
Semua dewan direksi keluar dari ruang rapat yang dipimpin oleh ketua perusahaan itu, Ray.
Rapat itu akhirnya selesai setelah berlangsung selama satu jam lebih. Rapat yang membahas tentang kembalinya Alex, pria itu kini menempati posisinya yang sudah lama ia tinggalkan untuk beberapa tahun.
"Selamat." Ucap seseorang pada Alex.
Hanya tinggal dua orang pria paruh baya itu yang tersisa diruang rapat. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Terimakasih." Jawab Alex.
"Jika dipikir-pikir, aku ini seperti pemeran pengganti mu ya? Menggelikan sekali." Ujar pria paruh baya itu, Yohan.
"Apa maksudmu?" Tanya Alex dengan nada datarnya.
"Kau dengan mudah pergi begitu saja meninggalkan semuanya, dan aku menggantikan apa yang kau tinggalkan itu. Lalu saat kau kembali, semuanya dengan mudah kembali ke genggamanmu." Kata Yohan.
Alex mengernyitkan keningnya, ia seakan masih belum paham dengan maksud mantan rivalnya itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi jika itu karena rasa tidak sukamu padaku. Bukankah seharusnya diantara kita sudah tidak ada dendam lagi?" Ucap Alex membalas perkataan Yohan.
"Dendam? Kurasa bukan itu maksudku. Aku hanya tidak suka dengan sikap munafikmu itu." Ujar Yohan.
Alex tersenyum miris,
"Apa kita sedang bertukar karakter? Sejak kapan kau menjadi orang yang iri hati seperti ini?"
"Apa katamu? Iri hati? Siapa yang kau bilang iri hah?!"
"Wakil CEO Yohan, aku tidak tahu apa maksud perkataanmu yang berbelit-belit itu. Tapi aku paham inti dari perkataanmu. Semua yang aku tinggalkan, maksudmu itu adalah Nana dan posisi CEO ini kan? Kau mengantikan aku sebagai sosok ayah bagi Nana, dan juga sebagai CEO sementara setelah kak Ray diangkat menjadi ketua perusahaan. Tapi saat aku kembali, Nana banyak menghabiskan waktu denganku dan terlihat lebih dekat denganku. Lalu, aku mengambil posisi CEO mu dan kau turun posisi menjadi wakil CEO. Karena itu kau berkata jika dirimu seorang pemeran pengganti ku. Benar begitu bukan?"
Yohan diam, ia menatap Alex seperti dulu, tanpa ekspresi, pria yang kini sudah berusia paruh baya itu masih pandai menyembunyikan emosinya dengan baik.
"Aku tidak tertarik tentang masalah jabatan. Tapi aku sangat tidak suka saat kau terlalu dekat dengan Nana. Dengar Alex, oh tidak, maksudku CEO Alex, kau harus ingat jika aku adalah ayah Nana, aku yang membesarkannya. Jadi jangan berpikir untuk merebutnya dariku." Ujar Yohan, setelah mengatakannya, ia berbalik memunggungi Alex.
"Aku ini ayah kandungnya." Ucap Alex saat Yohan ingin membuka pintu ruangan itu.
"Nana tidak butuh ayah kandung yang tidak bertanggungjawab seperti mu. Dulu kau meninggalkannya, tapi sekarang kau mendekatinya, aku tidak tahu apa motifmu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal buruk padanya." Kata Yohan, kemudian pergi keluar dari ruang rapat itu.
Pintu ruangan itu kembali tertutup, menyisakan Alex yang menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup itu.
"Astaga, dia itu kenapa?" Tanya Alex pada dirinya sendiri, pria paruh baya itu menghela nafasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap aneh dari Yohan.
β’β’β’
__ADS_1
"Feng!" Rose memanggil seorang pria yang berjalan di depannya.
Pria itu menoleh ke arah Rose. Dalam sekejap, sebuah senyuman langsung terukir di wajah Feng saat mengetahui jika Rose yang memanggil dirinya.
Rose berlari kecil menghampiri Feng yang berada tak jauh darinya.
"Ada apa?" Tanya Feng saat Rose sudah sampai di hadapan pria itu.
Rose tersenyum sekilas, kemudian membuka tas nya dan mengambil buku dari dalam sana. Itu buku yang pernah Feng pinjamkan pada Rose, kemarin-kemarin Rose ingin mengembalikannya, tapi tidak pernah ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu lagi.
"Ini." Ucap Rose sembari menyodorkan buku tebal itu.
"Ah buku ya. Apa kau sudah selesai membacanya?" Tanya Feng, tangannya bergerak mengambil buku itu.
Rose menganggukkan kepalanya,
"Iya. Sekali lagi terimakasih karena sudah meminjamkan bukumu itu, bukan hanya materi yang tertinggal saja yang bisa aku pelajari di dalamnya, tapi juga materi-materi yang sulit ditemukan di buku lain, aku bisa mempelajarinya dari bukumu itu. Benar-benar buku yang susah di dapat ya." Ujar Rose dengan senyum lebarnya.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya. Kalau kau butuh buku mata kuliah yang lain, aku bisa meminjamkannya padamu." Kata Feng.
"Em, lain kali aku pasti akan meminjam bukumu lagi."
"Aku menantikannya." Ucap Feng.
"Kau ini aneh sekali, bagaimana mungkin kau menantikan seseorang untuk meminjam sesuatu darimu. Memangnya kau ini tempat peminjaman barang ya?" Ujar Rose dengan candaan yang diiringi tawa kecilnya.
"Ya begitulah, tapi itu hanya berlaku untukmu seorang. Hanya Rose yang boleh meminjam apapun dariku." Kata Feng, ia mengatakannya dengan mata berkedip sebelah, membalas candaan dari Rose.
"Astaga Feng, mulutmu itu ternyata pandai sekali mengucapkan hal-hal manis ya."
"Kau jangan salah paham, perkataan manisku ini juga hanya untukmu seorang." Ujar Feng, membuat Rose tak dapat menghentikan tawa kecilnya.
Kedua pria dan wanita itu terus saling melemparkan candaan mereka dan kemudian tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, seseorang di balik pohon yang ada di belakang Rose merasa kesal dengan kedekatan dua orang itu.
Yuan mengeluarkan kunci apartemen Rose dari saku celananya, ia menatap kunci itu dengan seringaiannya. Sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Hei bodoh!" Panggil Yuan yang kemudian muncul dari balik pohon, pria itu membuka masker dan topi yang dikenakannya.
"Yuan?" Gumam Rose, ia tidak menyangka jika pria itu datang ke kampus.
Yuan berjalan mendekat ke arah mereka, semua penyamaran yang ia lakukan untuk masuk ke kelas tanpa ada banyak orang yang tahu sepertinya ia gagalkan sendiri.
Kini semua orang melihat ke arahnya, seperti biasa, sosok Yuan sang pencuri perhatian para gadis.
__ADS_1
"Kunci apartemen mu." Ucap Yuan pada langkah terakhirnya yang tepat berada di hadapan Rose. Pria itu menyodorkan kunci apartemen itu ke wajah Rose.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik Rose pada Yuan.
Rose melirik ke sekitarnya, ia merasakan hawa dingin yang begitu menusuk. Tatapan para gadis-gadis yang sudah berkerumun itu seperti hewan buas yang menemukan mangsanya.
"Eng.. kalian semua jangan salah paham, tadi aku tidak sengaja menjatuhkan kunci apartemenku, dan dia berniat mengembalikannya keβ"
"Aku sudah menjemur pakaian yang kau cuci tadi pagi, aku juga sudah mencuci piring dan membuang sampah. Jadi jangan lupa untuk masak yang enak lagi ya nanti malam." Ujar Yuan, menyela penjelasan Rose kepada para gadis-gadis itu.
"Apa yang Yuan katakan?"
"Mereka tidak mungkin tinggal bersama kan?"
"Wanita itu, dia licik sekali."
"Apa dia menjual dirinya pada Yuan?"
"Sepertinya aku perlu menirunya, taktiknya mengejar cinta Yuan benar-benar ekstrim."
"Murahan sekali."
"Hatiku hancur rasanya."
Bisik-bisik dari para gadis itu terdengar jelas di telinga Rose, sekuat apapun ia berusaha untuk mengabaikannya, tapi telinganya itu masih sangat peka, ia tidak tuli.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau ingin semua orang tahu jika kita tinggal bersama?" Tanya Rose yang kembali berbisik pada Yuan.
Pria itu tampak tidak peduli dengan ucapan Rose. Yuan memasukkan tangannya ke saku celana, menatap gadis di depannya itu sejenak. Lalu tatapannya beralih pada pria yang masih berdiri di belakang Rose.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu jika kita tinggal bersama?" Kata Yuan tanpa mengecilkan suaranya sedikitpun.
Rose membelalakkan matanya, tidak menyangka jika Yuan akan berkata seperti itu, tangannya itu spontan bergerak menutup mulut Yuan, agar pria itu tidak berbicara sembarangan lagi.
"Semuanya, ini hanya salah paham. Kalian tahu kan, Yuan ini orangnya suka sekali bercanda. Ha-ha-ha, lucu sekali ya." Ucap Rose mencoba menjelaskan sebisa mungkin, walau ia tahu jika itu sia-sia saja.
"Ikut aku." Bisik Rose yang kemudian menarik Yuan menjauh dari kerumunan orang-orang itu.
"Rose~" Feng memanggil Rose yang berjalan menjauh dengan tangan yang menarik lengan Yuan
Feng hanya bisa menghela nafasnya, ia kembali gagal untuk mendekati Rose, selalu saja ada halangan saat ia ingin mengajak Rose untuk pergi berdua.
ππππππππππ
__ADS_1
β Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.β