The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Little Girl And Her Daddy (bagian dua)


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Tidak lama kemudian, sekertaris Iko datang kembali.


“Presdir, ini kotak P3K-nya,” ucap sekertaris Iko sembari memberikan kotak berwarna putih dengan logo merah ditengahnya itu pada Yuan.


“Kau mau ikut bersama paman sebentar? Kita pergi ke ruangan itu untuk mengobati lukamu,” ajak Yuan.


Yuna tampak diam, ia berpikir, ikut atau tidak ya? — batinnya.


Bagi Yunara, Yuan adalah orang asing. Tapi gadis itu merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Yuna bahkan merasa kalau pria yang terlihat seumuran dengan ibunya itu adalah orang baik dan bisa di percaya.


“Kenapa? Kau takut? Paman bukan orang jahat loh. Kau mau paman kasih satu rahasia kecil tidak?” bujuk Yuan.


“Rahasia? Apa itu?” tanya Yuna antusias.


“Paman adalah pemilik toko mainan ini,” bisik Yuan.


Gadis itu pun mengernyitkan keningnya, ia menatap Yuan penuh selidik.


“Bohong,” ucapnya kemudian.


“Begini saja. Kau boleh ambil apapun yang kau mau, tidak perlu bayar, paman yang traktir,” kata Yuan.


Raut wajah Yuna pun langsung berubah sumringah. Ia tampak euforia dengan perkataan Yuan.


Gadis itu tanpa menunggu lama lagi langsung menunjuk boneka Grizzly bear yang ada di rak atas nomor tiga.


“Aku mau si coklat, Grizzly bear,” ucapnya.


Yuan mendongakkan kepalanya, ia mengikuti arah telunjuk Yuna. Kemudian, pria itu berdiri untuk meraih boneka itu. Lalu kembali berjongkok dan memberikan boneka itu pada Yuna.


“Selera yang bagus. Itu baru launching dua minggu yang lalu. Dan yang kau pegang saat ini adalah produk limited edition. Hanya ada dua yang di jual,” jelas Yuan.


“Benarkah? Tapi di rak lain masih banyak boneka dengan bentuk yang sama,” tutur Yuna polos.


Yuan tersenyum tipis, ia mengusap lembut rambut gadis kecil itu.


“Mereka berbeda dengan yang ini. Boneka yang kau pegang ini terbuat dari bahan khusus. Dia tidak akan mudah rusak apalagi luntur, dan masih banyak kelebihan lainnya,” kata Yuan.


“Ayo, sekarang kita obati luka memarmu dulu, okey?”


Yuna mengangguk setuju.


Melihat persetujuan dari si gadis kecil itu. Yuan pun kembali tersenyum. Kemudian tanpa ragu, ia menggendongnya, membawa Yuna masuk ke dalam ruangan khusus miliknya.


•••


“Yuna...,”


Disisi lain, seorang ibu terlihat berjalan kesana-kemari mencari anaknya.


Wanita berusia tiga puluhan lebih itu tampak panik.


Bahkan dia mengabaikan sosok kecil lain yang terus mengikutinya.


Untung saja Yusen lebih pandai dan cerdas. Pria kecil itu walaupun baru berusia delapan tahun tapi pemikirannya melebihi pria yang berusia dua puluhan.


Ia paham untuk berbuat apa dan bagaimana pada situasi-situasi tertentu.


Seperti sekarang ini, pria kecil itu dengan sikap tenangnya mencari saudari kembarnya. Sebelumnya pun dia telah melaporkan Yuna pada bagian anak hilang.


Cerdas, teliti dan tepat, itulah Yusen.


“Yusen, bagaimana ini... Yuna benar-benar hilang, seharusnya Mama ajak kalian ke supermarket dekat rumah saja. Salah Mama yang malah ajak kalian ke Mall di hari minggu seperti ini,” ucap Rose, kecemasan semakin merajai dirinya.


“Tenang, Ma. Pihak keamanan mall juga sedang mencari Yuna. Yuna pasti akan segera di temukan. Mama jangan khawatir,” kata Yusen, menenangkan sang ibu yang tengah duduk lemas pada salah satu kursi pengunjung mall tersebut.


“Bagiamana Mama bisa tenang, Yusen. Ini hari minggu, lihatlah, mall sangat ramai sekali. Bagaimana kalau ada orang jahat yang menculiknya?” ujar Rose, entah kenapa wanita itu menjadi sangat pesimis.


Yusen menghela napasnya. Pria kecil itu kemudian melepaskan tangannya dari genggaman sang ibu.


“Biar Yusen yang cari Yuna. Mama istirahat dan tunggu di sini saja,” tutur Yusen.


Rose menatap anaknya itu, ia sudah tidak dapat lagi membendung air matanya. Butiran bening itu pun tumpah membasahi pipinya.


“Jangan, kita cari Yuna sama-sama. Mama takut kalau nanti kau juga hilang seperti Yuna. Jadi Yusen tetap genggaman tangan Mama, jangan pernah melepaskannya sedikitpun, ya?” ucap Rose.


Yusen mengangguk paham, ia menyetujuinya karena tidak ingin membuat sang ibu lebih khawatir lagi.

__ADS_1


“Ma, kenapa tidak meminta bantuan Paman Sean atau Bibi Sarah?” tanya Yusen, mengeluarkan pendapatnya.


Rose terhenyak, apa yang Yusen katakan ada benarnya. Tapi dirinya tidak ingin merepotkan mereka lagi.


“Yusen, Sayang. Jangan pernah berpikir meminta bantuan seseorang selama kita masih sanggup melakukannya sendiri. Jika kau bergantung pada seseorang terus, maka hidupmu tidak akan pernah mandiri. Kau selamanya hanya akan menjadi orang payah dan tidak berguna,” jelas Rose.


“Begitukah?” tanyanya.


“Eh?”


“Bukankah Mama tidak ingin meminta bantuan mereka karena ingin menjauhi Paman Sean?” tebak Yusen.


Anak ini... bagaimana dia tahu? — batin Rose.


Wanita itu ingin menjawabnya, tapi seorang petugas keamanan lebih dulu menghampiri mereka.


Rose menghela napas lega, karena tidak perlu berkilat lidah dengan anak laki-lakinya yang pandai itu.


“Ibu Rosela?” tanya petugas keamanan itu, memastikan tidak salah orang.


Rose segera mengangguk, ia berdiri sembari mengusap air matanya yang masih tersisa.


“Iya, ini saya. Bagaimana? Apa anda sudah menemukan anak saya?” tanya Rose penuh harap.


Petugas keamanan itu terlihat menghela napasnya. Ia menampilkan wajah tidak enak hati.


“Maaf,”


Mendengar kata itu, harapan Rose langsung luluh lantak berserakan.


Tapi kemudian, petugas keamanan itu kembali berkata dengan senyum samar yang menghiasi wajahnya.


“Kami memang belum menemukannya. Tapi kami berhasil melacak keberadaannya. Dari rekaman kamera CCTV yang terpasang di sejumlah titik mall ini, kami berhasil menangkap gambar anak ibu. Dari kamera CCTV itu kami tahu kalau anak ibu terakhir terlihat memasuki Toy Store Tnp Group dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda kalau anak ibu sudah keluar dari dalam sana,” jelasnya.


Mendengar nama perusahaan itu disebut, mata Rose membelalak. Kemudian ia menatap Yusen, meraih tangan anak itu dan menggenggamnya erat.


“Sekarang kita hanya perlu meminta rekaman CCTV dari pihak Toy Store itu dan kemungkinan besar anak ibu bisa di temukan,” imbuhnya lagi.


Sedangkan Rose, pikirannya sudah semakin kacau ketika ia mendengar nama Tnp Group di sebut oleh petugas keamanan tadi.


Wanita itu pun tanpa sadar menarik tangan Yusen, mengajak anak itu berlari cepat menuju Toy Store milik Tnp Group itu.


“Ma? Mama kenapa?” tanya Yusen.


Sesampainya di depan Toy Store, Rose terdiam, kakinya seolah membeku. Ia menurunkan Yusen perlahan. Tapi tubuhnya seperti batu, sulit bergerak.


“Ma? Mama?” Yusen mengguncang tubuh ibunya. Tapi tidak ada respon dari Rose.


“Ma!” seru Yusen sedikit lebih keras. Dan itu berhasil. Rose tersentak, ia lalu menatap Yusen dengan mata penuh binaran kaca.


Yusen mengernyitkan keningnya bingung. Ia bingung dengan sikap ibunya.


“Permisi, Ibu. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pegawai toko mainan itu.


Rose kemudian tersadar, ia menatap pegawai toko itu dengan ekspresi biasanya.


“Jadi begini, putri saya hilang, lalu dari laporan petugas keamanan mall, mereka bilang kalau anak saya terakhir kali terlihat di CCTV dia memasuki toy store ini, apa anda dan pegawai lainnya melihat anak saya? Dia seusia anak laki-laki ini, tapi sedikit lebih pendek,” jelas Rose.


Pegawai toko mainan itu mengangguk paham, “Tunggu sebentar ya, Bu,” ucapnya, ia kemudian masuk ke dalam toko itu untuk memanggil seseorang.


Dari baju yang dipakai, sepertinya ia adalah kepala toko atau mungkin manajer toko mainan perusahaan besar ini.


“Saya sudah mendengar kabar dari petugas keamanan yang menghubungi pihak toko kami. Ibu silahkan masuk, pihak toko sedang membantu mencari putri ibu yang hilang. Maaf, karena kami tidak bisa mengijinkan petugas keamanan atau bahkan ibu sendiri untuk mencarinya, karena hari ini Presdir kami sedang ada rapat pertemuan dengan Direktur perusahaan animasi Jepang,” urai manajer toko itu.


Bukannya menjawab. Rose malah semakin membeku, ia benar-benar terdiam ketika mengetahui kalau Yuan ada disini. Mereka sangat dekat, tapi rasanya ada banyak penghalang yang menghalangi keduanya.


Dari dulu aku sangat ingin bertemu dengannya.


Apalagi saat aku tahu kalau dirinya dan Rue gagal menikah. Tapi saat itu aku baru saja melahirkan. Aku tidak memiliki daya upaya untuk kembali padanya.


Selama ini, aku bisa saja datang menemuinya, hanya saja ada sesuatu yang membuatku selalu berkata nanti.


Dan sekarang, saat aku dan dirinya begitu dekat sekali. Aku merasa belum siap melihatnya. Aku belum siap bertemu dengannya. Apa yang harus aku lakukan?


“Bibi, bisa tunjukkan dimana kami akan menunggu?” tanya Yusen, mewakili sang ibu yang masih diam melamun.


“Ah, mari, silahkan kalian menunggu di ruangan saya,” ucap manajer toko itu.


“Apa ruangan anda menjamin kami agar tidak bertemu dengan Presdir Tnp group?” tanya Rose tiba-tiba, membuat semua orang mengerutkan keningnya.


“Eh? Itu, iya tentu saja. Itu kalau Presdir tidak berkunjung masuk ke ruangan saya. Tapi saya pastikan beliau tidak akan masuk, karena ini juga menyangkut jabatan saya. Kalau sampai Presdir tahu ada kekacauan di jam kerja saya sebagai seorang manajer, saya mungkin bisa di pecat,” jelas manajer itu.


Rose mengangguk paham, “Kalau begitu tolong antar kami ke ruanganmu dan mohon bantuannya,” ucap Rose yang langsung di tanggapi anggukan mantap oleh manajer itu. Karena bagaimanapun juga, permintaan Rose cukup menyelamatkan manajer itu.


“Mari, ikuti saya,” katanya sembari memandu jalan.

__ADS_1


•••


“Sudah selesai,” ucap Yuan setelah mengoleskan salep pada luka memar berwarna merah di lengan Yuna.


Yuna tersenyum, ia melihat lengannya, lalu semakin tersenyum lebar ketika tidak lagi merasa denyutan di luka memarnya itu.


“Terimakasih, Paman,” tuturnya sopan.


Yuan mengangguk sembari tersenyum lembut ke arah gadis kecil itu.


Yuna pun kemudian turun dari atas kursinya, kini ia berdiri tegap di hadapan Yuan.


“Aku harus pergi, Mama dan Yusen pasti mencariku,” ucapnya.


“Ah benar juga. Mereka pasti mencarimu. Ayo, biar paman mengantarkanmu ke ibu dan saudara kembarmu,” kata Yuan.


Namun Yuna menggelengkan kepalanya, ia menolak tawaran pria itu.


“Kenapa?” tanya Yuan.


“Kalau Mama dan Yusen tahu aku bersama orang asing. Yusen pasti mengomeliku panjang dan lebar, telingaku akan sakit mendengarnya. Jadi Paman jangan mengantarku,” katanya.


Yuan tertawa mendengarnya, “Adik kembarmu sangat posesif padamu ya ternyata,” tebaknya.


Yuna mengangguk setuju, “Itu karena dia sayang padaku,” ungkapnya.


“Baiklah, kalau begitu bagaimana jika Paman mengantarkanmu dari kejauhan. Paman hanya ingin memastikan kalau kau kembali pada ibumu dengan baik,” ujar Yuan.


“Tidak, Paman. Paman tidak tahu bagaimana adik kembarku. Dia itu sangat teliti,” jawab Yuna.


Yuan menganggukkan kepalanya, ia ingin membalas perkataan itu. Tapi seorang pegawai tokonya terlihat menghampiri mereka dengan gusar.


“Maaf atas kelancangan saya, Presdir. Apa anda mengenal anak ini?” tanya pegawai toko itu.


Yuan mengernyitkan keningnya, ia menatap pegawai toko yang membungkuk hormat padanya itu. Lalu kemudian, ia berdiri dari posisi jongkoknya.


“Kenapa memangnya?” tanya Yuan.


“Seseorang mencarinya, Presdir,” jawab pegawai toko.


“Apa dia seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan tahun keatas?” sahut Yuna, bertanya.


Pegawai toko itu pun menatapnya, kemudian menjawab, “Iya, benar,”


“Apa dia datang bersama anak laki-laki seusiaku?” tanyanya lagi.


“Iya, benar,” jawab pegawai toko itu.


Setelah puas bertanya, Yunara menatap ke arah Yuan.


“Paman, itu Mama dan Yusen,” ucap Yuna.


Yuan tersenyum, “Benarkah? Baguslah, Paman akan mengantarmu langsung pada mereka,” usul Yuan.


“Paman, bukankah aku sudah bilang tadi? Aku tidak ingin mereka tahu kalau aku percaya pada orang asing,” tolak Yuna.


“Ah iya, baiklah. Kalau begitu, ikut dengan Bibi pegawai toko ini saja ya. Dia akan mengantarmu untuk bertemu dengan ibu dan saudara kembarmu,” kata Yuan.


Yuna mengangguk setuju.


Gadis kecil itu kemudian berjalan dalam gandengan tangan pegawai toko itu. Ia melambaikan tangannya ke arah Yuan. Dan setelah itu, Yunara menghilang dari pandangan Yuan. Gadis kecil itu lenyap di antara rak-rak mainan yang tersusun rapi.


“Ah iya, aku lupa menanyakan namanya,” sesal Yuan.


“Anda sepertinya menyukai gadis kecil itu, Presdir,” terka sekertaris Iko.


Yuan menoleh ke arahnya, “Ini salahmu, kalau saja tadi kau tidak asal datang dan menyela pertanyaanku padanya. Aku pasti sudah tahu namanya,” tuding Yuan, menyalahkan sekretarisnya itu.


“Saya? Tapi saya— ”


“Sudahlah, ayo cepat kita pergi untuk membeli bahan makanan,” ujar Yuan.


“Baik, Presdir,” sahut sekertaris Iko, menghela napasnya.


Kenapa aku yang disalahkan? — batin Iko, kebingungan.


Padahal, sebenarnya yang membuat Yuan gagal untuk mengetahui nama gadis kecil itu adalah dirinya sendiri.


Jika di ingat kembali. Tadi karena Yuan memanggil gadis kecil itu dengan sebutan 'sayang', gadis kecil itu pun mengalihkan pembicaraan mereka.


Tapi apalah daya sekertaris Iko, ia hanya bisa menjadi korban kegeraman bosnya yang gemas karena tidak mendapatkan nama seorang gadis kecil yang lucu dan cerdas itu.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2