The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Sebuah Kabar Tanpa Undangan


__ADS_3

Good Morning~


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Satu bulan berlalu.


Rose duduk termenung di halaman mansion milik Sean. Gadis itu baru saja selesai berkebun untuk menghilangkan kebosanannya.


Dari sudut timur mansion, seorang pria dengan pakaian siap kerja tampak memandangi dirinya dengan senyum rupawan.


Ia ingin mendekati perempuan itu, namun tertahan oleh sebuah tangan yang menariknya cepat.


“Jangan ganggu dia,” ujar Sarah, sang adik kembar. “Kau suka sekali mengusiknya, jangan bilang kau suka padanya?” terka Sarah.


Sean tersenyum samar, “Suka? Aku tidak pantas menyukainya. Kau tahu itu,” jawab Sean.


“Aku hanya tertarik padanya. Dari awal pertemuan kami, aku sudah tertarik dengannya,” ungkapnya.


“Tetap saja, kau tidak boleh suka padanya. Orang sepertimu hanya akan membuatnya mengalami luka yang sama,” kata Sarah.


Sean manggut-manggut, ia tahu itu. Dirinya ini bukan pria baik, keinginannya untuk menjelajahi wanita bahkan masih meresapi relung jiwa flamboyannya.


“Ya, mungkin untuk saat ini, aku akan menganggapnya sebagai teman dari adik kembarku,” jujur Sean.


Sarah tersenyum, “Bagus,” pujinya.


“Tapi aku tidak janji untuk waktu yang akan datang,” timpal Sean.


“Maksudmu apa?” tanya Sarah, tak paham.


“Kau tahu, Sarah? Cinta bisa datang karena terbiasa. Bagaimana kalau aku terbiasa melihatnya setiap hari seperti itu, lalu aku jatuh hati padanya? Siapa yang akan kau salahkan?” papar Sean.


Sarah mendesah pelan. Saudara kembarnya itu tidak salah. Kalau sampai itu terjadi, justru dirinya lah yang bersalah, karena ia yang membawa Rose kemari sehingga Sean harus melihatnya setiap hari.


“Satu hal yang tidak aku anjurkan padamu. Jangan lukai dia sedikitpun atau dari segi apapun, baik secara fisik ataupun mental, jangan membuatnya terluka,” ujar Sarah.


“Aku akan mengingatnya,” ucap Sean.


•••


Langkah kaki tegap itu berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang telah lama ia tinggalkan.


Helaan napas pelan mengiringi langkah kakinya yang kembali bergerak.


Ia membuka pintu ruangan itu, kemudian masuk ke dalamnya dengan rasa sendu yang menjalar ke dalam lubuk hatinya, Yuan menghirup udara sekitarnya perlahan.


“Sudah lama sekali rasanya,” ucapnya.


“Presdir Yuan. Saya sudah persiapkan tempat untuk interview sekertaris baru anda,” tutur seorang pria paruh baya yang merupakan sekertaris kepercayaan ayahnya, Chenli.


“Apa Sekertaris Sarah sungguh mengundurkan dirinya?” tanya Yuan, masih meyakinkan dirinya kalau semua ini hanya ilusi belaka. Ia berharap Sarah kembali padanya, perempuan itu sangat cakap dalam hal menjadi tangan kanannya.


“Dia bahkan sudah mengambil barang-barangnya,” ungkap Sekertaris Chenli.


Yuan menghela napasnya, kenyataannya ia sudah seharusnya menerima semua hal buruk ini. Ditinggalkan oleh orang-orang yang dibutuhkannya.


Tidak, sebenarnya bukan mereka yang berniat meninggalkan. Tapi ia sendiri lah yang membuat mereka meninggalkannya.


Semua ini karena keputusannya, pilihannya sendiri. Ia harus menanggung semuanya.


Tahan sebentar saja, Yuan, — bisiknya pada sang hati kecil, mencoba bertahan dalam kegundahan yang mengusik dirinya.


“Masalah sekertaris baruku, aku serahkan padamu. Kau, tolong pilihkan yang terbaik untukku,” kata Yuan.


Sekertaris Chenli mengangguk paham. Setelah itu, ia pamit undur diri.


Yuan menghembuskan napasnya berat, menatap pintu yang telah di tutup oleh sekertaris Chenli itu dengan hampa.


Ia memang berada di tempat yang sama, tapi suasananya berbeda dari beberapa bulan yang telah berlalu.


Dulu, Yuan akan selalu tersenyum ketika pagi menyapanya. Ia akan bergegas bangun, lalu bersiap berangkat bekerja. Di persimpangan empat pada traffic jalan dekat kantornya, ia akan membelokkan mobilnya ke arah kiri untuk menjemput seseorang. Ya, itu Rose.


Senyum cerah dari Rose seperti sarapan pagi bagi Yuan. Ia akan sangat senang dan mood nya pun akan meningkat.


Semua itu sangat sempurna untuk di jadikan kenangan manis yang menyedihkan.

__ADS_1


Hati Yuan mengumpati dirinya sendiri tiada henti. Ia semakin cemas ketika mendapatkan kabar kalau Rose sudah tak ada lagi di pulau pribadi itu.


Dia ada dimana? — pertanyaan itu lah yang mengganggunya selama hampir satu bulan ini.


•••


“Nona Rose, anda seharusnya tidak perlu ikut membantu, anda cukup duduk dan menunggu kami mempersiapkan makan malam,” ujar pelayan bagian dapur itu.


Rose tersenyum tipis. Semenjak masuk ke dalam mansion itu, ia tidak pernah membiarkan dirinya untuk tinggal secara gratis. Setiap hari, dengan sukarela dan inisiatifnya sendiri. Rose berjalan kesana-kemari untuk menawarkan bantuannya. Namun, cukup banyak yang menolak bantuannya karena takut mendapat amarah dari sang tuan rumah.


“Aku tidak bisa jika harus diam saja. Bukankah lebih baik untukku membantu kalian menyiapkan makan malam?” tutur Rose.


Pelayan yang di ajaknya bicara itu menghela napasnya berat. Sudah seringkali ia mendapat teguran dari tuan besarnya agar tidak membiarkan Rose menyentuh pekerjaan apapun. Tapi sekeras-kerasnya ia melarang, perempuan itu selalu saja kekeh untuk membantu. Dirinya yang hanya seorang pelayan bisa apa? Selain menuruti yang satu dan yang satunya juga.


“Nona Rose, kalau sampai Tuan besar Sean dan Nona besar Sarah tahu, saya dan yang lainnya bisa mendapatkan peringatan tegas dari mereka. Dan yang paling buruknya, saya bisa di pecat,” ungkapnya.


Rose mengehela napas pelan, “Baiklah, aku mengerti, maaf sudah membuat kalian susah karena ku,” sesalnya.


“Maafkan kami, Nona Rose,” lirih mereka, sebenarnya tidak enak hati.


Rose tersenyum tipis, “Tidak masalah, aku yang seharusnya minta maaf pada kalian. Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku,” pamit Rose.


Beberapa pelayan yang berada di hadapannya pun mengangguk, lalu membungkuk hormat padanya.


Namun, ada kata tapi pada awal langkah kaki yang akan berpijak pada anak tangga itu.


Tapi, tiba-tiba Rose menghentikan langkahnya, ia terdiam, lalu memegang perutnya dengan cepat.


Para pelayan yang masih memperhatikannya pun mengernyit heran, rasa khawatir menyelimuti hati mereka.


“Nona Rose?” beo salah satu pelayan padanya.


Rose tidak menanggapi, gadis itu malah terdengar mengerang kesakitan.


“Astaga, Nona Rose. Apa anda baik-baik saja?” seru salah satu dari beberapa pelayan itu. Ia langsung mendekati Rose yang masih mengerang sembari memegangi perutnya.


“Nona Rose?!”


“Perutku, perutku kram sekali,” ujar Rose.


“Indi, kau hubungi Tuan besar atau Nona besar, beritahu kondisi Nona Rose. Lalu yang lain, bantu aku bawa Nona Rose ke kamarnya,” titah pelayan paruh baya itu.


•••


Saat ini, kedua kakak beradik kembar itu sedang dalam perjalanan untuk pulang ke mansion mereka.


Namun, siapa yang menyangka kalau Sarah akan mendapatkan kabar buruk seperti saat ini.


“Sarah?” cicit Sean, menoleh sekilas pada kembarannya itu.


“Bisa kau kemudikan mobilnya lebih cepat lagi? Rose, dia sakit,” ungkap Sarah.


“Apa?! Bagiamana bisa. Cepat kau hubungi dokter keluarga,” tutur Sean.


“Aku memang akan menghubunginya,” tukas Sarah yang tampak sibuk mencari kontak nomor dokter keluarga mereka.


•••


“Nona Rose, bertahanlah sebentar lagi. Kami sudah memberitahu Nona Sarah tentang kondisi anda, pasti tidak lama lagi dokter keluarga akan datang kemari,” ujar pelayan itu.


Rose tidak peduli dengan apa yang di ucapkan si pelayan. Rasa kram yang melilit kuat perutnya sungguh membuat fokusnya tidak bisa teralihkan kemampuan.


Tidak lama setelah pelayan itu berbicara, seseorang membuka pintu kamar itu dengan gusar. Dia sarah, perempuan itu masuk membawa serta Sean dan satu orang wanita paruh baya dengan perlengkapan medisnya.


“Dokter Elina, bisa kau periksa dia?” pinta Sarah dengan raut wajah khawatirnya.


“Saya akan memeriksanya, tapi bisakah yang lainnya keluar? Termasuk laki-laki. Karena kemungkinan saya akan sedikit menyingkap bajunya,” kata Dokter Elina.


Mendengar itu, Sarah langsung menoleh pada Sean, menyuruh pria itu agar lekas keluar dari kamar Rose.


“Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Aku akan pergi dari sini,” tukas Sean, ia pun kemudian pergi setelah beberapa pelayan lainnya keluar dari kamar tersebut.


“Nona Rose, ijinkan saya untuk memeriksa anda,” ucap Elin, tanpa menunggu lama lagi, ia segera memeriksa gadis itu.


“Bagaimana? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Apa ada yang serius?” tanya Sarah tanpa jeda.


Sesaat, Dokter Elina diam, ia belum menjawab deretan pertanyaan dari Sarah karena masih sibuk memeriksa Rose. Lalu kemudian, semburat senyum tampil di wajahnya.


“Anda tenang saja, Nona Sarah. Ini bukan hal yang serius. Apa yang dialami Nona Rose adalah hal wajar di usia kehamilan mudanya,” terangnya sembari tersenyum hangat.


“Apa kau bilang? Hamil?!” tanya Sarah

__ADS_1


“Apa aku hamil?!” Rose pun ikut melontarkan pertanyaan yang sama, ia juga sama terkejutnya dengan Sarah.


“Iya, benar. Untuk diagnosis sementaranya, usia kandungan Nona Rose sekitar tujuh minggu. Saya pikir, semua sudah tahu tentang kehamilan Nona Rose. Tapi bagaimanapun juga, saya ucapkan selamat ya, Nona Rose. Bukankah ini anak Tuan Sean? Beliau pasti akan sangat senang mendengar kabar ini,” tutur Dokter Elina yang tidak mengerti apa-apa. Ia pikir, Rose adalah istri Sean.


Jika usia kandungannya adalah tujuh minggu, maka itu adalah anak Yuan. Tujuh minggu yang lalu sama dengan satu bulan tiga minggu, itu adalah waktu dimana Rose masih bersama Yuan.


“Saya sarankan Nona Rose untuk pergi ke dokter kandungan, memeriksa usia pasti dari janinnya. Untuk sementara ini, saya akan tuliskan resep vitamin, suplemen dan pereda nyeri khusus untuk ibu hamil. Kalau begitu, saya pamit undur diri,” kata Dokter Elina lagi.


Setelah mengatakan fakta mengejutkan itu, Dokter Elina pun keluar dari dalam kamar tersebut. Menyisakan Sarah dan Rose yang saling menatap satu sama lain.


“Apa yang terjadi?” tanya Sean, pria itu masuk setelah melihat Dokter Elina keluar tanpa berkata apapun padanya. Dokter paruh baya itu hanya melemparkan senyuman padanya.


Sarah menghela napasnya. Sedangkan Rose, dia mengalihkan pandangannya, mengigit jari-jari tangannya sembari meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian hanya diam saja? Aku juga khawatir di sini,” kesal Sean karena di abaikan oleh kedua perempuan itu.


“Rose hamil,” cicit Sarah dengan nada lesunya.


“Ha— apa?! Tidak mungkin. Aku bahkan tidak menyentuhnya,” jujur Sean.


Sarah mendesah kesal, ia gemas dengan saudara kembarnya yang tiba-tiba menjadi bodoh itu.


“Kau itu memang siapanya?! Suaminya?! Bukan. Tentu saja kau tidak menyentuhnya dan tidak boleh menyentuhnya,” tukas Sarah.


Setelah itu, Sarah kembali menatap Rose yang tampak terpukul berat dengan kenyataan ini.


“Apa yang akan kau lakukan, Rose?” tanya Sarah, kali ini dirinya pun tidak bisa memberikan pendapatnya. Sekarang, semua tergantung pada keputusan apa yang akan Rose pilih.


“Apa kau akan mengugurkannya? Atau— kau akan menemuinya dan memberitahunya?” Sarah kembali bertanya.


Rose semakin gusar mendapatkan pertanyaan itu. Apa yang harus ia lakukan, dirinya pun tidak tahu.


Sesuatu telah hidup dan bersemayam di dalam perutnya. Ada rasa haru dan juga sedih.


Rose tidak mungkin tega membunuh janin yang tidak berdosa itu. Tapi, apakah ia akan memberitahu Yuan?


“Rose?” lirih Sarah.


“Aku tidak akan menggugurkannya,” tegas Rose.


“Maksudmu— kau akan menemui ayahnya dan memberitahunya tentang kehamilanmu? Dengar Rose, itu tidak akan berhasil. Bagaimana kalau dia hanya akan semakin membuat hatimu terluka?” ujar Sarah.


“Karena itu aku tidak akan menemuinya apalagi memberitahunya. Aku akan membesarkan anak ini seorang diri. Apa salahnya menjadi ibu tunggal?” tekad Rose.


Sean terdiam, ia terenyuh dengan perkataan wanita itu. Walaupun dirinya tidak tahu pasti bagaimana gadis lugu seperti Rose bisa hamil di luar nikah. Tapi Sean tetap yakin, semua ini bukan atas keinginan Rose. Di mata Sean, perempuan itu masihlah seorang domba putih yang polos.


“Kalau begitu, kami akan membantumu membesarkannya,” tutur Sean.


“Apa kau yakin? Sungguh tidak masalah dia tinggal disini lebih lama lagi?” tanya Sarah, ia tampak senang dengan keputusan saudara kembarnya itu.


“Walaupun baru satu bulan dia tinggal di sini. Tapi bukankah kita bertiga sudah seperti keluarga?” ungkap Sean.


Sarah tersenyum, begitupun dengan Rose yang tampak terharu dengan semua ini. Dirinya sungguh beruntung.


“Kau tenang saja, Rose. Kelak, jika anakmu sudah besar dan butuh seorang ayah agar statusnya jelas. Aku bisa menempati posisi itu sebagai seorang ayah untuk anakmu,” usul Sean diiringi senyum lebarnya.


“Sean, jangan bercanda,” celoteh Sarah dengan gemasnya.


Lalu kemudian, mereka saling tertawa.


•••


Yuan berdiri di depan pintu masuk salah satu divisi perusahaannya. Divisi Hukum.


Helaan napas kembali terdengar darinya. Kemudian ia berbalik membelakangi pintu itu.


Semenjak ia kembali ke perusahaan, Yuan sering kali datang kesana. Tapi ia tidak pernah berniat untuk masuk ke dalamnya.


Yuan hanya akan berdiri di sana sembari menghela napasnya beberapa kali. Lalu setelah itu, ia akan berbalik dan pergi seperti saat ini.


“Presdir Yuan, satu jam lagi anda harus mendatangi salah satu lembaga masyarakat untuk memberikan sambutan dan pidato,” kata seorang pria, dia sekertaris baru Yuan.


“Berapa lama lagi?” tanya Yuan. Sebenarnya itu pernyataan dari alam bawah sadarnya.


“Ya?” tanya sekertaris barunya itu, tidak mengerti.


Kemudian, Yuan tersadar, ia menatap sekertarisnya itu sekilas, lalu berkata, “Tidak, lupakan saja. Aku akan menemui Ketua Ray dulu,” ucapnya.


“Baik,” sahut sekertarisnya, kemudian membungkuk hormat pada bosnya itu.


Berapa lama lagi aku harus menahan kerinduan ini? — batin Yuan.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2