
"Kau ingin ikut masuk ke restoran juga?!" Tanya Rose, ia terkejut ketika Yuan ternyata mengikuti dirinya.
"Kalau ibumu sampai melihat kita datang bersama bagaimana?" Tanya Rose, lagi.
Tadi, setelah dirinya dan Yuan mengobrol di cafe, Rose langsung pamit untuk pergi bekerja paruh waktu di restoran Ana.
Tapi tiba-tiba Yuan menahannya dan berkata kalau dia akan mengantarkan Rose pergi bekerja paruh waktu.
Rose sudah berusaha menolak. Hanya saja, pria keras kepala itu tetap kekeuh ingin mengantarkan-nya, Rose pun pada akhirnya setuju dengan tawaran Yuan.
Tadinya, Rose pikir Yuan hanya akan mengantarkannya sampai di depan restoran saja. Tapi ternyata, pria itu malah
memarkirkan mobilnya, lalu kemudian ikut turun dan berjalan di belakang Rose, seakan-akan ingin menunjukkan kalau mereka itu memang datang bersama.
"Kenapa? Kalau ketahuan ya sudah, memangnya mau sampai kapan kita harus menutupinya? Cepat atau lambat juga akan ketahuan nantinya. Atau— kau tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan kita? Kau malu ya punya pacar seperti aku?" Tanya Yuan dengan ekspresi kesalnya.
"Bukan seperti itu Yuan, masalahnya kalau sampai ibumu tahu, bagaimana nanti aku bisa menghadapinya? Aku masih berharap, untuk sekarang, hubungan kita hanya beberapa orang terdekat saja yang mengetahuinya, bukan karena apa, tapi karena aku belum siap saja. Aku harap kau mengerti, maaf Yuan. "
"Iya baiklah, aku mengerti. Kalau begitu seperti ini saja, aku akan masuk lebih dulu, tunggu beberapa menit, setelah aku masuk baru kau masuk. Bagaimana menurutmu?" Ujar Yuan.
"Iya, tapi sebelumnya, aku benar-benar minta maaf, sebenarnya bukan maksudku tidak ingin ada banyak orang yang tahu tentang hubungan kita. Hanya saja, aku belum siap, masalahnya kau dan aku itu sungguh jauh berbeda, butuh waktu untuk aku menyesuaikan diri. Aku takut, kalau kita terburu-buru mempublikasikannya, takutnya— "
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi, yang terpenting kita menjalaninya dengan sepenuh hati, saling percaya dan mendukung satu sama lain. Sekarang aku akan masuk ke dalam restoran lebih dulu, lalu sesuai rencana, kau tunggu beberapa menit, setelah itu, baru kau masuk ke dalam." Kata Yuan.
"Aku mengerti, masuklah." Ucap Rose.
Setelah itu, Yuan masuk lebih dulu ke dalam restoran milik ibunya itu.
Yuan berjalan masuk dengan wajah yang sesekali menoleh ke belakang untuk melihat Rose yang tampak masih berdiri di luar.
"Tuan muda Yuan, wah kebetulan sekali anda datang, ketua Ray dan juga dua kerabat bos Ana juga datang kemari." Ujar manajer Dita.
"Maksudmu— ayahku ada disini juga?"
"Benar tuan muda. Tapi bukan hanya ketua Ray saja, ada juga tuan Kenan dan anaknya." Jawab manajer Dita.
"Paman Kenan dan adik sepupu Ken juga ada disini?"
"Iya tuan muda, mereka ada di dalam ruangan bos Ana."
"Oh, terimakasih." Kata Yuan, setelah itu ia berlalu pergi dan melangkahkan kakinya menaiki tangga yang terhubung ke ruangan ibunya.
Disaat Yuan tengah menaiki tangga, ia melihat Rose yang baru masuk ke dalam restoran, seutas senyum disertai dengan kedipan mata, Yuan lemparkan pada kekasihnya itu.
Rose yang melihatnya hanya bisa menundukkan kepalanya, menahan senyuman.
"Rose, kau akhirnya datang." Ujar manajer Dita, membuat Rose tersadar dari bayang-bayang Yuan.
"Eh iya manajer, maaf sedikit terlambat." Kata Rose.
"Baru terlambat dua menit, aku akan mentolerirmu, tapi lain kali jangan di ulangi lagi, ingat dengan peraturan kontrak kerja di restoran ini. Sekarang kau pergilah ganti baju kerjamu, lalu setelah itu temui aku segera di bagian dapur. Bergeraklah cepat, customer kita hari ini banyak." Ujar manajer Dita yang dibalas dengan sebuah anggukan paham dari Rose.
Yuan yang masih berdiri di anak tangga tampak diam memperhatikan, tapi setelah melihat Rose masuk ke dalam ruang ganti karyawan wanita, ia kembali melangkahkan kakinya dan membuka pintu ruangan ibunya.
"Mom." Panggil Yuan pada si pemilik ruangan.
"Eh, Yuan, sayang, kebetulan sekali kau datang. Ayo cepat kemari, duduk sini, ada paman Kenan dan juga adik sepupumu Ken, sapalah mereka." Ujar Ana.
"Dad juga ada disini? Tidak datang ke perusahaan? Dad berniat membolos bekerja ya?" Tanya Yuan sembari melihat ayahnya itu dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Daddy kan pemilik-nya, ingin datang ke perusahaan atau tidak, itu terserah pada dad." Jawab Ray, mencoba mengacuhkan ekspresi Yuan yang terlihat sedikit mengusik pandangannya.
"Ck, bos macam apa yang malah bersantai-santai sedangkan pegawainya susah payah bekerja, tidak tahu malu." Kata Yuan sembari duduk di sisi Ana.
"Kau ini, katakan saja kalau tidak ingin dad ada disini." Ujar Ray.
__ADS_1
"Dad sendiri yang mengatakannya, kalau dad tidak mau ada disini ya pulang saja." Jawab Yuan, dengan santainya ia mengambil cookies yang ada di depannya, lalu memakannya tanpa permisi, mengabaikan tatapan tajam dari sang ayah.
"Kakak ipar, sebaiknya kau dan aku pergi saja dari sini, tadinya hanya ada satu bocah yang menjengkelkan, tapi sekarang ada dua, aku rasa hatiku dan juga hatimu itu tidak akan sanggup menghadapinya." Ujar Kenan.
"Apa yang paman Kenan katakan? Barusan siapa yang paman sebut seorang bocah? Apakah aku juga termasuk? Apa salahku? Aku tidak berbuat apapun pada paman, kenapa paman harus terlihat kesal padaku?" Tanya Yuan, masih dengan tampang tanpa dosanya, membuat para pria paruh baya rasanya ingin sekali menarik rambut mereka.
"Kak Yuan, mereka itu selalu berkata kalau kita sangat merepotkan dan menjengkelkan. Mereka bahkan kadang menganggap kita sebagai hama yang menggangu kemesraan mereka bersama ibu-ibu kita." Ujar Ken.
"Ah, soal itu, kau masih terlalu kecil, tidak akan mengerti apa yang mereka rasakan." Jawab Yuan. Masalahnya, ketika Ken berkata seperti itu padanya, Yuan membayangkan jika nanti dirinya punya anak bersama Rose, lalu ingin bermesraan dengan Rose tapi tiba-tiba anak itu mengganggunya, sepertinya memang terasa seperti seekor hama pengganggu yang menyebalkan.
Pantas saja dad selalu marah dan kesal padaku, sekarang aku mengerti. Kelak, aku tidak akan menggangu daddy dan mom untuk bermesraan lagi, agar di kemudian hari aku tidak mendapatkan karma dari anakku sendiri. — Batin Yuan yang bergidik ngeri.
"Eh? Memangnya kau mengerti?" Tanya Ana, ibunya.
"Ya, bisa dibilang begitu." Jawab Yuan yang masih sibuk memakan cookies di hadapannya.
"Aaa— sepertinya sudah memiliki pengalaman ya?" Ucap Ana.
"Apa?! Yuan, kau sudah punya pengalaman seperti itu?" Tanya Ray.
Yuan mengangkat bahunya tidak peduli, ia mengacuhkan pertanyaan ayahnya yang terdengar tidak penting itu. Karena tanpa Yuan jawab pun, ayahnya juga bisa memikirkannya sendiri, memangnya kapan Yuan pernah menikah lalu punya anak, itu hanya akan terjadi di kemudian hari.
"Mom, aku lapar, bisa suruh pegawai mom antar makanan kesini?" Tanya Yuan dengan nada memohonnya.
"Ah ya ampun, anak mommy lapar ya? Apa yang lain juga lapar? Kalau begitu, biar aku panggilkan manajer Dita untuk membawakan kalian makanan, tunggu sebentar ya." Ujar Ana, setelah itu ia beranjak ke arah pintu keluar ruangan untuk memanggil manajer Dita.
"Eh mommy mau pergi kemana? Mom ingin panggil manajer Dita ya? Biar Yuan saja yang menemui manajer Dita." Kata Yuan, menawarkan dirinya dengan inisiatif sendiri.
"Kau serius?"
"Iya. Katakan saja, apa yang ingin kalian makan?" Ucap Yuan sembari berdiri dari duduknya dan melihat semua orang yang menatapnya heran.
"Katakan saja pada manajer Dita, makanan keluarga seperti biasa, dia akan mengerti nanti." Ujar Ana.
"Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia berinisiatif seperti itu." Gumam Ana.
•••
"Rose, hari ini kau ambil bagian depan ya, tapi sebelumnya pergi dulu ke freezer penyimpanan dan ambil daging beku yang tiga kilogram, lalu berikan dagingnya pada koki kepala." Ujar manajer Dita setelah Rose selesai berganti baju kerjanya.
"Baik manajer." Jawab Rose.
"Tolong cepat ya, kalau begitu saya pergi ke bagian gudang dulu, check bahan segar disana." Kata manajer Dita, setelah itu ia pergi menjauh dari Rose.
"Butuh bantuan?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Rose.
"Astaga, siapa— Yuan?" Rose tampak terkejut ketika melihat Yuan sudah ada disampingnya, begitu dekat dengannya.
"Apa yang kau lakukan disini, jauhkan wajahmu itu dariku, kau sangat dekat, bagaimana jika ada yang melihat kita? Tidak tidak, disini ada cctv, kalau sampai ibumu tahu, bagaimana caraku menjelaskannya?" Ujar Rose, ia melangkah mundur dari Yuan.
"Bukankah sebelumnya aku pernah bilang padamu, kalau ketahuan ya sudah, cukup katakan saja yang sejujurnya, jadi apa yang harus kau takutkan? Kau tahu ibuku dengan baik, dia bukan pemilih." Kata Yuan sembari melangkah maju mendekati Rose.
"I—iya tapi tidak boleh seperti ini, kau jangan terus melangkah maju kedepan. Aku— aku harus bekerja." Ujar Rose, tampak gugup.
"Kalau ingin bekerja ya bekerja saja, siapa yang menghalangimu? Aku hanya berdiri di depanmu seperti ini, tapi kau sudah sangat gugup." Kata Yuan.
Rose mendengus kesal, kemudian ia mendorong tubuh Yuan pelan, agar pria itu menjauh dari dirinya, setelah itu ia pergi masuk ke dalam freezer penyimpanan untuk mengambil bahan yang manajer Dita katakan padanya tadi.
Yuan tersenyum menyeringai melihat Rose yang tampak gugup juga kesal padanya.
Bagaimana rasanya di goda? Menyebalkan tapi menyenangkan bukan? Aku ini sedang balas dendam padamu, siapa yang tadi di cafe berani menggodaku sampai membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. — Batin Yuan yang berteriak puas.
"Tuan muda Yuan, ada apa datang ke bagian dapur? Apa ada yang tuan muda butuhkan?" Tanya manajer Dita yang baru saja datang dari gudang penyimpanan bahan makanan segar.
"Oh itu, mom— maksudnya ibuku, dia, ah intinya kau bawa saja makanan yang biasa mommy-ku pesan kalau ada keluarga yang datang." Ujar Yuan yang malas bertele-tele.
__ADS_1
"Ah baik tuan muda. Tuan muda silahkan kembali saja ke ruangan bos Ana, nanti biar saya dan salah satu karyawan yang bawa makanannya ke sana." Kata manajer Dita.
"Oke, tapi nanti suruh dia saja yang bawa makanannya." Ujar Yuan sembari menunjuk ke arah Rose yang baru saja keluar dari freezer penyimpanan bahan beku.
"Aku?"
Yuan tersenyum puas, setelah itu, ia pergi dari sana.
"Kau ada masalah apa dengan tuan muda Yuan? Aku dengar kau satu universitas dengan-nya, apa kau ada menyinggungnya? Sampai-sampai dia terlihat seperti ingin menindasmu." Tanya manajer Dita.
Rose tersenyum canggung menanggapinya,
"Sepertinya tidak ada. Ah itu manajer Dita, bukankah kita harus cepat menyiapkan makanannya? Kalau begitu, apa yang perlu saya persiapkan untuk membuat makanan mereka?" Ujar Rose yang sedang mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya benar, kita harus cepat, panggil saja koki kepala, suruh dia menemuiku, lalu segera berikan daging beku yang kau pegang itu padanya." Ujar manajer Dita.
"Ah iya, baik." Ucap Rose yang kemudian pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Ck, Yuan itu, apa yang sedang dia pikirkan, bahkan daripada seorang kekasih yang sedang di goda, oranglain malah berpikir kalau aku ini sedang di tindas olehnya, sungguh ironi sekali. — Batin Rose sembari menghela nafas beratnya.
•••
"Loh Feng? Kau pulang bersama Rue? Kenapa tidak membiarkan dia pulang bersama Yuan?" Tanya ketua Barack ketika ia melihat putra dan putrinya itu keluar dari dalam mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
"Apa yang ayah harapkan? Jangan terlalu memaksakan diri, karena pada akhirnya yang terluka itu bukan ayah tapi Rue." Ujar Feng, setelah mengatakan itu, ia berlalu dari hadapan sang ayah.
"Feng, apa maksud dari perkataanmu itu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya ketua Barack, tapi Feng mengabaikannya, ia terus melangkah masuk ke dalam rumah.
"Feng! Kau! beraninya kau mengabaikan ayahmu yang sedang mengajakmu bicara!" Teriak ketua Barack.
"Ayah ayah, sudahlah, kakak Feng seperti itu mungkin karena dia sedang dalam mood yang tidak baik." Kata Rue yang kini telah berdiri di samping sang ayah.
"Rue, kenapa kau pulang bersama Feng? Dimana Yuan? Apa dia ada urusan penting jadi tidak bisa mengantarmu pulang?" Tanya ayahnya.
Rue tersenyum manis, kemudian meletakkan kepalanya di bahu lebar sang ayah.
"Ayah, berangkat ke kampus bersamanya, bukan berarti harus pulang bersamanya kan?" Ujar Rue.
"Begitu ya. Tapi Rue, kalau terjadi sesuatu katakan saja pada ayah." Ucap ketua Barack, ia seolah tahu apa yang sedang putrinya itu alami.
"Tidak ada, tidak ada sesuatu yang harus Rue katakan, semua baik-baik saja. Oh iya, apa ayah sudah makan?"
"Belum, tadinya ayah pulang dari perusahaan ingin mengajak ibumu, kau, Feng dan juga Yuan untuk makan bersama. Tapi ternyata Yuan tidak datang, ibumu juga sedang ada pertemuan untuk proyek baru desain perhiasan." Kata sang ayah, dirinya itu sedang menegaskan bahwa bagaimana mungkin ia bisa makan sendirian diantara orang-orang yang sedang sibuk.
"Baiklah, kita akan makan bersama. Aku, ayah dan kakak Feng, ayo kita bertiga makan bersama. tapi tidak perlu pergi makan diluar." Ujar Rue.
"Ah baiklah, ayah akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan." Ucap sang ayah sembari mengelus rambut putrinya penuh kelembutan.
"Jangan ayah, jangan suruh pelayan untuk memasak atau menyiapkan makanan, karena aku yang akan memasak khusus untuk ayah dan kakak Feng."
"Kau— yakin? Memangnya kau bisa masak?" Tanya sang ayah.
"Ayah ini sedang meremehkan kemampuan memasakku ya? Hidup bersama nenek sejak kecil, mana mungkin aku tidak bisa masak. Nenek itu, dia walaupun terlihat memanjakan aku, tapi juga sangat tegas padaku dalam hal yang berhubungan dengan tugas seorang wanita."
"Sunggu beruntung laki-laki yang akan menjadi suamimu nanti, bisa mendapatkan istri yang pintar, cantik, dan pandai memasak sepertimu." Puji sang ayah.
Rue tersenyum, walaupun ia menampilkan senyum manis pada ayahnya, tapi sesungguhnya hatinya tersenyum masam.
"Ayah jangan berlebihan, ayo masuk." Ajak Rue.
Hanya satu laki-laki yang tidak pernah merasa beruntung menikah denganku. Yuan, kau ini pria yang seperti apa? Kenapa sulit sekali mendapatkan hatimu? Aku ini kurang tulus apa padamu? — Batin Rue.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1