Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Extra Part 01 Baby Brayen Adams Mahendra


__ADS_3

"Sayang, kita akan pergi menemui Daddy, mau?" tanya Rena pada Brayen kecil yang berusia 1,5 tahun. Rena akhirnya mengalah pada David dan membiarkan David memanggil dirinya dengan sebutan Daddy dan Rena pun memanggil dirinya dengan sebutan Mommy.


Brayen yang masih sangat kecil, tentu tidak tahu pasti apa yang di bicarakan oleh Ibunya, namun saat mendengar kata Daddy. Ia pun tertawa dan menepuk - nepukkan tangannya serta melonjak - lonjak kegirangan.


"Dada...." sebut Brayen, mengucapkan kata Daddy dengan sebutan dada. Ia terlihat sangat senang sekali akan bertemu dengan Daddynya.


"Kamu sangat senang bertemu dengan Daddy? Ya?" tanya Rena pada Brayen sambil mengangkat dan menggoyang - goyangkan tubuh anaknya itu membuat Brayen tertawa sangat keras.


Brayen memang anak sangat ceria dan jarang menangis.Ia pun cepat akrab dengan orang - orang yang di temuinya.


Rena pun dekat sekali dengan Brayen. Ia masih memberikan ASI untuknya, karena ASI nya berlimpah dan ia ingin Brayen mendapatkan yang terbaik selama dua tahun pertamanya.


"Yuki, jangan lupa bawa perlengkapan Brayen," ujar Rena pada Yuki, babby sitter Brayen.


Rena memang sudah tidak bekerja lagi, sejak ia melahirkan Brayen. Namun, David tetap mempekerjakan Baby Sitter untuk membantu Rena mengurus Brayen.


"Baik Bu," jawab Yuki sambil meraih tas kecil yang berisi perlengkapan Brayen. Kemudian mengikuti Rena keluar dari ruangan Brayen di lantai dua.


"Sudah mau berangkat, Bu?" tanya Jeffri saat melihat Rena menuruni tangga sambil membawa Tuan Muda Brayen.

__ADS_1


"Iya Jeffri. Apa Eddy sudah ada di depan?" tanya Rena.


"Ya Bu, Eddy sudah menunggu di depan." jawab Jeffri sambil mengambil sebuah paper bag dari meja makan.


Paper bag itu berisi kontak makan siang yang sudah di siapkan oleh Rena, untuknya dan juga David. Rena memang masih membuatkan David makan siang. Beberapa kali dalam seminggu, seperti saat mereka belum menikah.


Rena berjalan keluar rumah di ikuti oleh Jeffri dan juga Yuki. Sementara, Eddy sudah mobil menunggu mereka untuk membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Selamat siang Bu, dan Tuan Muda Brayen...." sapa Eddy saat mereka sudah dekat. Eddy memberikan ekspresi wajah yang lucu saat ia menyebutkan nama Brayen membuat Brayen terkekeh senang dan melonjak - lonjak kegirangan dalam gendongan Ibunya.


Mereka pun masuk kedalam mobil dan Eddy menutup pintunya.


"Eddy, kamu jangan lupa turunkan ini ya," ujar Rena pada Eddy. Mengingatkan agar tidak tertinggal. Dan Eddy pun mengangguk.


"Terima kasih, Jeffri." ucap Rena sambil tersenyum pada kepala asisten rumah tangga, David itu.


"Sama - sama, Bu. Hati - hati di jalan." ujar Jeffri kemudian menutup pintu. Eddy pun mengendarai mobilnya meninggalkan drive away rumah bosnya itu ke Mahendra Tower


Brayen sangat senang, jika ia sedang di ajak berjalan - jalan. Apalagi, setelah melihat gedung - gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Ia tidak melepaskannya pandangannya dari kaca jendela mobil mereka, sambil menepuk - nepukkan tangannya di kaca jendela itu dan bergumam sesuatu.

__ADS_1


"Lihat! Itu tempat Uncle Austin!" Ujar Rena sambil menunjuk gedung PT.DPA pada putranya.


"Dan kamu tahu, Almarhum Kakek yang membangunnya, Apa kamu suka?" tanya Rena pada Brayen yang bergumam sesuatu dan tertawa.


"Kakekmu pasti senang, jika bisa melihatmu, Sayang." ucap Rena sambil mengelus rambut Brayen dengan sayang.


"Kelihatannya kamu pun sangat menyukai gedung - gedung yang tinggi dan bagus seperti Kakekmu," ucap Rena sambil memandang wajah Brayen yang merupakan perpanduan antara dirinya dan juga David.


Rena pun akhirnya bisa mendudukkan Brayen di pangkuannya dan memeluknya dengan penuh rasa sayang.


"Bu, kita sudah sampai," ujar Eddy sambil menepikkan mobilnya di drive away kantir David.


...********************...


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2