
Dua orang yang sudah memasuki usia paruh baya itu sedang duduk di ruang keluarga rumah mereka.
Sang pria paruh baya tampak menampilkan wajah marah dan kesalnya. Sedangkan si wanita paruh baya itu terlihat menenangkan suaminya.
"Beraninya dia belum pulang ke rumah padahal sudah hampir tengah malam, apa anak itu berniat untuk pergi dari rumah?! Anak kurang ajar!" Ucap Ray, tampak guratan otot-otot lehernya mencuat, menandakan jika dirinya benar-benar diselimuti oleh amarah besar.
"Tenangkan dirimu suamiku. Mungkin dia sedang ada bimbingan dengan profesornya atau—"
"Jangan membelanya terus. Kau selalu saja memanjakannya, inilah akibatnya, dia menjadi anak yang memberontak kepada orangtuanya!" Ujar Ray tanpa sadar pun ia menyalurkan emosinya pada istrinya itu.
Ana hanya bisa menghela nafasnya, mencoba menerima semua luapan emosi Ray yang tersembur padanya.
"Aku pulang." Suara seorang pria terdengar dari arah pintu masuk rumah, itu adalah Yuan, seseorang yang sudah ditunggu-tunggu oleh Ray dan Ana.
Putranya itu tidak seperti biasanya, pulang hampir larut malam, Yuan tidak pernah melakukan ini sebelumnya, kecuali dirinya meminta ijin atau memberitahu orangtuanya terlebih dahulu.
Yuan berjalan masuk ke dalam rumahnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat sang ayah dan ibu sedang menatap dirinya dari ruang keluarga itu.
Yuan sudah menebak jika keduanya tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Sekalipun dia sengaja untuk pulang terlambat, tapi tetap tidak bisa lepas dari keduanya.
Orangtuanya itu masih setia menunggunya pulang untuk mendengarkan penjelasan dari masalah yang ia perbuat.
"Yuan." Panggil Ana dengan nada lembutnya.
Yuan menatap wajah ibunya yang masih terlihat segar dan cantik walaupun sudah memasuki usia empat puluh enam tahun.
Dengan langkah kaki beratnya, Yuan terpaksa berjalan menghampiri ibu dan ayahnya itu.
Ketika dirinya sampai dihadapan orangtuanya itu. Ayahnya tiba-tiba beranjak mendekati Yuan dan menampar keras wajah putranya itu.
Ana memekik melihat tindakan suaminya, ia memegang lengan Ray agar pria paruh baya itu tenang.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Ana yang tidak suka dengan tindakan suaminya.
"Aku sedang memberinya pelajaran! Dia harus di didik dengan tegas agar tahu bagaimana cara bersikap baik sebagai seorang anak!" Ujar Ray, pandangannya tak pernah lepas dari putranya itu.
"Tapi bukan seperti itu caranya! Kau tidak harus menggunakan kekerasan untuk mendidiknya!" Kata Ana yang masih membela putranya.
"Jika tidak seperti itu, dia akan menjadi pemberontak, membuat malu keluarga!" Ucap Ray.
"Maaf." Yuan bersuara dengan nada kecilnya. Kepalanya tertunduk.
"Dengar Yuan! Dad tidak butuh kata maafmu, dad hanya ingin kau fokus pada kuliah manajemen bisnismu, dan tinggalkan grup boyband mu itu! Dad tidak akan pernah setuju jika kau masuk ke dunia hiburan! Kau itu pewaris tunggal perusahaan TNP!" Ujar Ray, kali ini nada suaranya terdengar sedikit melunak.
Yuan diam, masih dengan kepala tertunduk.
"Yuan? Kau setuju kan dengan apa yang baru saja dad katakan?" Tanya Ray, membujuk putranya itu.
"Maaf." Ucap Yuan lagi, seakan hanya kata itu yang bisa ia ungkapkan.
"Angkat kepalamu! Dan tatap mata dad!" Kata Ray, tapi tidak mendapatkan respon dari Yuan, putranya itu masih tetap diam dan menunduk.
"Yuan." Panggil Ana lirih, menyuruh Yuan untuk menuruti ayahnya.
"Aku tidak bisa dad, aku tidak bisa meninggalkan semua impianku begitu saja! Aku sudah mengatakan semuanya di ruang kepala yayasan tadi siang kan? Aku tidak pernah mau menjadi pewaris perusahaan TNP." Kata Yuan, dengan sedikit rasa keberaniannya, ia mengangkat wajahnya, menatap ayahnya, tapi tidak pernah ingin menatap manik mata gelap itu.
"Apa katamu?! Kau itu anak satu-satunya kami! Jika kau tidak ingin menjadi pewaris perusahaan! Kau ingin perusahaan yang sudah kakek buyutmu bangun jatuh ke tangan orang lain?! Berpikirlah dewasa Yuan!" Ujar Ray, emosinya kembali meluap lagi.
"Dad dan mom bisa membuat anak lagi, bukankah itu mudah bagi kalian? Lagipula, kenapa kalian harus memiliki anak tunggal? Aku juga tidak ingin menjadi anak tunggal. Aku benci dengan diriku yang lahir dengan harapan kalian di bahuku. Itu beban bagiku!" Ucap Yuan menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Yuan— kau—bagaimana bisa kau berkata seperti itu?" Ana shock dengan apa yang anak laki-lakinya itu katakan, pancaran rasa sedih terlihat dari sorot mata wanita itu. Bahkan kakinya terasa seperti jelly, ia merasa lemas mendengarnya. Ana jatuh terduduk di sofa.
"Keterlaluan." Ucap Ray yang berada di depan Yuan. Suami Ana itu kemudian bergegas menghampiri istrinya, mengelus punggung Ana, memberikan ketenangan pada jiwa sang istri yang sedang terguncang.
__ADS_1
"Lihat apa yang sudah kau perbuat pada mommy mu! Kau sangat keterlaluan Yuan!" Ucap Ray lagi.
Yuan hanya bisa diam, ia sendiri tidak mengerti dengan ibunya yang tiba-tiba terlihat shock seperti itu.
"Puas kau sekarang?!" Ray menatap penuh amarah pada putranya.
"Apa salahnya?! Aku hanya tidak ingin menjadi anak tunggal! Aku benci itu! Kenapa kalian hanya berpikir untuk memiliki satu anak kandung?! Jika aku punya saudara, pasti hidupku bisa seperti Kin yang tidak perlu peduli dengan perusahaan keluarga!" Jawab Yuan tak kalah kesal dan emosi.
"Kau benar-benar—" Ray ingin beranjak dari sisi Ana untuk menghampiri Yuan dan memberi anak itu pelajaran, tapi tangan Ana menahan tangan besar suaminya itu. Ana menggelengkan kepalanya pada Ray.
Wanita paruh baya itu kemudian menatap kecewa anaknya, air mata tampak mengalir di pipinya, membuat hati Yuan merasa bersalah.
"Yuan, bukan keinginan kami untuk memiliki satu anak. Maafkan mom, mom tidak bisa memberikan dad mu anak lagi, dan juga tidak bisa memberimu saudara. Maaf, ini semua salah mom." Lirih Ana di sela isak tangisnya
"Ssst..sudah, jangan menangis, ini bukan salahmu, tenanglah." Bisik Ray sembari memeluk istrinya itu. Lalu, tatapannya beralih pada Yuan yang masih diam di tempatnya.
"Kau tahu Yuan? Bagaimana perjuangan mommy mu saat kau akan lahir? Dia mempertaruhkan kehidupannya untuk kelahiranmu. Apa kau tahu berapa banyak darah dan keringat yang sudah dia keluarkan agar kau bisa lahir dan melihat dunia ini?! Apa kau mengerti tentang semua perjuangannya itu? Karena melahirkan dirimu, dia harus kehilangan rahimnya! Tapi sekarang, dengan mudahnya kau mengatakan semua perkataan itu, kau sudah menyakiti hati seorang ibu, Yuan! Semua perkataanmu tadi seakan-akan perjuangannya waktu itu sia-sia. Kau sangat keterlaluan sebagai seorang anak yang sangat disayang dan dimanja!" Kata Ray.
Tangan Yuan terlihat gemetar mendengar apa yang ayahnya katakan, rasa bersalah yang besar telah melucuti amarah dan kekesalannya. Ia sangat menyesal sampai tidak dapat berkata-kata.
Cukup lama diam dengan posisi itu, Yuan berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Yuan! Kau ingin pergi kemana?!" Teriak Ray yang baru sadar jika anaknya itu keluar dari rumah dan mulai menghidupkan mobilnya.
"Biarkan, dia butuh waktu untuk sendiri." Ucap Ana menahan tangan suaminya.
"Tapi ini sudah larut malam, dia bisa merenungkan kesalahannya di dalam kamar saja." Kata Ray.
"Dia sudah dewasa, anak itu punya caranya sendiri untuk menenangkan dirinya. Percaya saja padanya." Ujar Ana masih mencoba meyakinkan suaminya itu.
Kemudian terdengar hembusan nafas berat dari Ray, ia akhirnya mengalah dan mengurungkan niatnya untuk mengejar Yuan.
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍