
"Apa! Secepat itu?" tanya Ibu dengan mata melotot. Sebegitu kagetnya.
"Kak Azril, sendiri yang bilang semalam. Kalau besok dia mau datang. Katanya, dia mempercepat supaya himai tidak berubah pikiran," jelasku.
"Apa kamu sudah menolaknya?" tanya Ibu lagi.
"Iya, karena dia sudah dijodohkan oleh ibunya. Tapi, Kak Azril tidak mau. Malah pilihnya aku," ucapku santai sambil mengunyah keripik singkong.
"Dijodohkan?"
Seketika raut wajah Ibu berubah. Mungkin karena tentang perjodohan Kak Azril.
"Kalau begitu, kamu batalin saja. Ibu khawatir kamu kenapa-napa ntar."
"Himai sudah menolak, Bu. Tapi, Kak Azril kekeh maunya sama aku," jelasku.
"Himai juga tidak bisa menolak permintaan, Kak Azril, Bu! Karena ... karena himai cinta sama Kak Azril!" ucapku lirih.
"Cinta? Bukannya kamu baru pertama kali melihatnya waktu datang melamar, Nak?" tanya Ibu kaget.
"Sebelumnya himai sudah ketemu. Waktu itu himai dalam masalah, hampir diperk*s*. Syukurnya Tuhan masih melindungi himai. Kak Azril lah! Yang menyelamatkanku," jelasku.
"Saat itu aku belum sempat berterima kasih karena lupa, lalu di hari berikutnya aku melihat Kak Azril dan menghampirinya. Namun, sayang ... dia tidak seperti lelaki lain yang mudah bergaul kepada siapapun. Kak Azril pergi tanpa memedulikanku yang berterima kasih kepadanya. Hingga saat itu lah, himai sering melihatnya diam-diam lalu jatuh cinta!" ucapku menerawang awal pertemuan hingga keberuntungan memihakku.
__ADS_1
Begitulah kehidupan penuh lika-liku. Aku tidak menyangka akan menikah dengan lelaki setampan dia. Aku menangis dalam pelukan Ibu.
"Kenapa tidak cerita sama ibu, Nak?"
"Himai, nggak mau buat Ibu khawatir."
***
Setelah berpelukan dengan Ibu. Ibu keluar rumah katanya ingin mengambil sesuatu, aku tidak tahu apa. Sedangkan aku, kembali ke kamar untuk melaksanan shalat subuh.
Setelah selesai shalat. Aku merapikan kamar. Walau pun jelek, setidaknya harus bersih dan harum. Setelah membersihkan kamar, aku mengambil sebungkus cairan pengharum baju, lalu melarutkannya di ember yang sudah berisi air untuk kupakai mengepel lantai.
Saat aku mengepel di depan kamarku, Ibu datang, "wah! Harum banget, Nak!" ujarnya sambil mengendus-ngendus ke kamarku.
"Iya, Bu. Aku kasihkan pewangi," ucapku sambil memeras kain pelnya.
"Iya, Bu. Himai harus belajar dari sekarang, dari hal terkecil, 'kan?"
"Betul sekali, Sayang!"
"Himai sudah selesai mengepel, Bu. Himai bantu Ibu memasak, ya!" tawarku.
"Ayo! Sayang. Sudah memasak, Ibu akan memandikanmu, ya!" ucap Ibu.
__ADS_1
"Baik, Bos!" Tawa kami meledak.
Setelah memasak nasi, Ibu mengajariku menumis sayur kangkung, buat sambel tahu, menggoreng ikan nila hasil pancingan Bapak kemarin sore.
"Waw! Ikannya besar sekali, Bu! Selebar tujuh jari himai," ujarku mengukur ikan yang sedang kugoreng.
"Alhamdulillah, rezeki Bapak kemarin, Nak! Awalnya Bapak tidak ada niat mau mancing, tapi saat Bapak lewat sungai mau pulang ke rumah. Eh, Bapak lihat beberapa ekor ikan. Untungnya Bapak setiap pergi kerja bawa pancing, Bapak pancing deh. Dapat tiga ekor ikan nila besar, alhamdulillah," jelas Ibu sambil menyusun makanan di meja makan.
"Alhamdulillah, rezeki tidak ke mana, ya, Bu!"
"Ayo! Nak, kamu mandi," ajak Ibu.
"Baik, Bu.
***
Ibu memandikanku menggunakan rempah-rempah, yang tidak kutahu apa itu. Baunya harum dan menyegarkan. Katanya biar aku wangi kalau di cium suami nanti. Dicium? Membayangkannya saja aku merinding deluan. Teman SD-ku pernah bilang, kalau kita dicium laki-laki bisa hamil!
"Kamu di rumah suami nanti, baik-baik ya, Nak! Denger kata suami, ya. Jangan keluar rumah tanpa seizin suamimu," ucap Ibu lembut.
"Iya, Bu."
"Ibu tidak nyangka, kamu akan pergi tinggalin ibu. Kamu nanti sering-sering kemari, ya! Jenguk ibu dan Bapak," ucap Ibu sambil menyeka sudut matanya.
__ADS_1
"Ah, Ibu! Jangan nangis dong. Himai ikutan sedih juga nih. Insya Allah, Bu, pasti himai sering-sering main ke sini." Sedih banget rasanya.
Bersambung.