
Hai para readerku author kembali lagi nih...Jangan lupa kasih like dan komentarnyan ya🤗 Semoga suka dengan Extra Part yang Ke 2 ini.
Happy Reading semuanya....
...***********...
"Pak Devan, apa anda baik - baik saja?" tanya Alvin pada Devan saat mereka tengah bertemu di kantor Devan. Alvin datang ke Firma Hukum Permana untuk mengurus beberapa berkas legal perusahaan Mahendra.
"Maaf pak Alvin, saya tidak bermaksud mengabaikan Anda?" ujar Devan saat tersadar dari lamunannya.
"Anda ada masalah?" tanya Alvin dengan memandang wajah Devan yang tampak gelisah.
Selama mengenal Devan Permana, belum pernah Alvin melihat Devan tidak fokus dalam pekerjaannya. Walaupun masih sangat muda, tetapi Devan adalah seorang pengacara yang kompeten dan sangat di percaya oleh David.
"Hanya masalah pribadi Pak Alvin, saya minta maaf kalau...."
"Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Ibu Kanaya Zavira?" tanya Alvin memotong ucapan Devan.
Devan tertegun dan memandang Alvin.
"Bagaimana dia tahu kalau Kanaya menghilang? Berita menghilangnya Kanaya Zavira tidak pernah tersebar ke publik karena Elvano menutupnya rapat - rapat." ucap Devan dalam batin.
"Anda jangan heran Pak Devan, banyak hal yang saya ketahui karena tugas saya mencari tahu banyak hal yang berhubungan dengan bisnis Pak David, dan kadang - kadang informasi seperti itu ikut masuk bersama dengan informasi yang lainnya," ujar Alvin.
Devan menghela napas berat.
"Kanaya memang sahabat saya Pak Alvin, dan menghilangnya dia membuat saya khawatir;" ujar Devan masih mencoba menutupi perasaannya.
"Kalau Anda mau, Anda bisa meminta bantuan Gilang. Anda kenal kan dengan Gilang?" tanya Alvin.
"Maksud Pak Alvin, Pak Gilang Narendra?" tanya Devan sambil mencondongkan tubuhnya.
"Iya, Gilang Narendra," ujar Alvin sambil tersenyum ia sendiri hampir lupa nama lengkap Gilang, karena seringnya lupa memanggil dengan sebutan Gilang.
Devan sempat pernah bertemu beberapa kali dengan Gilang. Ia adalah salah seorang yang bekerja untuk Alexander David Mahendra dalam segala banyak hal, meskipun Devan tidak tahu apa yang di lakukan oleh Gilang, karena beberapa hal memang tidak ia ketahui.
"Dimana saya bisa bertemu dengan Pak Gilang?" tanya Devan.
"Anda tidak akan menemuinya Pak Devan, karena Gilang yang akan menemui Pak Devan," ujar Alvin sambil tertawa kecil. Alvin saja tidak tahu dimana ia harus menemui Gilang. Gilang adalah orang yang masih misterius dalam banyak hal. Mungkin hanya David yang tahu dimana Gilang tinggal.
"Temuilah Pak David dam mintalah bantuan dari Gilang. Saya rasa Pak David tidak akan keberatan," ujar Alvin sambil beranjak dari duduknya.
"Apa Pak David, ada waktu pagi ini?" tanya Devan. Ia yakin Alvin sebagai asisten pribadi David sangat paham jadwal kegiatan David.
"Hari ini jadwal Pak David sangat padat. Tetapi jika Pak Devan ada waktu, bicaralah sebelum jam makan siang, beliau ada di kantornya," ujar Alvin berjalan ke luar kantor Devan.
Devan memang membutuhkan bantuan seorang profesional, yang bisa membantu menemukan Kanaya. Apa Gilang bisa membantunya menemukan Kanaya? Pikir Devan.
Devan harus menggeser beberapa janji temunya hari itu agar ia bisa menemui David di kantornya di gedung Mahendra Tower, gedung pencakar langit tertinggi di kota mereka.
Devan pu menaiki lift menuju lantai 60 tempat kantor David berada.
"Selamat siang Pak Devan, silahkan masuk, Pak David sudah menunggu Anda di dalam," ujar Ratih sekretaris Alexander David Mahendra.
__ADS_1
Devan pun masuk ke dalam kantor David saat itu pula David mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Devan.
"Selamat siang, Pak David. Maaf saya menganggu waktu Anda," ujar Devan sembari melangkah mendekati David yang masih duduk di kursi kerjanya dan menjabat tangannya.
"Selamat siang Devan, silahkan duduk," ujar David dengan ramah.
Devan pun duduk di kursi di depan meja kerja David yang terlihat sangat kuat dan kokoh, yang membuat siapapun yang duduk di belakangnya tampak berwibawa dan berkarisma. Salah satu meja kerja yang terbaik yang pernah Devan lihat.
"Bagaimana kondisi di Firma? Saya lihat Firma mu berkembang sangat pesat, dan hampir semua perusahaan di kota ini menggunakan jasa Firma Hukum Permana, benar begitu?" tanya David sambil tersenyum lebar pada anak muda yang duduk di hadapannya.
"Kondisi di Firma baik - baik saja, Pak. Berkat rekomendasi dari Bapak, klien kami pun bertambah," ujar Devan merendah.
"Kamu ini selalu saja merendah Devan!" Ujar David sambil tertawa dan Devan membalasnya dengan tersenyum sopan.
"Bagaimana kabar kamu Devan? Alvin bilang ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya David sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dengan santai.
"Ya Pak, kalau Bapak tidak keberatan saya ingin minta bantuan Gilang untuk mencari keberadaan teman saya," ujar Devan berterus terang.
"Apa? Temanmu menghilang? Sudah lapor Polisi?" tanya David.
"Sudah Pak. Teman saya tinggal di kota D, dan beberapa hari ini menghilang dan belum di temukan," ujar Devan.
Dalam benaknya berkelebat wajah Kanaya yang tampak lemah, pucat dan ketakutan saat pergi dari rumah Elvano siang itu.
David memperhatikan raut wajah Devan. Meskipun ia berusaha untuk berbicara biasa padanya, namun Devan tidak bisa menyembunyikan kecemasan dan kegaulan hatinya. Hal ini mengingatkan David saat kehilangan Rena selama beberapa hari saat ia di culik oleh Anton. Apakah temannya itu sangat istimewa baginya?
"Apakah temanmu ini orang yang sama dengan yang kamu ceritakan padaku waktu itu. Seseorang yang istimewa?" tanya David memastikan.
Devan menghela napas.
"Saya mengerti bagaimana perasaanmu, Devan. Saya pun pernah berada dalam posisimu, dan Gilang membantuku menemukan orang yang sangat istimewa untukku saat itu," ujar David.
"Aku harap Gilang bisa membantumu menemukannya," ujar David.
"Jadi. Bapak mengizinkan?" tanya Devan dengan penuh harap.
"Ya, tentu saja Devan. Beritahu Gilang apapun yang ingin di ketahuinya. Sekarang pulanglah dan tunggu Gilang menghubungimu," ujar David sambil tersenyum.
"Terima kasih Pak David, saya sungguh sangat menghargai bantuan Bapak," ujar Devan sambil menjabat tangan David.
"Sama - sama Devan. Jangan patah semangat, dan aku harap sahabatmu bisa segera di temukan," ujar David sambil menepuk pundak Devan untuk memberikannya semangat.
Devan mengangguk dan berkata sekali lagi, "Terima kasih, Pak!"
...*********...
Rena pun mendudukkan Brayen di pangkuannya dan memeluknya dengan sayang.
"Bu, kita sudah sampai," ujar Eddy sambil menepikan mobilnya di drive way kantor Davidm
Eddy membukakan pintu untuk Rena. Yuki dan Baby Brayen. Ia pun menurunkan paper bag makan siang dan trolley milik Brayen. Namun, Brayen tidak mau memakainya. Sehingga, Rena pun akhirnya menggendongnya.
Mereka memasuki lobby Mahendra Tower dan bertemu dengan karyawan yang mengenali Rena dan menyapanya. Mereka pun masuk ke lift dan langsung menuju ke lantai 60 tempat ruangan David berada.
__ADS_1
"Selamat siang Bu," sapa Ratih saat melihat Rena dan Baby Brayen datang.
"Siang Ratih, Bapak ada di dalam?" tanya Rena.
"Ada Bu, tetapi sedang berbicara dengan Pak Devan Permana," jawab Ratih.
"Oh, sedang ada Pak Devan." ujar Rena sambil melihat jam tangannya. Harusnya saat ini sudah waktunya David untuk beristirahat tetapi ia masih sibuk bekerja.
"Saya akan beritahu Bapak. Kalau Ibu sedang datang," ujar Ratih hendak mendial interkom ke ruang kantor David.
"Tidak usah Ratih. Biar saya tunggu saja," ujar Rena. Ia mengira, pasti penting sekali yang sedang di bicarakan oleh Devan Permana dan David sehingga David mau merelakan waktu makan siangnya untuk berbicara dengan Devan.
Devan Permana adalah pengacara di Mahendra Enterprise. David mempercayakan seluruh masalah legal perusahaannya pada Firma Hukum Permana.
Baru saja Rena akan menunggu di lounge yang ada di ujung lorong. Tiba - tiba pintu kantor David terbuka dan keluarlah Devan dari ruangan kantor David.
"Ibu Rena, apa kabar, Bu?" Sapanya pada Rena sambil menjabat tangan Rena.
"Baik Pak Devan, Pak Devan sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Rena.
"Saya baik, Bu." jawab Devan, namun sekilas tampak ekspresi kesedihan di wajah Devan.
"Silahkan Bu, Bapak ada di dalam. Saya permisi dulu," ujar Devan pamit undur diri. Devan tidak ingin menahan Rena lebih lama di luar ruangan David. Ia tahu David tidak punya waktu banyak, karena ia telah menggunakan sebagian waktu istirahat David untuk membicarakan masalahnya.
Rena pun mengangguk dan tersenyum, saat Devan pamit dan berjalan menuju lift.
"Silahkan Bu," ujar Ratih, sambil membuka pintu kantor David.
Rena pun masuk ke dalam ruangan David sambil menggendong Baby Brayen, di ikuti oleh Yuki.
David yang melihat Rena datang bersama putra kesayangannya pun langsung tersenyum lebar dan beranjak dari kursinya.
"Lihat siapa yang datang! Kesayangan Daddy ada disini!" Ujar David sambil melangkah mendekati Rena dan juga Baby Brayen.
Ia pun langsung menggendong Brayen dan mengangkatnya tinggi di udara sebelum ia mencium gemas putranya itu.
"Kesayangan Daddy...," ujar David sambil mencium Brayen lagi. Membuat Brayen tertawa dan berteriak dengan senang.
"Halo sayang," sapa David kemudian mencium bibir Rena sambil menggendong Brayen.
"Kenapa tidak bilang kalau kalian akan datang? Aku kan bisa menemui Devan nanti?" ujar David sambil menggandeng tangan Rena masuk ke dalam kantornya ke arah meja kerjanya.
"Tidak apa aku ingin memberikan kejutan untukmu," ujar Rena.
"Aku suka kejutan. Apa kamu membawa buku itu?" tanya David sambil memandang Rena dengan menyeringai nakal.
...*********...
Bersambung..
Episodenya udah Author buat panjang, sekarang bantu Author untuk VOTE dan jangan lupa sehabis baca langsung LIKE sertakan KOMENTAR positifnya juga ya, Author sangat berterima kasih dengan komentar - komentar kalian yang sudah buat Author bersemangat. Nantikan Extra part ke 3🤗 Para reader sabar menunggu kan....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadihnya.