Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Dua Hal


__ADS_3

Sementara di mobil yang di kendarai oleh Tirta, supir keluarga Alfaro. Austin memperhatikan adiknya yang sedang duduk menatap keluar jendela. Austin bukannya tidak melihat bagaimana perlakuan David pada adiknya itu, ia bisa merasakan bahwa adiknya itu mempunyai perasaan dan ketertarikan pada Alexander David Mahendra. Apalagi ia melihat bagaimana adiknya itu dan David saling berinteraksi seakan - akan memahami satu sama lain.


Apakah yang di katakan David itu benar? Bahwa mereka saling mencintai? Tapi apa Rena tahu mengenai anak di luar nikahnya dengan Aleta? Bahkan ia melihat mereka di depan restoran tadi sedang membicarakan mengenai tes DNA.


Austin memutuskan untuk memberitahukan pada Rena mengenai itu.


"Ren," panggil Austin.


"Iya," jawab Rena pelan. Ia sedang tidak bersemangat berbicara dengan Abangnya itu.


"Sejujurnya Abang tidak tahu, sudah sejauh mana kamu mengenal David. Tapi apa kamu tahu kalau David dan Aleta pernah berhubungan?" tanya Austin.


Rena pun mengangguk.


"Apa kamu juga tahu, jika David melakukan tes DNA atas anak Aleta? Dia mungkin sudah memiliki seorang anak dengan wanita itu, Rena." ujar Austin perlahan agar tidak menyakiti perasaan adiknya.


"Hasil tes DNA itu juga belum keluar Bang, belum bisa di pastikan jika ia anak David atau bukan," jawab Rena.


"Bagaimana kalau ternyata memang benar dia adalah anak David?" tanya Austin lagi menyadari jika adiknya itu telah mengetahui tentang tes DNA itu.


"Kalau dia benar memang anak David. Artinya ia berhak mendapatkan kasih sayang dan nafkah dari David. Dan aku sangat yakin David pasti akan bertanggung jawab," ujar Rena mengatakan apa yang ia ketahui.


"Tapi bagaimana denganmu? Kalau kalian menikah? Apa kamu bisa menerimanya?" tanya Austin menyelidik.


"Kalau aku dan David menikah?" batin Rena sambil menatap Austin.


"Kalau aku menikah dengan David. Aku tidak akan keberatan. Itu adalah kewajibannya untuk bertanggung jawab terhadap anak biologisnya dan aku, tidak akan menghalangi." jawab Rena.


"Lalu bagaimana dengan Aleta? Itu adalah anaknya dengan Aleta?" tanya Austin lagi.


"David berhubungan dengan Aleta sebelum bertemu dengan aku, Bang. Dan Aleta itu masa lalunya David, dan dia juga mengatakan tidak ada perasaan apapun pada Aleta saat ini," ujar Rena.


"Dan kamu percaya?" tanya Austin memastikan.


"Ya, aku sangat percaya!" Jawab Rena langsung tanpa berpikir lama.


Dan Austin tidak bertanya lagi.


...*******...


Sabtu pagi, Rena sedang berenang di halaman belakang rumahnya saat David meneleponnya dan menayakan kabarnya. Ia sedang sendirian di kolam renang dan tak ada orang lain.


"Aku baik - baik saja. Kamu dan Audrey bagaimana?"

__ADS_1


"Aku baik. Audrey besok pagi akan kembali ke Korea," ujar David.


"O ya? Kamu bakalan sendirian lagi dong, Yang," ujar Rena.


"Ya, makanya aku sedang mencari seorang istri, apa kamu mau?" goda David.


"Nggak. Aku takut tidak sesuai kriteria." jawab Rena membalas dengan gurauan.


"Kriteriaku sangat sederhana dan tidak macam - macam," ujar David.


"Hmmm.... apa itu?" tanya Rena.


"Aku hanya meminta dua hal dari istriku," ujar David.


"Dua hal? Apa saja?" tanya Rena. Baru kali ini ia mendengar David mempunyai kriteria istri.


"Yang pertama istriku harus mencintaiku apa adanya,"


"Kriteria yang sulit," jawab Rena, menanggapi sambil tersenyum.


"Tidak sulit. Kamu sudah lolos kriteria itu," ujar David membuat Rena merona. Untung saja David tidak ada di sampingnya.


"Baiklah, kalau kriteria yang kedua?" tanya Rena.


David menahan tawanya saat tidak mendengar Rena berkomentar lagi. Ia sudah bisa membayangkan wajah merah merona Rena saat mendengar perkataannya.


"Adrena Clarissa Putri. Apa kamu sudah siap untuk di puaskan olehku?" tanya David dengan suara beratnya.


Tiba - tiba Rena merasa sangat kepanasan dan pikirannya mengembara tidak karuan.


"Aku...aku...aku mau berenang dulu, ada Abang Austin..." ujar Rena dengan gugup, mencari alasan untuk tidak menjawab pertanyaan dari David.


Kemudian Rena menutup percakapan teleponnya dan secepat kilat itu juga ia meluncur ke dalam kolam renang, menghilangkan apa yang ada di benaknya.


"Alexander David Mahendra! Kamu ini benar - benar!" Umpat Rena dalam hati sambil berenang.


David tertawa geli di dalam mobilnya. Rena tidak tahu jika David sudah berada di depan gerbang keluarga Alfaro dan sedang meminta izin masuk pada penjaga pintu rumah Alfaro.Seperti biasa, penjaga melaporkan kepada Agus, dan Agus melaporkan kepada Austin.


"Pak Austin, Pak Alexander David Mahendra ada di depan pintu gerbang, katanya ingin bertemu dengan Mbak Rena," ujar Agus menyampaikan. Agus merasa bahwa ia akan di suruh menolak David seperti biasanya.


Austin tidak langsung menjawab. Ia masih berpikir selama beberapa saat.


"Biarkan dia masuk. Aku ingin berbicara dengannya," jawab Austin kemudian.

__ADS_1


Agus sangat terkejut saat mendengar perintah Austin yang tidak sesuai dugaannya.


"Baik Pak," ujar Agus, dan langsung undur diri dari hadapan Austin.


Agus pun segera menyampaikan pada penjaga gerbang. Penjaga gerbang yang juga keheranan karena berkali - kali menolak David untuk masuk ke dalam rumah pun, akhirnya membukakan pintu untuk Alexander David Mahendra.


David yang tak mengira di perbolehkan masuk, menyunggingkan senyum sangat lebar dan segera melajukan kendaraannya menuju ke teras depan rumah Alfaro. Ia memarkir kendaraannya ke drive way di depan rumah itu.


Agus yang mengetahui kedatangan David segera membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.


"Mari Pak David. Pak Austin sudah menunggu Bapak," ujar Agus sambil memandu jalan berjalan ke dalam rumah, kemudian keluar melalui halaman samping dimana sebuah Gazebo berdiri. Di dalam Gazebo itu, Austin sedang duduk sambil menyesap secangkir kopi.


"Austin," sapa David saat ia memasuki gazebo itu.


"Duduklah," ujar Austin sambil melirik sekilas ke arah David.


David duduk di kursi di sebrang Austin.


"Kopi?" tanya Austin menawarkannya kopi.


"Ya terima kasih,"


Austin memberi kode ke Agus untuk membuatkan secangkir kopi untuk David. Agus pun segera membuatkannya di pantry kecil di gazebo itu.


Sebentar saja segelas kopi hitam sudah ada di hadapan David.


Agus pun langsung meninggalkan mereka berdua.


"Untuk apa kamu datang kesini lagi? Bukankah sudah aku katakan untuk menjauhi adikku?" tanya Austin langsung sambil menatap David.


"Aku pun sudah katakan kepadamu, kalau aku dan Rena saling mencintai, dan tidak ada gunanya memisahkan aku dan dia. Sampai kapan pun aku akan tetap menemuinya." ujar David dengan jujur dan apa adanya. Austin bukanlah musuhnya atau orang yang punya niatan jahat terhadapnya. Apa yang di lakukan oleh Austin semata - mata untuk melindungi Rena, seperti halnya David akan melakukan hal yang sama untuk Rena.


"Bagaimana aku tahu kamu tidak hanya memanfaatkan Rena?" tanya Austin.


"Karena memang aku tidak memanfaatkannya. Apakah kamu fikir Rena sebodoh itu, untuk mau dimanfaatkan olehku? Austin, kamu pasti tahu adikmu tidak hanya pandai, tetapi juga mempunyai hati yang sangat baik. Aku pun tidak tega untuk memanfaatkannya." ujar David sambil menatap mata Austin. David tidak merasa takut untuk berbicara karena tidak ada yang harus ia tutup - tutupi dari Austin.


"Lalu, perbaikan mobil itu. Kenapa kamu di suruh dia bekerja untukmu?" tanya Austin.


"Aku memang memaksa Rena bekerja untukku. Tapi apa kau lebih menyukai Rena jika ia berkerja di PUB? Percayalah Austin, aku melakukan itu untuk kebaikannya agar dia tidak bekerja di sana lagi."


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak tyhpo.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2