The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kejamnya Takdir


__ADS_3

Yuan membuka pintu kamarnya tepat ketika si pelayan wanita hampir di usir pergi.


“Tunggu.” ucap Yuan, membuat dua orang dihadapannya itu menoleh ke arahnya.


“Tuan muda Yuan.” sapa mereka dengan hormat.


“Berikan selimutnya padaku.” ucap Yuan. Tanpa basa-basi karena ia tidak ingin di curigai.


Si pelayan wanita itu pun menyerahkan selimut tersebut pada Yuan.


“Jika ada yang anda butuhkan lagi, silahkan panggil saya, Tuan muda. Permisi.” ucap pelayan itu, ia kemudian mundur perlahan dan pergi.


Yuan kini beralih menatap seorang pria yang tadi menyeret si wanita pelayan untuk pergi. Pria itu menatap Juna intens, seperti curiga dengan selimut yang Yuan pegang.


“Apa? Kau ingin selimut juga? Minta selimut tambahan dari pelayan. Aku tidak bisa memberikan ini padamu. Aku juga butuh selimut tambahan karena udara sangat dingin.” kata Yuan. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, ia menutup pintu kamarnya.


Si pria itu pun akhirnya memilih untuk tidak curiga. Lalu pergi dari depan kamar Yuan.


Sedangkan Yuan, di dalam kamarnya, ia bersandar pada pintunya. Memastikan kalau pria tadi tidak memaksa masuk dan merebut selimut yang masih berada dalam genggamannya.


Setelah beberapa menit ia berdiri dan dirasa kalau pria tadi sudah pergi.


Yuan pun segera membuka selimut yang terlipat rapi itu. Ia mengibaskannya sampai akhirnya ada sebuah kertas putih terjatuh. Yuan tersenyum sumringah.


“Sarah...” ucapnya lirih. Ya, kode yang pelayan wanita tadi ucapkan adalah sebuah kode rahasia yang hanya diketahui oleh Yuan dan sekertarisnya saja, yaitu Sarah.


Kemudian, dengan cepat, Yuan langsung membuka lipatan kertas kecil itu. Ia membukanya perlahan hingga lipatan itu menjadi sebuah surat, diatasnya ada beberapa huruf yang tersambung satu sama lain menjadi kalimat penyampai pesan.


Wajah Yuan ketika membaca surat rahasia itu tampak berubah-ubah beberapa kali. Kadang ia terlihat senang, kadang ia terlihat mengerutkan keningnya, kadang ia terlihat muram. Seperti itulah kira-kira.


Di akhir surat, Yuan tampak menghela napasnya. Ia kemudian berjalan ke arah nakas dekat tempat tidurnya. Yuan mencari sebuah pemantik api. Setelah menemukannya, pria itu lekas membakar surat rahasia tersebut.


“Jadi pesan singkat yang aku minta kirimkan belum terkirim ya? Pelayan Penny, ternyata dia orang yang seperti itu.” ucap Yuan yang akhirnya menyadari kalau ia seharusnya tidak mudah percaya dengan orang lain.

__ADS_1


•••


Helikopter itu telah pergi. Dia pergi seperti sebuah mobil, sangat mudah sekali untuk datang dan pergi begitu saja. Apakah semudah itu hidup orang kaya?


Rose menatap kepergian ayah kekasihnya itu dalam diam. Hembusan angin dari baling-baling helikopter itu menerpa rambut pendeknya serta dress summer yang Rose kenakan.


Perlahan, helikopter itu menjauh dan menghilang dari jangkauan mata Rose.


Gadis itu menghela napasnya. Sendiri lagi. Tadi itu, walaupun rasanya menegangkan, tapi Rose masih merasakan setitik kehidupan.


Ada seseorang sebagai teman bicara, itu termasuk kehidupan bukan? Tidak seperti sekarang, dirinya hanya bisa berbicara dengan angin, desiran ombak yang jauh, binatang yang mendekatinya, rumput-rumput yang bergoyang-goyang, serta langit beserta awan dan tata surya di atas sana.


Rose kembali merasa sepi. Ia seperti sebuah kerang tanpa berlian. Tidak berguna. Kehidupannya hambar. Walaupun dirinya memiliki apa yang ia inginkan.


Rumah besar dan mewah, dia punya, Yuan memberikan itu padanya. Sebuah tempat tinggal yang tenang dan damai, Rose punya itu juga. Lalu suasana alam yang selalu menyambutnya hangat, Rose juga mendapatkan itu semua. Tapi, rasanya masih ada yang kurang. Ya, hatinya kosong.


Ingat kisah Adam dan Hawa, mereka tinggal di bumi yang luas. Semua tempat di bumi bisa mereka miliki. Tapi hanya satu tujuan awal hidup mereka di bumi, yaitu menemukan satu sama lain. Menemukan cinta kasih mereka. Mengharukan, tapi seperti itulah manusia.


Rose kembali menatap langit dalam diam, seorang diri. Pagi menunggu sore, itulah pekerjaannya saat ini.


•••


Dia Sarah, gadis itu datang untuk mengirim pesan pada Yuan. Sarah tahu kalau triknya ini tidak akan berlangsung lama, tapi setidaknya saat ini ia harus tahu kabar dari bosnya agar Sarah bisa melakukan tindakan lainnya.


“Siapa disana?!” teriak seorang penjaga rumah keluarga Gavin.


Sarah terkejut, ia pun mendesis, “Sial.” umpatnya, kemudian dia berlari kencang. Jiwa menjadi buronan yang ingin kabur pun dalam mode aktif. Sarah yang sejak belia sudah di didik bela diri, tentu bukan hal sulit baginya untuk berlari dan kabur dari para penjaga amatiran itu.


Sarah menghembuskan napasnya, lega. Akhirnya ia lolos juga. Ia pun membuka maskernya, melepas topinya dan mengambil napas dalam-dalam.


“Lumayan susah juga. Ketua Ray benar-benar teliti. Rasanya setiap satu meter ada yang menjaganya.” ucap Sarah dengan napas yang terengah-engah.


Gadis itu kemudian merogoh ponselnya. Ia merasa ada getaran dari ponsel tersebut. Benar saja, layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama, My twins calling...

__ADS_1


Sarah memutar bola matanya malas. Ia sungguh enggan mengangkat panggilan dari saudara kembarnya itu. Tapi bagaimanapun juga dirinya saat ini masih membutuhkan bantuan si kembaran.


Akhirnya dengan hati yang terpaksa. Sarah mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, My Sweet Twins?” katanya, menyapa saudara kembarnya itu dengan nada manis yang dipaksakan.


“Ck, kau pikir sapaanmu itu mampu meluluhkan hatiku, huh?! Cepat temui aku dan jelaskan padaku kenapa kau memaksa Jero untuk mengirimkanmu helikopterku? Aku tunggu di mansion satu jam kemudian. Jangan sampai membuatku menunggu lama.” panggilan telepon itu kemudian terputus sepihak.


Sarah menatap ponselnya dengan kesal. Walaupun dirinya memiliki kembaran, tapi mereka tidak pernah akur sama sekali. Sarah bahkan merasa kalau pria yang lebih tua darinya lima belas menit itu seperti seorang ayah yang over protective padanya.


“Menyebalkan.” gerutu Sarah. Ia kemudian memasukkan ponselnya kembali, lalu melangkah menuju jalan raya, menghentikan taksi dan pergi menemui kembarannya sebelum satu jam berlalu.


•••


Rose baik-baik saja. Tapi dia sering melamun. Dia masih menunggu anda dan berharap anda segera kembali. Presdir, beritahu saya kalau ada sesuatu yang perlu saya lakukan. Satu lagi, jangan tanya bagaimana saya menyampaikan pesan ini. Saya akan menjelaskannya nanti setelah Presdir terbebas dari Ketua Ray. Tertanda, Srh.


Setiap kata yang Sarah tulis dalam kertas putih tadi telah tersimpan apik di dalam ingatan Yuan.


Pria itu masih berdiam diri di dekat jendela kamarnya. Waktu Indonesia bagian barat padahal telah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi Yuan masih membuka matanya lebar. Pikirannya sedikitpun tidak bisa membuatnya istirahat.


“Dia baik-baik saja. Bunga mawarku baik-baik saja. Tapi...” tergantung, kalimat selanjutnya lah yang membuat Yuan kesulitan tidur dan tidak berhenti memikirkan Rose.


“Dia sering melamun dan terus menungguku. Rose, kau pasti sangat kesepian 'kan?” ucap Yuan, telapak tangannya pun kemudian menyapu wajahnya kasar.


Helaan napas berat tidak berhenti ia lakukan. Rasanya sesak, ingin melakukan sesuatu tapi tidak bisa, seolah ada rantai yang mengikat tubuhnya.


Sungguh kejam takdir padanya. Ia hanya ingin bersatu dengan orang-orang yang dicintainya. Hidup rukun dan damai. Itu impian kecilnya.


Tidak lagi ia pedulikan masalah uang ataupun kekuasaan. Hidup sederhana bersama orang-orang yang dicintai dan mencintai adalah sesuatu yang lebih baik dari pada hidup dengan uang yang berlebih namun tak ada sepercik cinta pun di dalam hatinya.


Yuan bersedih kembali. Hari-harinya terus kelabu, entah sampai kapan semua ini akan berlalu.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


NP : Sedikit pemberitahuan bahwa novel ini tidak lama lagi akan sampai di akhir kisah. Entah berapa episode lagi, tapi intinya sekarang sedang berjalan menuju detik-detik puncak konflik cerita dan endingnya. So, selamat mengikuti 👌 Sebelumnya terimakasih untuk kalian semuanya.


__ADS_2