
Austin yang sedang memeriksa berkas - berkas perjanjiannya di mejanya menoleh ke arah pintu saat David membukanya. Ia terlihat terkejut melihat kedatangan David yang begitu tiba - tiba. Austin pun kemudian lanngsung berdiri.
"David, mau apa kau datang kesini!" Seru Austin, karena ia tidak suka dengan kedatangan David yang datang tiba - tiba di kantornya.
Austin pun waspada, karena dia pun tidak tahu kedatangan David ke kantornya. Apakah ia bermaksud jahat? Atau membalaskan apa yang di lakukannya saat ia kerumahnya? Atau yang lebih buruk lagi? Pikir Austin.
Deni yang medengar teriakan Austin pun langsung masuk kedalam ruangan Bosnya itu melalui pintu ruang asisten CEO.
"Tenang Austin, aku hanya ingin berbicara dengan mu," ujar David datar, tanpa nada mengancam sambil memandang ke arah Austin.
Austin yang melihat kedatangan David hanya untuk berbicara dengannya pun memberikan sinyal ke arah Deni untuk meninggalkan mereka berdua. Deni pun langsung kembali ke ruangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Austin sambil melangkah ke depan meja kerjanya dan menyandarkan pinggulnya di pinggiran meja,sementara tangannya terlipat di depan dada.
David berjalan mendekati Austin dan berhenti di depannya.
"Aku ingin menikahi Rena." ujar David langsung.
"Dan aku tidak akan pernah mengijinkannya," jawab Austin dengan sama tenangnya.
"Kenapa? Apa aku tidak cukup baik untuk adikmu?" tanya David.
Austin tertawa.
"David. Kamu memang punya segalanya. Kekayaan, harta dan juga kekuasaan. Tetapi aku hanya menginginkan satu hal untuk adikku. Aku ingin adikku bahagia. Dan aku rasa adikku tidak akan bisa bahagia dengan orang sepertimu. Kau hanya memanfaatkannya saja!" Ujar Austin.
"Bagaimana kalau aku bisa buktikan. Aku bisa membahagiakan Rena?" tanya David menantang Austin.
"Maka buktikanlah kalau kau bisa!" Ujar Austin.
"Tapi ingat! Jika aku melihat kau hanya melakukan trikmu saja untuk memanfaatkan dia, aku tidak akan segan - segan David!" Ujar Austin sambil menatap tajam David.
David tersenyum. Ia merasa tak terancam dengan ancaman Austin itu.Karena di atas David jauh melebihi Austin. Namun ia menghargai Austin yang melakukannya untuk kebaikan adiknya, yang juga adalah orang yang sangat ia sayangi.
David tidak akan pernah menjadi Malvin yang kedua yang akan menghacurkan Austin untuk mendapatkan Rena.
David bertekad akan mendapatkan Rena dengan restu dari Austin.
"Baik Austin, akan aku buktikan," ujar David. Ia kemudian merogoh saku bajunya dan mengambil sebuah kertas, di taruhnya keryas itu di saku jas Austin.
"Rena tidak berhutang apapun padaku, kau tidak perlu membayarnya," ujar David kemudian ia berbalik dan keluar dari Austin.
...***********...
__ADS_1
"Rena ada di mana?" tanya Austin pada Agus saat membukakan pintu saat ia pulang dari kantor.
"Ada di kamar, Pak. Mau saya panggilkan?" tanya Agus.
"Tidak usah. Kamu ikut saya ke ruang kerja," ujar Austin pada Agus.
Agus pun mengikuti Austin ke ruang kerjanya yang berada di lantai satu.
Austin duduk menyalakan komputernya di ruang kerja itu. Sementara Agus menunggu perintah dari Austin.
"Selama saya di kantor. Apa Alexander David Mahendra datang kerumah?" tanya Austin sambil menaruh sikut tangannya di atas meja dan menangkup telapak tangannya.
"Pak David setiap hari memang datang, tapi tidak masuk ke rumah, Pak. Karena Mbak Rena menemui Pak David di dalam pagar." ujar Agus jujur. Ia memang tidak bisa berbohong pada Austin, karena Austin pasti akan mengetahuinya juga lewat CCTV yang ada di sekitar rumah.
"Setiap hari?" tanya Austin sambil mengerutkan keningnya.
"Iya Pak. Setiap hari, biasanya saat jam istirahat," ujar Agus.
"Apa yang mereka lakukan lagi?" tanya Austin penasaran.
"Hanya mengobrol saja, Pak." jawab Agus.
"Apa David pernah memaksa masuk ke rumah?" tanya Austin masih penasaran dengan apa yang David lakukan.
Austin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memegang dagunya.
"Kau boleh keluar Agus, terima kasih," ujar Austin.
"Apa ada hal lain yang Bapak inginkan? Mungkin teh atau kopi?" ujar Agus menawarkan Bosnya itu yang baru pulang dari kantor.
"Kopi Gus." ujar Austin sambil mengetik sesuatu di keyboard komputernya.
Austin mengakses rekaman CCTV rumahnya melalui komputer pribadinya di ruang kerja. Ia mengecek laporan dari Austin, dan melihat rekaman pada jam istirahat. Dari beberapa kamera pengawas, Austin bisa menemukan lokasi pertemuan David dan juga Rena. Dan ia pun mulai memperhatikan interaksi adiknya itu dengan pria yang paling di segani di kota mereka.
David tampak sangat berbeda saat ia bersama dengan Rena, adiknya. Ia terlihat sangat jauh dari kesan angkuh dan sombong. Beberapa kali ia terlihat tertawa lepas dan berlaku lembut pada Rena. Bahkan David yang terkenal sangat kaya dan berwibawa tidak segan - segan untuk duduk di rumput di depan pagar rumah keluarga Alfaro hanya agar ia bisa bercakap - cakap dengan adiknya itu setip hari.
Austin sendiri tidak akan percaya jika ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Apakah ini salah satu triknya agar aku percaya?" batin Austin.
Kita lihat saja berapa lama David bisa bertahan dan berpura - pura? Pikir Austin.
Austin lalu menelefon Bastian.
__ADS_1
"Bastian, aku ingin kau menyelediki Alexander David Mahendra," ujar Austin melalui panggilan telepon.
...**********...
Ke esokan harinya Austin sengaja pulang ke rumah sebelum jam istirahat makan siang. Ia sudah mempunyai rencana agar Rena tak bertemu dengan David hari ini. Austin bernafas lega saat ia sampai di depan gerbang rumahnya dan mobil David belum juga terlihat seperti beberapa hari sebelumnya.
Austin langsung masuk ke dalam rumah dan langsung mencari Rena.
Agus mengatakan bahwa Rena sedang memasak di dapur.
Kening Austin berkerut merasa heran dengan apa yang akan di lakukan adiknya itu di dapur. Juru masak pasti telah memasakkan makanan untuknya, kenapa ia justru memasak di dapur?
Austin masuk ke dalam dapur dan melihat Rena bersama dengan beberapa pelayan sedang menyiapkan makan siang.
"Lagi apa, Ren?" tanya Austin sambil berjalan ia mendekati Rena.
"Abang, kok sudah pulang?" tanya Rena dengan terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka jika Austin sudah pulang di jam sepert itu.
"Iya, Abang mau ajak kamu makan siang. Kebetulan ada restoran yang baru saja di buka, dan Abang ingin mencobanya," ujar Austin sambil melirik ke atas meja dapur.
Di meja itu ada beberapa masakan yang telah di masukkan ke dalam 2 buah tempat makan. Austin pernah melihat kotak makan itu sebelumnya. Kotak makan itu sama seperti yang di gunakan David untuk makan siang di depan pagar bersama dengan Rena.
"Kamu lagi apa?" tanya Austin yang berpura - pura tidak tahu.
"Oh, nggak Bang. Rena....Rena...Rena lagi belajar masak aja sama Bi Sumi. Iya kan Bi?" ujar Rena sambil menepuk pundak Bi Sumi, juru masak di rumah mereka yang sudah lama bekerja di rumah keluarga Alfaro.
"I... iya Non." jawab Bi Sumi gugup. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Ya sudah, belajar masaknya lain waktu aja. Kamu ikut Abang sekarang," ujar Austin sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Ia harus membawa Rena keluar rumah secepatnya, sebelum David datang.
"Sebentar Bang, 5 menit lagi selesai," ujar Rena mencoba mengulur waktu.
"Sekarang Ren!" Seru Austin, sambil menarik tangan adiknya itu.
"Kamu ganti baju dulu. Jangan lama - lama ya, Abang tunggu di sini." ujar Austin saat mereka sampai di depan kamar Rena.
"I... iya Bang," ujar Rena gugup.
Rena pun masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian akan tetapi ia terus berpikir bagaimana caranya untuk memberitahu Davud agat tidak usah menunggunya. Rena pun tidak mungkin menolak ajakan makan siang Austin, karena Kakaknya itu pasti akan curiga.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.