Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Pemecatan Manda


__ADS_3

Rena terkejut melihat David yang sedang berdiri di belakangnya dan di dampingi oleh Alvin.


"Kamu gak pa - pa sayang?" tanya David dengan lembut pada Rena.


"Gak pa - pa, Yang. Ayo kita ke ruanganmu," ujar Rena berusaha mengajak David pergi dari ruangan Divisi Marketing.


"Sebentar, ada yang harus aku selesaikan di sini," ujar David dengan lembut pada Rena kemudian David menoleh dan menatap tajam ke arah Manda yang wajahnya sudah pucat pasi.


"P.. P.. Pa... Pak Da.... Daaaavid." ucap Manda terbata - bata.


"Siapa yang kamu maksud dengan cewek simpanan?" tanya David padanya.


"Yang, sudah. Kita ke ruanganmu, yuk. Aku... sudah bawakan makan si...." ujar Rena berusaha mengajak David. Walaupun ia begitu sakit hati pada Manda. Namun, ia juga tidak tega jika Manda harus di pecat atau menerima hukuman yang berat karena ucapannya.


"Sebentar sayang. Aku paling tidak suka jika ada orang yang berbicara tidak baik mengenai Istriku." ujar David dengan lembut pada Rena. Namun, orang - orang yang berada di dekat mereka pun dapat mendengarnya juga.


Mendengar hal itu Manda pun langsung berdiri dan meminta maaf.


"Maaf... maafkan saya Pak, saya... saya tidak tahu... kalau Rena adalah Is.. Istri Bapak." ujar Manda terbata - bata. Wajahnya sudah sangat pucat.


"Manda, kalau kamu meminta maaf pada Istri saya dia pasti akan langsung memaafkan kamu. Tapi tidak dengan saya." ujar David suaranya yang mulai terdengar kesal.


"Sekarang juga, kemasi barang - barang kamu dan segera tinggalkan gedung Mahendra Tower ini. Saya tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Ujar David tampak emosi.

__ADS_1


"Kalau saya masih melihatmu atau mendekati Istriku lagi. Saya pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di perusahaan manapun yang ada di kota ini! Paham?!" Ujar David sambil menatap Manda dengan tajam.


"Alvin! Urus pemecatan Manda sekarang juga!" Seru David, kemudian berbalik dan tanpa ragu David merangkul Rena berjalan menuju lift VIP melewati para staf di Divisi Marketing yang masih memperhatikan mereka.


"Kamu nggak pa - pa, Yang?" tanya David saat mereka sedang berada di dalam lift.


Rena menggeleng dan tersenyum.


"Yang, apa kamu tidak berlebihan memecat Manda?" tanya Rena.


David memandangi wajah Istrinya itu.


"Dia sudah berbicara yang tidak baik pada tempatnya dan sudah menjelek - jelekkan kamu sayang. Aku sebagai Suamimu sangat keberatan. Dan aku tidak ingin orang seperti dia bekerja di perusahaanku. Ya. Dia memang sangat pantas mendapatkan itu," ujar David.


"Sayang, kamu tidak perlu merasa bersalah. Dia memang pantas mendapatkannya dan dia sendiri yang menyebabkan dirinya di pecat dan itu bukan salahmu," ujar David sambil menggenggam tangan Rena.


Mungkin apa yang di katakan oleh David memang benar. Manda sudah sangat keterlaluan menjelek - jelekkan dirinya. Dengan begitu, ia pasti tidak akan mengulanginya lagi. Pikir Rena.


Rena pun mengangguk dan tersenyum.


"Jadi, apa tujuanmu datang ke kantorku siang ini, Sayang?" tanya David sambil memeluk Rena. Mengubah topik pembicaraan mereka dan David tidak ingin membicarakan masalah Manda lagi.


"Aku membawakanmu makan siang," ujar Rena sambil tersenyum, dan pipi Rena pun mulai merona mengingat tujuan yang lainnya ia mendatangi David.

__ADS_1


"Benar, hanya itu saja?" tanya David sambil merendahkan wajahnya untuk melihat warna rona merah di pipi Istrinya itu.


"Iya Yang... sudah, jangan menggoda aku lagi." ujar Rena yang masih merasa malu di perhatikan oleh David. Untung saja mereka hanya berdua di dalam lift itu.


"Kamu nggak kangen sama aku, Yang?" tanya David lagi menggoda Rena


"Ya, kangen Yang...."jawab Rena sambil memukul dada bidang David pelan. Rena kesal karena David terus - terusan menggodanya


"Ah, yang benar nih?" tanya David sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rena.


Rena mengangguk sambil melirik ke arah David.


David pun sudah tidak tahan untuk mencium bibir Rena yang sangat mengundang itu. Ia pun sudah kangen pada candunya itu setelah dua hari tidak bertemu.


Rena yang merasakan hal yang sama. Membalas ciuman dari David dengan mesra. Ia menciumnya dengan dalam, menyatakan betapa ia juga sangat merindukan David.


Ting!


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya juga.

__ADS_1


__ADS_2