Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Memberikan Ijin


__ADS_3

Austin berjalan ke arah kolam renang dimana Rena berada.


"Ren!" Panggil Austin pada adiknya yang sedang berenang.


"Rena!" Panggilnya sekali lagi.


Rena berhenti berenang menghampiri Austin.


"Ada apa, Bang?" tanya Rena sambil beranjak naik keluar kolam renang.


"Sekarang bilas badanmu dan ganti pakaian," ujar Austin.


Rena mengerutkan dahinya.


"Ada yang mencarimu," ujar Austin lagi.


"Siapa?" tanya Rena sambil mengeringkan badannya.


"Abang memberimu izin untuk bisa bertemu dengannya, tapi bukan berarti Abang akan lepas tangan. Kalau dia menyakitimu kamu harus berterus terang! Abang sangat tidak suka jika kamu berbohong kepada Abang lagi!" Ujar Austin.


"Maksud Abang, David ada di rumah?" tanya Rena terkejut. Mata Rena berbinar bahagia.


"Jangan terlalu senang dulu, Ren. Abang belum memberi kalian restu!" Ujar Austin, tidak ingin adiknya berpikir ia akan memberikan ijin dengan mudah.


Rena langsung meneluk Austin.


"Terima kasih Bang!" Ucap Rena, sambil memeluk erat Abangnya. Ia tidak menyangka jika Kakaknya akan memberikan lampu hijau baginya dan juga David.


"Sudah. Ganti bajumu dan temui dia di Gazebo," ujar Austin sambil berbalik dan berjalan ke arah rumah.


Rena langsung mengemasi barang - barangnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah, melewati Austin.


"Makasih Bang!" Ujar Rena sekali lagi sambil mengecup pipi Kakaknya, kemudian berlari naik ke kamarnya di lantai dua.



Austin hanya tersenyum dan geleng - geleng kepala melihat kelakuan Rena. Ia berharap keputusannya memberikannya kesempatan bagi Rena dan juga David adalah keputusan yang benar.


Rena tidak menyia - nyiakan waktu lagi, ia pun segera mandi dan berganti pakaian. Sebelum keluar, ia mematut dirinya di depan cermin. Tiba - tiba ia merasa ada yang kurang dengan penampilannya dan ia pun berganti pakaian lagi. Entah mengapa Rena begitu merasa gugup bertemu dengan David hari ini. Apa karena ia menemuinya di rumah peninggalan Ayahnya? Ataukah karena Abang Austin telah memberikannya lampu hijau padanya dan juga David?


Akhirnya setelah dua kali berganti pakaian. Rena berjalan keluar kamarnya. Ia tidak menyadari pandangan para pelayan di rumah itu yang tersenyum melihat Rena berjalan ke arah gazebo di samping rumah.


David menatap ke arah pintu saat di dengarnya suara pintu sisi samping rumah itu berbunyi,dan di lihatnya Rena yang tersenyum dan berjalan ke arahnya.


David pun langsung beranjak dan berlari keluar menghampiri Rena. Ia memeluk dan mengangkat tubuh Rena dan mendekapnya erat.


"Rena!" Panggil David. Masih memeluk Rena dengan erat. Ia sangat senang bertemu dengan Rena dan memeluknya tanpa harus sembunyi - sembunyi seperti seminggu terakhir ini.


"Kamu bilang apa sama Abang Austin sampai kamu di perbolehkan masuk ke dalam rumah?" tanya Rena setelah mereka saling melepas rindu.


"Aku kan sudah bilang akan mencari cara agar Abangmu merestui kita," ujar David tersenyum sangat lebar sambil merangkul Rena ke arah gazebo.

__ADS_1


"Iya, tapi kamu bilang apa ke Abang?" tanya Rena.


"Aku cuma bilang bahwa aku sangat mencintai kamu, selebihnya kamu tak perlu tahu, karena itu urusan laki - laki," ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mereka pun duduk di dalam gazebo saling berpegangan tangan dan mengobrol santai.


"Selama kamu membantu Austin di DPA, apa ada kesulitan?" tanya David sedikit serius.


Ia mempunyai perasaan bahwa Malvin akan mengetahui keberadaan Renatta Azaria cepat atau lambat, karena statusnya sebagai adik Austin sudah banyak di ketahui orang.


"Selama ini tidak ada masalah. Ada apa?" tanya Rena ingin tahu kenapa David tiba - tiba menanyakan hal itu.


"Tidak ada apa - apa," ujar David tidak ingin membuat Rena khawatir.


"Apa maksudmu Malvin Dirgantara?" tanya Rena.


Rena sebenarnya merasa was - was, akan tetapi Austin selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik - baik saja dan ia akan melindungi Rena.


"Salah satunya," jawab David.


"Walaupun aku merasa sedikit kuatir. Tetapi Abang Austin juga berpikiran sama denganmu. Bahwa aku tidak seharusnya bersembunyi lagi. Abang bilang ia akan melindungiku. Tapi aku kuatir...," ujar Rena.


"Tidak perlu khawatir, ada aku juga yang akan menjagamu," ujar David.


"Bukan aku yang aku khawatirkan, tapi Abang Austin." ujar Rena.


"Tenanglah, Abangmu akan baik - baik saja," ujar David menenangkan Rena.


Rena mengangguk.


"Bahkan Malvin Dirgantara pun harus berhati - hati dengan Austin Leonard Alfaro," ujar David sambil tersenyum, membesarkan hati Rena, ia pun mengecup kening Rena.


"Sebentar ya," ujar David saat tiba - tiba telepon genggamnya berbunyi, Audrey yang menghubunginya.


"Iya Dek?" tanya David pada Audrey.


"Kak, Oma dan Opa sedang dalam perjalanan. Cepatlah pulang, mereka ingin kita makan malam bersama," ujar Audrey.


"Sekarang?" tanya David sedikit kesal, karena apelnya hari ini terganggu.


"Iya. Apa Kakak sudah bertemu dengan Rena?" tanya Audrey.


"Sudah." jawab David sambil memandang gadis yang ada di sebelahnya dan tersenyum.


"Bagus. Kata Oma dan Opa, Kakak harus ajak Rena sekalian." ujar Audrey sambil menahan tawa cekikikan.


"Ajak Rena!" Gumam David. Apakah Austin akan mengijinkannya?


"Iya aku tunggu ya Kak! Bye!" Ujar Audrey langsung menutup percakapan telefon mereka.


"Ajak kemana, Yang?" tanya Rena yang sempat mendengar ucapan David.

__ADS_1


"Kerumahku. Opa dan Oma ingin makan malam bersama dengan kita," ujar David sambil berpikir.


"Aku tidak keberatan. Tapi kita harus ijin Abang ku dulu," ujar Rena.


"Dimana Abangmu?" tanya David.


"Ayo ikut aku."


David pun mengikuti Rena berjalan memasuki rumah.


"Gus, Abang ada dimana?" tanya Rena pada Agus.


"Di situ Mbak!" Tiba - tiba beberapa para pelayan wanita yang ada di ruang itu menjawab serentak. Rena sendiri sampai keheranan.


"Di ruang kerja Mbak." Agus segera menjawab. Lalu memelototi para pelayan yang ada di sana.


"Oke Makasih," ujar Rena, lalu ia dan juga David berjalan menuju ke dalam ruang kerja Austin.


Mereka berdua berhenti di depan ruang pintu kerja Austin dan David mengetuk pintunya.


"Masuk," suara Austin terdengar dari dalam.


Mereka berdua pun masuk ke dalam.


Austin melirik ke arah David dan juga Rena dan berhenti mengetik di laptopnya.


"Ada apa?" tanya Austin.


"Austin, aku mau minta ijin, untuk mengajak Rena makan malam di rumah bersama Opa dan Omaku. Mereka sudah mengenal Rena, dan berharap bisa bertemu dengan Rena lagi," ujar David sambil berjalan ke arah Austin.


Austin menatap David dan Rena secara bergantian selama beberapa saat.



"Jangan pulang terlalu malam ya Ren. Kalau ada apa - apa segera telepon Abang!" Ujar Austin pada adiknya itu.


David dan Rena saling pandang dan tersenyum.


"Iya Bang," jawab Rena dengan senang hati.


"Terima kasih Austin," ujar David sambil merangkul bahu Rena.


"Ya. Dan pastikan kau jaga adikku baik - baik!" Ujar Austin lagi.


David mengangguk dan mengajak Rena keluar dari ruangan Austin.


Di luar kerja Austin, empat orang pelayan wanita yang tadi berada di ruang keluarga sedang membersihkan lorong dan mengangguk hormat saat Rena dan David lewat.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika madih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk, like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2