
Malam itu di ruang makan, terlihat banyak hidangan makan malam yang tersaji di meja makan panjang itu.
Semua itu adalah bentuk penyambutan selamat datang kembali untuk Alex. Pria yang kini hampir berkepala lima itu akhirnya pulang ke rumah mereka setelah kurang lebih sebelas tahun pergi ke luar negeri.
Rasa syukur dan haru meliputi ruangan itu, canda tawa dan pertukaran cerita menjadi warna dari suasana makan malam.
"Papa, ayo coba masakan ini. Aku yang memasaknya sendiri." Ujar Nana, tangannya menggeser sebuah piring berisi Mushroom Risotto kearah Alex.
"Benarkah? Ah iya, waktu itu kau pernah bercerita ke papa kalau kau belajar memasak. Jadi ini hasil masakanmu ya, papa jadi penasaran bagaimana rasanya." Kata Alex sembari meraih piring yang Nana sodorkan padanya.
"Aku sarankan jangan memakannya paman, nanti paman bisa diare selama dua hari karena memakan masakannya. Aku ini bukti hidupnya." Ujar Yuan, pria itu menatap piring yang Alex pegang dengan pandangan ngeri nya, teringat bagaimana dirinya dulu menjadi pencicip pertama karya masakan Nana yang membuat Yuan harus diare selama dua hari penuh.
"Itu beda bodoh. Waktu itu adalah pertama kalinya aku masak, jadi yaaa wajar saja jika kau harus diare." Sanggah Nana yang tidak terima dengan komentar Yuan tentang masakannya itu.
"Jadi maksudmu, waktu itu aku ini kelinci percobaanmu?!" Yuan memandang kesal sepupunya itu.
Nana mengangkat bahunya sekilas, menatap Yuan dengan wajah tidak peduli atas kemarahan pria itu.
"Yaa begitulah." Jawab Nana seadanya.
Yuan terlihat tersulut api emosi, ia ingin membalas perkataan Nana dengan seribu ocehannya. Tapi Alex kemudian menjadi penengah diantara perdebatan keponakan dan anaknya itu.
"Sudah sudah, jika kalian berdua ribut. Kami para orangtua tidak bisa makan dengan tenang, benarkan Kak?" Ujar Alex yang meminta dukungan dari Ray.
Ray menghela napasnya sejenak, ia kemudian meletakkan sendok-nya di piring, menatap kedua anak muda yang berbeda jenis itu bergantian.
Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Alex, menatap adiknya itu sedikit lebih lama.
"Aku sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka. Tidak masalah bagiku, telingaku seakan menuli dengan sendirinya saat mereka mulai adu mulut satu sama lain. Yaa kau akan merasakan itu jika sering menghabiskan waktu bersama anak-anak." Kata Ray masih dengan pandangannya pada Alex.
Pada awalnya Ray memang seringkali marah saat Yuan dan Nana berdebat, tapi lambat laun waktu berjalan, ia sudah terbiasa. Lagipula, mereka seperti kakak adik yang bertengkar kecil, itu hal yang wajar. Dan juga, karena pertengkaran dua anak muda beda jenis itu, membuatnya merasa jika Nana sudah seperti anaknya sendiri. Tanpa perlu memiliki anak lagi, Ray maupun Ana bisa merasakan memiliki dua anak dengan beda jenis.
"Hah?" Alex seperti masih tidak bisa percaya dengan sikap Ray yang begitu tenang dan tidak mempermasalahkan perdebatan anak-anak mereka.
Ana tertawa kecil, ia kemudian menatap ke arah Alex.
"Itu karena kami sudah terbiasa. Sejak kecil mereka berdua selalu bersama, perdebatan mereka itu hal yang wajar bagi kami." Ucap Ana dengan nada lembutnya.
"Aaa begitu ya. Yah sepertinya aku memang kurang berpengalaman tentang anak-anak." Kata Alex sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kami bukan anak-anak lagi paman. Dan juga, kalau paman merasa seperti itu, maka tebuslah kekurangan paman dengan menghabiskan waktu bersama anak paman. Iya kan Nana?" Yuan menatap Nana dengan mata yang sekilas terlihat berkedip sebelah.
__ADS_1
Nana tersenyum dengan penuturan Yuan, ia kemudian menatap ayahnya dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah manis itu.
"Hah, kalian memang ayah dan anak yang menyebalkan." Ucap Alex dengan senyumannya, mendapatkan nasehat yang memiliki arti sama dari Yuan dan Ray, membuat hati dan pikiran Alex tak bisa abai dengan nasehat itu.
"Mereka sedang memintamu untuk tinggal di negara ini kembali. Dengan begitu kau ataupun Nana bisa lebih sering bertemu." Kata Calista, ibu Alex.
Alex menoleh pada Nana, menatap anaknya itu.
"Yah perkataan kalian membuat pikiranku menjadi berat. Baiklah, aku akan memikirkannya." Ucap Alex dengan mata yang memandang satu persatu keluarganya itu.
Terimakasih—semuanya. - Batin Alex.
"Kalau begitu, ayo cepat coba cicip masakanku, papa." Ujar Nana mencoba mengalihkan suasana agar kembali berwarna ceria lagi.
"Em, oke. Papa akan mencobanya." Kata Alex, tangannya kemudian menyendok Mushroom Risotto yang Nana buat dengan sepenuh hari itu.
"Bagaimana?" Tanya Nana.
"Eng, ini—" raut wajah Alex saat ini seperti seorang chef yang sedang memberikan penilaian tentang rasa masakan itu.
"Tidak enak kan?" Tanya Yuan yang sudah menebaknya sejak awal.
"Yah, ini—enak sekali!" Kata Alex setelah membuat orang penasaran dengan tanggapannya.
"Iya." Jawab Alex.
"Aku tidak percaya itu." Ucap Yuan lirih.
"Kau bisa mencobanya sendiri Yuan." Ujar Ana.
"Tidak mom, aku tidak mau sakit perut lagi." Kata Yuan.
Semua orang di meja makan itu tampak tertawa dengan ekspresi Yuan yang tampak trauma dengan masakan Nana.
•••
Tok. Tok. Tok
"Siapa? Nana?" Tanya Yuan yang mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dari luar sana.
"Iya, boleh aku masuk?" Tanya Nana meminta ijin, sebenarnya dia bisa saja langsung masuk karena pintu kamar Yuan tidak dikunci. Tapi ingatan nya tentang kecerobohannya saat sekolah menengah atas dulu membuat Nana berjanji tidak akan masuk kamar seorang pria sekalipun itu kamar Yuan tanpa permisi terlebih dahulu.
__ADS_1
Ya, sekitar empat tahun yang lalu, saat Nana menginap di rumah Yuan. Pagi hari, Nana berniat membangunkan Yuan. Dirinya masuk begitu saja ke kamar Yuan. Saat Nana masuk ke kamar Yuan, pria itu sedang memakai celananya, hal itu sontak membuat mereka berteriak histeris dan beberapa hari merasa canggung satu sama lain karena sama-sama malu.
"Masuklah." Sahut Yuan dari dalam sana.
Setelah mendapat ijin dari pemilik kamar, Nana membuka pintu kamar itu, ia masuk kedalam dan menutup kembali pintu kamar Yuan.
"Ada apa?" Tanya Yuan yang sedang mengatur kunci gitarnya.
"Tidak ada." Jawab Nana seraya duduk di sisi ranjang tepat disamping Yuan.
"Kau merasa lebih baik sekarang?" Tanya Yuan melirik Nana sekilas.
"Em, sangat." Jawab Nana dengan senyumannya.
"Baguslah." Ucap Yuan masih dengan fokusnya pada gitar.
"Oh iya, sekarang aku punya teman perempuan loh." Kata Nana.
"Benarkah? Apa mereka menitip salam kepadamu untukku? Kau tidak jera ya, berulangkali di manfaatkan para gadis-gadis itu." Ujar Yuan, pria itu mulai memetik dawai gitarnya.
"Kali ini berbeda, kami benar-benar berteman." Ucap Nana.
"Ck, kau dulu juga pernah mengatakan itu, pada akhirnya kau hanya di manfaatkan juga." Kata Yuan.
"Kau lihat saja nanti. Mulai besok, aku tidak akan sesering mungkin ada disampingmu, karena aku sudah punya teman wanita." Ucap Nana tersenyum senang pada dirinya sendiri. Hari ini ia mendapat dua kebahagiaan sekaligus. Memiliki teman dan juga bertemu sang ayah.
Yuan menatapnya sekilas, kemudian menghela nafasnya dan mengabaikan sepupunya itu. Ia mulai melantunkan lagu-lagu yang menggetarkan jiwa orang-orang yang mendengarnya.
*Bunga, burung, angin, bulan. Hingga kini aku mencarinya dengan menatap langit. Kedamaian yang hanya sesaat ini adalah kesunyian sebelum terjadi badai. Semakin aku berharap keabadian, waktu pun menjadi semakin kejam.
Luka di masa lalu dan dosa yang dipikul. Misi untuk berubah dengan satu langkah berani. Sekarang aku di sini untuk melindungi pemandangan dan menantikan pagi yang baru.
Bunga, burung, angin, bulan. Waktu terus berubah namun kenangan itu fana. Aku ingin berada di sisimu. Hanya itulah alasanku hidup
Ke mana perginya bintang-bintang yang memancarkan cahaya kesepian itu ? Kegelapan yang membayangi cahaya itu bagaikan laut yang sunyi
Sesuatu yang menghembus dan memutar langit itu. Demi melindungi senyum yang tak berubah seperti hari itu. Sekarang aku akan bangkit
Diterpa oleh hujan bulan Juni. Dihembus oleh salju bulan Februari. Lagu pengantar tidur yang hangat itu. Aku mencarinya dengan menatap langit
Keindahan alam abadi di langit dan bumi. Lalu apakah yang kita takutkan? Kehidupan ini akan kembali lagi. Cinta, cinta, dan cinta.
__ADS_1
Bahkan pada padang gurun kesedihan ini. Ada benih-benih kebahagiaan yang tertidur. Dengan air mata yang membasahi tanah ini. Mari kita memekarkannya. — (terjemahan lagu kachofugetsu - coalamode, ost. boruto*)
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍