Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Sepucuk Surat


__ADS_3

" Tempat apa?"


"Tempat aku tidur, mau lihat?" ujar David sambil mengerlingkan matanya.


"Ya ampun David untuk apa aku masuk ke kamarmu?" batin Rena sambil memutar bola matanya.


David tertawa melihat Rena memutar bola matanya.


"Percayalah, suatu saat kamarku akan menjadi tempat yang paling kamu nantikan," ujar David dengan penuh percaya diri sambil mengerling nakal.


"Ok Pak David, tapi sampai saat itu tiba, bagaimana kalau kita berjalan - jalan keluar?" ujar Rena sambil menunjuk jendela ruang kerja David.


"Kamu mau jalan - jalan di luar? Baiklah, ayo sayang," ujar David sambil berdiri dan menarik Rena berjalan bersamanya.


David merangkul Rena berjalan menuju halaman belakang rumah.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Ren?" tanya David sambil menoleh sesaat kepada Rena.


" Ya ampun apakah sedemikian jelas?" batin Rena merasa ketahuan mempunyai niatan mengajak David berjalan keluar.


Rena mengarahkan David berjalan menuju ke kolam renang besar di belakang rumah. Ia mengajak David duduk di bangku yang di terangi oleh cahaya lampu taman di pinggir kolam renang.


"Tadi siang aku bertemu dengan Ibu Andini," ujar Rena berterus terang. Rena memutuskan untuk mengatakan saja apa yang terjadi.


Wajah David pun langsung berubah.


"Untuk apa kamu menemuinya? Aku menceritakan padamu, bukan berarti kamu bisa ikut campur, Rena!" Ujar David tiba - tiba. Terlihat David kecewa pada apa yang di dengarnya.


"Dengar dulu, Yang. Sabar," ujar Rena yang berusaha untuk menenangkannya.


"Ibu Andini yang menelefonku, dia ingin berbicara padaku," ujar Rena menerangkan agar tidak terjadi salah paham.


"Aku tahu kamu masih sakit hati, Yang. Tapi bukankah kamu mengatakan kamu ingin bisa memaafkannya?" tanya Rena berusaha membujuk David. David tidak bergeming.


"Aku tahu, sebenarnya kamu juga pasti sangat merindukannya," ujar Rena.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak pernah merindukannya!" Jawab David.


"Yang..." panggil Rena sambil menyentuh bahu David lembut.


"Ibu Andini mengatakan padaku kalau ia sangat mencintaimu dan juga Audrey," ujar Rena.


"Kalau dia benar - benar mencintai kami, dia tiak akan pernah meninggalkan kami, Ren." ujar David terlihat sangat kecewa.


"Mamamu punya alasan, mengapa dia melakukan itu. Benar atau pun salah jalan yang Mamamu pilih, dia melakukannya hanya untuk kebaikanmu dan juga Audrey," ujar Rena memberitahukan apa yang di dengarnya.


"Aku tidak tahu apa isinya, tapi dia menitipkan ini untukmu," ujar Rena sambil mengambil sepucuk surat dari saku bajunya.


"Kalau ada suatu kesempatan yang membuatmu bisa mendapatkan kasih sayang Mamamu kembali, maukah kamu mengambil kesempatan itu? Aku tidak memiliki kesempatan itu lagi? Tapi kalau kamu masih bisa," ujar Rena sambil menaruh sepucuk surat itu di telapak tangan David.


David tidak berkata apa - apa, dia hanya menatap langit yang saat itu tampak mendung, tak terlihat bintang bersinar di antaranya.


"Aku ada di kamarku, kalau kamu membutuhkanku," ujar Rena, lalu beranjak berdiri meninggalkan David untuk berfikir.


Rena kembali ke rumah David dan masuk kedalam kamarnya. Ia tidak tahu apakah David akan membaca surat itu ataukah membuangnya. Bagaimanapun juga ia sudah berusaha untuk menyampaikan amanah dari Ibu Andini. Ia berharap hubungan David dengan Mamanya bisa menjadi lebih baik.


Perlahan di bukanya surat itu, dan selama beberapa menit, David tidak bisa menahan air mata kerinduannya akan sang Mamanya. Terkenang kembali masa - masa indah yang ia lewati bersama dengan sang Mama sebelum ia pergi meninggalkan dirinya dan juga Audrey. Ia memang tidak bisa mengulang kembali lagi apa yang telah lewat, tetapi ia masih bisa memiliki kasih sayang Mamanya saat ini, kalau ia mengizinkan.


David berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengenggam surat itu. Ia membuka pintu kamar Rena dan mendapati Rena telah berbaring di atas ranjang dengan mata tertutup. Perlahan di letakkannya surat itu di atas meja, kemudian menaiki ranjang dan memeluk Rena.


"Izinkan aku bersamamu malam ini," bisik David di telinga Rena,"


Rena yang masih mendengar suara David pun mengangguk.


David mengecup pundak Rena dan memeluknya erat. Ia hanya ingin memeluk erat Rena malam ini.


Sementara tak jauh dari rumah David. Seorang pria yang berada di dalam mobil melakukan panggilan telepon.


"Selamat malam, Bos. Ada yang ingin saya sampaikan terkait Mbak Rena,"


"Ada apa dengan Rena, Bastian?" tanya Austin yang saat itu sedang berbaring di ranjang kamar hotelnya.

__ADS_1


Austin Leonard Alfaro saat itu tengah melakukan busisness trip ke Hongkong saat salah satu anak buahnya yang ia suruh untuk mengikuti Rena melapor padanya.


Austin memang menyuruh Bastian untuk mengikuti Rena karena ia melihat gelagat mecurigakan dari adiknya itu dan ia pun khawatir. Ia tahu adiknya itu enggan meminta tolong padanya jika ia dalam kesulitan sekalipun. Oleh karena itu ia mengutus Bastian untuk menyelidiki jika Rena mendapatkan kesulitan.


"Mbak Rena saat ini sedang berada di rumah Alexander David Mahendra, sepertinya ia tidak akan pulang malam ini," lapor Bastian.


Austin seperti tersambar petir di siang bolong, hingga membuatnya terduduk tegak di ranjangnya. Mendengar Rena berada di rumah David bukanlah hal yang ingin di dengarnya atau pun pernah terbesit dalam pikirannya.


"Apa maksudmu? Rena menginap di rumah, David?" tanya Austin dengan suara yang mulai keras. Ia benar - benar tidak suka dengan apa yang baru saja di laporkan Bastian padanya.


"Iya Pak, sepertinya begitu. Karena hingga saat ini, Mbak Rena tidak tampak keluar dari kediaman Alexander David Mahendra. Dan Pak David yang telah menjemput Mbak Rena malam ini di apartemennya," ujar Bastian.


Tangan Austin mengepal. Apa yang sudah di perbuat David pada Rena? Pikiran buruk menghantuinya.


"Ada beberapa hal yang saya ingin laporkan, tetapi mungkin besok pagi akan saya lampirkan semua bukti - bukti yang sudah saya dapatkan mengenai Pak David dan juga Mbak Rena.


"Oke, temui saya besok siang! Saya akan segera pulang, Bastian!" Ujar Austin kemudian menutup sambungan teleponnya.


Austin segera menghubungi Deni, Asistennya.


"Den, siapakan pesawat. Saya ingin kembali malam ini!" Perintah David pada asistennya untuk menyiapkan pesawat jet pribadi miliknya.


"Malam ini, Pak?!" Tanya Deni dengan terkejut, mengingat saat itu sudah jam 12 malam.


"Ya, apa kamu dengar! Saya ingin pulang malam ini!" Ujar Austin, tidak peduli jam berapapun saat itu.


"Baik, akan saya usahakan, Pak. Nanti, saya akan kabari secepatnya," ujar Deni dengan panik.


Austin menunggu kabar dari Deni, namun ia harus kecewa karena pesawat jet pribadinya tidak bisa berangkat malam itu juga, karena pengurusan dokumen yang ketat dan izin otoritas yang sulit di dapat pada jam itu. Dan Deni juga mengatakan bahwa mereka baru bisa berangkat esok hari pada pukul 6 pagi. Austin pun harus menerimanya karena memang tidak ada yang bisa Asistennya itu lakukan lagi, jika sudah menyangkut ijin otoritas.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2