
Austin sedang berbicara dengan Deni sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, saat tiba - tiba pintu kantornya terbuka dan masuklah David yang menggandeng tangan Rena. Mereka berdua tersenyum satu sama lain dan raut wajah mereka terlihat sangat bahagia.
"Austin, bisa saya bicara denganmu?" tanya David.
Austin memandang David dan Rena yang berdiri di depannya sambil tersenyum. Raut wajah David terlihat begitu bahagia, dan rona merah... menghiasi pipinya bersama dengan senyum malu - malu yang mengembang di wajahnya.
"Kenapa aku merasa David akan meminta sesuatu yang penting?" batin Austin.
"Deni, bisa tinggalkan kami sebentar?" pinta Austin. Dan Deni, pun segera beranjak dari duduknya di kursi.
"Mau bicara apa?" tanya Austin sambil mencodongkan badannya ke depan, dan menaruh sikutnya di meja.
"Austin, kau tahu aku dan Rena saling mencintai satu sama lain. Aku ingin menikahi Rena dan meminta ijinmu, untuk menikahkan kami," ucap David sambil mengenggam tangan Rena.
Austin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah David dan Rena sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalau aku tidak mengijikan?" tanya Austin sambil memandang wajah David.
"Abang...." Rena hendak berkata sesuatu saat mendengarkan ucapan Austin. Tetapi David memberikan kode untuk tidak berbicara.
"Austin, aku tahu kamu hanya ingin kebahagiaan untuk adikmu. Dan sejujurnya aku tidak melihat suatu alasan mengapa kamu tidak mengijinkan kami untuk menikah, karena kamu tahu dengan pasti bahwa Rena akan bahagia bersama denganku. Memisahkan kita hanya akan membuat kami menderita. Dan aku yakin bukan itu keinginanmu," ucap David berusah membujuk Austin untuk menikahkannya dengan Rena.
Ya, David bisa menikahi Rena tanpa izin dari Austin dan meminta orang lain untuk menjadi wali nikah. Akan tetapi ia menghormati Austin dan keinginan Rena, untuk menikah hanya dengan ijin Kakak satu - satunya itu.
"Apa benar Ren, kamu merasa bahagia bersama dengan David?" tanya Austin pada adik yang di sayanginya itu. Rena tidak langsung menjawab.
"Rena memang belum lama mengenal David. Tapi Rena yakin dan percaya, bahwa David tidak akan menyakiti Rena. Dan mengenai bahagia, Rena tidak perlu menjawab, karena Rena yakin Abang bisa melihat sendiri apakah Rena bahagia atau tidak," jawab Rena sambil memandang Kakaknya itu.
"Bagaimana kalau Abang tidak merestui?" tanya Austin lagi.
"Rena tidak akan menikah kalau Abang tidak merestui," jawab Rena pelan sambil menunduk.
Austin memandang adiknya itu dan menghela nafas.
"Kapan rencanaya kalian akan menikah?" tanya Austin.
"Saya ingin menikahi Rena besok?" jawab David tanpa ragu.
"Besok? Kenapa terburu - buru?" tanya Austin dengan terkejut.
"Rena, apakah kamu....?" tanya Austin dengan pandangan tajam menyelidik.
"Maksud Abang apa?" tanya Rena heran.
"Apakah...." ucapan Austin di potong oleh David.
__ADS_1
"Rena tidak hamil, Austin, kalau itu maksud dari pertanyaanmu. Aku tidak menyentuh Rena, karena ia ingin melakukannya sebelum menikah," terang David dengan jujur.
"Ya ampun Abang! Rena tidak seperti itu!" Ujar Rena Protes pada pemikiran Abangnya itu.
"Lalu kenapa kalian cepat - cepat ingin menikah? Apa kalian tidak perlu mempersiapkan apapun?" tanya Austin.
"Aku yang ingin menikahi Rena sesegera mungkin, karena aku sudah yakin dengan pilihanku. Apa gunanya menunda - nunda? Kalau kau mengijinkan, segala sesuatunya akan di persiapkan dengan cepat. Kau tidak perlu khawatir, Austin. Rena akan mendapatkan pernikahan yang dia inginkan," jawab David dengan percaya diri kemudian merangkul Rena.
"Kau yakin bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk menikah besok?" tanya Austin sambil mendekati David.
"Ya, bahkan saat ini surat - suratnya tengah di urus oleh Asistenku, hanya tinggal menunggu restu darimu," ujar David.
Austin menghela nafas.
"Aku mengijinkan kalian menikah, tetapi kau ingat David. Jika kamu menyakitinya, kau akan menerima akibatnya! Dan Rena, jika David menyakitimu, kau harus bilang pada Abang!" Ujar Austin sambil menatap kedua orang yang ada di depannya.
Rena pun langsung memeluk Austin.
"Terima kasih Abang," ucap Rena sambil meneteskan air mata.
Austin pun memeluk adiknya itu dengan erat dan mengecup kepalanya.
"Terima kasih Austin," ucap David sambil tersenyum dan Austin sambil mengangguk hanya memeluk Rena.
Austin melepaskan pelukkan Rena dan memandang adiknya yang sembab karena menangis.
Rena menggeleng sambil tersedu menahan tangisnya, namun bibirnya tersenyum bahagia.
"Satu hal lagi," ucap Austin sambil menoleh ke arah David.
"Rena adalah satu - satunya anak perempuan di keluarga kami. Ayah dan Bunda kami menginginkan Rena untuk menikah di rumah," ujar Austin teringat pesan Bundanya agar menikahkan Rena di rumah peninggalan orang tua mereka.
David mengangguk dan tidak keberatan dengan hal itu.
"Tidak masalah Austin. Selama kau mau mengijinkan, orang - orangku akan segera mengatur segala sesuatunya di rumahmu malam ini." ujar David menyanggupi.
"Lakukan yang harus kau lakukan," jawab Austin.
"Pulanglah Ren. Kamu perlu menyiapkan dirimu," ujar Austin pada Rena yang masih berada dalam pelukkannya.
Rena mengangguk kemudian memeluk Kakaknya sekali lagi.
"Rena pulang Bang," ujar Rena saat melepaskan pelukkannya.
"Aku akan mengantar Rena pulang. Terima kasih, Austin." ucap David sambil menyalami tangan Austin.
__ADS_1
"Jaga adikku baik - baik, David," ujar Austin sambil mengangguk. Terlihat Austin berusaha menahan gejolak perasaan di hatinya.
"Pasti Austin. Aku janji, akan menjaga Rena dengan baik," janji David sambil menatap Austin. Austin mengangguk dan mereka pun berpisah.
David mengantarkan Rena pulang kerumah Austin dengan di antar oleh Eddy dan Gilang.
Dalam perjalanan ia memberitahukan Alvin apa yang harus ia lakukan.
"Yang, kenapa masih menangis? Kita akan menikah besok, bukankah kamu senang?" tanya David yang menatap wajah sendu Rena yang menatap keluar jendela, sekali - kali masih meneteskan air mata.
"Aku senang kita akan menikah besok. Tetapi aku masih teringat Ayah dan Bunda," jawab Rena sambil menghapus air matanya yang baru saja menetes.
David pun memeluk Rena.
"Kamu mau mengunjungi mereka?" tanya David sambil memeluk Rena.
Rena mengangguk.
David pun meminta Eddy untuk mengenderai mobilnya menuju tempat pemakaman Alfaro dan juga Syahnaz di makamkan.
David berjongkok di samping Rena di depan pusara kedua orang tua Rena. Alfaro dan Syahnaz Clarissa. Mereka berdua di makamkan dalam satu pusara yang sama.
"Ayah, Bunda, Renatta meminta ijin untuk menikah dengan David." ujar Rena sambil memegang tangan David, dan David pun merangkul Rena di pundaknya.
"Abang Austin pun sudah mengijinkan dan sesuai permintaan Bunda, Rena akan menikah di rumah...." ucap Rena sambil menatap nama Ayah dan Bundanya yang tertulis di batu nisan di hadapan mereka.
Mereka berdua menghabiskan beberapa saat di sana, mendoakan Almarhum kedua orang tua Rena.
"Ren, kenapa orang tuamu di makamkan di tempat yang sama?" tanya David saat mereka sudah kembali ke dalam mobil dan Rena tampak lebih tenang dari sebelumnya.
"Kata Abang, itu adalah permintaan Bundaku. Bundaku sangat mencintai Ayah, dan Bunda juga berpesan, jika ia meninggal ia ingin di makamkan di pusara yang sama dengan Ayah," jawab Rena sambil tersenyum.
"Aku ingin nanti kita bisa seperti itu, Ren. Kalau nanti kita berdua sudah tidak ada lagi...."
"David, jangan bicara seperti itu!" Ucap Rena memotong perkataan David.
"Aku hanya mengatakan, aku hanya ingin seperti kedua orang tuamu yang saling mencintai walaupun maut memisahkan," ujar David menyelesaikan kalimatnya.
David mengangkat dagu Rena ke arahnya dan menatap kedua manik mata Rena.
"Aku sangat mencintaimu Rena, dan aku tidak ingin berpisah darimu," ujar David kemudian mengecup bibir Rena.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.