
"Halo sayang," sapa David yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan membawa seikat bunga mawar merah dan pink.
David segera menyerahkan bunga mawar yang di bawanya kepada Rena dan mengecup pipinya.
Wajah David terlihat sangat senang apalagi saat tadi sore Rena menelepon dan mengundangnya untuk makan malam di apartemennya.
"Terima kasih," ujar Rena sambil menghirup aroma wangi dari aroma bunga mawar yang indah di tangannya.
"Kamu sendirian?" tanya Rena sambil menutup pintu.
"Ya, aku menyuruh Eddy untuk mengantar Alvin pulang," jawab David sambil menaruh tasnya di meja dan membuka jasnya. Kemudian menyampirkannya di sandaran sofa.
"Bagaimana dengan mobilmu? Semuanya bagus?" tanya David sambil memeluk Rena dan menaruh keningnya di kening Rena.
"Bagus. Audrey mengantarkannya tadi siang, terima kasih," jawab Rena.
"Apa kamu yang memilih mobil itu?" tanya Rena.
"Audrey yang merekomendasikannya. Katanya, mobil itu cocok untuk kamu pakai sehari - hari. Tidak terlalu mencolok. Kamu suka?"
"Suka. Pasti akan aku pakai setiap hari," jawab Rena sambil melepaskan pelukkan David dan berjalan menuju dapur.
David tersenyum senang, hidungnya mengendus - ngendus aroma makanan yang mengudara di apartemen Rena.
"Kamu masak apa, Yang? Baunya enak?" tanya David sambil menghirup aroma masakan dari arah dapur Rena.
"Aku mau membuat steak untukmu." ujar Rena sambil memasukkan bunga mawar yang di bawa David ke dalam pot bening panjang yang ada di dapurnya kemudian menaruhnya di meja makan.
Rena memasakkan David masakan western, berupa Garlic Butter Steak dan Scalloped Potatoes serta Avocado Caesar Salad. Scalloped Potatoes sudah selesai ia buat tadi sebelum David datang, hanya tinggal memanggang daging steak yang sudah di marinasinya.
"Kamu tunggu ya, cuma sebentar kok," ujar Rena sambil tersenyum dan berjalan kembali ke arah dapurnya.
Rena mulai memanggang dua potong daging rib eyes di atas pan dengan minyak canola, dan membolak balikkannya setelah beberapa saat kemudian membubuinya dengan thyme, bawang putih dan butter.
Wangi daging yang di panggang oleh Rena membuat David bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rena yang sedang memasak.
"Kelihatannya enak Yang. Aku jadi lapar," ujar David sambil memeluk Rena dari belakang.
Bukan kali pertama David memeluknya dan Rena sudah mulai terbiasa dengan pelukan David sehingga ia tidak menolaknya.
"Kamu suka yang medium?" tanya Rena sambil memperhatikan daging yang sedang di panggangnya.
"Ya medium, jangan terlalu matang. Sepertinya sudah cukup, Yang." ujar David yang ikut memperhatikan daging di atas pan.
Rena segera mengangkat daging steak itu dan membiarkannya sebentar agar suhunya sedikit turun, kemudian mengirisnya dengan ketebalan 2 cm sebelum ia menaruhnya di piring makan. Guratan merah juicy di antara daging steak yang masih panas terlihat di antara potongan daging itu. David menelan ludahnya memandang masakan Rena.
"Ayo Yang, aku sudah tidak sabar mencoba mencicipi masakan Calon Istriku Tersayang," ujar David sambil membawa dua piring makan berisi daging steak itu ke arah meja makan.
__ADS_1
Rena tersenyum mendengar panggilan dari David untuknya. 'Calon Istriku Tersayang,' rona merah menghiasi wajah Rena.
Rena mengikuti langkah David ke arah meja makan sambil membawa mangkok Scalloped Potatoes yang sudah di panggangnya dan juga Caesar Salad yang sudah di siapkannya.
"Apalagi ini, Yang? Wah, kamu luar biasa! Kamu menyiapkan ini semua untukku?" tanya David saat melihat makanan yang di bawa oleh Rena.
Rena mengangguk dan tersenyum.
"Cobalah," ujar Rena sambil mengambilkan sesendok Scallope Potatoes ke piring makan David.
David pun langsung mengambil alat makannya dan mencoba masakan Rena.
Pertama ia mengambil daging steak yang terlihat sangat juicy dan menggugah selera. Aromanya membuat David sudah tidak tahan lagi untuk memasukkan sepotong daging itu ke mulutnya. Ia mengunyahnya tanpa suara.
"Enak sekali daging ini," batin David. Ia sangat suka steak buatan Rena, dan tersenyum pada gadis cantik yang sedang memperhatikannya makan.
Kemudian David mengambil sejumput Scalloped Potatoes dari piringnya dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Ya ampun! Kenapa asin sekali?" batin David.
Wajah David sedikit berubah menahan rasa asin di lidahnya, tetapi tetap di telannya makanan itu sambil melirik ke arah Rena dan tersenyum.
"Gimana rasanya? Kamu suka?" tanya Rena dengan penuh harap.
David mengangguk, kemudian meminum beberapa teguk air putih dan menjawab, "Ya, aku suka,"
Tak mungkin David mengatakan tidak suka. Ia tidak ingin mengecewakan gadis kesayangannya yang sudah bersusah payah memasak untuknya.
Lumayan juga rasanya, puji Rena pada dirinya sendiri, kemudian mengambil Scollaped Potatoes dan mulai memakannya.
"Week!"
Langsung di lepehnya makanan itu saat mencapai ujung lidahnya.
"Asin!" Umpatnya dan langsung meminum segelas air putih yang di berikan oleh David.
David berusaha untuk tidak tertawa.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau rasanya asin?" tanya Rena sambil melihat ke arah David yang masih memakan masakannya, kemudian melirik ke arah Scollaped Potatoes buatannya.
"Sedikit asin, tapi aku suka," ujar David sambil mengambil lagi Scollaped Potatoes yang ada di piringnya.
"Jangan di makan, nanti kamu sakit," ujar Rena langsung mengambil piring David dan memisahkan Scollaped Potato di piring itu.
"Tunggu sebentar, biar aku gorengkan kentang," ujar Rena sambil mengembalikkan piring David yang berisi steak kemudian hendak pergi ke arah dapur.
"Tidak usah. Habiskan makananmu, masih ada salad yang kita bisa makan," ujar David sambil menahan tangan Rena dan menunjuk Caesar Salad di meja dengan matanya.
Rena pun duduk kembali. Ia merasa sudah sangat ceroboh menaruh banyak garam di masakannya. Seandainya ia lebih konsentrasi memasak dari pada memikirkan dompetnya yang hilang itu.
__ADS_1
Rena memang kehilangan dompetnya hari itu. ia tidak bisa menemukannya di tas ataupun di dalam mobil. Padahal ia ingat sudah masukan dompetnya ke dalam tas saat membayar meminumannya di cafe tadi siang saat ia bersama dengan Audrey.
"Tidak usah di pikirkan, lagian aku sangat suka daging steak buatanmu, enak sekali. Aku berharap bisa menikmatinya setiap hari," ujar David yang melihat Rena hanya terdiam. Ia tidak ingin membuat Rena merasa bersalah karena telah memasak makanan yang terlalu asin. Kalau orang lain yang melakukannya, lain perkaranya.
"Aku tidak terlalu memikirkannya, hanya saja... aku baru saja kehilangan dompetku sore ini," ujar Rena.
"Dimana?" tanya David ingin tahu.
"Entahlah, seingatku aku sudah menaruhnya di dalam tas, tetapi ternyata tidak ada," ujar Rena sambil menyantap salad di depannya.
"Kamu yakin? Apa mungkin kamu lupa menaruhnya?" tanya David.
"Sepertinya tidak. Mungkin aku menjatuhkannya. Aku akan mengeceknya lagi besok," ujar Rena.
"Kamu tuliskan apa saja yang ada di dompetmu. Nanti, biar Alvin yang mengurusnya." ujar David.
"Aku tidak ingin merepotkan....," ujar Rena belum selesai berkata saat David memotong ucapannya.
"Tidak. Aku menggaji Alvin dengan sangat tinggi, agar dia bisa membantu menyelesaikan hal - hal seperti ini," ujar David memaksa.
"Baiklah," akhirnya Rena mengangguk.
Mereka berdua baru saja menghabiskan salad mereka saat David mulai menggoda Rena, "Kau tahu, kata orang kalau masak ke asinan, tandanya yang masak mau kawin! Memang benar kamu mau kawin!"
Rena memutar bola matanya mendengar ledekan dari David. Mana ada masak keasinan tandanya mau kawin ada - ada saja!
"Kalau benar, ayo Ren! Aku sudah siap lahir batin!" Goda David makin jadi.
"Kalau sudah di sahkan penghulu, baru boleh," jawab Rena menimpali candaan dari David.
"Oke, kita penghulu sekarang!" Ujar David sambil beranjak dari duduknya dan meraih tangan Rena.
"Apa?!" Tanya Rena tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa David sungguhan? Tapi mana ada penghulu malam - malam begini?
Rena berusaha melepaskan pegangan tangan David di pergelangan tangannya.
"Adrena Clarissa Putri, aku ingin segera menikahimu, aku...." David belum selesai bicara saat Rena berhasil melepaskan diri.
Mereka saling pandang sesaat. Rena yang pertama kali tersadar dan ia pun berlari menjauhi David.
"Adrena Clarissa Putri!" Panggil David dengan gemas! Ia pun segera mengejar Rena ke sekeliling ruang Apartemen Rena.
"Alexander David Mahendra berhenti mengejarku!" Teriak Rena sambil berlindung di balik sofa, sementara David berada di sebrangnya di depan sofa. Menyeringai bagai singa yang mengintai mangsanya.
"Kau mau lari lagi kemana, Rena?" tanya David memandangnya dengan nakal.
Bersambung..
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.