The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kebahagiaan (?)


__ADS_3

Selamat Pagi~


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Hujan deras mengguyur Ibu Kota Jakarta.


Angin kencang bertiup menyapu semua benda yang menghadangnya.


Sampah plastik pun ikut melambai-lambai.


Di dalam sebuah mobil Lexus hitam, dua pria berdiam diri di sana, sedang menunggu sesuatu.


“Menurut laporan, beberapa menit lagi, Ketua Barack akan menemui seseorang di restoran ini,” kata pria paruh baya yang duduk di kursi kemudi.


“Apa kau yakin kalau orang yang di temuinya adalah Dia?” tanya pria lain, ia duduk bersandar pada bagian kursi penumpang.


“Dari laporan orang-orang suruhan anda, mereka bilang sembilan puluh sembilan persen yakin,” jawab pria pengemudi itu, sekertaris Chenli.


“Bagaimana jika nol koma satu persen itu membuat kita gagal menemukannya?” tanya Ray, si pria yang duduk di kursi penumpang.


“Saya sendiri sangat yakin kalau itu adalah orang yang kita cari selama ini,” ujar sekertaris Chenli.


Ray manggut-manggut, “Aku harap begitu,” katanya.


Setelah itu keduanya kembali diam, menunggu kehadiran seseorang yang sedang mereka mata-matai.


Beberapa menit berlalu. Sebuah mobil sedan berwarna hitam masuk ke area restoran elite itu.


Mobil itu berhenti di depan pintu masuk, seorang pria paruh baya keluar dari dalam sana.


Setelah ia keluar, mobil yang di tumpanginya pun melaju ke area parkir.


Ketua Barack, ia terlihat berdiri kokoh di depan restoran itu. Seorang pegawai restoran langsung berlari menghampirinya, menyapanya, kemudian menyuruhnya untuk masuk ke dalam restoran itu.


Ray tersenyum puas dalam diamnya. Ya, laporan dari bawahannya tidak mungkin salah.


“Pria yang mengenakan jam bermerek Duess itu adalah orang kita. Dia akan ikut masuk ke dalam. Di bagian jam nya ada alat penyadap suara. Tapi anda tenang saja, alat itu tidak akan terdeteksi oleh alat pendeteksi keamanan,” ujar sekertaris Chenli.


Ray mengangguk paham, ia kemudian melihat pria yang dimaksud Sekertaris Chenli.


Namun, ketika ia melihat pria itu, sebuah mobil yang sangat familiar di matanya tampak terparkir di pinggir jalan, tepat di samping restoran itu berada.


Ray mengernyitkan keningnya, kemudian ia tampak bergumam, “Yuan? Apa yang sedang dia lakukan?”


“Ada apa Ketua Ray?” tanya sekertaris Chenli yang tidak mampu mendengar dengan jelas apa yang baru saja Ray gumamkan.


“Coba kau lihat plat mobil SUV warna hitam arah jarum jam sembilan itu,” kata Ray.


Sekertaris Chenli pun langsung mengikuti arahan yang di berikan oleh bosnya. Ia melihat sebuah mobil terparkir di sana.


“Bukankah itu mobilnya Presdir Yuan?” tanya sekertaris Chenli, memastikan tentang dugaannya.


“Benar,” jawab Ray.


“Apa yang Presdir Yuan lakukan di sini?” tanya sekertaris Chenli.


Ray tersenyum samar, “Kau lupa? Dia anakku. Pasti dia juga memiliki insting yang sama denganku,” ucap Ray sembari menyatukan kedua jari-jari tangannya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pada saat yang bersamaan, beberapa mobil SUV hitam lainnya dengan sirine polisi yang tidak dibunyikan tampak terparkir di dekat mobil Yuan.


Ray mengernyitkan keningnya, “Apa yang terjadi?” tanyanya.


Yuan pun keluar dari dalam mobilnya setelah beberapa orang yang sepertinya para detektif kepolisian masuk ke dalam restoran itu.


“Sepertinya Presdir Yuan melakukan tindakan satu langkah lebih cepat dari anda, Ketua Ray,” ucap sekertaris Chenli.


“Benarkah?” gumam Ray sembari mengulas senyumnya.


“Anak itu,” lirihnya.


Beberapa menit kemudian, restoran itu tampak gaduh.


Yuan terlihat keluar dari dalam restoran itu. Lalu di ikuti oleh para detektif yang membawa dua orang tokoh utama dalam penangkapan kasus yang Yuan laporkan.


Dua tokoh utama itu adalah satu orang pria paruh baya dan satunya lagi adalah seorang kakek tua berusia tujuh puluhan tahun lebih, dia adalah Ketua Ussa, ayah dari Angelina.


“Sungguh di luar dugaan,” gumam Ray sembari menatap Yuan dari kejauhan.


“Dia tampak terburu-buru melakukannya. Tapi sangat rapi dan tepat sasaran. Ini semua pasti agar dirinya bisa segera kembali dengan perempuan itu,” imbuhnya.


Yuan menatap ke arah mobil Ray, pria itu sepertinya menyadari keberadaan sang ayah. Lalu kemudian, ia terlihat membungkuk hormat pada ayahnya itu.


“Sekertaris Chenli, cepat kembali ke rumah. Aku tidak sabar mendengarkan penjelasannya,” ujar Ray.


“Baik, Ketua,” sahut sekertarisnya.


•••

__ADS_1


“Rose,” pekik Sarah, kemudian berlarian mendekati Rose yang sedang berkebun di belakang mansion itu.


“Apa yang kau lakukan?!” omel Sarah sembari membantu Rose berdiri.


“Berkebun, aku bosan kalau hanya diam saja, Sarah,” ujar Rose.


Sarah menghela napas beratnya, “Kau tidak lihat? Perutmu sudah sangat besar seperti itu tapi masih saja tidak bisa duduk diam,” ocehan itu lagi. Ya, sudah ribuan kali Rose mendengarnya.


“Kau itu sedang hamil tua, usia kandunganmu sudah masuk tiga puluh empat minggu. Dokter bilang kau jangan banyak bergerak, apalagi perutmu itu isinya dua makhluk,” kata Sarah, tak henti-hentinya mengoceh.


“Ada apa? Kenapa kalian berdua bertengkar?” tanya seorang pria, Sean.


“Kami tidak sedang bertengkar. Aku hanya menasihati ibu hamil ini,” tukas Sarah.


Sean pun kemudian melihat Rose, wanita hamil itu tampak memainkan jarinya. Rose di kehamilan tuanya sungguh sangat sensitif. Rose mudah sekali menangis walaupun ia tidak menginginkannya.


Dari gelagat Rose. Sean tahu jika wanita itu sedang memasuki mode sensitifnya.


“Sudahlah Sarah. Rose hanya ingin bergerak, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau,” ujar Sean.


“Rose, perkataan Sarah tadi jangan di masukkan ke dalam hatimu ya,” ucap Sean, lembut.


Rose mengangguk.


“Rose, aku bukan bermaksud memarahimu. Aku hanya khawatir padamu. Aku tidak ing— ”


“Aw...,” ringis Rose. Bahkan Sarah sampai menghentikan perkataannya.


“Ada apa?! Apa yang kau rasakan? Mana yang sakit? Katakan padaku, Rose,” panik Sarah.


“Sarah, bisakah kau bersikap normal. Kalau kau seperti itu, Rose juga ikut panik nanti,” ujar Sean.


“Perutku, aku, aduh...,” ringis Rose lagi, ia sampai tidak mampu berkata dengan baik.


“Perutmu? Perutmu kenapa? Sakit? Oh tidak, bayinya. Apa bayinya sudah mau keluar?” kali ini Sean yang paling panik.


“Aku rasa, aku akan melahirkan,” ucap Rose di sela-sela ringisan sakitnya.


“Air ketubannya baru saja pecah,” imbuh Rose.


Sarah langsung melihat ke arah kaki Rose, disana terlihat ada air bening yang mengalir pelan.


“Sean! Kenapa diam saja?! Cepat siapkan mobilnya!” seru Sarah, ia benar-benar panik, karena sebelumnya tidak memiliki pengalaman tentang hal ini.


“Iya, iya, aku siapkan mobilnya,” ucapnya, Sean pun kemudian berlari cepat menuju garasi berisi koleksi mobilnya.


•••


Di ruangan dengan suasana cokelat tua, dua orang pria berbeda usia terlihat duduk bersama.


Akhirnya, setelah beberapa bulan melakukan ini dan itu. Ia kini berhasil menuai hasil dari kerja kerasnya.


“Jadi, bisakah kau ceritakan pada Dad, bagaimana kau menanganinya tanpa sepengatahuan Daddymu ini?” tanya Ray sembari menyesap teh hangatnya.


Yuan tersenyum tipis. Ingatannya tentang perjuangannya menemukan bukti dan titik terang pun kembali terputar di memorinya.


Semuanya sangat jelas. Perlahan, dari awal sampai akhir, Yuan menceritakannya, tidak ada satupun yang ia tinggalkan.


“Maksudmu, waktu itu kau sering datang ke rumah Ketua Barack hanya untuk meletakkan beberapa penyadap di sana?”


Yuan mengangguk, “Tapi, salah satu temanku yang bekerja sebagai detektif kepolisian bilang kalau itu akan menjadi bukti yang ilegal. Karena itu rencana awalku gagal,”


“Dan lagipula, alat penyadap itu di ketahui oleh Feng, anak pertama Ketua Barack,” imbuh Yuan.


“Kalau begitu, seharusnya dari awal Ketua Barack sudah curiga padamu. Tapi bagaimana mungkin ia bersikap biasa saja denganmu? Seolah dia tidak tahu apa-apa,” tanya Ray, heran.


“Itu karena Feng ingin bekerjasama denganku,” ungkap Yuan.


“Apa?! Maksudmu... anak pertama Barack mengkhianati ayahnya?” tanya Ray, tak paham.


“Ada banyak alasan kenapa Feng berbuat seperti itu. Salah satunya karena ia sudah mengetahui keburukan sang ayah sejak lama. Dirinya yang menggeluti dunia hukum tentu tidak suka dengan tindak kriminal seseorang, apalagi sekarang dia bukan sekedar seorang pengacara, melainkan jaksa penyidik,” jelas Yuan.


“Lalu kalian berkerjasama? Kau, bagaimana bisa kau percaya padanya begitu saja. Bagaimana kalau waktu itu dia hanya menjebak mu?” ujar Ray pada asumsinya.


“Ya, waktu itu aku memang tidak langsung percaya padanya. Tapi mendengar alasannya yang lain, membuatku seketika itu langsung percaya dengan ajakan kerjasamanya,” jujur Yuan.


Semua ini demi Rose. Aku tahu Rose sangat mencintaimu, dan aku tidak mengerti kenapa kau malah meninggalkannya demi mengungkap kejahatan ayahku untuk menghancurkan perusahaan Jhoneq.


Aku tidak bisa membiarkan Rose bersedih terlalu lama. Jadi, mari selesaikan ini dengan cepat dan temukan Rose kembali.


Asal dia bahagia, dengan siapapun itu, aku tidak peduli.


Perkataan Feng kala itu kembali melintasi kepala Yuan. Pria itu pun kemudian tersenyum.


“Terimaksih untukmu, Feng, rivalku,” ucap Yuan dalam hatinya.


Ya, begitulah, terkadang musuh bisa menjadi teman terbaik. Dan teman baik, bisa saja menjadi musuh terjahat.


•••


“Apa anda suaminya?” tanya seorang salah satu perawat yang membawa Rose masuk ke dalam ruang operasi.


“Bukan, dia bukan suaminya, suruh saja dia tunggu di luar,” sahut Sarah yang kemudian masuk ke dalam ruang operasi untuk menemani Rose.

__ADS_1


“Ah jadi anda bukan suaminya ya, kalau begitu anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu di luar,” ujar perawat itu.


Sean hanya bisa menurut, pria itu kemudian berjalan menuju kursi tunggu. Ia duduk di sana, menunggu operasi kelahiran itu selesai.


Tiga puluh menit kemudian.


Operasi selesai. Pintu ruang operasi itu terbuka. Ranjang dorong yang berisi Rose pun tampak keluar dari dalam sana.


Melihat itu, Sean langsung berdiri dari duduknya. Ia melangkah cepat mendekati Rose.


Perempuan itu terlihat pucat, tangannya pun dingin. Efek dari anastesi masih menyelimuti dirinya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Sean.


Rose mengangguk lemah sembari tersenyum dengan susah payah.


“Sean, kau tolong jaga Rose ya. Aku akan urus bayi kembarnya dulu,” ujar Sarah, membagi tugas dengan Sean.


Pria itu pun mengangguk setuju, ia kemudian dengan sigap menggantikan posisi Sarah. Bahkan ia mengikuti cara Sarah yaitu menggenggam tangan Rose yang terasa dingin.


“Jangan khawatir, aku akan menemanimu dan menjagamu dengan baik. Anak-anakmu, Sarah yang akan mengurusnya,” jelas Sean.


Rose kembali menanggapinya dengan anggukan lemahnya.


“Apa kalian memesan kamar VVIP?” tanya seorang perawat yang baru saja datang dari arah ruang khusus.


Sean mengangguk, “Iya, sekertaris saya sudah menyelesaikan administrasinya beberapa jam yang lalu,” katanya.


“Atas nama bapak Sean ya?”


“Benar,”


“Oh baik, silahkan masuk di kamar nomor satu,” ujarnya.


Para petugas medis itu pun kemudian mendorong kembali ranjang yang Rose pakai. Mereka mendorongnya perlahan sampai masuk ke dalam kamar yang sudah Sean pesankan khusus untuknya.


“Ibu Rose masih belum boleh makan dan minum ya. Anda masih dalam masa puasa pasca operasi. Tunggu sampai efek anastesinya hilang, baru boleh makan dan minum,” jelas seorang dokter.


“Iya,”


“Nanti saya akan kembali untuk melakukan pemeriksaan lagi. Untuk sekarang, silahkan anda istirahat dulu, permisi,” ucapnya, kemudian pergi dan menutup pintu kamar perawatan VVIP itu.


“Kenapa kau memesan kamar VVIP untukku? Aku bisa tinggal di kamar biasa saja,” ujar Rose setelah dokter tadi pergi.


Sean tersenyum tipis, ia mengusap punggung tangan Rose yang terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya.


“Kita ini keluarga, jangan terlalu sungkan,” jawab Sean.


Rose menghela napasnya, “Aku merasa tidak enak padamu, aku berhutang banyak pada kalian berdua, kau dan Sarah. Kalian sudah banyak sekali membantuku,” ungkap Rose dengan rasa harunya.


“Jangan di pikirkan. Kau sekarang lebih baik istirahat,” ucap Sean.


“Aku ingin melihat dua bayiku, kapan aku bisa melihat mereka lagi?” tanya Rose. Tadi, ia hanya sempat melihat bayi kembarnya ketika dua sosok kecil itu baru keluar dari perutnya.


Tangisan mereka pun masih terasa segar di ingatan Rose. Senang dan sedih meliputinya secara bersamaan.


“Aku bahkan belum sempat melihat mereka. Jadi, kau dan aku harus bersabar. Nanti kita juga akan melihat mereka. Kau tenang saja, Sarah akan mengurus keponakannya dengan baik,” ujar Sean, menenangkan.


Rose mengangguk, “Iya, terimakasih,” ucapnya diiringi senyum samarnya.


“Aku ingin istirahat, bisakah kau tinggalkan aku sendiri?” pinta Rose.


Sean mengerutkan keningnya,“Meninggalkanmu sendiri? Tidak, aku tidak akan mungkin melakukannya. Lagipula kalau Sarah tahu, aku bisa habis mendapat amarah darinya,” tegas Sean.


Tapi kemudian, pria itu menghela napasnya, “Baiklah, aku akan menunggu di luar, kalau kau butuh sesuatu atau terjadi sesuatu, tekan tombol merah itu ya,” ujar Sean sembari menunjuk tombol merah yang berada di atas ranjang Rose.


“Em, iya, aku tahu,” jawab Rose dengan senyum tipisnya.


“Aku akan tunggu di luar, kau akan baik-baik saja kan?”


“Iya, Sean. Keluarlah, aku akan baik-baik saja,” katanya.


“Baik, baiklah,” ucap Sean. Ia pun kemudian keluar dengan terpaksa.


Setelah melihat Sean keluar dan pintu ruangan kembali tertutup rapat.


Senyum Rose yang tadinya menghiasi wajahnya pun luntur. Senyum itu berubah menjadi ekspresi sedih yang penuh dengan mimik rasa kerinduan.


“Yuan...,” lirihnya, bersamaan dengan air matanya yang mengalir perlahan.


“Yuan...,” lirihnya lagi, air matanya pun mengalir semakin deras.


Kerinduan, harapan dan penantian, semua terasa memenuhi hati Rose. Sesak rasanya.


Di saat-saat seperti ini, yang Rose butuhkan hanya satu orang. Satu orang yang ia harapkan ada di sisinya, menemaninya, menggenggam tangannya, dan memeluk dirinya dengan penuh kehangatan.


Dia, sosok yang sangat ia rindukan.


Anak kita sudah lahir, Yuan.


Anak kita... mereka kembar.


Yuan, andaikan kau ada disini. Lengkap sudah duniaku. Dan aku, aku pasti akan sangat bahagia.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2