
Tiga tahun kemudian.
Tiga tahun telah berlalu, hari-hari yang telah terlewati selama tiga tahu ini seperti sebuah angin yang berhembus begitu saja.
Ada waktu yang tersimpan sebagai kenangan dan ada juga waktu yang terlupakan.
Tiga tahun berlalu, banyak hal yang sudah terjadi.
Rose, tiga tahun yang lalu. Ia menjadi lulusan terbaik di universitasnya, karena itu, banyak perusahaan dan firma hukum menawarinya pekerjaan. Bahkan peluangnya untuk menjadi pegawai pemerintahan sebagai seorang jaksa sangat tinggi.
Tapi, pilihan Rose adalah jalan hidupnya. Rose memilih menjadi seorang pengacara dan meninggalkan mimpi lamanya yang ingin menjadi seorang jaksa.
Setelah lulus kuliah, Rose langsung mengikuti pendidikan profesi advokat dan dua tahun yang lalu ia telah berhasil mendapatkan sertifikat pengacaranya.
Saat ini, di usianya yang menginjak angka dua puluh lima tahun, Rose bekerja sebagai pegawai legal officer di departemen hukum perusahaan Tnp group. Rose bekerja di sana bukan karena backing dari Yuan atau bahkan Ana, tapi semua itu karena usaha dan prestasinya sendiri.
“Rose, apa kau ingin makan siang?” tanya seorang rekan pegawainya, dia Hani.
Rose yang sedang fokus menatap layar komputernya, ia pun kemudian menoleh ke arah rekan kerja wanitanya itu.
“Kau duluan saja. Aku masih belum lapar.” kata Rose sembari tersenyum singkat kepada Hani.
Rose berbohong, gadis itu bukannya belum lapar. Tapi karena ia sedang menunggu ajakan makan siang dari seseorang.
“Kau yakin belum lapar?” tanya Hani yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Rose.
“Ck, kapan kau akan menerima ajakan makan siang bersamaku?” ucap Hani sembari mematikan komputernya. Lalu kemudian, gadis yang juga seumuran dengan Rose itu terlihat berdiri dari kursinya.
“Maaf.” kata Rose, menatap Hani dengan raut wajah menyesalnya.
“Ya, baiklah, mau bagaimana lagi. Kalau begitu, aku pergi makan siang dulu. Apa kau ingin aku belikan sesuatu untuk kau makan nanti?” tanya Hani.
Rose kembali menggelengkan kepalanya lagi, ia juga menampilkan senyum tipisnya. “Tidak, terimakasih.” ujar Rose.
“Ck, kalau perutmu sakit, jangan mengeluh padaku.” kata Hani yang kemudian pergi dari ruangan tersebut.
Setelah Hani pergi, Rose kembali fokus pada komputernya, menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Tapi kemudian, fokus Rose teralihkan ketika terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya.
Rose menatap layar ponselnya, melihat siapa yang telah mengiriminya pesan. Lalu, sebuah senyum cerah pun terlihat bersinar di wajah Rose ketika gadis itu melihat nama Yuan yang tertera di notifikasi pesan masuk.
Ayo makan siang ditempat biasa. — kata Yuan dalam pesan singkatnya.
Rose pun kemudian segera meraih tasnya, memasukkan ponselnya ke dalam, lalu merapikan beberapa dokumen dan perlengkapan kerja lainnya.
“Pak, saya permisi untuk makan siang sebentar.” ujar Rose yang telah berdiri dari kursinya.
“Ya, pergi saja.” kata seorang pria paruh baya, ia adalah kepala tim A legal officer.
“Terimakasih.” ucap Rose sembari tersenyum dan kemudian pergi dari ruangan tim A bagian departemen hukum perusahaan Tnp group itu.
•••
Ruangan dengan nuansa hitam dan putih tampak begitu elegan. Ruangan itu masih terlihat sama sejak pertama kali perusahaan didirikan.
Tidak banyak perubahan yang terjadi walaupun sudah ditempati oleh beberapa orang berbeda.
Kini ruangan itu kembali memiliki pemilik baru, seorang pria muda yang telah mendapatkan banyak penghargaan dalam dunia bisnis. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah mampu menduduki posisi yang sangat penting sebagai Chief Executive Officer.
“Tuan muda, saya sudah menyiapkan mobil anda.” kata asisten pribadinya.
“Apa jadwalku selanjutnya?” tanya pria yang merupakan seorang CEO muda perusahaan Tnp group, seorang pria yang layak dianggap sebagai calon suami idaman, dia adalah Yuan, Yuan Mauli Gavin. Seorang pria yang selama ini digadang-gadang menjadi pewaris tunggal perusahaan besar Tnp group.
“Selama dua jam kedepan, anda tidak memiliki jadwal apapun tuan muda. Jam empat sore nanti baru ada jadwal pertemuan dengan investor dari Qatar.” jawab asisten pribadinya, Sarah.
“Aku akan pergi makan siang bersamanya, seperti biasa, tolong urus semuanya selama aku tidak ada.” kata Yuan sembari memakai jas summer suitnya.
“Baik tuan muda, saya mengerti.” jawab Sarah.
Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu, ia telah menjadi asisten pribadi Yuan selama dua tahun ini. Gadis lajang itu telah menjadi pengikut setia Yuan sejak Yuan masih menjabat sebagai Direktur pemasaran.
Walau baru dua tahun, tapi perempuan itu dapat sepenuhnya di percaya. Sarah tidak seperti gadis lainnya yang ingin menjadi pegawai Yuan hanya karena ingin dekat dengan pria itu.
Sarah adalah tipe gadis yang tidak peduli dengan masalah pria, yang gadis itu tahu hanyalah bekerja dengan baik dan profesional, sifat yang hampir mirip dengan Yohan dulu.
Sarah juga salah satu orang yang mengetahui hubungan rahasia antara tuan mudanya dengan Rose.
“Kalau begitu, tolong ya, sarah.” ucap Yuan sembari menepuk bahu Sarah sekilas, lalu kemudian ia berjalan menuju pintu keluar ruangannya.
Sarah tersenyum, ia membungkuk hormat pada tuan mudanya itu. “Semoga makan siang kalian menyenangkan.” kata Sarah yang dibalas dengan anggukan oleh Yuan.
__ADS_1
•••
Tiga tahu sudah berlalu, rasanya baru kemarin saja aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya. — batin Rose sembari menatap gedung Tnp group yang tampak menjulang tinggi dari kejauhan.
Semua waktu yang telah terlewati seperti mimpi. Tidak terasa aku dan dia telah bersama selama empat tahun lamanya.
Setiap detik waktu, aku selalu berharap kalau kami akan bersama selamanya.
Ya, selamanya.
Gadis itu kemudian terlihat menopang dagunya sembari memainkan gelas milkshake matcha-nya.
“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya seorang pria dari arah belakang Rose.
Rose menoleh, lalu sebuah senyuman mengembang sempurna di wajahnya.
“Kau harus bersyukur karena aku punya rasa kesabaran yang tinggi.” jawab Rose.
Yuan tertawa kecil, jawaban Rose itu sudah terlalu sering ia dengar.
Lagipula, kata-kata yang ia ucapkan tadi itu juga sangat sering ia katakan.
Setiap kali melihat Rose yang datang lebih dulu dan menunggu dirinya. Yuan pasti akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
“Kau belum pesan makanan?” tanya Yuan.
Rose menggelengkan kepalanya. “Belum.” jawab Rose.
“Kenapa tidak pesan saja dulu.” ucap Yuan sembari meraih buku menu yang sudah tersedia di atas meja mereka.
“Kau ingin makan apa?” tanya Yuan, ia membuka tiap lembar buku menu itu.
“Seperti biasa saja.” jawab Rose.
Yuan mengalihkan pandangannya, menatap Rose sekilas, lalu kemudian kembali menatap buku menu itu lagi.
“Apa kau tidak bosan setiap makan siang memakan menu yang sama terus?”
Rose tersenyum, ia menatap Yuan sembari meminum milkshake matcha-nya.
“Tidak.” jawab Rose.
“Sama seperti aku yang tidak akan pernah bosan menatapmu.” kata Rose, membuat Yuan tampak mengulum senyum bahagianya.
Rose tertawa kecil melihat kekasihnya yang tampak merona.
Melihat Yuan seperti itu hatinya terasa hangat. Cinta yang seperti ini sungguh sangat sederhana. Hanya dengan sebuah senyuman, rasanya jutaan ulat bulu telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang menggelitik hatinya.
Bagi Rose, Yuan itu seperti matahari di kala siang dan seperti bulan di saat malam datang.
Pria itu walaupun tidak selalu berada di dekatnya. Tapi Rose merasa kalau Yuan akan selalu ada untuknya, selalu mengawasinya dari kejauhan.
Satu hal paling penting, yaitu tentang hati mereka yang saling terikat satu sama lain. Seperti ada benang merah tak kasat mata yang mengikat mereka.
•••
“Paman Ray.” ucap seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan milik ketua perusahaan Tnp group.
Pria yang di panggil paman oleh gadis berusia dua puluh empat tahun itu pun menoleh padanya.
Kemudian sebuah senyuman hangat terukir jelas di wajah paruh bayanya.
“Rue, paman senang kau datang kemari.” kata Ray.
“Ingin menemui Yuan ya?” tanya Ray sembari berjalan menuju ke arah sofa.
“Iya.” jawab gadis itu.
Semenjak Rue pindah dari Inggris empat tahun yang lalu ke negara kelahirannya ini, gadis itu terlihat sangat dekat dengan Ray.
Kedua orang itu bagaikan seorang anak dan ayah yang terlihat kompak satu sama lain.
Tentang perjodohan yang Ray inginkan, tentu saja bagi Ray itu tidak akan pernah terhapuskan dari dalam daftar keinginannya. Sampai sekarang pun, Ray terkadang masih sering membahasnya dengan Ana, karena itu pula, kedua pasangan suami-istri itu tiga tahun belakangan ini seringkali bertengkar.
“Kenapa tidak langsung menemuinya saja?” tanya Ray.
“Aku baru saja datang ke ruangannya. Tapi asistennya bilang kalau kak Yuan sedang ada jamuan makan siang dengan orang penting.” jawab Rue.
“Ah begitu ya, sayang sekali. Apa kau membawakan makan siang untuknya lagi?”
__ADS_1
Rue mengangguk, selama ini gadis itu benar-benar tidak mengenal kata menyerah. Walaupun berulangkali Yuan menolak makanan yang ia berikan, tapi Rue masih saja terus-menerus datang ke perusahaan.
“Paman.” panggil Rue.
“Iya? Apa ada yang ingin kau katakan? Katakan saja pada paman.” ujar Ray.
“Tentang perjodohanku dengan Yuan. Apa tidak bisa segera dilakukan? Umur kami juga bisa di bilang sudah matang untuk menikah.” kata Rue sembari menundukkan kepalanya.
Ray tersenyum, ia menatap Rue dengan penuh kehangatan.
“Paman akan usahakan secepatnya. Maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Bagaimanapun juga, kau satu-satunya perempuan yang paling pantas untuk anak paman. Kau dan Yuan sama-sama dua orang luar biasa dalam dunia bisnis. Bahkan prestasimu lebih unggul dari Yuan, di usiamu yang lebih muda dari Yuan ini, kau sudah menjadi presiden direktur di perusahaan ayahmu. Kau sungguh luar biasa, Rue. Paman kagum padamu.” ujar Ray.
Hati Rue terasa semakin senang. Tujuannya bersikap manis setiap saat dihadapan ayah Yuan itu karena ia ingin mendapatkan pengakuan dan juga dukungan.
Dukungan agar dirinya bisa bersama Yuan.
“Paman Ray terlalu memujiku, Rue jadi merasa malu.” ucap Rue dengan rona senyum malu-malunya.
•••
“Mau sampai kapan kita akan melakukan hubungan yang tertutup seperti ini?” tanya Yuan yang merasa kesal karena Rose kembali meminta turun dari mobil sebelum mereka sampai di perusahaan.
“Nana dan Kai saja sudah menikah.” sambungnya.
Rose menghela nafasnya perlahan, ia diam, tapi bukan berarti mengabaikan perkataan pria itu. Saat ini, Rose sedang menjadi bijak dengan mendengarkan perkataan Yuan sebelum berbicara.
“Hubungan kita dengan mereka itu berbeda.” kata Rose setelah Yuan terlihat sedikit lebih meredakan emosinya.
“Apanya yang berbeda? Bagian mananya yang terlihat beda?!” tanya Yuan dengan nada bicaranya yang kembali meninggi.
“Yuan.” ucap Rose, mencoba menenangkan pria itu.
Yuan pun kemudian menghembuskan nafasnya, mengontrol emosi yang terasa memberontak di dalam hatinya.
“Mommy menyuruhmu untuk datang ke acara pesta ulang tahunku lusa. Kau jangan bersembunyi lagi.” ujar Yuan setelah ia merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
“Pesta ulang tahunmu, itu— hah, iya, baiklah, aku akan datang. Lagipula aku bisa hadir dengan identitas sebagai salah satu pegawaimu. Itu bukan masalah besar. Jadi kau tenang saja, aku pasti akan datang.” jawab Rose.
“Identitas sebagai pegawaiku? Ck, sudah aku bilang jangan bersembunyi. Apa kau tidak mengerti maksud perkataanku itu?”
Rose mengernyitkan keningnya, bingung.
Selama ini, Yuan memang selalu mengadakan acara perayaan ulang tahun. Tapi selama empat tahun bersama, Rose datang hanya sebagai seorang teman atau karyawan saja.
Itu semua bukan karena keinginan Yuan, melainkan keinginan Rose yang masih tidak mau hubungan mereka terungkap di hadapan publik.
Bagaimanapun juga, Yuan adalah sosok publik figur di dunia bisnis, pria itu selalu menjadi sorotan utama. Bagai bintang kejora yang bersinar di atas langit.
“Aku akan mengumumkan hubungan kita.” ucap Yuan yang sontak membuat Rose membelalakkan matanya.
“Yuan, kau— ”
“Aku juga akan melamarmu di hadapan semua orang.” katanya lagi.
“Yuan, itu, aku— ”
“Apa? Kau tidak suka? Rose, bukankah kita ini saling mencintai?” tanya Yuan.
“Iya, itu benar. Tapi— ”
“Tapi apa? Sudahlah, pokoknya kau harus datang. Jangan membuatku kecewa dengan terus bersembunyi dari publik.” kata Yuan.
Rose menutup matanya sekilas, lalu menghembuskan nafasnya berat.
Ia merasa semua itu terlalu menakutkan, bahkan dirinya merasa kalau ia baru saja diberitahu jika lusa adalah hari terakhir kehidupannya.
“Rose, tatap mata aku.” suruh Yuan.
Rose tidak mengindahkan perkataan pria itu, ia malah mengalihkan pandangannya, lebih memilih menatap keluar jendela mobil daripada menatap Yuan yang ada di sisi kanannya.
“Rose, dengarkan aku. Apa kau tahu kenapa aku begitu ambisius untuk mencapai posisiku sekarang ini? Itu semua karenamu. Karena aku ingin berada di puncak tertinggi rantai sosial agar aku bisa melindungimu.” ucap Yuan.
“Karena itu, bisakah kita lebih serius dengan hubungan ini? Lagipula, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Ingat bahwa aku pasti akan selalu ada di sisi mu. Menghalangi segala macam hal yang membuatmu sedih ataupun takut. Cukup percaya padaku, maka kau akan bahagia.”
“Rose, kau adalah satu-satunya wanita yang bukan hanya mampu mengusik hatiku, tapi juga otak dan jantungku. Setiap kali berada di dekatmu, jantungku seperti sedang berlari marathon, detakannya sangat cepat. Dan setiap kali aku jauh darimu, isi kepalaku ini hanya di penuhi olehmu. Lalu kemudian, hati ini akan sangat merindukanmu.”
“Hanya kau yang mampu membuat hampir seluruh orang tubuhku tidak berdaya.” kata Yuan.
“Jadi, bersediakah kau menjalani hubungan yang lebih serius denganku? Maukah kau— menikah denganku?” tanya Yuan.
__ADS_1
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍