
Setelah selesai menyapu seluruh kelas tempatku belajar, aku duduk santai menunggu waktu pelajaran dimulai.
Ah, iya sedang apa yah, dia? Apakah sifatnya memang sedingin itu atau ... dia malu berbicara kepadaku? Semoga aku ketemu dia lagi, aku harus berterima kasih kapadanya.
"Himeka!" teriak seseorang membuatku terlonjak kaget. Itu pasti Anuradha.
"Iya!" Aku segera menghampirinya sebelum aku dipermalukan lagi.
Wanita blasteran Indonesia-India ini memang primadona di SMA tempatku sekolah. Itulah mungkin alasan dia sekenanya membully wanita yang cantiknya, di bawah rata-rata dalam artian sih 'jelek' termasuk aku.
"Iya iya! tuh sampah belum kamu buang!" teriaknya memekakkan telinga.
Perasaan aku sudah memunguti semua sampahnya, kenapa ada lagi? Pasti ini kerjaan Anuradha dan ketiga temannya. Segera kupunguti tak mau melawan, karena kalau pun aku melawan tak ada gunanya. Palingan aku jadi bahan tertawaan orang lagi.
__ADS_1
"Nah! Gitu dong, Burik. Kalau kerja itu harus bersih, iya kan?" ucap Anuradha sambil menyenggolku dengan sepatunya.
Sakit banget Ya Tuhan. Aku tahu aku jelek, tapi ini semua pemberian-Nya, bukan kemauanku. Andaikan bisa memilih, aku ingin bisa di atas kamu Anuradha! biar tidak ada lagi wanita yang kamu bully dengan seenakmu!
Setelah membersihkan tangan kuusap air mataku dan masuk kelas, untuk memulai pelajaran.
***
Selesai semua pelajaran, aku segera ke stasiun bis. Lelahnya hari ini. Seringkali aku curhat sama ibu, kalau aku ingin berhenti sekolah ingin membantunya cari uang saja. Namun ibu tak mengizinkan, ibu hanya selalu bilang, "Biarlah ibu dan Bapakmu yang miskin, Nak. Kamu jangan. Belajarlah dengan baik, agar kehidupanmu kelak tak sepahit seperti sekarang ini. Tidak makan nasi dengan garam dan telor ceplok lagi."
Sebentar! Sepertinya itu pria dingin deh. Kulihat pria berjas hitam keluar dari perusahaan mewah di seberang jalan dari tempatku duduk. Tidak salah lagi itu dia!
Aku segera bangkit dari temptku duduk lalu berlari menghampirinya, sebelum dia masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah miliknya.
__ADS_1
"Hay, Tuan!" sapaku setelah berhasil mensejajarinya.
Eh, kok dia malah diam membeku seperti itu sih? Sebentar sebentar, itu matanya kenapa bulat sempurna begitu, seperti orang yang melotot siap menelan musuhnya? Arg! ... bodoh! Itu dia memang lagi melotot ... mel-lotot ke arahku. Gawat!
"Ma-af, Tuan, bila aku mengganggumu. Aku datang ke sini hanya ingin berterima kasih kepadamu, karena sudah menolongku waktu itu. Karena saking ketakutan, aku sampai lupa berterima kasih kepadamu," jelasku mengingatkannya kejadian dia menolongku.
Part 3
Dia bukannya membalas ucapan terima kasihku, dia malah pergi begitu saja setelah melototiku. Astaghfirullah! Apakah sebegitu dinginnya dia? Lihatlah dirimu sekarang himeka, seperti orang bodoh berdiri di pinggir jalan dan jadi tontonan para orang kaya.
Setelah menjadi orang bodoh beberapa menit karena pria dinging itu, aku kembali ke stasiun bis untuk segera pulang. Sialnya aku ... bisnya udah berangkat. Ya Tuhan! Hari ini aku harus jalan kaki, sabar himeka, sabar!
Aku berjalan kaki menuju rumah sambil mengawasi sekitar, takut kejadian beberapa hari lalu terulang lagil. Ya Tuhan! Jangan sampai.
__ADS_1
***
Alhamdulillah, aku sampai rumah dengan selamat. Kubuka sepatuku dengan cepat, agar bisa merenggangkan otot-otot yang sudah mulai kaku karena berjalan.