
Sore itu, Rose terlihat berdiri ditempatnya biasa menunggu Yuan, biasanya Yuan akan datang di sana untuk menjemputnya dan pulang bersama.
Tapi, entah kenapa, sampai sekarang, Yuan belum juga terlihat datang.
Pria itu bahkan tidak membalas pesannya ataupun mengangkat teleponnya.
Rose menghela nafas pelan, merasa khawatir, apakah Yuan sungguh marah besar padanya?
Masalahnya, selama mereka berpacaran, jika Yuan marah, tidak akan sampai seperti ini. Setidaknya, Yuan pasti masih membalas pesannya, walaupun sangat singkat dan tanpa niat. Tidak seperti sekarang, yang sama sekali tidak di balas.
Rose kembali mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk yang tidak ia sadari. Tapi hasilnya tetap nihil, tidak ada satupun pesan yang masuk yang ia terima.
“Rose?” panggil seorang pria, dia Kin, teman baik Yuan.
Kin saat itu sedang berjalan menuju tempat parkir, tak sengaja ia melihat Rose yang tampak berdiri di dekat taman universitas itu.
“Oh, hai. Kau, eh, maksudku, Kin, apa kau ada melihat Yuan?” tanya Rose.
Kin yang mendapat pertanyaan itu dari Rose merasa heran, pasalnya, tiga jam yang lalu, Kin ingat sekali kalau Yuan sudah pergi dari kampus.
“Loh, bukannya Yuan sudah pulang sejak pukul dua belas siang tadi ya? Aku pikir dia pulang bersamamu.” kata Kin.
“Eh? Sudah pulang ya?”
“Iya, sudah dari tadi. Kau tidak tahu? Apa kau dan dia sedang ada masalah? Apa kalian baik-baik saja?” tanya Kin.
Rose tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, tidak ada masalah. Oh iya, terimakasih ya atas informasinya. Kalau begitu, aku pergi dulu.” ujar Rose, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kin yang tampak ragu untuk percaya dengan ucapan Rose.
“Pasti terjadi sesuatu dengan hubungan mereka. Hah, semoga segera terselesaikan.” gumam Kin. Setelah itu, ia kembali melangkah pergi ke tempat parkir kampus.
•••
Rose menghembuskan nafas beratnya, gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya, sekarang kekhawatirannya semakin bertambah daripada sebelumnya.
Dia benar-benar marah, benar-benar marah. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Apa aku harus menemuinya dan meminta maaf? Tapi bagaimana caraku menemuinya? Dia saja tidak mengangkat panggilan dariku, bahkan pesanku juga di abaikan olehnya. Ya tuhan. — batin Rose, sedih.
Seperti hari sebelum Rose berpacaran dengan Yuan. Ia kini duduk di halte bus yang ada di dekat kampus.
Gadis itu duduk disana menunggu bus datang.
Untung saja hari ini Rose bekerja masuk malam, jadi dia tidak akan khawatir kalau ia akan terlambat walaupun sudah tertinggal bus pukul dua tadi.
•••
Nana melangkah keluar dari gedung fakultas seni dan budaya.
Gadis itu tampak berjalan seorang diri dengan pandangan yang menyapu ke segala arah, mencari seseorang yang mungkin telah menunggunya sejak satu jam yang lalu.
“Dimana dia?” gumam Nana sembari membuka layar ponselnya, hendak melakukan panggilan dengan orang tersebut.
“Sayang.” panggil Kai dari sisi kanan Nana.
Pria itu tampak melambaikan tangannya sembari berjalan mendekati Nana— seorang gadis yang belum lama ini resmi menjadi pacarnya. Berkat bantuan dari Alex, ayah Nana.
“Sudah lama menunggu?” tanya Nana.
“Tidak juga.” jawab Kai.
“Pembohong.” ucap Nana dengan senyum tipisnya.
Kai pun ikut tersenyum, membalas senyuman dari kekasihnya itu.
Kemudian, mereka berjalan beriringan, bersama-sama melangkah menuju area parkir kampus.
Sesampainya di tempat parkir kampus, mereka bertemu dengan mobil Kin yang baru saja akan keluar.
Kin yang juga melihat mereka pun membunyikan klakson mobilnya sembari membuka kaca jendelanya.
“Nana.” panggil Kin.
Nana menatap Kin dengan senyum ramahnya, “Iya? Ada apa?” tanya Nana, ia menunggu Kin untuk mengatakan sesuatu.
“Tadi aku tidak sengaja bertemu Rose di dekat taman kampus.” ujar Kin.
“Rose? Oh, mungkin sedang menunggu Yu— eh, tunggu dulu, bukannya tadi kau bilang Yuan sudah pulang lebih awal karena bilang tidak enak badan?” tanya Nana pada Kai yang ada disampingnya.
“Iya, kalau tidak percaya tanyakan saja pada Kin. Benarkan Kin? Yuan memang pulang lebih dulu, dia bilang sedang tidak enak badan.” kata Kai.
__ADS_1
“Ya memang benar, Yuan sudah pulang dari jam dua belas siang tadi. Tapi masalahnya, tadi waktu aku bertemu Rose, dia bertanya kepadaku apa aku melihat Yuan. Itu artinya, Rose tidak tahu kalau Yuan sudah pulang lebih dulu karena ijin sakit. Tadi aku juga lupa tidak memberitahu Rose kalau alasan Yuan pulang cepat karena sakit, aku hanya memberitahu dia kalau Yuan sudah pulang sejak tiga jam yang lalu. Aku pikir, sepertinya mereka sedang bertengkar.” ujar Kin, memberikan asumsinya.
Nana yang mendengar kata ‘bertengkar’ pun langsung teringat dengan kejadian pagi tadi, dimana ia bertemu Yuan yang terlihat sedang emosi, bahkan dirinya pun sampai tidak berani mengusik pria itu.
“Apa kau tahu dimana Rose sekarang? Apa dia masih ada di taman kampus?” tanya Nana.
“Aku tidak tahu dia ada dimana sekarang. Soalnya tadi setelah aku mengatakan kalau Yuan sudah pulang sejak tiga jam yang lalu, dia langsung pamit pergi begitu saja.” jawab Kin.
“Kau ingin mencarinya?” tanya Kai pada kekasihnya, Nana.
Nana mengangguk, kemudian beralih menatap Kin kembali. “Kin, terimakasih sudah memberitahukannya padaku.” ucap Nana.
“Ya sama-sama. Kalau begitu aku pulang duluan ya, sampai jumpa.” kata Kin yang kemudian melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir kampus.
“Kai, maaf, hari ini aku tidak pulang bersamamu ya. Aku harus pergi mencari Rose, dia pasti sekarang sedang ada di halte bus untuk pulang. Kau tidak masalah kan?” tanya Nana pada sang kekasih.
“Kenapa kita bertiga tidak pulang bersama saja? Aku juga bisa mengantarnya pulang.” ujar Kai.
“Bukankah tadi kau bilang kalau dirimu itu sedang ada urusan. Aku tidak ingin menyusahkan mu, kau juga jangan menyusahkan dirimu sendiri. Kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin menemani Rose, setelah itu pulang ke rumah. Nanti kalau aku sudah sampai di rumah, aku akan menghubungimu, aku janji.” kata Nana.
Kai menghela nafasnya, pasrah, terpaksa harus setuju, walaupun ia ragu.
Kai pikir, lebih baik ia mengantarkan Nana dan juga Rose. Tapi dirinya saat ini memang sedang ada urusan, Kai harus menggantikan ayahnya untuk sementara waktu bekerja di pabrik roti.
“Kalau begitu hati-hati ya. Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu ataupun Rose.” ujar Kai.
Nana mengangguk paham, kemudian pamit pergi dan melangkah menjauh dari Kai yang masih berdiri menatap Nana yang semakin lama, semakin menghilang dari jangkauan pandangannya.
•••
“Belum datang juga.” gumam Rose, ia masih duduk termenung menunggu bus datang ke halte itu.
Sudah hampir setengah jam lebih, tapi tidak ada tanda-tanda adanya bus yang akan datang ke halte tersebut.
Rose pun mulai gelisah, apa jadwal bus sudah berubah? Atau ada kendala lain? Kenapa sampai sekarang bus nya belum datang juga, pikir Rose.
Ia kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu mulai membuka ponselnya lagi. Memeriksa, apakah ada pesan masuk dari Yuan atau tidak. Tapi tetap saja, hasilnya mengecewakan, nihil, tidak ada satupun kabar tentang Yuan.
Dia sungguh marah? Tapi kenapa harus sampai seperti ini? Pulang duluan tanpa memberitahuku. Kalau tadi aku tidak bertemu Kin, sampai malam aku akan berdiri di taman kampus menunggunya. Hah, Yuan, sebenarnya ada apa denganmu, hanya karena aku magang satu tempat dengan Feng, kau sampai marah seperti ini.
“Rose.” panggil Nana yang akhirnya sampai di halte bus dimana Rose masih setia menunggu salah satu bus datang ke halte itu.
Rose yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh, ia menoleh ke arah Nana yang tampak terengah-engah di hadapannya.
“Nana? Ada apa? Kau sampai terengah-engah seperti itu. Apa ada orang jahat yang mengejarmu?” tanya Rose, pandangannya langsung mengarah ke belakang tubuh Nana, mencari siapapun yang mungkin mengikuti temannya itu.
“Biarkan aku mengatur nafas dulu. Baru menjelaskannya padamu.” ucap Nana sembari duduk di samping Rose.
Melihat Nana yang tampak kelelahan, Rose pun mengambil sebotol air mineral yang masih tersegel dari dalam tas-nya, lalu memberikannya kepada Nana.
“Ini, minumlah dulu.” ujar Rose dengan tangan yang menyodorkan sebotol air mineral yang telah ia buka tutupnya.
Tanpa menunggu lama, Nana langsung meraih air mineral yang Rose berikan padanya, kemudian meneguknya hingga setengah.
“Terimakasih.” ucap Nana setelah meneguk air mineral yang Rose berikan padanya.
“Iya, sama-sama. Jadi, apa yang membuatmu sampai seperti ini?” tanya Rose.
“Kau.” ucap Nana, masih dengan diri yang mengatur nafasnya.
“Eh? Aku? Aku kenapa? Apa kau berlari karena aku? Tapi kenapa?” tanya Rose, yang tidak mengerti dengan ucapan Nana.
“Aku berlari memang karenamu. Tapi kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku, ada alasannya kenapa aku berlari karenamu.” ujar Nana yang mulai bernafas dengan normal.
“Ha? Maksudnya bagaimana? Coba kau jelaskan dengan benar padaku. Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud perkataanmu itu.” kata Rose.
“Aku berlari dari kampus ke halte bus ini untuk menemuimu. Ah, intinya aku datang kemari karena khawatir padamu. Aku sudah mendengarnya dari Kin. Tadi kau menunggu Yuan, tapi ternyata Yuan sudah pergi lebih dulu dan tidak memberitahumu.” ujar Nana.
Mendengar perkataan dari Nana itu, Rose pun menundukkan kepalanya, rasa sedih kembali menyelimuti dirinya.
Nana yang melihat temannya seperti itu, sungguh merasa iba. Ia bahkan sampai menghela nafasnya, ikut sedih dengan apa yang terjadi pada Rose.
“Rose, Yuan memang pergi lebih dulu, dia pulang lebih dulu karena ijin sakit. Dia— ”
“Apa? Tadi kau bilang Yuan pulang lebih dulu karena ijin sakit? Dia sakit apa? Kenapa tidak— ah, ya ampun sebenarnya ada apa dengannya?” ucap Rose, dengan hati yang penuh tanda tanya.
“Rose, pagi tadi aku melihat Yuan keluar dari fakultas hukum dengan raut wajah marahnya, apa kau dan dia sedang bertengkar?” tanya Nana.
Rose menatap ke arah Nana dalam diam. Pikirannya kembali berputar mundur, mengingatkan dirinya tentang kejadian pagi tadi, dimana ia ribut dengan Yuan karena Rose masih kekeuh ingin magang di firma hukum Anyu.
__ADS_1
“Aku rasa begitu. Aku juga tidak tahu kalau perdebatan itu bisa sampai membuatnya seperti ini. Dia sungguh marah besar padaku ya?” tanya Rose, bertanya pada dirinya sendiri.
“Kau tenang dulu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Coba kau ceritakan padaku, sebenarnya apa yang kalian perdebatkan?” kata Nana sembari menepuk pelan bahu Rose, menyalurkan rasa tenang ke hati gadis itu.
“Masalah magang.” jawab Rose dengan kepala tertunduk lesu.
“Hanya karena masalah magang?”
Rose menghela nafasnya,
“Aku lupa memberitahu Yuan kalau aku magang satu tempat dengan Feng. Dan tadi pagi, Yuan baru tahu, dia awalnya tidak marah. Tapi dia menyuruhku untuk pindah tempat magang karena tidak suka melihatku lebih sering bertemu dengan Feng daripada dirinya. Tapi aku menolaknya, karena memang sejak dulu, aku ingin magang di firma hukum Anyu. Firma hukum yang sangat terkenal dan sukses itu, bagaimana mungkin aku melepaskannya begitu saja. Mendapatkan pengalaman magang di sana sungguh luar biasa.” kata Rose.
“Lagipula, aku magang disana juga tidak hanya berdua saja dengan Feng, tapi masih ada Yana, anak dari pemilik firma hukum itu. Nana, apa pilihanku ini salah? Apa aku ini egois karena aku lebih memilih untuk tetap magang disana dan mengabaikan keinginan Yuan? Katakan padaku, apa aku salah? Aku sungguh telah berbuat kesalahan kan?” tanya Rose yang tampak tidak percaya diri.
Nana menghembuskan nafas beratnya,
“Kalian berdua sama-sama salah.” jawab Nana.
“Eh? Kami berdua? Bukan salah satu dari kami yang salah, tapi kami berdua yang salah? Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Rose yang merasa heran dengan jawaban dari Nana.
“Ck, dasar bodoh. Kau itu sama sekali tidak peka ya? Yuan bersikap seperti itu karena dia cemburu dan juga takut kehilanganmu. Karena nantinya kau lebih sering bertemu dengan Feng daripada dirinya, Yuan takut kalau nanti Feng bisa dengan mudah merebutmu darinya.” ujar Nana.
“Jika seperti itu, maka ini semua salahku. Bukan salah Yuan juga.” ucap Rose sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja Yuan juga salah. Yuan, dia itu terlalu posesif padamu sampai dibutakan dengan pikiran negatif terus. Dia juga kurang menaruh rasa percayanya padamu, karena itu dia terlalu takut kalau kau sampai jatuh ke tangan Feng.” kata Nana.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Rose.
“Rose, kau pernah mendengar pepatah yang berkata seperti ini ‘meminta maaf bukan berarti salah’. Aku sarankan kau minta maaf padanya. Nanti aku juga akan menyuruhnya untuk meminta maaf padamu. Bagaimana?”
Rose mengangguk setuju,
“Mohon bantuanmu ya Nana. Tapi sebelumnya, maaf karena sudah melibatkanmu dalam masalah hubunganku dengan Yuan, maaf juga karena harus merepotkanmu.” kata Rose.
Nana tersenyum,
“Aku akan membantumu, kau juga jangan terlalu sungkan seperti itu. Aku ini temanmu juga. Sebagai seorang teman, aku punya hak dan kewajiban untuk membantumu.” ujar Nana.
“Iya, sekali lagi terimakasih.” ucap Rose yang dibalas dengan anggukan oleh Nana.
•••
Di sebuah mini bar, terlihat seorang pria tampak menundukkan kepalanya dengan raut wajah kesalnya.
“Bukankah anda tuan muda Yuan? Pewaris tunggal perusahaan Tnp group?” tanya seorang wanita yang bekerja di bar itu.
Pria yang menundukkan kepalanya itu pun mendongak, menatap si wanita yang berpakaian seksi disampingnya.
Pria itu Yuan, dia menatap kosong ke arah wanita penghibur itu.
“Apa kau butuh alkohol untuk menenangkan dirimu yang terlihat kacau ini?” tanya wanita itu sembari duduk disamping Yuan.
“Pergi.” ucap Yuan dengan nada memberi peringatan.
“Tuan muda Yuan, anda terlihat kacau seperti ini, apa baru saja bertengkar dengan pacar anda? Biasanya orang yang memiliki aura seperti anda saat ini sedang merasa frustasi dengan hubungan asmara mereka. Apa tuan muda Yuan juga seperti itu?” tanyanya lagi, masih tidak mau menyerah.
Yuan hanya diam, tidak menanggapinya. Ia mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan kembali meneguk kaleng cola-nya yang hampir kosong.
“Anda terlihat sangat kesepian, saya yakin pacar anda sangat payah dalam mengurusi anda. Tuan muda Yuan, biarkan Monica ini menemani anda.” ujar wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Monica.
Monica semakin mendekatkan dirinya pada Yuan, gadis itu tampak menempel pada lengan kanan Yuan, membuat Yuan merasa risih dan juga geram dengan sikap menjijikkan wanita itu. Bahkan terlihat, tangan Yuan tampak meremas kaleng soda yang isinya sudah habis ia minum.
“Menjauh dariku!” bentak Yuan, yang sontak membuat seisi bar itu menatap ke arahnya.
“Siapa pemilik bar ini?! Berani-beraninya memelihara wanita menjijikan seperti dia ini!” ucap Yuan.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan tahun tampak terkejut ketika menyadari siapa yang telah mengeluarkan suara bentakan itu, pria yang notabenenya si pemilik bar ini langsung berlari menghampiri Yuan.
“Tuan muda Yuan, maaf atas kesalahan pegawai saya! Maaf.” ujar pria itu.
Yuan mendengus kesal, ia kemudian turun dari kursi bar dan berdiri dihadapan si pria pemilik bar itu.
“Ajari dia dengan benar, dan akan lebih baik jika kau memecatnya. Aku sungguh tidak suka melihat orang menyentuhku tanpa ijin dariku, dan lagi, dia sudah berani sekali menghina pacarku. Wanita sialan sepertinya tidak pantas ada di bar mu ini. Apa kau paham?!” ujar Yuan dihadapan pria pemilik bar yang tampak menundukkan kepalanya.
“Iya tuan muda Yuan, saya paham. Saya pastikan, setelah ini, saya akan memecatnya.”
“Tidak, tidak, saya mohon tuan muda Yuan ampuni saya. Saya tidak bermaksud menghina pacar anda atau menyentuh anda tanpa ijin, saya hanya ingin menghibur diri anda. Tuan muda Yuan.” ujar Monica.
Tapi apalah dayanya, Yuan mengabaikan dirinya, pria yang dipanggil tuan muda itu pun melenggang pergi dari dalam bar itu. Menyisakan ketegangan dan ketakutan yang masih merajai hati beberapa orang.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍