
Lima pemuda menjijikkan itu terus mengejarku seperti kesetanan. Kesetanan syahwat. Tubuhku rasanya lelah sekali tak kuat lagi untuk berlari, namun tak ada satu pun orang yang bisa kutempati berlindung.
Karena sangat kelelahan berlari aku lari dan tak melihat bila ada orang di depanku, dan menabraknya. Segera kukatupkan tangan dan meminta maaf dan meminta perlindungan darinya.
"Ma-ma-af, Tuan. Aku tak melihatmu. Seka-li lagi ma-af ... ," ucapku takut. Takut bila dia sama dengan pemuda-pemuda yang sedang mengejarku.
"KAU TAK PUNYA MATA! HA!" Astaghfirullah, gawat! Aku telah membuatnya marah.
"M-ma-af, Tuan. Aku beneran tak melihatmu. Aku lelah, kakiku sakit karena berlari tak memakai alas kaki karena diburu pemuda-pemuda menjijikkan itu," jelasku menunduk dan menunjuk pemuda yang sedang mengejar.
"Hey, Pemuda! Serahkan wanitaku!" teriak pemuda yang mengejarku sedari tadi.
"Bereskan mereka!" perintahnya kepada dua lelaki kekar berbaju hitam.
Sungguh saat ini aku sangat takut melihat perkelahian yang tak sebanding, dua lawan lima. Pria yang kumintai tolong tak sedikitpun berbicara, hanya menatap bisu para pengawalnya yang sedang berkelahi. Ingin menyapa namun takut deluan dengan sikapnya yang dingin.
Perkelahian pun selesai, dengan lima orang yang mengejarku tadi terkapar bersimbah darah.
__ADS_1
Aku mulai berjalan pelan walau terasa perih di kaki, mungkin kakiku terluka. Karena pada saat lari tadi sendalku lepas entah di mana. Namun, langkahku terhenti saat ada yang menarik tanganku.
"Duduk!"
Deg! Aku takut banget ... tidak kah orang ini bisa berbicara baik sedikit saja, tidak membentak terus? Dia memerintahku untuk duduk, namun bagaimana aku bisa duduk dengan tenang, sedang wajahnya terlihat begitu tidak suka.
"A-a-ku ... bi-sa pulang sendiri, Tuan," ucapku pelan, tak mau merepotkannya lagi untuk mengantarku pulang.
Ucapanku sama sekali tak dia hiraukan, benar-benar orang ini sangat dingin.
"Antarkan saya kembali ke kantor!" perintah pria dingin itu kepada sopirnya.
"Baik, Tuan!"
Setelah beberapa menit sampailah di sebuah perusahan besar. Oh itu mungkin perusahaan tempat pria dingin ini bekerja. Terlihat dia begitu tampan dengan stelan jas hitam turun dari mobil, sayangnya dia terlalu dingin.
"Mba, rumahnya di mana? Saya antar," ucap sopir pria dingin itu mengagetkanku.
__ADS_1
"Ah, iya. Di jalan nyato no.11."
Kejadian hari ini sungguh memberikanku pelajaran. Bahwa setiap yang kita lihat baik tidak semua baik, setiap yang kita lihat buruk tidak semua buruk. Awalnya aku mengira lima pemuda itu orang baik, karena mereka sopan sekali tapi ... nyatanya, ah sudahlah mengingatnya membuatku bergidik ngeri.
***
Astaghfirullah! Aku sampai lupa berterima kasih kepada pria dingin itu. Aku lupa lagi, kantornya kemarin di mana, yah? Argh! Bodohnya diriku ini. Semoga Tuhan mempertemukanku lagi dengannya. Aku ingin berterima kasih atas pertolongannya.
Aku Himeka Alisha hari ini berangkat ke sekolah agak cepat, karena harus menyapu kelas sebelum pelajaran dimulai. Aku tidak mau Anuradha--ketua kelas--marah-marah karena lagi-lagi aku terlambat hingga dia yang harus melakukan kewajibanku.
Setelah selesai menyapu seluruh kelas tempatku belajar, aku duduk santai menunggu waktu pelajaran dimulai.
Ah, iya sedang apa yah, dia? Apakah sifatnya memang sedingin itu atau ... dia malu berbicara kepadaku? Semoga aku ketemu dia lagi, aku harus berterima kasih kapadanya.
Next ....
Gimana kisah selanjutnya? ikutin terus, ya!
__ADS_1