
Rose turun dari mobil setelah si pemilik mobil tersebut telah lebih dulu turun dari dalam sana.
Samuel terlihat berdiri menunggu Rose yang kini sedang mengambil berkas untuk di bawa sebagai keperluan wawancara dengan saksi dari pihak klien mereka.
“Senior, apa perlu kita membawa dokumen sebanyak ini?” tanya Rose, ia sebenarnya sudah dari awal ingin menanyakan hal itu.
Menurut Rose, dalam hal wawancara, bukankah hanya butuh alat perekam, pena dan sebuah buku note kecil? Tapi kenapa seniornya menyuruh dirinya untuk membawa beberapa berkas yang terasa sangat berat ini?
“Kau ini tipe orang yang suka mengeluh tanpa bersuara ya?” cibir Samuel sembari meraih dokumen yang Rose bawa. Lalu kemudian ia tampak membacanya sejenak.
“Dan kau sepertinya tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Aku hanya menyuruhmu membawa berkas yang berhubungan dengan persidangan besok. Kenapa draft yang tidak di perlukan kau bawa juga?” tanya Samuel.
Rose menatap seniornya itu dengan wajah yang tidak dapat di jelaskan.
“Saya, karena ingin mengantisipasi keamanan diri saya. Jadi saya bawa saja semuanya. Siapa tahu senior butuh berkas yang lain.” jawab Rose.
“Ck, bodoh.” ucap Samuel sembari mengambil beberapa jilid berkas yang ia butuhkan. Lalu sebagian yang lainnya ia berikan pada Rose. “Kembalikan itu ke dalam mobil.” katanya.
“Ah iya, baik.” ucap Rose, ia kemudian meletakkan tumpukan berkas itu kembali ke bagian kursi penumpang.
“Kalau sudah, cepat jalan dan ikuti aku.” ujar Samuel sembari berjalan mendahului Rose yang baru saja menutup pintu mobilnya.
“Senior, tunggu saya.” kata Rose sembari mengejar seniornya yang sudah lebih dulu berjalan beberapa meter darinya.
Mereka berdua pun tampak memasuki area pemukiman yang hampir seperti desa tak berpenghuni, karena tempat itu sangat sunyi.
“Senior, bukankah kita akan pergi ke perusahaan konveksi? Kenapa kita malah pergi ke pemukiman yang terlihat menyeramkan ini?” tanya Rose yang kemudian tampak semakin merapat ke arah Samuel.
“Kau sejak kapan menjadi wanita yang banyak bertanya dan menempel seperti magnet?” tanya Samuel dengan nada sinisnya. “Perusahaan konvensi itu ada di ujung desa ini.” sambungnya.
“Aku tidak menyangka, ternyata di ibu kota yang ramai ada desa menyeramkan seperti ini.” ucap Rose.
“Sebenarnya desa ini di hari biasa memang ramai, seperti desa pada umumnya. Tapi hari ini kita datang bertepatan pada hari sial bagi mereka. Karena itu mereka berdiam diri di dalam rumah dan tidak akan menerima tamu sama sekali.” kata Samuel.
“Ah, kalau begitu memang benar-benar hari sial.” ucap Rose, yang ia maksud sial itu adalah dirinya dan Samuel. Karena kalau mereka sampai pulang larut malam, tidak akan ada orang yang mau membukakan pintu mereka walau hanya sekedar untuk singgah sejenak.
Samuel yang mendengar ucapan gadis di sampingnya itu, ia pun tersenyum tipis.
•••
Yuan tampak sedang menggerakkan jari-jari tangannya dengan lihai pada keyboard laptopnya. Pria itu terlihat sangat santai dalam menyelesaikan pekerjaannya. Raut wajah tanpa bebannya itu seolah-olah menjelaskan kalau pekerjaan yang sedang di lakoninya saat ini bukanlah hal yang sulit.
“Yuan, ada yang mencarimu di luar.” kata seorang seniornya.
“Mencariku? Siapa?” tanya Yuan.
“Seorang gadis, mungkin kekasihmu. Coba kau temui saja.” katanya.
Seorang gadis yang mungkin kekasihku? Apa itu Rose? Tapi tidak mungkin Rose punya keberanian yang cukup besar untuk datang kemari dengan membawa identitas sebagai kekasihku. — batin Yuan.
Lalu kemudian tanpa berpikir panjang lagi, Yuan segera berdiri dari tempat duduknya, setelah itu ia berjalan keluar dari ruangan untuk menemui gadis yang sudah lama menunggunya.
Ketika keluar dari ruangan staf manajemen keuangan, hal pertama yang Yuan lihat adalah bagian belakang dari seorang gadis yang ia yakini kalau itu bukanlah Rose.
“Siapa kau?” tanya Yuan. “Untuk apa mencariku?” tanyanya lagi.
Mendengar suara dari Yuan, gadis itu pun kemudian berbalik, menghadap ke arah Yuan.
“Rue?” ucap Yuan.
“Kak Yuan. Iya ini aku, bagaimana penampilan baruku?” tanya Rue sembari menyentuh rambutnya yang ia potong pendek sama persis seperti milik Rose.
Yuan tersenyum sinis menatap, ia menatap perempuan itu dengan tatapan merendahkannya.
“Apa kau ini mesin fotokopi? Ck, aku benci wanita dengan rambut pendek sepertimu.” ujar Yuan.
__ADS_1
Rue tampak membalas perkataan Yuan itu dengan senyumannya.
“Benarkah? Tapi aku kira kakak Yuan sangat menyukai perempuan dengan rambut pendek— itu.” kata Rue. ‘itu’ yang ia maksud adalah Rose.
“Kau sudah mengetahui hubunganku dengan wanitaku ya? Baguslah, tapi seharusnya itu membuatmu sadar kalau kau sebaiknya menyerah dari sekarang.” kata Yuan.
“Menyerah? Aku tidak pernah menemukan kata menyerah dalam kamus kehidupanku. Jadi kakak Yuan jangan pernah berharap kalau aku akan menyerah begitu saja.” ujar Rue.
“Ah iya, kak Yuan, ini aku bawakan makan siang untukmu, aku yang memasaknya sendiri khusus untuk kak Yuan.” katanya lagi.
Yuan menatap kotak makan itu dengan ekspresi datarnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk mengambil kotak makanan itu sedikitpun.
“Pergilah dan bawa pulang makanan itu bersamamu.” ujar Yuan sembari membalikkan badannya ingin kembali masuk ke ruangannya untuk bekerja.
Tapi baru beberapa langkah Yuan berjalan, sebuah suara memaksa langkahnya untuk terhenti.
“Bagaimana bisa kau tega menyuruh pergi seorang gadis yang sudah susah payah membawakan makan siang untukmu?” kata sebuah suara berat yang Yuan yakini itu suara ayahnya, Ray.
Yuan pun segera membalikkan badannya, seketika itu juga, matanya beradu pandang dengan sang ayah yang tampak menatapnya tajam.
“Ketua Ray, anda datang kemari untuk menemui tuan muda Yuan ya? Mari, silahkan masuk dan duduk di ruangan saya.” ujar direktur Morris yang entah sejak kapan sudah berlarian keluar dari ruangannya.
“Tidak perlu, kau pergilah dan kembalilah bekerja. Aku hanya tidak sengaja melangkahkan kakiku kemari, jadi abaikan saja kehadiranku ini.” kata Ray sembari mengibaskan tangannya, menyuruh direktur manajemen keuangan itu untuk pergi dari sana.
“Ah begitu, baiklah, kalau anda ada perlu sesuatu panggil saja saya. Saya permisi undur diri.” ujar direktur Morris, lalu kemudian ia pergi dari hadapan Ray dan kembali ke ruangannya.
Setelah melihat direktur Morris pergi, Yuan tampak membalas tatapan ayahnya itu dengan wajah tanpa eksepsinya. “Dad untuk apa datang kemari? Tidak mungkin hanya karena tidak sengaja, tiba-tiba daddy datang kemari.” ujar Yuan.
Ray tersenyum samar menanggapi perkataan anaknya itu. “Ya, anggap saja ada alasan tertentu daddy datang kemari.” katanya.
“Kalau itu karena Rue, silahkan daddy sambut dan sapa dia dengan baik. Aku masih ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tidak ada waktu luang untuk ikut bergabung dalam obrolan basa-basi kalian. Yuan pergi dulu.” ujar Yuan, ia kemudian kembali membalikkan badannya untuk pergi dari hadapan sang ayah dan si pengganggu Rue.
“Yuan, setidaknya kau terima dulu makanan yang Rue bawakan untukmu. Dia sudah susah payah memasak untukmu, kau harus menghargainya.” kata sang ayah.
Departemen manajemen keuangan adalah salah satu departemen inti perusahaan, pintu untuk masuk ke dalam ruangan kerja pun di pasang sistem pengenalan identitas. Jadi, jika tidak memiliki id card yang terdaftar di departemen tersebut, maka sudah di pastikan tidak dapat masuk ke dalamnya.
“Paman Ray, aku rasa kakak Yuan marah padaku karena potongan rambut baruku. Sepertinya aku sangat tidak pantas dengan potongan rambut pendek ini.” ujar Rue dengan nada menyedihkannya.
Ray tersenyum hangat ke arah gadis yang tampak imut baginya itu. Ray pun bahkan terlihat mengusap lembut puncak kepala Rue.
“Jangan berpikir seperti itu. Kau malah terlihat lebih cantik dengan gaya rambut pendekmu itu. Yuan mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk, makanya terlihat marah dan tidak suka padamu. Paman yakin, sebenarnya dia sangat menyukai potongan rambut barumu ini.” kata Ray, mencoba menenangkan anak dari teman baiknya itu.
“Apa sungguh hanya karena suasana hatinya yang buruk? Tapi, aku rasa bukan hanya karena itu. Paman, apa mungkin kakak Yuan mempunyai gadis yang di sukainya?” tanya Rue, sebuah pertanyaan yang sengaja ia lontarkan untuk mengganggu pikiran Ray.
“Paman rasa tidak. Yuan tidak pernah terlihat seperti seorang pria yang mempunyai seseorang dihatinya. Rue, kau jangan terlalu banyak berpikir ya. Ayo paman akan mengantarmu pulang. Ah iya, apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau sebelum paman mengantarkanmu pulang, kau makan siang dulu bersama paman?” ujar Ray.
“Begitu ya, paman mungkin benar, aku yang terlalu banyak berpikir.” ucap Rue yang dibalas dengan sebuah senyuman hangat lagi oleh Ray.
“Jadi bagaimana dengan tawaran paman? Apa kau mau makan siang bersama paman?” tanya Ray.
“Tentu saja mau, siapa yang tidak bersedia menerima ajakan makan siang bersama ketua perusahaan besar seperti paman Ray ini.” ujar Rue dengan ucapan manisnya.
“Baiklah, kau ingin makan dimana?” tanya Ray, lagi.
“Bagaimana kalau di restorannya bibi Ana saja?” ujar Rue, memberikan sarannya.
Mendengar saran dari Rue itu, ekspresi wajah Ray tiba-tiba langsung berubah dengan cepat.
“Eng, bagaimana kalau di restoran dekat perusahaan saja? Soalnya nanti sore paman ada pertemuan dengan investor dari luar negeri. Kau tidak masalah kan? Paman sungguh minta maaf padamu.” kata Ray.
“Tidak masalah paman, paman Ray tidak perlu meminta maaf seperti itu.” ujar Rue.
“Baguslah, kau memang gadis yang baik. Ah iya, makan siang yang kau bawakan untuk Yuan itu berikan saja pada sekertaris Chenli. Nanti biar sekertaris Chenli yang memberikannya pada Yuan.”
Rue mengangguk, kemudian menyerahkan kotak makan yang sejak tadi ia pegang itu kepada sekertaris Chenli yang selalu ada disamping Ray.
__ADS_1
“Tolong ya paman Chenli, tolong pastikan kakak Yuan mau menerima dan memakannya.” ujar Rue.
“Tentu, saya akan pastikan itu nona muda.” jawab Chenli sembari membungkuk hormat padanya.
•••
“Senior, apa perusahaan konveksi nya masih jauh?” tanya Rose.
Samuel menoleh sejenak ke arah Rose yang tampak mengusap keringatnya.
Hari itu matahari bersinar terang, membuat kebanyakan orang lebih memilih berdiam diri di dalam ruangan daripada berkeliaran di luar. Teriknya matahari yang terasa menyengat kulit itu, sungguh menyiksa Rose yang harus terus berjalan kaki beberapa menit lamanya.
“Sebentar lagi sampai. Kau kalau tidak sanggup lagi lebih baik pulang saja sana. Telingaku bisa sakit kalau harus terus-menerus mendengar keluhan darimu.” kata Samuel.
“Maaf senior. Kedepannya saya tidak akan banyak mengeluh lagi.” ujar Rose.
“Tapi senior, kenapa kita tidak menggunakan mobil saja untuk pergi ke perusahaan konveksi itu? Lagipula, jalanan desa ini cukup lebar untuk kendaraan roda empat seperti mobil.” katanya lagi.
“Ck, kau bilang tidak akan banyak mengeluh lagi. Tapi itu tadi apa kalau bukan sejenis keluhan tidak langsung. Sudah, lebih baik kau diam dan jalan saja.” ujar Samuel.
“Saya bukannya mengeluh senior. Tapi hanya sekedar bertanya, itu saja.” jawab Rose.
Mendengar jawaban yang terasa menjengkelkan itu, Samuel hanya bisa menghela nafasnya, membuang rasa geram dan kesal yang sedang menyelimuti dirinya.
“Sudah diam saja. Bukankah tadi sudah aku katakan, kalau hari ini adalah hari sial bagi penduduk desa ini, yang artinya tidak boleh ada suara apapun. Harus sunyi, sepi dan senyap. Memangnya tadi kau tidak lihat spanduk yang ada di depan pintu masuk desa ini? Makanya lain kali saat sedang bekerja seperti ini gunakan seluruh indramu dengan baik.” ujar Samuel.
“Ma— ”
“Tidak perlu meminta maaf, kau hanya perlu diam, itu lebih baik daripada permintaan maafmu.” kata seniornya.
Tidak lama setelah Samuel berkata seperti itu, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi cukup nyaring, memecahkan kesunyian yang ada di sekitarnya.
“Senior, bukankah suara ponselmu itu bisa membuat kita terkena amukan penduduk desa? Sebaiknya cepat senior matikan atau angkat saja panggilannya.” kata Rose sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau tidak ada mata yang sedang memperhatikan kebisingan yang seniornya itu buat.
“Ck, diamlah, aku juga ingin mengangkatnya. Ini panggilan dari orang yang akan kita wawancarai.” ujar Samuel yang kemudian mengangkat panggilan tersebut.
Rose pun kemudian diam, ia memperhatikan seniornya yang sedang menerima panggilan itu.
Hanya kata ‘Halo’ dan ‘Baiklah’ yang Rose dengar dari sang senior. Setelah kata terakhir itu, Samuel terlihat mematikan sambungan telepon tersebut.
“Sudah selesai? Apa kata pria itu?” tanya Rose.
“Tempat wawancara kita berubah. Tapi yang sekarang sepertinya lebih baik daripada yang sebelumnya.” kata Samuel.
“Oh baguslah. Jadi kita bisa segera pergi dari tempat ini.” ujar Rose yang tidak dapat lagi menyembunyikan raut wajah senangnya.
“Siapa yang akan segera pergi dari tempat ini?” tanya Samuel dengan nada ketusnya.
“Itu, tadi senior bilang tempat untuk wawancaranya berubah. Bukankah itu artinya kita tidak akan pergi ke perusahaan konveksi yang ada di ujung desa ini?”
Samuel tertawa kecil, ia menertawakan pemikiran pendek dari juniornya itu.
“Lalu, karena kita tidak akan melakukan wawancara di perusahaan konveksi itu, jadi kita harus segera pergi dari sini? Apa desa ini terasa sangat menyeramkan sekali bagimu? Ck, lagipula kenapa kau tidak bertanya dimana tempat wawancaranya yang sekarang?” kata Samuel.
“Ah itu, iya benar. Jadi, memangnya dimana tempat wawancaranya yang sekarang?”
“Di rumah salah satu penduduk desa ini. Karena pria yang akan kita wawancarai adalah penduduk desa ini. Jadi kita harus tetap disini sampai wawancara selesai.” ujar Samuel.
“Ayo cepat ikuti aku.” katanya lagi.
Ck, sial, iya memang benar, hari ini hari sial. Siapa yang mau berada di desa yang terasa menyeramkan seperti ini?! Lagipula, memangnya senior Sam pikir kita ini reporter? Atau dia pikir kita ini detektif? Aku merasa ini bukan pekerjaan seorang pengacara. Apa aku sebaiknya berpindah prosfesi saja?! Astaga, selama ini aku bukan tipe pengeluh, tapi sekarang, sudah berapa banyak keluhan yang aku ucapkan? Banyak sekali.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1