
Yuan memarkirkan mobilnya di area parkir gedung apartemen tempat Rose tinggal.
Setelah memarkirkan mobilnya, Yuan bergegas keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam gedung apartemen itu.
Langkah kaki Yuan terlihat lebar, pria itu berjalan cepat, ingin segera bertemu dengan wanita yang beberapa jam lalu pergi begitu saja dari hadapannya.
Sesampainya di depan pintu apartemen Rose, Yuan langsung mengambil kunci cadangan apartemen yang selama ini diam-diam ia simpan. Yuan sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang genting.
Seperti saat ini, bagi Yuan, situasi saat ini sangat genting untuknya.
“Rose.” panggil Yuan ketika dirinya telah masuk ke dalam apartemen tersebut.
Tapi beberapa detik berlalu, Yuan masih belum menerima jawaban dari si pemilik apartemen yaitu Rose. Bahkan apartemen Rose itu seperti tidak berpenghuni, semua lampu tidak ada yang menyala, seluruh ruangan terlihat gelap gulita, karena tirai jendela pun juga tertutup rapat.
“Rose, ini aku, Yuan. Maaf aku langsung masuk ke dalam apartemenmu tanpa ijin darimu dulu, aku bisa menjelaskan itu nanti. Sekarang, bisakah kau keluar dan kita mulai berbicara tentang masalah tadi sore?” kata Yuan, ia masih tampak berdiri di depan pintu masuk apartemen yang terbuka.
Tidak ada jawaban, senyap. Hanya keheningan yang menyapa pria itu.
“Rose, apa kau sedang mengajakku bermain hide and seek? Yaa, apartemenmu saat ini memang terasa menyeramkan, sangat cocok untuk bermain permainan itu.” ujar Yuan sembari menutup pintu apartemen tersebut. Lalu kemudian, ia mulai meraba dinding untuk mencari sakelar lampu.
Tidak butuh waktu lama bagi Yuan untuk menemukan tombol tersebut, karena ia sudah cukup hafal dengan setiap sudut ruangan apartemen milik Rose.
Setelah menekan tombol untuk menghidupkan lampu, ruang tamu apartemen kecil itu pun akhirnya terlihat terang, mengusir kegelapan dengan cahaya lampu yang telah menyala.
“Apa dia tidak pulang ke apartemennya?” gumam Yuan sembari menyalakan satu-persatu sakelar lampu yang ada di apartemen Rose.
Setelah selesai menyalakan semuanya, Yuan tampak berhenti di depan sebuah pintu, itu pintu kamar Rose.
Hati Yuan berkata kalau dirinya ingin sekali masuk ke dalam kamar tersebut, tapi diri Yuan menolaknya.
Dulu ketika Yuan masih menumpang tempat tinggal di apartemen Rose ini, pria itu sama sekali tidak pernah memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam kamar itu.
Bukannya tidak ada kesempatan, tapi ia sendiri yang tidak memiliki niatan untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
“Apa dia ada di dalam kamarnya?” tanya Yuan pada dirinya sendiri. “Tapi dilihat dari kondisi apartemennya yang gelap seperti tadi. Rose pasti belum pulang ke apartemennya.” ucap Yuan.
“Rose, sebenarnya kau ada di mana? Kau membuatku khawatir. Kau bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali, ponselmu juga mati, aku benar-benar tidak bisa menghubungi dirimu. Ck, sekarang aku harus bagaimana menyelesaikan masalah denganmu?” gumam Yuan, masih dalam posisi berdiri di depan kamar Rose.
Cukup lama Yuan berdiri di depan pintu kamar itu, akhirnya ia pun memutuskan untuk berbalik dan pergi menuju ruang tamu.
Tapi ketika badannya baru saja ingin berputar ke belakang. Suara batuk dari dalam kamar Rose tiba-tiba terdengar, untuk beberapa saat, Yuan merasa merinding, karena suara batuk itu terasa berat tapi juga ringan, membuat Yuan merasa kesulitan menebak, apakah itu suara batuk milik seorang perempuan atau laki-laki?
“Rose?” panggil Yuan sembari melangkahkan kakinya semakin mendekati pintu kamar Rose.
Disaat seperti ini, entah kenapa tiba-tiba aku teringat dengan ibunya Rose yang meninggal belum lama ini. Ya, Belum ada dua bulan ini ibunya meninggal. Apa jangan-jangan~
Ah! Tidak mungkin, di dunia ini mana ada yang namanya hantu. Aku, Yuan Mauli Gavin tidak percaya dengan yang namanya hantu. Kalaupun hantu itu ada, aku tidak akan takut.
Ya, aku tidak akan takut.
Tapi, kenapa— tidak ada sahutan dari dalam ya? Padahal aku sudah panggil nama Rose, apa itu bukan Rose? Atau mungkin itu saudara Rose?
“Rose, apa kau ada di dalam?” tanya Yuan, tangan pria itu sudah terlihat memegang handle pintu kamar tersebut, bersiap untuk membukanya dan masuk ke dalam, namun hati kecilnya merasa ragu.
Masuk atau tidak ya? — batin Yuan.
Ah! Masa bodoh dengan hantu atau siapapun yang ada di dalam kamar Rose, yang terpenting sekarang aku harus masuk ke dalam, memastikan siapa yang ada di dalam kamar ini.
Setelah cukup lama berdebat dengan pikirannya, Yuan pun akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar Rose yang ternyata tidak di kunci.
__ADS_1
Suara pintu kamar terbuka pun membuat adrenalin Yuan berpacu sedikit lebih cepat, apalagi ketika dirinya tiba-tiba teringat suara batuk misterius itu, sungguh detakan jantung Yuan saat ini bisa didengar tanpa alat bantu stetoskop.
“Rose, ini aku Yuan. Aku masuk ya.” ujar Yuan yang kemudian membuka lebar pintu kamar itu agar dirinya bisa masuk ke dalam.
Ketika pintu kamar di buka, hal pertama yang Yuan lihat adalah kegelapan, sama seperti ketika dirinya pertama kali masuk ke dalam apartemen itu tadi.
“Rose, apa kau juga lupa menyalakan lampu kamarmu?” tanya Yuan, menguatkan hatinya yang merasa sedikit bergetar ketakutan, karena pandangannya tanpa sengaja menangkap sebuah sileut berwarna putih yang tampak duduk di pinggiran tempat tidur Rose.
Tapi Yuan masih mencoba berpikir positif dan menepis segala macam pikirian negatif yang sedang memaksa masuk ke dalam hatinya.
“Rose, apa kau baik-baik saja? Kenapa hanya diam saja? Apa kau masih marah padaku?” tanya Yuan sembari berjalan perlahan-lahan mendekati tempat tidur Rose.
“Rose.” panggil Yuan ketika dirinya telah sampai di sisi ranjang bagian kiri, bersebrangan dengan sileut seseorang yang tampak berpakaian putih itu.
“Yuan? Kenapa kau ada di dalam kamarku?” tanya Rose.
Tapi anehnya, suara itu berasal dari pintu masuk kamar tersebut, bukannya berasal dari sosok dengan pakaian putih dihadapan Yuan saat ini. Fakta itu, membuat Yuan langsung menolehkan kepalanya dengan jantung yang sudah mulai lari maraton.
Ketika Yuan menoleh, disana terlihat Rose berdiri di depan pintu kamarnya sembari membawa sebuah kantong plastik yang sepertinya berisi makanan.
Melihat Rose yang berdiri di depan pintu kamar tersebut, Yuan pun merasa heran dan juga bingung.
Kalau yang berdiri di depan pintu itu adalah Rose, lalu siapa orang dengan pakaian putih yang aku lihat duduk di pinggir tempat tidur Rose tadi? — batin Yuan yang sudah bergidik ngeri.
Tapi karena rasa penasarannya yang tinggi, Yuan pun kemudian menolehkan kepalanya dengan perlahan. Yuan kembali menoleh ke arah tempat tidur, memastikan apakah sileut orang berpakaian putih tadi masih ada disana atau tidak.
Tapi ketika Yuan telah menoleh, pria itu tidak melihat apapun disana, tidak ada bayangan orang apalagi sileut tubuh seseorang, yang Yuan lihat hanyalah kekosongan.
Sungguh sangat tidak lucu, apa tadi aku baru saja bertemu hantu?
Ini pasti hanya perasaanku saja. Aku masih tidak percaya dengan yang namanya hantu.
“Ada apa Yuan?” tanya Rose yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Yuan saking terkejutnya, ia sampai melompat ke atas tempat tidur Rose. Pria itu bersembunyi dibalik selimut dengan tubuh yang tampak bergetar ketakutan.
Lalu tidak lama kemudian, Yuan dapat mendengar suara tawa pecah dari seorang perempuan yang tidak asing baginya. Itu bukan suara tawa dari Rose, tapi dari teman Rose yaitu Yana.
Mengetahui kalau dirinya adalah korban kejahilan seseorang, Yuan pun segera keluar dari persembunyiannya di balik selimut. Pria itu terlihat meleparkan selimut milik Rose ke sembarang tempat. Lalu terlihat oleh Yuan, gadis dengan pakaian putih tadi tertawa sembari memegangi perutnya.
“Apa ada yang lucu?!” tanya Yuan dengan nada dinginnya.
“Yuan, Yana hanya bercanda, kau jangan marah seperti itu.” ucap Rose sembari menekan tombol sakelar yang ada di dekat pintuk kamarnya.
“Kau bersekutu dengannya untuk mengerjaiku ya?!” tanya Yuan pada Rose yang tampak berjalan untuk mengambil selimut yang Yuan lempar tadi.
“Apa? Bersekutu untuk mengerjaimu? Untuk apa aku melakukan itu? Kau pikir aku orang yang memiliki banyak waktu santai sampai harus membuang waktu untuk mengerjaimu.” jawab Rose sembari melipat selimutnya, lalu meletakkan kembali ke atas tempat tidurnya.
“Terus maksudnya tadi apa?!” tanya Yuan, lalu kemudian ia tampak beralih tatap ke arah Yana yang masih tetawa lepas. “Kau, siapa namamu?”
“Yana.” ucap Yana dengan nada santainya.
“Ya, kau Yana, apa maksdumu menakutiku seperti itu tadi? Bagaimana kalau aku ini punya penyakit jantung? Kau ingin bertanggungjawab kalau aku mati ha?” ujar Yuan.
Yana terlihat tersenyum menyeringai, ia menatap Yuan tanpa rasa takut.
“Ck, aku mana tahu kalau ternyata tuan muda Yuan yang terhormat ini seorang penakut. Kalau tahu seperti itu, aku pasti tidak akan menakutimu. Dan lagipula kau sampai saat ini masih terlihat baik-baik saja, kau juga tidak mati, jantungmu masih berdetak dengan baik kan? Jadi tidak perlu khawatir. Anggap saja tadi itu seperti berada di wahana rumah berhantu.”
“Kau, beraninya dirimu itu mengataiku penakut, siapa yang penakut ha?!” kata Yuan yang tidak terima dengan perkataan dari Yana tadi.
__ADS_1
“Yuan, sudahlah, Yana kan hanya bercanda denganmu. Kenapa kau harus marah dan memperumitnya.” sahut Rose dengan tangan yang sudah bersedakap di depan dada sembari bersandar pada dinding yang ada di dekat jendela kamarnya.
“Lagipula kau itu lain kali jangan sembarangan asal masuk kamar orang tanpa ijin dari si pemilik, kalau seperti tadi baru tahu kan akibatnya.” ujar Rose
“Apa? Kau— hah, Rose, jujur padaku, kau benar-benar bersekutu dengannya untuk mengerjaiku kan?” tanya Yuan lagi.
“Ck, sudah aku katakan, aku tidak punya waktu santai untuk melakukan itu. Lagipula kau melihatnya sendiri, aku baru datang dengan membawa kantong plastik. Aku mana tahu kalau Yana akan mengerjaimu seperti itu. Ya, memang waktu tadi Yana berdiri di belakangmu, aku tahu, tapi bukan berarti aku ikut serta dalam rencana jahil Yana. Kalau tidak percaya tanya saja pada Yana.” ujar Rose.
Gadis itu kemudian tampak berjalan ke arah meja dimana ia meletakkan kantong plastik berisi bahan makanan yang ia beli dari minimarket tadi.
“Kalau kau tidak ada urusan lagi, keluarlah dari kamarku. Kamarku ini tidak terbuka untuk umum, apalagi untuk laki-laki. Cepat keluar.” kata Rose sembari berdiri di depan pintu, menunggu Yuan untuk keluar dari dalam kamarnya.
Perlahan, Yuan pun turun dari atas tempat tidur Rose, lalu kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu keluar kamar.
Namun ketika dirinya melewati Yana yang ternyata memang memakai pakaian berwarna putih, yaitu dress tidur. Yana terlihat tersenyum smirk ke arah Yuan, membuat pria itu merasa ingin menarik rambut Yana yang panjang dan mirip kuntilanak itu.
“Yuan, cepat.” ucap Rose, ia sudah tidak sabar menunggu Yuan yang terlihat berhenti sejenak menatap Yana tajam.
“Iya iya, aku keluar.” kata Yuan, pria itu kemudian terlihat keluar dari dalam kamar Rose.
Setelah Yuan keluar, Rose pun menutup pintu kamarnya kembali, tapi sebelum pintu itu tertutup rapat, Rose tampak memberikan lemparan ibu jarinya ke arah Yana.
“Candaan yang bagus Yana.” ucap Rose melalui tatapannya.
Yana pun tersenyum lebar sembari menyatukan jari telunjuknya dengan ibu jarinya membentuk sebuah lingkaran kecil. “Tentu saja.” ucap Yana lirih.
Setelah itu, Rose menutup rapat pintu kamarnya. Lalu beralih menatap ke arah Yuan yang tampak duduk di kursi meja makan sembari menatap kosong kedepan, pria itu sepertinya masih ditimpa shock berat karena ulah Yana tadi.
“Ada perlu apa kau datang kemari?” tanya Rose.
“Memangnya tidak boleh ya kalau aku datang ke tempat tinggal pacar sendiri?” tanya Yuan.
Rose menghela nafasnya, lalu berjalan mendekati Yuan, sebenarnya bukan ingin mendekati Yuan, tapi Rose hanya ingin meletakkan barang belanjaannya ke atas meja makan yang kebetulan memang ada di dekat pria itu.
“Bukan seperti itu maksudku, aku bertanya tentang tujuanmu datang kemari. Apa yang membawamu kemari?”
“Apa kau sudah lupa dengan pertengkaran kita tadi sore?” tanya Yuan.
Rose diam sejenak, tapi kemudian ia tampak menghembuskan nafasnya.
“Aku sudah melupakannya dengan cepat. Ya, itu semua berkat Yana yang telah menghiburku dan meluruskan pikiranku. Tapi aku pikir keputusanku untuk berhenti bekerja di restoran ibumu memang bagus. Karena besok aku sudah mulai magang. Yana bilang, magang di firma hukum ayahnya itu di gaji, walaupun bukan gaji penuh tapi itu lumayan tinggi.” ujar Rose.
“Begitukah. Kalau begitu sepertinya aku tidak perlu memberikan ini padamu.” ucap Yuan sembari mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari balik jaket kulitnya.
“Apa itu?” tanya Rose merasa penasaran.
“Itu dari ibuku. Dia bilang untuk memberikannya padamu. Satu lagi, kau jangan salah paham pada ibuku, dia memecatmu karena ingin memindahkanmu bekerja di perusahaan temannya. Aku tidak tahu itu teman ibuku yang mana, tapi intinya itu perusahaan seperti konsultasi hukum, mungkin sejenis pengacara atau semacamnya. Tapi gajinya lumayan, waktu bekerjanya juga sangat fleksibel, tidak selalu bertatap muka.” kata Yuan.
“Aku hanya seorang mahasiswi tahun keempat awal, aku ini masih semester tujuh, bagaimana bisa aku sudah bekerja sebagai konsultan hukum?” ujar Rose.
“Bukan, kau hanya menjadi assistennya saja, karena itu waktu kerjamu cukup santai dan dapat dipastikan tidak akan menggangu waktu magangmu ataupun kuliahmu.” kata Yuan.
Rose tampak diam, ia menimang-nimang, ingin menerimanya atau tidak.
“Aku akan memikirkannya. Katakan pada bibi Ana, terimakasih banyak. Katakan juga kalau aku sungguh menyesal karena mungkin tadi bersikap tidak sopan di hadapannya. Aku juga sejak awal tidak ada sedikitpun salah paham dengannya. Lagipula, bibi Ana bukanlah orang jahat, dan dia terlalu baik untuk menjadi orang jahat.” ucap Rose.
Yuan pun tersenyum mendengarnya.
“Syukurlah.” katanya.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍