The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Dia Pacarku (bagian dua)


__ADS_3

Yana menatap Rose dengan raut wajah terkejutnya.


“Kau, jangan bilang, pacar yang kau maksud itu adalah— dia?!” ucap Yana sembari menatap ke arah Yuan.


Rose mengangguk, menanggapi ucapan teman baiknya itu.


“Rose, apa kepalamu terbentur sesuatu? Apa kau sudah tidak waras? Sampai kapan kau akan terus mengkhayalkan sesuatu yang mustahil.”


Rose menatap Yana dengan senyum mirisnya, ia tahu, teman baiknya ini tidak akan percaya begitu saja.


“Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?” tanya Rose.


Yana menghela nafasnya, kemudian meraih tengkuk leher belakang Rose, mendekatkan kepala temannya itu pada bahunya, membiarkan Rose bersandar padanya.


“Aku tahu kau begitu mencintainya. Tapi, bisakah kau berhenti berkhayal? Kau benar-benar membuatku khawatir.” kata Yana.


“Yana, kau salah paham, aku sungguh sedang tidak berkhayal, aku dan dia— ”


“Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa bersandar padanya? Apa kau sedang ada masalah? Apa kau butuh sandaran? Kemari, bahuku lebih lebar dan nyaman dari pada bahunya.” ujar seorang pria, itu Yuan.


Yana yang tadinya masih fokus mengelus punggung Rose, ia pun mendongak, kemudian matanya terbelalak. Ia sungguh terkejut, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Seorang Yuan tengah berdiri di dekatnya, pria itu tampak tersenyum hangat ke arah Rose.


Apakah yang Rose katakan tadi benar? Mereka sungguh berpacaran? Apa matahari sedang terbit dari barat? — batin Yana.


“Yuan, kau datang.” ucap Rose, ia melepas rengkuhan Yana, kemudian menghadap ke arah Yuan dan tersenyum manis pada kekasihnya itu.


“Iya, maaf kalau aku sudah membuatmu menunggu lama.” kata Yuan.


Rose kembali tersenyum,


“Tidak masalah.”


“Oh iya, Yuan, ini Yana, Yana Yudistira, teman baikku, yang waktu itu pernah aku ceritakan padamu.” ujar Rose sembari menyiku lengan Yana, agar gadis itu segera sadar dari pikiran panjangnya.


“Ah iya, salam kenal, aku Yuan Mauli Gavin, miliknya Rosela Putri.” kata Yuan, ia mengulurkan tangannya ke arah Yana. Sengaja mengatakan kata terakhir itu, untuk menegaskan bahwa dirinya sudah ada yang punya.


Dia itu baru saja mendeklarasikan kalau dirinya adalah milik Rose ya? Astaga apa aku sedang bermimpi?! Sampai sekarang pun aku masih belum bisa mempercayainya. Bagaimana mungkin, seorang Yuan mengatakan hal seperti itu? Dan Rose, pesona apa yang telah ia gunakan untuk memikat hatinya? — batin Yana.


“Sayang, aku pikir, temanmu ini sedang terpesona padaku. Lihatlah, aku bahkan bisa melihat air liurnya menetes keluar dari mulutnya yang terbuka itu.” ujar Yuan.


“Ck, percaya diri sekali.” ucap Rose, gadis itu kemudian beralih menatap temannya yang masih diam. Rose mengguncang pelan bahu Yana, menyuruh gadis itu untuk sadar dari rasa terkejutnya.


“Yana, katakan padanya kalau kau sedang tidak terpesona padanya, katakan dengan tegas, kalau tidak, dia itu akan terus besar kepala nantinya.” ucap Rose.


Yuan tersenyum menyeringai, kemudian ia duduk di kursi yang ada di depan Rose.


“Aku, tidak, tunggu dulu. Tuan muda Yuan, anda ini dan teman saya sedang tidak bermain pacar-pacaran kan?” tanya Yana yang langsung menatap Yuan tajam.


Yuan mengabaikan tatapan dari teman baik kekasihnya itu. Kini, pria itu duduk tegap menghadap sempurna ke arah Rose, siku tangannya ia tumpukan pada meja yang ada di depannya, lalu tangan kanannya menopang dagunya yang seperti pahatan patung dewa yunani itu.


“Sayang, apa kita ini kekasih kontrak? Coba kau jelaskan padanya dengan baik. Kau kan temannya, kenapa dia tidak tahu sama sekali tentang hubungan kita? Padahal semua teman-temanku sudah tahu tentang hubungan kita. Kau tidak adil, sayang.” ucap Yuan yang masih dengan posisi sebelumnya, menopang dagunya dan menatap Rose tanpa bosan.


Sayang sayang, apa setiap berada di hadapan orang lain, dia ini selalu ingin pamer kemesraan?! Aku bahkan merasa geli sendiri mendengarnya memanggilku seperti itu. — batin Rose.


“Aku memang ingin memberitahunya. Tapi sebelumnya, bisa tidak kau ubah posisimu itu?” pinta Rose.


Yuan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian tersenyum menawan ke arah Rose.


“Tidak.” jawab Yuan yang membuat Rose harus menghela nafas beratnya.


“Selalu saja seenaknya sendiri.” ucap Rose dengan suara kecilnya, namun dapat Yuan dengar dengan jelas.


“Terimakasih atas pujiannya.” kata Yuan sembari mengedipkan matanya sekilas.

__ADS_1


Rose pun sampai mencebik kesal karenanya.


“Ah iya, kalian ingin pesan apa? Biar aku yang pesankan.” ujar Yana, ia sungguh tidak mau menjadi obat nyamuk dari sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu.


“Nanti saja, Feng masih belum datang, kita juga harus menunggunya.” ucap Rose.


Yuan yang mendengar nama Feng disebut oleh sang kekasih pun langsung membelalakkan matanya, kini ia tidak lagi menopang dagunya. Tatapan matanya yang tadinya di penuhi dengan binar cinta, sekarang berubah menjadi tajam, layaknya seekor raja singa yang siap menerkam mangsanya.


“Yuan, ada apa dengan tatapanmu itu?” tanya Rose ketika ia menangkap pandangan mata Yuan yang menusuknya tajam.


“Kau mengajak Feng untuk makan siang bersama?!” tanya Yuan, kini kedua tangannya telah ia sedekapkan di depan dada, menatap Rose dengan pandangan siap mengintrogasi.


“Ah itu, bukan aku yang mengajaknya, tapi Feng, dia, tadi pagi mengajakku untuk makan siang bersama. Karena selama ini aku sering menolak ajakannya dan aku pernah berjanji untuk makan bersamanya lain kali. Jadi aku mengatakan kalau siang ini akan makan bersamanya. Tapi kan aku juga mengundangmu untuk datang, jadi hentikan tatapan tajammu itu, aku ini sedang tidak selingkuh tahu.” protes Rose sembari menunjuk ke arah mata Yuan yang masih menatapnya tajam.


“Oh benarkah? Kalau begitu, kau berniat untuk selingkuh di depanku kan?” ujar Yuan.


Rose memutar bola matanya, merasa gemas dengan tingkah Yuan yang berlebihan. Bahkan, Yana pun juga merasakan hal yang sama.


“Yuan, kau ini benar-benar pacar yang posesif ya. Ah, apa kau ingin bertukar tempat duduk denganku. Duduklah disini, di samping Rose, agar kau bisa mengikatnya dengan baik.”celetuk Yana.


“Ide yang bagus, cepat pindah, aku akan duduk di kursimu itu.” kata Yuan.


“Yuan, jangan kekanakan— ”


“Rose."


Seseorang yang tidak jauh dari tempat duduk mereka terlihat sedang melambaikan tangannya ke arah Rose, ya, hanya ke arah Rose, walaupun disana ada Yana dan— Yuan.


“Ck, kau benar-benar mengajaknya makan bersama?!” ucap Yuan yang lebih terdengar seperti ungkapan rasa kesalnya.


Feng saat itu masih belum menyadari keberadaan Yuan, karena Yuan sama sekali tidak berniat untuk menoleh ke belakang, ke arah dimana Feng berada.


Dengan wajah yang tersenyum merekah, Feng berjalan mendekat ke arah Rose dan Yana.


Dalam posisi yang sangat dekat itu, Feng juga masih belum sadar kalau Yuan ada disana, di sampingnya.


“Oh maaf, tadi masih ada sedikit urusan dengan profesor Gun.” kata Feng.


“Yaa, seorang mahasiswa yang menjadi asisten dosen memang beda dengan kami yang hanya mahasiswa biasa saja.” ujar Yana, membuat Feng tersenyum.


“Jangan berkata seperti itu, aku ini hanya karena keberuntungan saja bisa menjadi asistennya profesor Gun.” ucap Feng.


“Cih, sombong.” cibir Yuan, seseorang yang masih belum di sadari keberadaannya oleh Feng.


Feng yang mendengar dirinya di cibir oleh seseorang dengan suara yang sangat familier di telinganya pun langsung menoleh ke arah sampingnya, dimana sumber suara itu berasal.


Di saat Feng menoleh, di saat itu pula, Yuan juga menoleh. Kedua pria itu seperti dua rival yang sedang bertemu dengan adegan yang sangat mendramatisir.


“Kau, kau kenapa ada disini?!” tanya Feng sembari menunjukkan jarinya tepat di depan wajah Yuan.


Yuan tersenyum sinis, ia menepis jari telunjuk Feng yang telah kurang ajar berani menunjuknya seperti itu.


“Kalian, kenapa tidak pindah tempat duduk saja kalau memang dia lebih dulu ada disini. Lihat, masih banyak kursi makan yang kosong.”  ujar Feng pada dua wanita yang ada di hadapannya itu.


“Eng, Feng, duduklah dulu.” ucap Rose.


“Kenapa menyuruhnya duduk, lebih baik suruh saja dia pergi.” sahut Yuan.


Feng mendesis kesal ke arah Yuan, ia menatap tajam pria yang masih duduk dengan santai di hadapan Rose itu.


“Bukankah seharusnya kau yang pergi dari sini, tuan muda Yuan. Kau itu, tamu tidak di undang disini.” kata Feng.


Yuan menampilkan senyum miringnya, kemudian ia menoleh lagi ke arah Feng yang masih berdiri dan sepertinya tidak berniat duduk sebelum Yuan pergi dari sana.


“Kau sebut aku apa? Tamu tidak di undang. Kalau begitu, kau tanyakan saja pada Rose, aku ini datang kesini karena kemauanku sendiri atau karena dia mengajakku, ayo coba kau tanyakan padanya.” ujar Yuan.

__ADS_1


Feng dengan kesal beralih pandang ke arah Rose, ketika menatap gadis itu, ia mengubah kontur wajahnya menjadi lembut.


“Rose— ”


“Feng, aku memang mengajaknya untuk makan bersama juga.” kata Rose, menyela.


“Ah teman-teman, karena sudah datang semua, kenapa kita tidak mulai pesan makanan saja.” ucap Yana, gadis itu berusaha mencegah keributan yang kemungkinan besar akan terjadi.


Tapi, sepertinya perkataan Yana hanyalah angin lalu yang tidak sengaja melintasi telinga kedua pria yang kini tampak saling adu beradu pandang.


Rose menoleh ke arah Yana, ia menatap Yana dengan raut wajah khawatir-nya. Apa aku salah telah mengajak mereka berdua makan bersama? — kata Rose melalui tatapannya itu.


Yana menghela nafasnya, lalu kemudian beralih lagi menatap kedua pria itu. Kalau sudah seperti ini, bagaimana ia bisa melerai keduanya, bahkan Rose sendiri yang merupakan akar dari perseteruan mereka pun juga bingung.


“Kau mendengarnya kan? Dia bilang, dia yang mengajakku datang untuk makan bersama.” ujar Yuan.


Feng mencebik, memberikan tatapan merendahkan ke arah Yuan.


“Orang sepertimu itu seharusnya tidak pantas untuk makan bersamanya.” ucap Feng.


“Oh?! Benarkah? Bukankah kau yang seharusnya tidak pantas mengajak pacar orang untuk makan bersama?” balas Yuan yang tidak kalah tajam.


Feng mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan perkataan Yuan.


Pacar orang? Siapa? Apa Rose sudah punya pacar? — batin Feng.


“Siapa yang kau sebut dengan tidak pantas mengajak pacar orang untuk makan bersama hah? Rose itu mana ada pacar, kau ini jangan asal bicara.” tanya Feng dengan tangan yang tiba-tiba menarik kerah kemeja Yuan.


Rose dan Yana yang melihatnya pun mulai panik.


Rose sendiri yang melihat kekasihnya di perlakukan seperti itu sudah berniat untuk melerai, tapi tiba-tiba Yuan menatap ke arahnya, lalu menggelengkan kepalanya, melarang Rose untuk ikut campur, takut kalau Rose akan terluka jika gadis itu masuk ke dalam pertengkaran antar pria.


“Tidak percaya? Kalau aku bilang, aku ini pacarnya bagaimana?” ujar Yuan, ia berkata seperti itu tanpa berniat melepaskan cengkraman tangan Feng pada kerah-nya.


Feng tertawa hambar, ia semakin memandang rendah pria yang ada dalam cengkeraman-nya itu.


“Kau itu kalau bicara pakai akal sehat. Jangan bicara sembarangan.”


Yuan tersenyum sinis, kali ini tangannya mulai bergerak menepis cengkraman Feng pada kerah kemejanya.


“Kau, kalau memang tidak percaya denganku, tanya saja padanya. Lalu dengarkan baik-baik jawabannya." ucap Yuan.


Feng menoleh ke arah Rose, untuk yang kedua kalinya ia menatap gadis itu dengan raut wajah penuh tanya. Tapi sekarang, raut wajah itu juga di baluti dengan rasa takut dan juga penasaran.


“Rose, katakan padaku, kalau apa yang dia katakan itu tidak benar.” ujar Feng.


Rose diam, membalas tatapan Feng dalam hening, hatinya merasa ragu, walaupun ia tidak tahu kalau Feng memiliki perasaan padanya, tapi entah kenapa Rose merasa takut melukai hati pria itu.


“Maaf Feng, apa yang Yuan katakan memang benar. Aku dan dia, memang benar— ”


“Sudah cukup.” ucap Feng, menyela perkataan Rose.


“Kau tidak perlu melanjutkannya lagi, aku sudah mengerti.” sambungnya lagi.


“Maaf.” ujar Rose.


“Untuk apa kau meminta maaf padaku, kau sama sekali tidak bersalah. Tapi jujur, aku pikir hatimu itu bermasalah, kenapa kau harus jatuh hati pada pria seperti dia? Kau harus tahu, gadis baik sepertimu tidak seharusnya berada disisi orang sepertinya.” kata Feng.


“Feng, aku tahu maksudmu itu baik. Tapi ini adalah pilihanku. Kau juga tidak berhak menilai orang lain hanya dari luarnya saja.” ujar Rose.


Feng menghela nafas beratnya, ia bahkan mengusap kepalanya kasar, merasa geram dengan Rose yang seolah sudah tersihir oleh pesona Yuan, tanpa peduli lagi dengan nasihat orang lain.


“Dengarkan aku Rose, kelak kau akan menyesal telah berada disisinya.” ucap Feng, setelah itu ia pergi menjauh dari mereka.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2