
Selamat IdulFitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir batin.
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Yuna menundukkan kepalanya ketika ia melihat dua orang itu tengah menatap dirinya.
“Yuna,” seru sang ibu.
Perempuan itu berlari menghampiri anaknya. Direngkuhnya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
“Kau membuat Mama khawatir, Sayang,” ungkapnya sembari mengelus lembut rambut halus putrinya itu.
“Maaf,” lirih Yuna.
Rose mengangguk, ia semakin merengkuh tubuh putrinya itu dalam hangat.
“Boneka itu kau dapat dari mana?” tanya Yusen, penuh selidik.
Mendapat pertanyaan dari kakak kembarnya itu, Yuna memeluk erat bonekanya. Ia dengan jelas memperlihatkan kalau dirinya tidak mau berpisah dengan boneka itu.
“Sayang, apa kau mau boneka itu? Mama akan membelikannya untukmu,” tutur Rose yang langsung ditanggapi senyum sumringah oleh Yuna.
“Ma, Mama tidak akan sanggup membeli boneka itu. Kalaupun Mama memaksa membelinya, setidaknya Mama harus merelakan mobil Mama,” ungkap Yusen.
Rose mengernyit tak mengerti dengan maksud perkataan putranya itu, ia menatap Yusen penuh tanya.
Yusen pun menghela napasnya, kemudian tangannya bergerak menyentuh label harga yang tertera pada boneka itu.
Mengetahui harga boneka itu, Rose membelalakkan matanya, ia tidak percaya. Boneka seperti itu saja di bandrol dengan harga yang super fantastis.
“Itu adalah boneka Limeted Edition yang hanya di produksi oleh perusahaan kami. Boneka itu hanya ada dua di dunia ini. Boneka Grizzly bear itu terbuat dari bahan berkualitas, untuk penjelasan lebih lanjutnya akan kami jelaskan kalau Ibu sudah melakukan pembayaran untuk membeli boneka itu,” kata salah satu pegawai toko tersebut.
Rose tersenyum tipis menatap pegawai toko itu. Ia tidak mungkin membeli boneka dengan harga yang tidak ramah di kantong. Bukan karena dirinya pelit, tapi boneka itu memang tercipta bukan untuk dibeli oleh orang dengan berpenghasilan tingkat menengah seperti dirinya.
Rose pun kemudian menatap ke arah Yuna kembali, “Yuna,” lirihnya.
Yuna balas menatapnya, ia tahu kalau sang ibu pasti akan menyuruhnya untuk mengembalikan boneka itu. Karenanya, Yuna semakin erat memeluk bonekanya.
“Yuna, sayang... dengarkan Mama. Kau tahu kan kalau Mama tidak punya banyak uang untuk membelinya? Bisakah kau bersikap baik untuk Mama, hum?” bujuk Rose.
Yuna diam. Ia tidak ingin mengembalikan boneka itu bukan karena ia begitu menginginkan boneka limited edition itu.
Tapi karena boneka itu memang miliknya. Yuan lah yang memberikan boneka itu secara gratis untuknya. Tapi apalah daya Yuna, ia tidak mungkin menceritakan perihal dirinya yang bertemu orang asing itu kepada ibu dan kembarannya. Karena itu, Yuna hanya bisa diam dan memeluk boneka itu semakin erat.
“Yuna...,” lirih Rose, menatap penuh binaran permohonan pada gadis kecil itu.
“Boneka ini milikku, Ma,” jujurnya. Tapi siapa yang percaya? Tentu saja, tidak ada.
Rose mengernyitkan keningnya tak paham. Lalu kemudian, ia menghela napasnya.
“Yuna, Mama janji padamu. Setelah ini, Mama akan belikan boneka Grizzly bear untukmu. Tapi bukan yang ini, kita akan beli yang biasa saja ya?” bujuk Rose lagi.
Yuna kembali diam. Namun perlahan, gadis itu dengan terpaksa memberikan boneka itu pada sang ibu.
Rose tersenyum melihatnya, “Anak pintar,” sanjungnya.
Kemudian, ia meraih boneka itu dari tangan Yuna, lalu memberikannya pada pegawai toko yang ada didekatnya.
“Maaf ya,” ucap Rose pada pegawai toko itu.
Si pegawai toko pun tersenyum ramah padanya, “Iya, tidak masalah,” katanya.
Setelah itu, Rose kembali menatap Yuna kembali, “Ayo kita beli boneka untukmu,” ajaknya.
Namun anehnya, Yuna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hal itu membuat Rose langsung menebak kalau Yuna marah padanya.
“Kau marah, Sayang?” tanyanya lembut.
Yuna kembali menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku mau pulang,” pintanya.
“Pulang?” tanya Rose, “Tidak ingin beli boneka?” tanyanya lagi. Dan Yuna kembali menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Tidak,” ucapnya kemudian.
__ADS_1
Rose menghela napas. Perasaan bersalah dan sedih pun menyelimuti dirinya.
Maafkan Mama, Yunara. Andai saja mereka tahu kalau kau ini adalah dari pemilik toko mainan ini. Boneka itu pasti akan menjadi milikmu, Sayang. – batin Rose, kembali menghela napasnya.
“Baiklah, kita pulang,” ucap Rose yang langsung menggendong putrinya dan menggandeng Yusen. Kemudian, Rose keluar dari toko mainan milik perusahaan Tnp Group itu setelah mengucapkan kata terimakasih dan maaf pada pegawai toko.
•••
Yuan terlihat fokus mengendus dan memilah-milah setiap bahan makanan sebelum kemudian dimasukkannya ke dalam troli belanja yang di bawa oleh sekertaris Iko.
“Presdir, apa masih lama lagi? Bukankah ini sudah lebih dari cukup?” tanya sekertaris Iko, ia sebenarnya sedang mengeluarkan keluhannya.
Lihat saja para pengunjung supermarket di dalam mall itu, mereka tampak memperhatikan Yuan dan sekertarisnya itu dengan tatapan penuh selidik.
Mungkin, mereka mengira kalau dua pria dewasa itu adalah sepasang pasangan yang tak lajim, setidaknya seperti itulah pemikiran sekertaris Iko.
“Presdir,” panggilnya lagi, terdengar seperti rengekan anak kecil.
Namun, Yuan mengabaikannya, pria itu masih sibuk memilah-milah bahan makanan dan masakan yang akan di belinya.
“Ah lihat,” seru Yuan, ia benar-benar berhasil membuat sekertaris Iko menghela napas terpanjangnya.
“Ada semangka, Mommy sangat suka dengan buah tropis satu itu. Aku akan memebelikannya untuk Mommy,” ucapnya.
“Presdir–”
“Kau tunggu saja di sini,” suruh Yuan. Sedangkan sang sekertaris, menghela napas kini adalah hobinya.
Iko sungguh merasa kalau dirinya saat ini seperti seorang suami yang sedang menemani istrinya berbelanja, menyebalkan dan butuh kesabaran.
Kembali pada Yuan. Pria itu telah sampai di depan tumpukan buah semangka yang tersusun rapi. Dengan sigap, Yuan mengambil salah satu testi dari buah tropis tersebut. Ia mencicipnya, lalu memuji rasa manis yang menyerang lidahnya.
“Manis,” gumamnya.
Kemudian, Yuan mengambil salah satu semangka dengan berat sekitar hampir dua kiloan itu. Ia membawanya ke arah kasir untuk melakukan pembayaran.
Namun, pada saat dirinya baru saja membalikkan badan. Kilasan sosok perempuan yang mampu menggetarkan hatinya terlihat melewati dirinya. Yuan pun tercengang, untuk beberapa saat tubuhnya membeku. Lalu dengan cepat, ia kembali memutar badannya enam puluh derajat.
Entah kenapa, ia sangat yakin kalau dirinya tidak salah melihat, ia sangat yakin kalau itu adalah sosok perempuan yang sangat ia rindukan selama ini. Perempuan yang telah menghilang darinya selama delapan tahun ini. Rose, itu pasti dia, pikir Yuan.
Tanpa peduli lagi dengan apa yang sedang ia pegang. Pria itu menjatuhkan semangkanya begitu saja. Kemudian dengan cepat ia berlari mengejar sosok perempuan yang sayangnya sudah terbaur dengan para pengunjung mall lainnya.
“Sial!” umpatnya kesal. Ia bahkan sampai mengusap wajahnya kasar.
“Presdir,” panggil Iko yang baru saja datang menghampiri bosnya.
“Berikan kunci mobil padaku,” perintah Yuan.
“Iiiya, iya, Baik,” sekertarisnya itu pun langsung merogoh kantong jas kerjanya untuk menemukan kunci mobil yang diminta oleh Yuan.
Tidak butuh waktu lama. Iko pun menemukan kunci mobil itu.
Lalu kemudian, dengan cepat, Yuan merebut kunci mobilnya dari sekertaris Iko. Setelah mendapatkan kunci mobil itu, Yuan pergi dari hadapan sekertarisnya setelah berkata, “Kau pulang naik taksi,” suruhnya.
Iko ingin mengeluh, tapi kembali lagi pada status dirinya yang hanya sekedar seorang bawahan untuk bosnya itu.
Iko tidak ada hak untuk mengeluarkan protesnya.
***
Rose melangkahkan kakinya lebar. Ia masuk ke dalam mobil setelah memastikan kedua anaknya yang duduk di kursi penumpang itu menggunakan sabuk pengaman mereka dengan benar.
Lalu kemudian, Rose menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobil tersebut keluar dari basemen parkiran mobil.
Di saat yang bersamaan, Yuan baru saja tiba di basemen parkiran khusus mobil itu.
Mobil Rose yang memiliki kaca gelap pun tampak melewati Yuan. Bagai sebuah drama dalam sinetron, dua insan yang telah lama terpisah itu kini berada dalam satu tempat, namun sayangnya, tidak saling di pertemukan. Sungguh kejamnya permainan takdir ini.
Yuan menatap area sekitarnya. Ia menekena tombol remote dari kunci mobilnya. Lalu sebuah bunyi dari mobil miliknya terdengar di bagian sayap kanan basemen itu.
Dengan langkah lebar. Yuan berjalan menuju mobil SUV-nya.
Sesampainya di mobil itu. Yuan langsung membuka pintu mobil tersebut. Ia masuk ke dalamnya, lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukannya keluar dari area basemen.
Satu tempat yang menjadi tujuan Yuan saat ini. Tempat yang saat ini memenuhi pikirannya. Apartemen Rose, apartemen yang menjadi kenangan antara dirinya dengan sang kekasih pujaan.
•••
“Apa yang sedang kau masak, Istriku?” tanya Ray yang baru saja pulang dari kerja.
__ADS_1
Ana tersenyum, tanpa menoleh ke arah suaminya, Ana menjawab, “Sekertarisnya Yuan bilang, malam ini Yuan akan pulang untuk makan malam bersama. Dia bahkan membeli bahan masakan untukku,” katanya sembari mengingat apa yang sekertaris Iko laporkan padanya.
“Benarkah? Anak itu akan pulang setelah hampir dua minggu lupa dengan rumah?” tanya Ray, tangannya bergerak ingin menyomot udang goreng yang Ana masak. Tapi sayangnya, Ana lebih dulu memukul tangan tua itu sebelum Ray berhasil mengambil makanan kesukaannya.
Ray mengaduh, ia meringis kesakitan, tangan kanannya itu terasa berdenyut karena pukulan Ana yang cukup keras.
“Sakit,” ringisnya.
“Itu makanan kesukaan, Yuan. Jangan coba-coba mengambilnya sebelum waktu makan malam tiba,” pesan Ana.
Ray bersungut-sungut, “Itu juga makanan kesukaanku. Kenapa kau pilih kasih? Apa Yuan lebih penting dari pada aku?” tanya Ray, cemburu pada anaknya sendiri.
Ana menghela napas, ia menatap Ray sekilas sebelum kemudian kembali sibuk dengan kegiatan memasaknya yang di bantu oleh para pelayan rumah tangganya.
“Kau iri dengan anakmu sendiri?” tanya Ana yang berupa sindiran kecil untuk sang suami.
“Tidak tahu malu,” imbuhnya, “Ingat umurmu berapa? Kau bahkan sudah pantas di panggil kakek. Jadi, berhentilah bersikap kekanak-kanakan,” ujar Ana.
Para pelayannya pun sampai menahan tawa mendengar perkataan Ana.
Ray hanya bisa mendengus kesal. Lalu ia pamit pergi ke kamarnya dengan wajah tertekuk masam.
Melihat kepergian suaminya yang terlihat kesal itu. Rose mengulas senyumnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, heran.
Setelah itu, ia kembali sibuk dengan aktivitas dapurnya. Ana sungguh tidak sabar menunggu kepulangan sang putra yang hari ini sedang berulang tahun ke tiga puluh tiga.
•••
“Ma, kenapa kita berhenti di toko kue? Hari ulang tahunku dan Yuna kan sudah berlalu dua bulan yang lalu. Ulang tahun Mama juga masih lima bulan lagi,” tanya Yusen, ia bingung dengan sikap ibunya hari ini.
Rose tersenyum tipis mendengarnya. Ia tidak pernah mau menjawab pertanyaan sang anak setiap kali ditanya seperti itu.
Ya, Yusen ataupun Yuna seringkali bertanya perihal dirinya yang membeli kue beserta lilin di hari dan tanggal ini.
Selama delapan tahun berlalu. Rose tidak pernah alfa melakukannya. Ia selalu membeli kue dan lilin, lalu menyalakan lilinnya, membuat make a wish sembari memejamkan matanya. Setelah itu, ia akan meniupnya, seolah dirinya di tanggal dan bulan ini sedang berulang tahun.
“Yusen dan Yuna, kalian berdua tunggu sebentar di sini ya. Mama beli kue dulu. Jangan pergi kemana-mana,” alih-alih menjawab pertanyaan Yusen, Rose memberikan perintah kecil itu pada anak-anaknya.
Yuna yang masih belum bisa move on dari perkara boneka tadi. Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Rose pun keluar dari dalam mobilnya. Ia tidak mengunci mobil itu.
Melihat ibunya yang sudah menjauh dan masuk ke dalam toko kue. Yusen menolehkan kepalanya ke arah Yuna.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu di toko mainan tadi? Bagaimana kau bisa mendapatkan boneka Grizzly bear itu? Aku yakin sekali kalau boneka limited edition itu tidak mungkin di letakkan di bagian rak bawah. Dia pasti akan di pajang di tempat khusus yang strategis dan biasanya tidak akan mudah di ambil oleh anak sesuai kita,” urai Yusen pada asumsinya yang tepat sasaran.
Yuna pun mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin ketahuan oleh sang kembaran. Karena itu, Yuna tidak ingin melakukan kontak mata dengan Yusen.
“Yuna,” panggil Yusen sembari menyentuh lengan kakak kembarnya itu.
Saat itulah Yusen sadar kalau tangan kembarannya itu terluka. Ada memar berwarna merah kebiruan tertoreh di lengan Yuna.
“Lenganmu— ” baru saja Yusen ingin menyentuhnya, Yuna lebih dulu menutupi lengannya itu dengan bajunya yang ia tarik panjang.
“Yuna. Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kau mungkin bisa menipu atau membohongi Mama kita. Tapi tidak denganku. Kau dan aku itu adalah satu, kita sama-sama tinggal di rahim yang sama dalam waktu yang sama juga. Kita berbagi makanan dari tali plasenta yang sama. Kita juga berbagi ruangan yang sama di dalam rahim Mama,” tutur Yusen.
“Banyak kesamaan di dalam diri kita. Karena itu, aku tahu pasti kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku dan Mama,” imbuh Yusen.
Hati Yuna bergetar. Ia sudah tahu ini. Adik kembarnya itu akan lebih sensitif dari ibunya.
Dan pada akhirnya pun, Yuna juga akan ketahuan oleh kembarannya itu.
“Aku tertabrak oleh seseorang, dia pria berusia seumuran Mama. Dia bilang kalau dirinya itu adalah pemilik toko mainan itu,” jelas Yuna perlahan.
Mendengar penjelasan Yuna, Yusen diam mendengarkannya.
“Lalu, karena merasa bersalah padaku. Paman itu memberiku boneka tadi, dia juga mengobati lukaku dengan salep. Dia terlihat seperti orang baik, dan aku merasa nyaman berada di dekatnya, karena itu aku percaya pada paman asing itu,” ungkap Yuna.
Yusen mengangguk paham dengan penjelasan saudari kembarnya. Ia kemudian mengusap rambut Yuna.
“Tidak masalah, itu bukan salahmu yang terlalu mewarisi sifat Mama. Semua orang tahu kalau kau itu sangat lugu dan naif, mudah percaya pada orang dan bisa saja mudah di tipu. Aku tidak heran lagi dengan semua itu,” kata Yusen.
“Tunggu dulu. Kau ini sedang menenangkanku atau menyindirku?!” protes Yuna yang merasa tertohok dengan perkataan saudara kembarnya itu.
Yusen tertawa cekikikan. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana cara menghibur orang. Hanya dengan cara seperti itulah dirinya biasa menghibur saudari kembarnya.
Tapi benar saja, cara menghibur Yusen benar-benar efektif. Yuna pada awalnya memang tampak cemberut. Tapi lama-kelamaan, gadis kecil itu tertawa bersama adik kembarnya itu.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍