Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Membuat Keributan


__ADS_3

Hai.. hai para reader ku, kasih tombol likenya dong jangan pelit - pelit lah😁 Jangan lupa sajen vote dan hadiahnya juga ya🤗 author tungguin nih hehehe.


Happy Reading....


Rena pun menoleh mendengar nama itu di sebut dan melihat ke arah wanita yang memanggilnya.


Rena sangat terkejut melihat wanita itu dan mengenalinya! Wanita itu adalah Mira, sahabat dari Vanila Dirgantara. Vanila Dirgantara adalah adik perempuan dari Malvin Dirgantara.


"Maaf, anda salah orang," ujar Rena sambil tersenyum berusaha menutupi keterkejutannya.


'Ya Tuhan, bagaiamana mungkin aku bisa bertemu dengan Mira di sini!' Batin Rena.


Mira dan Vanila adalah dua orang yang sering menyulitkannya saat ia kecil hingga remaja. Mereka selalu saja menganggunya.


Ya, Mira tidak salah, nama asli Rena adalah Renatta Azaria adalah putri dari Alfaro sebelum ia mengubah namanya menjadi Adrena Clarissa Putri dan pindah ke kota B.


Rena pun berbalik arah hendak meninggalkan Mira.


"Tunggu aku belum selesai bicara!" Ujar Mira sambil memegang lengannya mencegah Rena untuk pergi menjauh.


"Duh, apalagi ini?" batin Rena.


Ia harus membuat Mira percaya bahwa ia bukanlah Renatta.


"Ada apa?" tanya Rena sambil tersenyum.


"Kau Renatta Azaria kan? Sial benar nasibmu Renatta! Bekerja sebagai pelayan seperti ini!" Ujar Mira sambil memandang rendah Rena.


"Maaf Mbak, anda salah orang. Saya harus pergi," ujar Rena berusaha menghindari Mira sebelum ia bertanya lebih banyak lagi.


"Ambilkan saya minumam segar!" Ujar Mira, yang masih mengira ia adalah pelayan hotel itu.


"Maaf, saya bukan pelayan di sini," ujar Rena masih berusaha sopan, dan hendak berbalik pergi, tetapi Citra justru mendorongnya kesamping hingga membuat Rena terhuyung. Tetapi Rena bisa menjaga keseimbangannya, sehingga tidak sampai jatuh ke lantai, dan ia segera berdiri.

__ADS_1


Lain halnya dengan Mira yang saat itu memakai heels karena mendorong Rena dengan emosi, hilang keseimbangan dan ia pun terjatuh mengenai meja hidangan di dekatnya dan memporak - porandakannya. Para pengunjung yang ada di sana pun menoleh pada mereka, dan tiba - tiba seorang wanita datang menghampiri Mira.


"Mira, ada apa ini? Kenapa kamu sampai begini?" tanya wanita dengan gaun mewah itu kepada Mira sambil membantunya berdiri. Mira pun segera berdiri dan bertambah geram melihat gaunnya kotor oleh noda - noda makanan.


Mira yang merasa malu pun menyalahkan Rena atas apa yang telah terjadi.


"Pelayan yang tidak tahu diri ini mendorongku!" Ujar Mira dengan keras, sengaja agar semua orang yang ada di sana mendengarnya dan menyalahkan Rena atas apa yang telah terjadi.


"Itu tidak benar!" Rena membela dirinya!


"Aku tidak pernah mendorongmu Mira!" Ujar Rena, dan ia pun segera tersadar bahwa ia keceplosan menyebut nama Mira.


Mira pun langsung menyadari kesalahan Rena, dan sangat yakin jika gadis yang ada di depannya ini adalah Renatta Azaria, putri dari Alfaro yang telah lama menghilang selama 7 tahun. Namun karena Mira yang sangat malu akan apa yang terjadi dan ia pun sangat membenci Rena, maka ia pun langsung mendekati Rena dengan amarah.


Plak! Plak! Plak!


Tiga buah tamparan keras mendarat di pipi mulus Rena, tanpa sempat Rena hindari.


Saking kerasnya telinga Rena sampai berdenging, dan ujung bibirnya mengeluarkan darah!


"Ada apan ini?" tanya pelayan dan petugas keamaan hotel yang datang secara bersamaan.


"Ini, karyawan hotel yang tak tahu diri, sudah mendorong saya! Saya akan meminta ganti rugi! Saya sudah di permalukan di hotel ini, dan baju saya jadi kotor karena ulahnya!" Ujar Mira.


Semua yang ada di sana menatap Rena, dengan tatapan mencomooh. Rena yang baru saja tersadar dari sakit tamparan di pipinya merasa di rendahkan oleh Mira, sehingga ia pun menteskan air mata. Ia merasa tidak ada gunanya melawan, hanya akan merugikan dirinya dan membuat lebih banyak orang datang menonton. Sehingga ia membiarkan saja petugas keamanan hotel itu membawanya. Rena di bawa oleh petugas hotel di ruang security untuk di tanyai lebih lanjut. Tas Rena pun di tahan di ruangan kepala keamaan hotel.


Setelah beberapa saat, petugas security telah mengetahui identitas Rena dari KTP yang ada di dalamnya.


"Kenapa Mbak Rena ada di sana dan mendorong Ibu itu?" tanya petugas hotel menginterogasinya. Petugas itu menanyakan Rena setelah memastikan dengan HRD bahwa ia bukanlah karyawan hotel itu. Dan Rena menolak untuk menjawab semua pertanyaan petugas itu.


"Mbak, kalau Mbak tidak mau menjawab terpaksa kami akan memanggil polisi untuk menyelidiki hal ini." petugas itu berusaha untuk membujuk Rena untuk bicara.


"Tolong lepaskan saja saya, Pak. Saya tidak mendorong Ibu itu!" Ujar Rena pada petugas itu.

__ADS_1


"Maaf Mbak, saya tidak bisa. Ibu itu akan menuntut Mbak karena sudah mendorongnya dan mempermalukannya di depan umum. Mbak tahu, kalau Ibu itu adalah calon istri dari Malvin Dirgantara?" ujar petugas itu.


'Ah, kenapa harus menyangkut Malvin Dirgantara lagi!' Desah Rena sambil menghela nafas.


Tiba - tiba ruangan pintu interogasi terbuka dan kepala keamaan hotel masuk dan menyuruh petugas keamaan itu untuk keluar ruangan meninggalkan Rena sendiri.


Tak lama pintu terbuka dan David masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat gusar.


"Rena, kenapa kamu terus melibatkan dirimu dalam masalah! Apalagi yang kamu lakukan kali ini?" tanya David dengan nada tinggi sambil mendekatinya.


Rena menoleh ke arah lain dan menyeka air matanya.Ia tak mau David melihatnya menangis. David yang kesal karena mendapati Rena di tahan oleh pihak keamanan berhenti di depan Rena dan ingin memarahinya. Tetapi ia hanya melihat Rena terdiam saja tidak berusaha membantah seperti biasanya.


David pun berjongkok di depan Rena dan memutar wajah Rena ke arahnya. Ia tertegun melihat pipi Rena yang memerah dan ujung bibirnya yang berdarah.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya David padanya, terlihat amarah dari pancaran bola mata David.


David yang tadinya gusar mendengar berita bahwa Rena di tahan pihak keamanann karena membuat keributan, menjadi marah melihat seseorang telah melukai Rena.


Rena tidak menjawab. Ia berusaha menahan genangan air mata di matanya agar tidak tumpah.Ia pasrah saja jika David ingin memarahinya karena membuat masalah.


"Ayo kita pulang!" Ajak David sambil mengapit lengan Rena dan mengajaknya ke luar ruangan itu.


Di luar ruangan interogasi, kepala keamanan hotel berdiri menunggu mereka.


"Terima kasih atas bantuan Bapak," ujar David pada kepala keamanan hotel dan melangkah keluar kantor keamanan itu.


"Alvin, tolong kau atur segala sesuatunya," ujar David pada Alvin sambil menatap Alvin dengan pandangan yang hanya mereka berdua yang tahu.


"Baik Pak," jawab David yang paham perkataan Bosnya kemudian memberikan tas Rena kembali pada Rena.


Alvin sudah terbiasa untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang dapat merugikan nama baik bosnya, sehingga ia pun sudah tahu, harus melakukan apa tanpa perlu di intruksikan secara detail.


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2