The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Aku Ayah Kalian


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Yusen,” seru Yuna, kesal. Ia marah dengan adik kembarnya itu.


Melihat keduanya yang seperti akan bertengkar, Yuan pun hendak melerai mereka.


Tangan Yuna tampak terangkat ke atas, ia siap untuk memukul adik kembarnya yang hanya diam saja.


Tapi, belum sempat Yunara melakukannya, sebua suara pun menyiutkan aksinya. Itu bukan suara Yuan, melainkan suara dari seorang wanita yang berada di belakang tubuh Yuan dan sekertaris Iko.


“Yunara!” serunya, Rose.


Semua orang pun menoleh ke arahnya. Termasuk Yuan yang langsung tercengang seketika itu.


Yuan kemudian berdiri dari posisi jongkoknya, ia ingin menyapa perempuan yang sudah lama menghilang itu.


Tapi sayangnya, Rose belum menyadari keberadaan pria itu karena terlalu fokus pada kedua anaknya yang sedang bertengkar.


“Mama,” lirih Yuna, menundukkan kepalanya, takut.


Ma...mama?!  — batin Yuan.


Rose berjongkok di hadapan Yusen dan Yuna.


“Bisa jelaskan pada Mama, kenapa kau ingin memukul adik kembarmu? Apa Mama pernah mengajarimu untuk bersikap kasar pada orang lain? Bahkan sampai menggunakan kekerasan seperti itu,” tanya Rose, nadanya rendah, tapi terasa menakutkan bagi Yuna.


Gadis kecil itu pun menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan ibunya yang terakhir.


“Ini salah Yusen, Ma,” jujur Yusen.


Rose pun menoleh pada putranya itu.


“Benarkah?” tanya Rose.


Yusen mengangguk tanpa ragu. Ya, dia sangat gentleman.


“Yuna juga salah, Ma,” Yuna pun ikut mengaku.


Rose menghela napasnya, “Jadi kalian berdua sama-sama salah?”


Keduanya mengangguk.


“Kalau begitu, ayo saling memaafkan,” suruh Rose.


Yusen dan Yuna pun tampak saling bersalaman dan mengucap maaf satu sama lain.


“Anak baik, ayo kemari,” puji Rose sembari membuka lebar kedua tangannya, memberi kode pada kedua anaknya itu untuk masuk ke dalam pelukannya.


Keduanya pun tanpa malu menghambur ke dalam pelukan wanita yang sangat mereka sayangi itu.


“Rose...,” lirih Yuan.


Suara ini..., — batin Rose bergejolak.


Rose pun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah sumber suara itu berada.


Lalu yang terjadi selanjutnya, Rose ambruk dari posisi jongkoknya. Kakinya terasa lemas ketika matanya itu beradu pandang dengan sosok yang sudah lama ingin ditemuinya.


“Yuan,” lirih Rose sembari berdiri menghadap pria itu.


Kini, keduanya saling beradu pandang, binaran kerinduan tercetak jelas di wajah mereka.


“Mama mengenal Paman Yuan?” tanya Yunara.


Rose tersentak dari lamunannya, kemudian ia menoleh pada putrinya itu dengan mata yang tampak berusaha membendung air bening yang ingin jatuh ke pipinya itu.


“Kau mengenalnya?” tanya Rose.


Yuna mengangguk, “Sebenarnya, dia yang memberiku boneka Grizzly bear kemarin. Maaf karena Yuna tidak berkata jujur pada Mama,” tutur Yunara.


“Kau memberinya boneka mahal itu?”  tanya Rose pada Yuan.


Yuan mengangguk pelan.


“Kenapa?” tanya Rose cepat.


Yuan diam untuk beberapa saat. Ia seperti orang yang merasa kebingungan harus menjawab apa.

__ADS_1


Tapi pada akhirnya, ia pun bersuara, “Karena aku tidak sengaja melukainya,” jawabnya.


“Melukainya?!”


“Paman Yuan tidak sengaja menabrakku, tapi itu juga salahku,” sahut Yuna.


“Kau baru saja membelanya?” tanya Rose pada sang putri.


Yuna tampak bingung dengan pertanyaan ibunya itu.


“Rose, ini semua salahku. Yuna hanya— ”


“Tunggu sebentar. Jangan ada yang berbicara,” sela Rose, membuat semua orang menatapnya kebingungan.


“Biarkan aku mencerna semua kebetulan ini dengan baik,” imbuhnya sembari mengusap air matanya yang jatuh.


“Mama,” Yusen tak suka melihat ibunya menangis, ia menarik-narik baju Rose, ingin memeluk dan menenangkan sang ibu.


“Rose, kenapa kau menangis? Apa ada yang salah? Aku, aku minta maaf karena sudah melukai anakmu,” ucap Yuan, ia tentu saja sama seperti Yusen, tidak suka dan tidak tega melihat wanita itu menangis.


“Kau bilang mereka anakku?” tanya Rose, semakin membuat semuanya lebih bingung lagi.


“Mereka memanggilmu, Mama. Bukankah mereka anakmu?” tanya Yuan, ia sendiri pun mencoba tegar dengan kenyataan palsu itu.


“Bodoh,” ucap Rose.


Mereka juga anak-anakmu, Yuan. — batin Rose berteriak.


Di saat-saat seperti itu. Ponsel sekertaris Iko terdengar mengeluarkan bunyinya. Dengan sigap, Iko pun merogoh kantong celananya, mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon dirinya.


“Presdir,” panggil sekertaris Iko pada Yuan yang masih beradu pandang dengan Rose.


“Ketua Ray menelpon,” imbuhnya yang membuat Yuan langsung menoleh pada pria itu.


“Berikan padaku,” ucap Yuan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Rose, Yuan pun mengangkat panggilan itu.


“Halo, Dad,”


“Yuan, kau dimana? Cepatlah pulang. Dad punya kabar baik untukmu,” kata Ray dari seberang sana.


“Apa itu? Apa Dad ingin menjodohkan aku? Dad khawatir kalau aku terus-menerus melajang karena masih mencari-cari seseorang yang hilang?” ucap Yuan sembari menatap Rose lekat. Sebenarnya perkataan itu ia tujukan untuk Rose.


“Aku tidak akan menerima perjodohan itu. Sekalipun aku harus mati dalam keadaan tanpa pasangan. Aku akan tetap menjaga hati dan diriku hanya untuk seseorang— yang saat ini ada di hadapanku,” katanya lagi.


Mendengar itu, air mata Rose semakin mengalir deras.


“Kau sudah menemukannya? Apa dia bersama anak-anakmu juga?” tanya Ray.


“Iya, aku menemukannya, dan dia bersama anak— tunggu, Dad barusan bilang apa?” tanya Yuan, ia baru saja sadar dengan pertanyaan terakhir ayahnya.


“Jadi kau belum mengetahuinya ya? Kau pasti sekarang sedang salah paham dengannya. Dasar bodoh,” ujar Ray dari seberang sana.


Yuan mengernyitkan keningnya bingung.


Lalu kemudian, kata-kata sang ayah mulai ia pahami perlahan.


“Tidak mungkin, maksud Dad— ” Yuan menggantungkan kalimatnya, ia menatap kedua anak kembar tidak identik itu bergantian.


“Bodoh, mereka itu anak-anakmu,” tutur Ray dari seberang sana.


Seketika itu juga, Yuan merasa dirinya seperti baru saja membuka sebuah kotak misteri dengan isi yang mampu membuat dirinya tidak bisa berkutik.


“Cepat pulang dan bawa mereka bersamamu, anak-anakmu dan calon istrimu,” kata Ray, kemudian mematikan sambungan panggilan itu.


Setelah panggilan itu mati. Tangan Yuan terasa lemas, ponselnya pun sampai terlepas dari genggamannya.


“Rose, mereka— ” Yuan menggantungkan kalimatnya untuk kali keduanya.


Rose mengalihkan pandangan sembari menganggukkan kepalanya, seolah tahu dengan apa yang ingin Yuan tanyakan padanya.


“Benarkah?” tanya Yuan.


“Kenapa? Kau tidak percaya?” Rose balik bertanya.


“Bukan, tentu saja aku percaya. Hanya saja— aku, aku merasa sangat bersalah padamu, aku pria yang buruk. Kalau sekarang umur mereka delapan tahun, itu artinya delapan tahun yang lalu, saat aku meninggalkanmu di pulau pribadi itu, kau hamil, tapi aku malah sibuk mengurusi perusahaan dan, dan— ”


“Sudahlah, jangan diteruskan lagi. Aku tidak ingin mendengarnya,” sela Rose.


Yuan menghela napas pendeknya, ia kembali menatap dua anak kembarnya itu dengan binaran kasih sayang.


“Rose, ikut aku pulang ya? Aku, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu, lalu membesarkan anak-anak kita bersama,” ujar Yuan.


Si kecil Yusen yang mendengarnya ia terperanjat, tidak menyangka kalau pria asing yang tak sengaja di temui adiknya kemarin adalah ayah kandung mereka.

__ADS_1


Rose diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain, hatinya ingin berkata 'iya'. Namun, di sisi lain juga, ia tidak ingin egois. Rose butuh pendapat anak-anaknya. Karena itu, Rose menatap ke arah Yusen dan Yuna.


Perempuan itu berjongkok kembali di hadapan mereka. Rose mengusap pipi keduanya dengan lembut. Lalu menghela napasnya sebelum kemudian berkata, “Mama yakin kalian sudah paham dengan apa yang Mama dan dia katakan. Yusen, Yuna, pria ini, dia adalah— ”


“Tidak,” sela Yusen cepat. “Aku tidak,”


“Yusen,” lirih Rose.


“Aku dan Yuna tidak punya ayah. Sejak kami lahir, kami tidak pernah punya ayah. Lalu kenapa sekarang kami harus menerima kenyataan bahwa kami punya ayah? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang?!” seru Yusen, tidak terima. Dirinya merasa seperti sedang di permainankan oleh para orang dewasa.


“Yuna benci bilang ini. Tapi, Yuna juga sependapat dengan Yusen,” sahut Yuna.


Rose menghela napasnya lemas. Ia tidak bisa menyalahkan anak-anaknya. Ia juga tidak bisa memaksa mereka untuk menerima Yuan begitu saja.


Bagaimanapun juga, mereka itu seperti sebuah luka, dan Yuan adalah garam dapur. Ketiganya tidak bisa begitu saja di satukan. Butuh waktu untuk semua itu. Setidaknya, sampai luka itu sembuh dan pulih kembali.


Rose menoleh ke arah Yuan, pria itu tampak diam dengan wajah yang terpukul berat.


“Maaf, aku rasa mereka butuh waktu,” tutur Rose.


Yuan mengangguk paham. Kemudian, ia mendekati keduanya, ingin sekali rasanya ia merengkuh kedua malaikatnya itu. Tapi apalah dayanya karena telah mendapat predikat sebagai sosok ayah yang tidak bertanggung jawab. Kedua anaknya itu pun sampai menjaga jarak darinya.


“Yuna, Yusen. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi percayalah, pria yang tadinya kalian panggil paman ini adalah ayah kalian. Dan pria yang asing bagi kalian ini tidak pernah sekalipun meninggalkan kalian apalagi Mama kalian. Karena selama ini, aku selalu mencari Mama kalian berdua. Hanya saja, aku memang tidak pernah tahu kalau cinta kasih kami menghasilkan buah yang tampan dan cantik seperti kalian berdua. Maaf, maafkan Papa,” tuturnya penuh kelembutan dan kehangatan.


Yusen mengalihkan pandangannya, sejujurnya ia terenyuh dengan penuturan ayahnya itu. Tapi harga diri dan gengsinya lebih besar dari pada rasa harunya.


“Ma, Yusen masuk ke mobil duluan,” ujar Yusen yang kemudian pergi dari hadapan Yuan.


“Yusen, tunggu aku,” seru Yuna. Sekilas ia menatap sendu ayahnya itu. Tapi dengan berat hati ia berlari kecil meninggalkan sang ayah dan bergegas mengikuti adik kembarnya.


Yuan yang mendapatkan penolakan telak itu. Ia ambruk, lututnya bertumpu pada jalanan dekat sekolah dasar Lizard.


Melihat Yuan yang seperti itu. Rose menghela napasnya. Ia berdiri dari posisi jongkoknya. Lalu kemudian berkata, “Berdirilah,” suruh Rose.


“Mereka pasti sangat membenciku kan?” tanya Yuan dengan isak tangis yang tak dapat lagi ia sembunyikan.


“Berdirilah, Yuan,” perintah Rose. Mulutnya terasa kaku ketika menyebut nama itu setelah sekian lamanya.


Perlahan, Yuan pun berdiri. Ia berdiri dengan kepala tertunduk dan pipi yang basah karena air mata.


Sekertaris Iko yang melihatnya pun sampai terbengong tak percaya kalau bosnya itu bisa menangis.


“Kau itu pria, kenapa menangis?!” sindir Rose.


Yuan tidak menjawab, ia masih terisak kecil. Rasa rindunya ambyar menjadi air mata yang luruh deras ke pipinya.


Rose kembali menghela napasnya, ia menatap pria itu dengan tangan bersedekap di depan dada.


“Sudah delapan tahun tidak bertemu. Aku sungguh tidak menyangka kalau kau berubah menjadi sosok pria yang cengeng seperti wanita,” ujar Rose.


“Dari pada terus menangis. Kenapa kau tidak mencoba menjelaskan semuanya? Semua alasan kenapa kau pergi meninggalkanku di pulau itu? Kau berniat mengurungku di sana? Dan apa maksud dari berita tentang pertunangan mu waktu itu?” tanya Rose.


“Lalu kenapa tiba-tiba pertunanganmu dengan perempuan itu batal? Dan setelah itu, bagaimana bisa perusahaan Jhoneq di akusisi oleh Tnp group? Apa benar semua itu demi perusahaanmu? Pertunangan mu dan kepergianmu, semua demi Tnp group? Lalu, setelah kau mendapatkan semua itu, kenapa kau masih tidak mencariku? Apa kau pernah— ”


Belum selesai Rose mengeluarkan semua isi hati terdalamnya. Yuan tiba-tiba bergerak merengkuh tubuhnya, tubuh ibu dari anak-anaknya.


Yuan membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Rose. Ia kembali terisak di dalam sana. Semua pertanyaan Rose itu membuat hatinya sesak. Rasa bersalah dan juga syukur menyelimutinya secara bersamaan.


Ia merasa bersalah karena demi perusahaan, dirinya meninggalkan Rose. Tapi ia juga bersyukur karena tanpa ia menjelaskannya lagi, Rose sudah paham dengan semua alasan kenapa Yuan melakukan semua itu.


“Maafkan aku, Rose. Aku bukannya tidak mencarimu. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku bahkan sampai tinggal seorang diri di pulau itu selama satu tahun penuh, berharap kau kembali kesana,” ungkap Yuan.


“Tapi selama itu aku menunggu, aku tidak melihat tanda-tanda kau akan kembali. Lalu, aku juga mencarimu di semua tempat yang pernah kau kunjungi dan kau tempati. Tapi dunia ini terlalu luas, bahkan negara ini pun membuatku kesulitan menemukan orang terpenting di hatiku ini,” imbuhnya lagi.


“Bisakah kau memaafkan aku?” tanya Yuan kemudian.


“Kau tahu Yuan? Aku pernah menonton sebuah film, dan perkataan tokoh utama prianya kini membuatku paham kenapa dia berkata seperti itu,” ujar Rose.


“Yuan, kalau maaf begitu mudah di ucapkan dan di terima, kenapa kita butuh polisi dan hukum?” tanya Rose, mencuplik sebuah kalimat dari film yang pernah di tontonnya.


Yuan pun melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua tangan Rose sembari menatap perempuan itu dengan mata sembabnya.


“Aku tahu, aku salah. Tapi bisakah kau beri aku satu kesempatan lagi? Beri aku kesempatan kedua agar aku bisa membuktikan padamu kalau kau adalah satu-satunya di hatiku,” pinta Yuan, memohon.


Rose terdiam, ia menatap ke arah mobilnya. Di sana kedua anak kembarnya sedang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.


Yuna terlihat menginginkan persatuan kedua orang dewasa itu. Sedangkan Yusen, wajahnya sangat datar. Rose tidak tahu apa yang sedang putranya itu pikirkan.


“Aku akan memberimu kesempatan jika kau berhasil meluluhkan hati mereka,” ucap Rose tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua anaknya.


Yuan pun ikut menoleh, ia ikut menatap putra dan putrinya itu.


“Aku pasti akan meluluhkan hati mereka. Lagipula, mereka itu anak-anakku, darah dagingku. Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan maaf dan restu dari mereka,” ujar Yuan.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2