yuan menolehkan kepalanya tepat setelah pintu mobil itu tertutup sempurna.


Wajahnya yang sejak tadi memang terasa memanas, kini semakin panas.


Biasanya yang akan malu-malu dan blusing adalah pihak perempuan, tapi ini berbeda, Yuan si pihak pria lah yang tampak merona.


Dari luar mobil, Yuan dapat melihat Rose kembali berbalik menghadap ke arah mobilnya. Gadis itu melambaikan tangannya, sebelum kemudian masuk ke dalam gedung apartemen yang terlihat kumuh namun masih sangat layak huni.


Setelah memastikan kalau kekasihnya itu masuk ke dalam gedung apartemen. Yuan mulai menyalakan mesin mobilnya. Lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan daerah itu.


Sepanjang perjalanan, Yuan tidak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri. Bayangan bagaimana dirinya dengan tingkat gengsi yang tinggi, akhirnya mampu menyatakan perasaannya pada Rose, sungguh membuat hatinya terasa seperti kembang api yang meledak-ledak, walau hanya sesaat dan telah berlalu, tapi efek indahnya masih membekas di hati dan pikirannya.


•••


Rose berjalan masuk ke dalam gedung apartemen dengan senandung ria yang mengiringi setiap langkah kakinya.


Sesampainya di depan pintu apartemen kecilnya, ia segera membuka pintu itu, lalu masuk ke dalam.


Masih dengan senandung kecil, Rose melangkahkan kakinya menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya pada kasur yang kini lebih terasa empuk baginya, mungkin itu karena moodnya sedang luar biasa bagus.


"Sungguh seperti mimpi." Gumam Rose, kemudian memejamkan matanya.


"Kalau benar ini adalah mimpi, aku berharap pada tuhan agar ia tidak membangunkanku dari mimpi indah ini." Sambungnya.


"Tapi kalau ini benar-benar kenyataan, aku berharap kebahagiaan ini dapat abadi, selamanya." Ucapnya lagi.


Banyak harapan yang Rose inginkan, semua itu tidak jauh-jauh dari kebahagiaan abadi. Walau ia tahu, kebahagiaan tidak ada yang abadi. Tapi ia akan tetap berharap seperti itu.


Hidup di dunia ini sungguh tidak ada yang bisa diharapkan untuk abadi. Manusia, hewan dan tumbuhan saja pada akhirnya juga akan mati. Apalagi sesuatu yang berhubungan dengan perasaan dan suasana hati.


Semua akan berputar seperti layaknya roda kendaraan. Ada saatnya untuk bahagia, namun juga ada saatnya untuk sedih.


Hal itulah yang menimbulkan rasa takut di hati Rose.


Sedih, satu kata namun mampu membuat siapapun tidak sanggup menghadapinya, begitu takut untuk bertemu dengannya. Tapi tidak akan pernah bisa menghindarinya, kapanpun itu, sedih pasti akan datang, ia akan datang bersama awan hitam dan guntur yang mengiringi.


•••


Pukul 07:30 malam.


Yuan baru sampai di rumahnya setelah dirinya mampir ke restoran ibunya untuk menjemput sang ibu.


Setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, Yuan turun dari mobil lebih dulu, lalu berjalan ke sisi lain mobil dan membukakan pintu mobil untuk ibunya.


"Ck, sejak kapan kau menjadi pria baik dan penuh pengertian seperti ini, sungguh mengingatkan mom pada dad-mu di masa kami muda dulu." Ucap Ana sembari meraih tangan Yuan yang terulur ke arahnya.


"Oh ya? Apakah daddy dulu seorang pria yang romantis?"


"Bisa dibilang seperti itu, hanya saja sikap romantisnya itu berbeda dari pria lain." Jawab Ana.


Yuan menutup pintu mobilnya setelah ibunya keluar dari dalam.


"Apa yang membuat mom berpikir kalau sifat romantis dad berbeda?" Tanya Yuan  dengan kaki yang mulai melangkah bersama sang ibu.


"Em— itu mom tidak tahu pasti bagaimana harus menjelaskannya, intinya mom merasa kalau itu berbeda." Jawab Ana.


Kini mereka telah masuk ke dalam rumah. Ketika melewati ruang tamu, pandangan ibu dan anak itu menangkap sosok yang sedang mereka bicarakan.


Ray duduk di sofa ruang tamu sembari membaca koran pagi tadi.


"Situasi ini membuatku merasa de javu." Ucap Ana tanpa sadar.


"Maksud mom?" Tanya Yuan.


"Eh, bukan apa-apa." Balas Ana.


Wanita paruh baya itu entah kenapa teringat sesuatu di masa lalu.

__ADS_1


Posisi Ray dan dirinya saat ini sungguh pernah terjadi di masa beberapa puluh tahun lalu.


Hanya saja yang membedakannya adalah saat itu Ana berdiri bersama Alex dan kini ia berdiri bersama anaknya.


"Sudah pulang?" Tanya Ray, membuat lamunan Ana pada kenangan masa lalu itu terpecah.


"Ya." Jawab Yuan mewakili sang ibu.


"Baguslah, cepat masuk ke kamarmu, bersihkan diri lalu pakai pakaian terbaikmu. Malam ini kita akan kedatangan tamu istimewa." Ucap Ray yang ditujukan pada Yuan.


"Eh? Tamu? Kenapa sebelumnya kau tidak memberitahuku?" Tanya Ana.


"Yaa— itu karena sebelumnya mereka belum pasti akan datang atau tidak, baru sore tadi mereka menghubungiku lagi." Kata Ray.


"Kenapa sangat mendadak seperti ini, bagaimana dengan persiapannya?" Tanya Ana lagi.


"Sudah aku siapkan dengan baik. Aku sudah menyuruh pelayan untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam jamuan makan malam nanti."


"Siapa tamunya?" Kali ini Yuan yang bertanya.


"Keluarga Adelard." Jawab Ray.


"Apa? Maksudmu keluarga ketua Barack? Aneh sekali, padahal kita baru saja bertemu dengan mereka di acara ulang tahunnya kemarin, kenapa sekarang tiba-tiba ingin bertamu dan makan malam di rumah kita?" Tanya Ana.


"Apanya yang aneh sayang? Itu wajar-wajar saja, Barack kan teman bisnis terbaikku." Jawab Ray.


"Tapi bagaimanapun juga rasanya aneh." Ucap Ana.


"Sudahlah, tidak perlu kau pikirkan lagi. Ayo, kau juga harus bersiap-siap." Ujar Ray.


"Dan kau Yuan, kenapa masih berdiam diri disini, ayo segera masuk ke kamarmu dan bersiap, mereka akan datang setengah jam lagi." Kata Ray pada putranya.


Yuan mengangguk paham, sekilas ia menatap ibunya, setelah itu ia berjalan menuju tangga yang terhubung ke lantai atas, tempat dimana kamarnya berada.


Sesampainya di depan kamar, Yuan segera menekankan jarinya pada pintu yang terpasang smartlock. Setelah sidik jarinya berhasil di pindai, pintu itu pun terbuka, Yuan segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu kembali.


Di dalam kamar, Yuan tidak langsung melakukan apa yang ayahnya perintahkan, pria itu malah merebahkan tubuhnya ke kasur sembari memejamkan matanya.


Tapi kemudian, sebuah suara notifikasi dari ponselnya membuat mata pria itu kembali terbuka.


Yuan mengambil ponsel miliknya yang masih ia simpan di saku celana.


Sebuah pesan singkat, Rose kirimkan pada Yuan.


'Sudah sampai di rumah?'


Semburat senyum menawan kembali menghiasi wajah pria itu. Kupu-kupu penggelitik hati sepertinya kembali terbangun dan mulai menggelitik kembali hatinya.


Dengan cepat, Yuan langsung membalas pesan singkat itu.


'Sudah, beberapa menit yang lalu baru sampai dirumah. Apa kau tidak bekerja? Kalau tidak, istirahatlah lebih awal, besok pagi aku akan menjemputmu.'


Setelah mengirim pesan balasan pada sang kekasih. Yuan meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu dirinya bergegas menuju kamar mandi.


•••


"Ayah, apa aku boleh tidak ikut? Aku masih ada tugas yang harus aku selesaikan malam ini juga." Kata seorang pria dengan pakaian yang tampak rapi.


"Berapa kali kau akan membuat alasan seperti itu? Ayah sudah mengatakannya tadi, tidak ada penolakan, kau juga harus ikut." Jawab sang ayah.


Feng, pria yang berpakaian rapi itu mendengus kesal mendengar jawaban dari ayahnya itu.


"Feng, ayo cepat masuk ke dalam mobil, nanti kita bisa terlambat." Ujar sang ibu yang telah berada di dalam mobil bersama Rue dan ketua Barack.


"Iya." Jawab Feng, dengan pasrah ia masuk ke dalam mobil itu, duduk di samping adiknya, Rue.


"Ayah, apa jarak rumah keluarga Gavin dan rumah kita cukup jauh?" Tanya Rue.


"Tidak juga, hanya butuh beberapa menit. Rumah kita dan mereka berada dalam kawasan yang sama." Jawab ayahnya.


"Baguslah." Ucap Rue.


"Ck, kau terlihat senang sekali datang kerumah mereka." Sindir kakaknya, Feng.


Rue menoleh sekilas pada kakaknya itu, ia mencebik menanggapi sindiran sang kakak.


"Bukan urusanmu." Balas Rue


•••

__ADS_1


"Tuan muda Yuan, apa anda sudah selesai? Tuan besar dan nyonya besar sudah menunggu di bawah." Kata seorang pelayan.


Tanpa jawaban, Yuan langsung membuka pintu kamar itu. Ia keluar dengan pakaian formal yang melekat sempurna di tubuhnya.


"Anda terlihat sangat cocok memakai pakaian itu tuan muda, semakin mempesona." Puji pelayan itu yang dibalas senyum singkat oleh Yuan.


"Terimakasih." Ucap Yuan.


"Ah iya, mari tuan muda, tuan besar dan nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan." Kata si pelayan.


"Em, oh iya, apa paman Alex tidak ikut acara makan malamnya?" Tanya Yuan.


"Tuan besar kedua sepertinya belum pulang, kalaupun pulang ia pasti akan langsung pergi ke kamarnya nyonya tua Calista." Jawab pelayan itu.


"Disaat grandma sedang sakit, dad malah mengundang tamu untuk makan malam dirumah, mengecewakan." Ucap Yuan.


Si pelayan yang mendengarnya hanya bisa diam, tak berani menjawab ataupun menyanggah. Bagaimanapun juga, itu hak Yuan untuk memprotes sikap ayahnya.


Setelah menuruni tangga menuju lantai satu. Yuan langsung melangkahkan kakinya ke ruang makan, disana ayah dan ibunya tampak sudah duduk di tempat mereka masing-masing.


"Akhirnya kau keluar dari kamarmu juga." Kata Ray.


"Dad, apa daddy lupa? Grandma sedang sakit, kenapa dad malah mengadakan jamuan makan malam? Seharusnya dad menolaknya." Tanya Yuan.


"Kondisi grandma-mu sudah lebih baik dari sebelumnya, dia hanya butuh istirahat beberapa hari di kamarnya. Lagipula, daddy sudah memberitahukan hal ini padanya dan juga paman Alex-mu, mereka tidak masalah." Ujar Ray.


Yuan menghela nafasnya, ingin membalas perkataan ayahnya itu, tapi urung ketika salah satu pelayan di rumahnya datang dari arah ruang tamu dan berteriak untuk memberitahu sesuatu.


"Tuan besar! Mereka sudah sampai." Kata pelayan itu.


"Sudah sampai? Baiklah, ayo kita sambut mereka." Ucap Ray yang kemudian berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Ana yang juga berdiri setelahnya.


Ray berjalan lebih dulu, dibelakangnya, Ana dan Yuan mengikuti.


Di luar rumah, keluarga Adelard telah keluar dari dalam mobil mereka.


Beberapa pelayan rumah keluarga Gavin tampak menyambut mereka dengan hormat.


"Selamat datang di kediaman keluarga Gavin, mari, silahkan masuk ke dalam." Kata seorang pria paruh baya yang usianya lebih tua dari Ray.


Pria paruh baya yang berprofesi sebagai kepala pelayan laki-laki di rumah Ray itu mengarahkan para tamu menuju ruang makan.


Namun sebelum sampai di ruang makan, mereka sudah berhadapan dengan si pemilik rumah, Ray dan keluarganya.


"Kalian sudah datang, ayo silahkan." Ucap Ray sembari mengarahkan mereka ke ruang makan.


Ray dan ketua Barack tampak lebih dulu berjalan dan mulai duduk berhadapan di meja makan panjang itu.


Sedangkan Ana, ia duduk berdampingan dengan istri dari ketua Barack, Rin.


Lalu Yuan, ia duduk dekat ayahnya, bersebrangan dengan ibunya, dan tepat berada disamping kiri Rue.


Bagaimana dengan Feng? Ia duduk di sisi kanan adiknya.


"Ayo, silahkan dinikmati hidangannya." Ucap Ray.


"Kami baru saja datang, lalu dihidangkan makanan semewah dan sebanyak ini, rasanya— kami ini sangat merepotkan paman dan bibi." Ucap Rue.


"Jangan berkata seperti itu, ini sama sekali tidak merepotkan, sudah sewajarnya kami menyambut kalian dengan baik." Balas Ray.


"Ayo silahkan dinikmati." Kata Ana.


Merekapun mulai menikmati hidangan makan malam itu, terkadang terselip obrolan ringan disela-sela acara makan malam mereka.


"Oh iya, Rue, apa kau benar-benar akan pindah universitas?" Tanya Ray.


"Iya paman, kurang lebih dua mingguan lagi baru pindah, karena masih harus mengurus berkas-berkas pindahnya." Jawab Rue.


"Ah begitu. Jadi kau akan pindah ke universitas mana nanti?" Tanya Ray.


"Dia akan pindah ke universitas yang sama dengan Yuan dan Feng. Oh iya, Yuan, kedepannya nanti tolong jaga Rue ya." Ujar ketua Barack.


"Kenapa aku? Bukankah kakak kandungnya sendiri juga kuliah di universitas yang sama." Kata Yuan.


"Yuan. Apa yang kau katakan? Itu sangat tidak sopan." Ujar Ray.


"Ray, kau jangan terlalu keras seperti itu padanya. Apa yang Yuan katakan ada benarnya. Tapi Yuan, alasan paman memintamu untuk menjaganya, karena Rue akan menjadi junior di fakultasmu, dia baru masuk semester 5 jurusan manajemen bisnis, jadi paman mohon bantuanmu sebagai seniornya ya." Kata ketua Barack.


*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*


__ADS_2