
"Rose." Panggil Feng.
Rose yang baru saja keluar dari kelas mata kuliah pertamanya pun menoleh, ia tersenyum ramah pada pria yang ia anggap sebagai temannya itu.
"Kau ada kelas pagi juga?" Tanya Rose.
Feng menjawabnya dengan anggukan.
"Oh iya, kau punya berapa kelas mata kuliah lagi?"
"Dua, tapi sepertinya kelas terakhir dosennya tidak hadir." Jawab Rose.
"Benarkah? Kalau begitu kebetulan sekali, aku juga masih punya satu mata kuliah lagi, setelah itu tidak ada." Kata Feng.
"Oh." Jawab Rose yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Eng— itu, bagaimana kalau setelah selesai kelas mata kuliah terakhir, kita pergi cari tempat untuk makan siang bersama?" Tanya Feng.
"Makan siang bersama ya? Itu— aku tidak yakin bisa ikut bersamamu atau tidak." Ucap Rose.
Mendengar jawaban Rose, Feng merasa miris, tapi bagaimanapun juga, ia tidak boleh menyerah dengan mudah. Sekalipun tidak ada dirinya di hati Rose.
Selama Feng mau berusaha pasti suatu saat nanti akan ada celah baginya untuk masuk ke dalam hati Rose.
"Ah begitu ya, tapi waktu itu kau bilang lain kali akan makan bersama." Ujar Feng.
"Benarkah? Apa aku pernah berkata seperti itu? Eng, kalau begitu, begini saja, kita makan bersama, tapi di kantin kampus saja, aku juga akan mengajak Yana, bagaimana?" Kata Rose, memberikan pendapatnya.
Sebenarnya, Rose bisa saja menerima tawaran dari Feng, ia juga punya banyak waktu luang setelah kelas mata kuliah terakhirnya. Hanya saja, mengingat wajah Yuan yang marah kalau melihatnya bersama pria lain, lebih baik bagi Rose untuk menolak ajakan Feng.
"Tidak masalah, asal ada kau." Ucap Feng, ia tersenyum, senyum yang menutupi rasa kekecewaannya.
Rose membalas senyuman dari Feng dengan tulus, sebuah senyuman yang biasa Rose berikan pada teman-teman sejawatnya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, ada janji temu dengan dosen. Sampai jumpa nanti siang di kantin kampus." Ujar Feng, ia berbalik tapi kemudian menoleh ke arah Rose lagi, tersenyum kikuk padanya, membuat Rose juga merasakan kecanggungan yang sama.
"Aku pergi dulu." Ucap Feng, mengulangi kembali perkataannya.
"Iya." Jawab Rose seadanya.
"Sampai jumpa di kantin kampus, aku menunggumu, kau jangan sampai lupa ya, aku tidak akan pergi sampai kau datang." Kata Feng setelah itu benar-benar berbalik dan melangkah meninggalkan Rose yang menatapnya heran.
"Dia itu, kenapa terlihat salah tingkah?" Gumam Rose.
•••
"Yuan Mauli Gavin, apa yang sedang membuatmu senang? Kenapa tersenyum-senyum sendiri disaat saya sedang menjelaskan materi?" Kata seorang profesor yang tengah menjelaskan materinya.
"Yuan, Yuan, pssstt.." Panggil seorang teman satu angkatan Yuan yang saat itu duduk di sampingnya.
"Apa?!" Tanya Yuan kesal, ia menatap temannya itu dengan tatapan malas.
"Lihat kedepan, kau itu sedang di tegur oleh profesor Erick." Kata temannya.
"Eh? Profesor Erick? Salah apa aku?" Gumam Yuan sembari mengalihkan perhatiannya ke arah depan, disana tampak profesor Erick menatapnya tajam.
Yuan membalas tatapan itu dengan senyum canggungnya.
Di universitas ini, memang tidak ada yang berani menyinggung ataupun menegur Yuan, sekalipun pria itu telah berbuat salah dan menyusahkan mereka.
Namun, diantara para dosen dan mahasiswa yang tidak berani melakukan hal tersebut pada Yuan. Masih ada beberapa dosen yang berani menegur Yuan ataupun menghukum Yuan kalau pria itu berbuat salah.
Biasanya mereka itu adalah orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan ataupun hubungan dekat dengan keluarga Gavin. Contohnya Rachel, yang notabenenya adalah bibi Yuan sendiri. Selain Rachel, ada dua dosen lainnya, yaitu profesor Jim yang merupakan ketua prodi fakultasnya, lalu satunya lagi adalah profesor Erick yang merupakan dosen pengajar salah satu mata kuliah semester tujuh.
Alasan kedua profesor senior itu tidak sungkan untuk menegur Yuan, karena mereka dulunya adalah dua dosen yang menjadi dosen pembimbing Ana saat wanita paruh baya itu masih kuliah dulu.
Kedua pria yang hampir melewati usia paruh baya itu adalah orang-orang yang sangat Ana hormati.
Jadi, bagaimana mungkin Yuan akan bersikap sembarang pada mereka, sedangkan ibunya sendiri sangat menghormati keduanya.
"Yuan, apa kau sedang mencoba mengabaikan materi yang sedang aku sampaikan?" Tanya profesor Erick.
"Itu, maaf, aku, eh maksudnya saya, saya tidak mengabaikan materi yang anda sampaikan profesor." Jawab Yuan.
"Oh, benarkah? Kalau begitu coba kau jelaskan perbedaan resiko antara pasar uang dan pasar modal." Kata profesor Erick.
"Hanya itu?" Ujar Yuan.
"Hanya itu katamu?! Kalau memang mudah bagimu, coba kau jelaskan secara singkat tapi mudah dipahami oleh teman-temanmu yang lainnya."
Yuan menghela nafasnya sejenak, kemudian mulai menjawab pertanyaan dari profesor itu dengan mudah.
"Risiko yang bisa ditimbulkan dari pasar uang adalah fluktuasi nilai surat berharga yang bisa mengakibatkan gagal bayar, inflasi, capital loss, hingga perubahan nilai mata uang. Sementara risiko pada pasar modal, yang biasanya sering terjadi itu adalah harga saham yang bisa anjlok sewaktu-waktu. Turunnya harga saham biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kinerja perusahaan pemilik saham, likuiditas, kondisi ekonomi dan politik negara, hingga sentimen pribadi dari para investor." Ujar Yuan.
__ADS_1
Profesor Erick tampak menatapnya dalam diam, entah apa yang sedang pria tua itu pikirkan, tapi Yuan sangat puas dengan dirinya sendiri, karena bisa menjawab pertanyaan yang baginya sangat mudah.
"Kalau begitu produk atau instrumen apa saja yang di perdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang?" Tanya profesor Erick, ia sepertinya masih belum menyerah untuk mengetes kemampuan Yuan.
"Pertanyaan ini bahkan lebih mudah dari sebelumnya. Semua mahasiswa semester tujuh pasti sudah tahu kalau pasar uang memperdagangkan sertifikat bank tertentu dengan jangka waktu pendek, surat berharga pasar uang, sertifikat deposito, banker’s acceptance, dan ada juga commercial paper, Interbank call money, dan promissory notes yang sering diperdagangkan dalam pasar uang." Jawab Yuan.
"Itu saja? Lalu, bagaimana dengan pasar modal? Kau belum menjelaskannya." Kata profesor Erick.
Dia ini benar-benar sedang mengujiku ya? Merepotkan. — Batin Yuan.
"Produk pasar modal atau instrumen pasar modal adalah semua surat berharga atau efek yang terdiri dari saham, obligasi dan derivatif. Derivatif itu sendiri merupakan surat berharga turunan seperti option, warrant, dan right. Ah iya ada satu lagi dalam pasar modal, yaitu reksa dana yang memiliki resiko minim, cocok untuk para investor pemula." Kata Yuan dengan senyum puas yang terukir samar diwajahnya.
"Ya, lumayan." Ucap profesor Erick.
"Lu—apa lumayan?!"
"Iya, memangnya saya harus memujimu apa? Seperti yang kau katakan tadi, semua mahasiswa yang ada di ruangan ini juga bisa menjawab pertanyaan mudah seperti itu." Ujar profesor Erick.
Pak tua sialan. — umpat Yuan yang skakmat, sama sekali tidak dapat membalas perkataan profesornya.
"Baiklah, karena waktunya sudah habis, kuliah hari ini sampai disini saja. Kalau ada yang ingin bertanya silahkan datang temui saya langsung atau boleh bertanya di pertemuan yang akan datang. Terimakasih." Ujar profesor Erick, menutup kelas mata kuliah hari itu.
Yuan mendengus kesal sembari menatap ke arah profesor Erick yang tampak sedang berbincang dengan salah satu mahasiswa.
"Kalau saja mom tidak menghormatinya, sudah pasti aku akan mempermalukannya di depan mahasiswa lainnya." Ujar Yuan yang kemudian beranjak pergi dari kelas itu.
"Yuan." Panggil seorang pria.
Yuan menoleh, menatap pria yang memanggilnya itu.
"Boleh tidak aku meminta waktumu sebentar?" Tanya pria itu sopan.
"Langsung katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu jika kau hanya ingin berbasa-basi saja." Ujar Yuan.
"Ah iya, sebelumnya, aku ini satu angkatan denganmu."
"Aku bilang langsung katakan saja intinya, aku tidak peduli kau satu angkatan denganku atau tidak." Kata Yuan.
"Maaf maaf. Baik aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu. Jadi begini, masalah magang— apa boleh aku meminta bantuanmu untuk merekomendasikan aku ke perusahaan Tnp group?" Tanya pria itu.
Yuan menghela nafasnya, permintaan seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali saja ia terima. Tapi jika dihitung baik-baik, sudah hampir belasan mahasiswa yang mendatanginya untuk memintanya merekomendasikan mereka ke perusahaan Tnp group.
"Siapa namamu?" Tanya Yuan, membuat pria di depannya itu langsung tersenyum sumringah, ia pikir Yuan akan menyetujui permintaannya.
"Aku hanya bertanya namamu, tidak menanyakan dari mana kau berasal atau pekerjaan ayahmu. Aku ini bukan human resource development yang sedang mewawancarai dirimu. Aku juga tidak peduli tentang latar belakangmu." Kata Yuan.
"Maaf Yuan, maaf." Ucap pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Deon itu.
"Aku bisa saja merekomendasikanmu. Tapi kau harus ingat, satu tempat magang hanya boleh di isi oleh tiga mahasiswa. Perusahaan Tnp group sudah mengambil aku sebagai pemagang disana dari kampus kita. Jadi hanya tersisa kuota dua orang lagi. Dan kau harus tahu, Sudah ada banyak mahasiswa lain yang datang padaku, sama sepertimu, mereka juga memintaku untuk merekomendasikan diri mereka pada Tnp group." Ujar Yuan.
"Yuan, kita ini sering sekali mendapatkan kelas yang sama, artinya aku cukup dekat denganmu kan? Jadi bisakah kau memprioritaskan aku?" Pinta Deon.
Yuan tersenyum miris, ia melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian bersandar pada dinding yang ada di dekatnya.
"Satu hal lagi yang harus kau tahu, orang-orang yang sebelumnya memintaku untuk merekomendasikan mereka juga mengatakan hal yang sama sepertimu." Ujar Yuan.
"Tapi Yuan, ah tidak maksudku tuan muda Yuan. Ini adalah hidup dan matiku, kalau sampai aku gagal magang di perusahaan besar seperti Tnp group, ayahku bisa menghukumku."
"Deon, perusahaan besar di negara ini bukan hanya Tnp group. Lagipula, coba ubah mindset-mu itu, menjadi orang sukses juga tidak harus magang di perusahaan nomor satu." Kata Yuan.
Deon tampak menunduk, responnya itu, Yuan sudah sangat paham. Deon pasti setuju dengan perkataannya. Tapi tuntutan besar dari orangtua pria itu benar-benar mendorongnya untuk tetap berpikir bahwa sukses harus dimulai dari tempat tertinggi.
"Deon, aku akan merekomendasikan-mu, tapi bukan berarti kau akan diterima. Karena semua mahasiswa yang meminta bantuanku, aku juga merekomendasikan mereka. Jadi bersainglah dengan baik bersama yang lainnya, jangan sia-siakan kesempatan itu." Ucap Yuan sembari menepuk bahu Deon.
"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda padaku kan? Tidak masalah kalau aku masih harus bersaing lagi, tapi setidaknya kau merekomendasikan aku juga sudah membuatku bisa berbangga diri dihadapan ayahku. Terimakasih Yuan, aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini." Kata Deon.
"Tentu."
"Kalau begitu, aku pergi dulu, sekali lagi terimakasih." Ucapnya, setelah itu, ia pergi menjauh dari hadapan Yuan dengan raut wajah bahagianya.
"Melihat mereka yang datang langsung padamu dan memohon agar kau mau merekomendasikan mereka pada ayahmu. Kau itu termasuk orang yang beruntung ya, orang yang lahir dengan sendok emas di mulutnya." Ujar seorang pria tua, profesor Erick.
Yuan menoleh, mengikuti dari mana arah suara itu berasal.
Pak tua ini, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?! Sial. — Batin Yuan ketika matanya itu beradu pandang dengan sang profesor.
"Ah iya, bagaimana kabar ibumu?" Tanya profesor Erick.
"Baik." Jawab Yuan sesingkat mungkin.
"Baguslah, sudah lama saya tidak bertemu dengannya."
Untuk apa juga mom bertemu dengan pria tua menjengkelkan sepertimu. Poor my mom, sungguh kasihan dirimu mom, dulu mendapatkan dosen pembimbing sepertinya, pasti masa-masa terakhir kuliah mom sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Sampaikan salamku pada ibumu Ana, bagaimanapun, dia itu dulu mahasiswi favoritku, dia sangat pandai dan mampu membuatku terus ingin memuji kepintarannya." Ujar profesor Erick.
"Ah tentu saja, saya pasti akan menyampaikan salam anda profesor, tapi kalau saya tidak lupa." Kata Yuan.
"Kau ini, apa susahnya menyampaikan pesan salam dari orang tua sepertiku?"
"Profesor, saya ini walaupun memiliki kecerdasan yang patut anda puji. Tapi saya juga manusia biasa yang sesekali punya kelemahan daya ingat." Ujar Yuan.
"Kau pikir saya tidak tahu, kau itu pasti akan sengaja melupakannya."
Yuan tersenyum lebar,
"Anda memang pandai mengetahui isi kepala orang lain profesor." Ujar Yuan yang lebih terdengar seperti sindiran kecil.
Profesor Erick tampak menghela nafasnya, mahasiswa-nya satu ini memang yang paling sulit di atur, tapi juga paling baik prestasinya.
"Yuan, saya tahu kau ini memiliki banyak umpatan yang tersimpan di hatimu untuk saya, itu pasti karena kau berpikir jika saya ini terlalu keras padamu. Tapi, saya seperti ini juga untuk kebaikanmu. Ketegasan saya ini, untuk melatih dirimu di masa depan, kau ini kan calon pewaris perusahaan besar, karena kau kuliah disini, maka dari itu saya tidak ingin mahasiswa yang membawa nama baik universitas ini menjadi pemimpin perusahaan yang buruk. Jadi saya harap, kau ini bisa paham." Kata profesor Erick sembari menepuk pelan bahu Yuan, lalu kemudian pergi dari hadapan pria itu.
"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu. Sekarang, dia itu terdengar seperti seorang kakek-kakek yang sedang menasihati cucunya." Gumam Yuan.
•••
"Rose, kau ingin pesan apa?" Tanya Yana.
Kedua gadis itu baru saja sampai di kantin kampus yang terlihat tidak terlalu ramai.
"Nanti saja, tunggu yang lainnya datang, baru kita pesan." Ujar Rose.
Yana mengernyitkan keningnya, ia pikir hanya Feng yang datang, tapi Rose baru saja berkata yang lainnya, itu artinya lebih dari satu orang.
"Yang lainnya? Bukankah hanya Feng yang datang? Memangnya ada siapa lagi yang akan ikut makan siang bersama kita? Apa Nana juga ikut?" Tanya Yana.
Rose tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan Nana. Tunggu saja, kau akan tahu nanti." Jawab Rose.
"Kau sungguh membuatku penasaran. Kalau begitu beritahu aku, dia laki-laki atau perempuan?"
Rose menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tersenyum kikuk ke arah Yana.
"Aku pikir, sepertinya laki-laki." Ucap Rose, dengan malu-malu.
Yana yang menangkap gelagat salah tingkah dari Rose, ia sedikit paham.
"Pacarmu ya?" Tanya Yana dengan nada menggodanya.
"Sepertinya— iya." Jawab Rose.
"Astaga! Kau ini, sejak kapan? Kenapa tidak menceritakannya padaku?! Apa kau ini masih menganggapku teman baikmu?" Ujar Yana, berpura-pura marah.
"Yana, maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Sejujurnya, aku sendiri juga masih berpikir ini seperti mimpi, sangat sulit untuk dipercaya. Karena itu, baru sekarang aku bisa memberitahumu." Kata Rose.
Yana menghela nafasnya, kemudian tersenyum lebar.
"Baik, aku memaafkanmu. Tapi katakan padaku, siapa pria itu? Siapa pria yang sudah berani mengisi hatimu dan menggantikan pria yang ada disana?" Tanya Yana sembari menunjuk seorang pria yang baru saja memasuki area kantin. Pria yang berhasil membuat kehebohan hanya dalam satu kedipan mata.
"Yuan." Ucap Rose ketika pandangannya mengikuti arah jari Yana menunjuk.
Dia sudah datang. — Batin Rose.
"Iya, siapa pria yang berhasil membuatmu melupakan Yuan?" Tanya Yana.
Rose, gadis itu bukannya menjawab pertanyaan dari Yana, ia malah terpaku menatap Yuan yang tampak di kelilingi oleh para gadis.
"Rose, hei, Rose? Kau ini sudah punya pacar tapi masih saja menatap Yuan seperti itu. Bagaimana kalau pacarmu tahu?" Kata Yana.
Rose menoleh pada teman baiknya itu, kemudian tersenyum.
"Pacarku bilang, aku hanya boleh menatapnya, tidak boleh menatap pria lain selain dia." Ujar Rose.
"Nah itu, sudah tahu pacarmu sangat posesif. Tapi kau masih saja menatap Yuan dengan tatapan terpesona seperti itu." Kata Yana.
"Yana, saat ini, aku itu sedang menuruti perkataan pacarku yang katamu posesif itu. Aku hanya akan menatapnya, tatapan terpesona seperti ini hanya aku berikan pada pacarku. Apa kau tidak paham maksudku?" Ujar Rose dengan senyum penuh arti kepada teman baiknya itu.
Yana menatap Rose dengan raut wajah terkejutnya.
"Kau, jangan bilang, pacar yang kau maksud itu adalah— dia?!" Ucap Yana sembari menatap ke arah Yuan.
Rose mengangguk, menanggapi ucapan teman baiknya itu.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1