The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Suara Hati di Pagi Hari


__ADS_3

"Nana." Yohan memanggil Nana yang hendak keluar dari rumah untuk berangkat ke kampus.


"Iya?" Nana menoleh, melihat ayah tirinya dan adiknya itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Ayo berangkat bersama kami ke kampus." Ujar Yohan, membuat Nana terdiam sesaat, ia menatap ponsel yang di pegangnya itu cukup lama, tadi Alex mengiriminya pesan singkat, seperti biasa, Alex akan menjemputnya dan mengantarnya ke kampus.


Tapi ketika Yohan tiba-tiba mengajaknya untuk berangkat bersama, ia berada di posisi yang sulit, apalagi kejadian semalam masih membuat hatinya membara.


Lama Yohan menatap Nana yang hanya diam, pria paruh baya itu kemudian berjalan mendekati putri tirinya itu.


"Ayo, kita bisa terlambat, kau ada kelas pagi kan?" Kata Yohan sembari mengusap lembut puncak kepala Nana. Kemudian ia keluar dari rumah itu diikuti oleh Daisy.


Disaat-saat seperti itu, sebuah mobil berwarna hitam tampak memasuki pekarangan rumahnya. Yohan mengernyitkan keningnya sejenak, lalu kemudian wajah-nya menampilkan raut ketidaksukaan ketika mengetahui siapa pemilik mobil itu.


Alex menghentikan mobilnya tepat di depan rumah keluarga Yohan. Tak lama kemudian, ia keluar dari dalam mobil itu, membuat Yohan semakin menunjukkan raut ketidaksukaannya yang begitu kentara.


"Nana a—" Belum sempat Alex melanjutkan perkataannya, Yohan tiba-tiba berdiri di hadapannya, menghalangi pandangan Alex dari anak kandungnya, Nana.


"Ada apa denganmu?" Tanya Alex yang tidak mengerti dengan sikap Yohan.


"Dia berangkat bersama kami." Ujar Yohan, kami yang dia maksudkan adalah dirinya, Rachel dan Daisy.


"Kenapa harus bersamamu? Dia bisa berangkat bersamaku." Kata Alex menyanggah perkataan Yohan.


"Pergi dari rumahku dan jangan pernah datang menemui Nana lagi." Ucap Yohan.


Alex terlihat sangat terkejut, bagaimana bisa Yohan bersikap egois seperti itu.


"Apa yang kau katakan? Dia itu juga anakku, dia anak kandungku, kenapa kau bersikap egois seperti itu?" Tanya Alex.


Nana yang mendengarnya dari balik pintu rumah hanya bisa diam, tak mampu berucap ataupun berkata-kata, ia hanya bisa menjadi penonton yang tersayat hatinya.


"Pergi dari sini." Ucap Yohan tanpa peduli dengan pertanyaan dari Alex itu.

__ADS_1


"Kedatanganku kesini bukan untuk membuat keributan, aku datang untuk menjemput Nana dan mengantarnya ke kampus, kenapa kau membuat semua ini terlihat rumit?" Tanya Alex.


"Nana akan berangkat bersama kami, mulai hari ini dan seterusnya, kau tidak perlu menjemput ataupun mengantarnya lagi." Kata seseorang dari arah belakang Yohan, itu Rachel yang baru saja keluar dari balik pintu rumah.


Alex terdiam saat mendengar perkataan yang seakan sudah diputuskan oleh seorang hakim itu. Dirinya hanya bisa menghela nafas kepasrahan.


"Ayo Nana." Ucap Rachel pada Nana yang masih berdiri di balik pintu rumah.


Perlahan Nana berjalan keluar dari balik pintu rumah itu, wajahnya tampak sendu, sejak tadi hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Daisy, ajak kakakmu masuk ke dalam mobil." Perintah Rachel.


Daisy mengangguk,


"Iya." Ucapnya.


"Tapi bu—" Nana melihat ibunya itu dengan tatapan memohon, entah apa yang dia inginkan, tapi Rachel paham dengan isi pikiran anaknya itu. Nana ingin pergi bersama Alex.


"Masuk kedalam mobil bersama Daisy, cepat Nana." Kata Rachel.


"Maaf." Ucap Nana tanpa suara, ia mengatakannya hanya dengan gerakan bibirnya, tapi Alex mengerti dengan ucapan isyarat itu.


Alex mengangguk ke arah Nana dengan senyum tipisnya, seakan mengatakan tidak apa-apa.


"Pergilah dari sini." Kata Yohan sebelum akhirnya ia berlalu dari hadapan Alex dan berjalan menuju mobilnya.


Nana melangkah lesu mengikuti Daisy yang ada di depannya. Gadis itu sesekali menoleh kebelakang, melihat ayah kandungnya yang masih berdiri di tempat, hati Nana merasa kasihan pada ayah kandungnya itu.


"Kau itu memang pembuat masalah ya." Ucap Daisy saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Nana menoleh sekilas pada adik beda ayahnya itu, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk membalas ucapan sindiran dari Daisy, Nana hanya diam, pikirannya sekarang hanya di penuhi tentang ayah kandungnya. Nana merasa ini tidak adil baginya dan juga bagi ayah kandungnya itu. Mereka seperti dipaksa untuk dipisahkan satu sama lain.


"Seharusnya kau bersyukur karena ayahku mau merawatmu saat kau masih kecil, tapi sekarang kau ingin mengabaikan ayahku hanya karena seorang pria paruh baya tidak bertanggung jawab itu." Ujar Daisy masih saja berceloteh dengan nada sindirannya.

__ADS_1


Nana menatap adiknya itu, tatapan tajam ia berikan pada Daisy, membuat adiknya itu tampak kikuk dan mengalihkan pandangannya dari Nana.


"Siapa yang kau maksud dengan pria paruh baya tidak bertanggung jawab itu? Dia itu ayahku, bukan seorang pria paruh baya yang tidak bertanggungjawab! Ingat Daisy.. kau bisa menghinaku atau menyindirku sesuka hatimu, tapi jangan pernah sekalipun ada kata-kata buruk tentang ayah kandungku itu keluar dari mulutmu! Kau paham dengan perkataanku kan? Aku sedang tidak bercanda." Ujar Nana, setelah mengatakan itu ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Tak lama, ayah tiri dan ibunya masuk kedalam mobil, semakin membuat keheningan yang kental diantara mereka.


"Setelah kau menyelesaikan kelas mu hari ini, tunggu ibu di ruang dosen, kita akan pulang bersama." Ujar Rachel.


"Apa ibu sedang mengekangku?!" Tanya Nana, tanpa sadar ia menggunakan nada yang terdengar sedikit meninggi.


"Nana, jaga cara biacaramu pada ibumu sendiri." Ucap Yohan memperingatkan anak tirinya itu.


Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka pikirkan, yang pasti, aku benci situasi ini. — Batin Nana.


"Aku akan pulang bersama temanku." Ujar Nana setelah saling diam beberapa saat.


"Teman? Maksudmu kak Yuan? Bukankah dia pergi dari rumah dan belum kembali sampai sekarang?" Tanya Daisy.


Nana diam tak mau menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Daisy. Ia masih merasa kesal karena tadi Daisy secara tidak langsung menyinggung ayah kandungnya.


"Jangan membuat alasan, kau pulang bersama ibu." Kata Rachel.


Maafkan ibu sayang, ibu tidak bermaksud bersikap seperti ini. Ibu hanya tidak ingin keluarga kita hancur karena sikapmu yang terlalu menaruh sayang lebih banyak pada ayah kandungmu. Maaf Nana, maaf. Kau boleh membenci ibu, tapi asal kau tahu, ini semua untuk kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita. — Batin Rachel.


•••


Yuan menatap Rose yang sudah masuk ke dalam bus antar kota itu, ia tersenyum dan membalas lambaian tangan Rose.


"Hati-hati." Gumam Yuan.


Bus itu kemudian pergi melaju ke jalur nya, menuju ke kota tujuan. Setelah semalam gagal pergi karena ia memilih mendengarkan nasehat Yuan, pagi ini akhirnya Rose bisa pergi ke kota tempat ibunya tinggal sekarang.


Gadis itu duduk di bagian paling belakang bus, sehingga ia bisa melihat Yuan yang masih berdiri menatap kepergian bus antar kota itu. Dalam diam, Rose tersenyum, ia merasa seperti di antar dan ditatap kepergiannya oleh kekasihnya sendiri. Jika dipikir-pikir, mereka akhir-akhir ini terlihat lebih dekat, walaupun Yuan sangat menyebalkan, tapi Rose tetap merasa senang bisa menghabiskan banyak waktu bersama pujaan hatinya.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2