The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tinggal Bersama


__ADS_3

Rose membuka pintu apartemennya, ia baru saja kembali dari toko baju terdekat, dirinya itu membeli beberapa potong pakaian yang bisa di pakai oleh Yuan.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam, meletakkan papper bag polos berisi beberapa pakaian.


Rose menatap paper bag itu lama, dalam hatinya ia ragu untuk memberikannya pada Yuan. Masalahnya, semua pakaian yang dibelinya adalah barang diskon dan murah, bukan barang limited edition yang biasa Yuan kenakan.


Helaan nafas terdengar dari diri gadis itu, hatinya hanya bisa berharap, semoga saja Yuan mau memakainya dan tidak melontarkan protes.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka perlahan, membuat Rose menoleh ke arah sana. Terlihat kepala Yuan muncul dari balik pintu kamar mandi yang sedikit dibuka.


"Heh bodoh!" Panggil Yuan sembari menatap ke arah Rose.


Rose membalas tatapan itu, ia diam menunggu perkataan Yuan selanjutnya.


"Handuk." Ucap Yuan.


"Handuk?" Rose mengulang perkataan Yuan, gadis itu sedang tidak fokus pada dirinya, ia tidak mengerti dengan kata sederhana yang Yuan ucapkan padanya.


"Kau tuli ya? Aku butuh handuk dan pakaianku! Cepat berikan padaku!" Ujar Yuan, salah satu tangannya ia ulurkan ke arah Rose, meminta agar gadis itu segera mengambilkan apa yang dimintanya.


"Ah iya iya, tunggu sebentar." Jawab Rose, ia kemudian bergegas mengambil handuk yang ada di dalam lemari, lalu kembali ke arah Yuan, menyerahkan handuk itu padanya.


"Pakaianku mana?" Tanya Yuan yang masih mengulurkan salah satu tangannya.


"Oh iya." Gumam Rose, gadis itu mengambil paper bag yang ia letakkan di atas meja tadi. Rose membuka paper bag itu, mengambil satu set baju dan celana.


"Ini." Kata Rose saat dirinya sudah kembali kehadapan Yuan lagi, menyerahkan apa yang Yuan minta.


Tanpa menjawab ataupun mengatakan hal lain, Yuan langsung meraih satu set pakaian itu, dan kemudian menutup pintu kamar mandi itu kembali.


Ini tidak baik untuk jantungku. — Batin Rose.


Tak perlu waktu lama, pintu kamar mandi itu terbuka lagi, namun kali ini terbuka dengan lebar. Yuan keluar dari dalam kamar mandi itu dengan pakaian lengkap yang sudah melekat sempurna di tubuhnya, ia berjalan melewati Rose yang masih terdiam di tempatnya sejak tadi.


"Tutup mulutmu itu, aku bisa melihat air liurmu menetes." Bisik Yuan saat ia berjalan melewati Rose.

__ADS_1


Mendengarnya membuat bibir Rose dengan gerakan spontan langsung tertutup rapat. Dalam hatinya, merutuki sikapnya yang tampak bodoh di hadapan Yuan.


"Aku lapar." Ucap Yuan, kaki pria itu berhenti di dapur apartemen kecil itu.


Rose datang menghampiri Yuan yang sudah duduk di kursi makan. Pria itu terlihat masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Akan aku siapkan." Kata Rose, gadis itu mulai menyiapkan makan malam yang sudah ia buat beberapa jam yang lalu.


"Kenapa banyak sekali? Kita hanya berdua saja. Apa kau berniat membuatku gemuk dan berlemak?!" Tanya Yuan.


Rose menatap Yuan dengan wajah anehnya.


Biasanya wanita yang akan mengatakan hal-hal seperti itu. Astaga, jika di lihat baik-baik, ternyata Yuan itu orang yang sangat merepotkan ya. Sifat manjanya itu—hah, tapi aku sama sekali tidak merasa kesal. Aku senang dia ada di sisiku dan membutuhkan bantuanku. — Batin Rose.


"Kenapa menampilkan wajah bodoh seperti itu? Kau membuat nafsu makanku menurun." Ujar Yuan, ia mengatakan itu tapi tangannya masih sibuk bergerak memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Rose tersenyum senang melihat Yuan yang memakan masakannya dengan sangat lahap.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Rose.


"Yuan..." Panggil Rose, ia masih menunggu jawaban dari Yuan.


"Biasa saja." Jawab Yuan singkat.


Rose terlihat menekuk wajahnya, ia tampak tidak puas dengan jawaban yang Yuan berikan. Gadis itu kemudian duduk berhadapan dengan Yuan dan ikut menyantap makan malam itu.


Ini sangat enak. Hampir sama dengan masakan mom. — Batin Yuan.


•••


Seorang wanita paruh baya tampak berdiri merenung, pandangannya terarah pada rembulan yang bersinar terang. Bulan dengan bentuk sabit itu seakan mempunyai daya tarik tersendiri bagi Ana. Ia terus menatapnya tanpa ada rasa bosan sedikitpun.


Helaan nafas berat, kadangkala juga terdengar dari dirinya. Wajahnya mungkin terlihat tenang, tapi pikirannya sedang rumit seperti benang kusut.


"Sayang.." Ray berjalan mendekati istrinya itu, ia membalut tubuh Ana dengan kain tebal dan hangat.

__ADS_1


"Ayo istirahat dan tutup jendelanya, ini sudah malam, anginnya juga terasa dingin, kau bisa sakit jika terus-terusan berdiri di sini." Ucap Ray mencoba membujuk istrinya.


Ana masih diam tak bergerak sedikitpun, manik matanya masih menampilkan pantulan bulan.


Yuan, kau ada dimana nak? Mom khawatir padamu. — Batin Ana.


"Ana, sayang...ayo masuk ke dalam." Bujuk Ray lagi.


"Sayang." Panggil Ana, ia membalikkan badannya, menatap mata suaminya itu.


"Ya?" Tanya Ray.


"Bisakah kau batalkan pemblokiran kartu kredit dan debit Yuan? Aku takut—"


"Ssttt.. jangan dipikirkan lagi. Itu satu-satunya cara agar dia kembali kerumah. Anak manja sepertinya tidak mungkin bisa bertahan lama tanpa uang dan fasilitas di luar sana."


Ana menundukkan kepalanya,


"Aku harap begitu, tapi kita tidak pernah tahu dengan apa yang akan terjadi. Bagaimana jika Yuan bisa mandiri dan mengatasinya? Apa dia benar-benar akan kembali ke rumah?" Tanya Ana yang diselimuti pikiran negatifnya.


Ray menghela nafasnya sesaat, ia merengkuh lembut tubuh istrinya itu kedalam pelukan hangatnya.


"Tenang saja, dia pasti akan kembali. Yuan itu anak kita, percaya saja padanya. Bukankah kau yang menyuruhku untuk percaya padanya? Tapi kenapa sekarang kau tampak tak percaya padanya seperti ini?"


Ana mendongakkan kepalanya, menatap teduh manik mata suaminya itu.


"Maaf, aku hanya terlalu khawatir padanya. Bahkan ia sampai tidak datang ke universitas. Teman-temannya juga tidak ada yang tahu keberadaannya. Tadi siang kita mendapat telepon jika mobil yang dipakainya ditinggal begitu saja dipinggir jalan, saat kita periksa ternyata karena kehabisan bahan bakar. Jika bahan bakar mobil saja dia tidak mampu membelinya, bagaimana dengan makanan? Minuman dan tempat tinggal? Aku tidak bisa tenang Ray. Bagaimana bisa seorang ibu akan tidur nyenyak saat anaknya tiba-tiba pergi tanpa kabar." Ujar Ana, mengutarakan semua isi hatinya yang terpendam selama hampir dua malam ini.


Ray tidak bisa berkata-kata lagi, ia paham betul atas apa yang Ana rasakan, karena dirinya pun juga merasakan perasaan seperti itu.


Ray hanya bisa membelai lembut puncak kepala Ana, memberikan ketenangan untuk wanita itu.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2