
"Kau bisa kembali ke kampus." Ucap Nana, ia menoleh pada Kai yang masih setia menemaninya menunggu di bandara itu.
"Aku akan tetap disini sampai papa mu datang." Jawab Kai.
Nana menghela nafasnya, ia melirik jam tangannya, sudah satu jam lebih dirinya menunggu dibandara itu, tapi tidak ada pengumuman yang mengabarkan jika pesawat yang di tumpangi ayahnya telah sampai.
"Kai, kembalilah ke kampus, papa ku sepertinya masih lama datang. Absen mu bisa kosong nanti." Ujar Nana.
Kai menggelengkan kepalanya,
"Tidak masalah, satu kali tidak hadir, masih bisa ditoleransi bukan?"
"Yaaa, tapi jangan salahkan aku jika nilai mu bermasalah karena kau tidak hadir hari ini." Kata Nana.
"Tidak akan." Jawab Kai.
Setelah itu keduanya saling diam, Nana sibuk mengutak-atik ponselnya, ia mencoba menghubungi ayahnya, tapi ponsel Alex sedang mati, itu artinya Alex masih berada di dalam pesawat.
Terdengar helaan nafas dari diri Nana, membuat Kai menoleh padanya. Kai menatap gadis disampingnya itu lekat.
"Kau begitu menantikan kedatangan papa mu, kau pasti sangat menyayanginya kan?" Tanya Kai mencoba memecahkan keheningan.
Nana balik menoleh pada pria itu, ia menghembuskan nafas beratnya.
"Seperti yang kau tahu, kau mengenal keluargaku dan keluarga Yuan sejak kecil. Yah, aku sangat menantikan saat-saat seperti ini." Kata Nana dengan kepala tertunduk.
"Kalau tidak salah, terakhir kali kau bertemu dengannya saat dirimu berusia sepuluh tahun ya?"
Nana mengangguk,
"Ya, sebelas tahun yang lalu. Setelah itu, dia tidak pernah berniat untuk pulang kembali ke negara ini. Walaupun sering mengirimkan pesan, email, dan kadang video call juga. Tapi tetap saja, bertemu langsung dengannya adalah obat rindu yang terbaik." Ujar Nana.
Kai menatap sendu gadis yang telah ia sukai sejak lama itu. Tangannya secara naluriah bergerak mengusap lembut kepala Nana, mencoba menenangkan kegalauan hati gadis itu.
•••
Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya keluar melalui pintu pesawat. Sebuah rasa kebahagiaan dan juga kesedihan terasa meliputi hatinya.
Ia menghirup udara dalam-dalam, meluapkan rasa rindunya pada tanah kelahirannya.
Alex kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar bandara. Tangannya menarik sebuah koper bewarna hitam dengan ukuran sedang.
__ADS_1
Pria itu berjalan dengan santai, sampai akhirnya langkahnya terhenti saat merasakan getaran di saku celananya, ponselnya berdering.
Alex mengambil ponsel itu, tertulis nama putri tersayangnya sedang menghubungi nya, sontak Alex langsung mengangkat panggilan itu.
"Papa!" Suara Nana terdengar sangat nyata di telinga Alex, seolah anaknya itu ada di sekitarnya saat ini.
"Papa! Sebelah sini! Lihat arah jarum jam sembilan!" Ujar Nana dengan nada penuh antusiasnya.
Alex mengikuti arahan dari anaknya itu, ia menolehkan badannya ke arah jarum jam sembilan. Lalu, terlihat oleh kedua bola mata Alex, sosok yang sudah lama tidak ia jumpai, terakhir kali Alex bertemu dengannya, Nana masihlah seorang anak perempuan dengan badan kecilnya. Tapi sekarang, gadis kecil itu telah tumbuh dewasa, menjadi seorang gadis manis yang sangat mempesona.
"Papa!" Nana berlari dengan air mata haru yang mengalir di pipinya.
"Nana." Ucap Alex dengan suara paraunya.
Nana memeluk ayahnya yang masih tetap lebih tinggi darinya. Gadis itu menangis dalam dekapan hangat sang ayah.
"Aku rindu. Kenapa membuatku menunggu lama." Kata Nana diiringi isak tangisnya.
"Maaf, maafkan papa sayang." Ujar Alex, tangannya bergerak mengusap rambut putrinya itu, mencoba menenangkan luapan emosi keharuan.
"Walaupun aku sudah dewasa, tapi papa masih lebih tinggi dari aku ya, aku merasa tidak tumbuh sama sekali." Ucap Nana dengan candaannya.
Alex tertawa mendengarnya, ia mengacak-acak rambut anaknya itu gemas.
"Siapa dia? Apakah dia—" Alex menggantungkan perkataannya, ia mengira jika Kai adalah kekasih Nana.
"Dia teman baik Yuan dan teman Nana juga, dia satu fakultas dengan Nana. Namanya Kairi." Nana memperkenalkan Kai pada ayahnya.
"Perkenalkan, saya Kairi, panggil saja Kai. Senang bisa bertemu dengan paman Alex." Ujar Kairi memperkenalkan dirinya sendiri. Ia juga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ayah kandung Nana itu.
Alex tersenyum, menerima jabat tangan dari Kai dengan senyum hangatnya.
"Salam kenal, saya Alex, ayah kandungnya Nana. Eng, mungkin kau bingung kenapa Nana punya dua ayah, tapi saya harap karena hal tersebut, kau tidak menjauhi anak saya." Kata Alex.
"Ah, tentu saja tidak. Lagipula, saya sudah tahu semuanya sejak kecil." Jawab Kai.
"Kalian berteman sejak kecil?" Tanya Alex.
Nana dan juga Kai, mereka mengangguk bersama, menanggapi pertanyaan Alex.
"Dia anaknya bibi Jeni, papa tidak lupa kan dengan bibi Jeni?"
__ADS_1
Alex tampak terperanjat sesaat, kemudian tersenyum dengan semua kebetulan yang dirasakannya.
"Maksudnya Jeni anaknya kepala pelayan Yuki dulu? Wah, dia sudah menikah ya ternyata, dan memiliki anak yang tampan seperti mu, sungguh luar biasa." Kata Alex sembari menepuk bahu Kai.
"Papa terlalu memujinya, dia akan merasa canggung jika seperti itu." Ujar Nana.
"Ah iya iya, papa mengerti."
"Baiklah, ayo kita pulang." Ucap Nana.
Alex merasakan sesuatu yang aneh di dadanya ketika mendengar kata pulang keluar dari bibir anaknya itu.
Kata itu seakan-akan membuatnya berpikir jika mereka akan pulang di rumah yang sama.
"Pa, nanti malam aku akan menginap di rumah Yuan lagi. Jadi aku bisa mengobrol lebih lama dengan papa." Kata Nana.
Saat ini mereka sudah masuk kedalam mobil milik Kai. Mobil itu perlahan melaju keluar dari area bandara.
"Lagi? Kau sepertinya sering menginap dirumah keluarga papa." Ucap Alex.
Nana tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Mereka juga keluargaku pa. Nenek Calista, paman Ray dan juga Yuan, mereka kan keluarga kandungku." Ujar Nana.
Alex yang duduk disamping Nana, menatap anak perempuannya itu dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.
"Oh iya, papa dengar, kau sebentar lagi akan wisuda jurusan manajemen bisnis ya?" Tanya Alex mengalihkan suasana.
Nana mengangguk,
"Apa karena itu papa pulang ke negara ini?" Tanya Nana.
"Kau berharap begitu?" Tanya Alex balik.
"Iya." Jawab Nana dengan anggukannya.
"Kalau kau berharap begitu, maka papa akan berkata iya tentu saja." Ujar Alex yang membuat Nana tertawa mendengarnya.
Rasa senang menyelimuti hati kedua ayah dan anak kandung itu. Rindu yang terpendam selama belasan tahun, kini terurai dengan pertemuan yang membahagiakan.
Kai yang duduk menyetir di depan pun seakan merasa ikut bahagia melihat dua orang itu tampak bercanda dan tertawa walau hati mereka menangis haru.
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi ✍