Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Lebih Dekat Dengan Kehidupan Baru


__ADS_3

"Maafkan Ibu tadi, ya?" ucapnya Kak Azril lirih, saat kami sudah sampai di rumahku.


"Tidak apa-apa, Kak. Em-m, soal tunangan kita. Baiknya mungkin, Kakak batalkan saja. Lalu menikahlah dengan Anuradha," ucapku merunduk.


Ada rasa sesak di dada. Bagaimana tidak? Laki-laki yang diam-diam kita kagumi datang meminang, dan saat rasa itu semakin kian menumbuh ... tiba-tiba datang badai mematahkannya, terhempas jauh!


"Himeka! Tatap mataku!"


"Aku Azril Musyary! Akan tetap menikahimu!" ucapnya penuh keyakinan.


"Soal Anuradha! Aku sama sekali tidak menyukai wanita sombong seperti dia! Sebelum Ibu mengatakan mau menjodohkanku dengannya, aku sudah memata-matainya. Dia terlalu angkuh! Dan aku khawatir bila sampai aku menikah dengannya, bisa-bisa aku diracuni olehnya," ucapnya santai memangku tangan di dada.


"Kak Azril! Yah, enggaklah. Kalau Kakak sudah nikah, mana mungkin dia mau bunuh suami sendiri."


"Ya kan, bisa saja. Himeka! Demi harta manusia bisa melakukan apa saja! Walau nyawa orang terkasih taruhannya, ngerti? Jadi jangan menyuruhku untuk membatalkan pernikahan kita." Aku jadi terharu Ya Allah. Makasih atas nikmat-Mu.


"Iya, Kak. Aku ngerti!" ucapku lirih.


"Besok aku ke sini lagi, ya. Mau tanya Ibu dan Bapak, kita nikahnya besok malam!" Apa! Secepat itu?


"Ke-kenapa cepat sekali, Kak?" tanyaku.


"Biar kamu tidak berubah pikiran lagi." Ya Tuhan! Sesantai itu dia!

__ADS_1


"Masuk dan istirahatlah, besok hari bahagia kamu!" perintahnya.


"Baiklah," ucapku lalu meninggalkannya masuk ke dalam rumah.


***


Rasanya aku sangat mengantuk, namun mata enggan menutup, 'pun kepalaku pusing memikirkan apa yang terjadi saat ini? Kenapa begitu mendadak?


Besok malam dia akan datang untuk menikahiku, bagaimana sekolahku? Sepertinya sudah sampai di sini pendidikanku.


Aku bangkit mengambil air wudhu lalu shalat istikharah, berharap semoga keputusanku ini tidak salah.


Setelah shalat aku tidur lalu terbangun saat mendengar, suara piring jatuh di dapur. Oh, sudah jam tiga. Aku bangkit lalu ke dapur melihat apa yang membuat piringnya terjatuh.


"Tadi ibu cuci piring terus tidak sengaja menyenggolnya," ujar Ibu sambil terus membersihkan belingnya.


Setelah membantu Ibu membersihkan beling, aku mengajaknya duduk di ruang tamu. Aku bermanja-manja dulu, sebelum mulai bicara. Setelah hari ini, aku tidak tahu kapan lagi bisa bermanja-manja bersamanya.


"Bu!" ucapku lirih.


Aku bahagia, bahagia banget. Namun, aku juga merasa sedih, karena akan meninggalkan Ibu dan Bapak. Semoga setelah menikah nanti Kak Azril mengizinkanku untuk pulang menemui Ibu dan Bapak.


"Iya, Nak!" jawab Ibu sambil mengelus kepalaku lembut.

__ADS_1


"Em-m, itu ...."


Aku mau bicara sulit banget. Kalau tidak bicara juga, Ibu dan Bapak pasti kaget besok. Melihat kedatangan Kak Azril dengan rombongannya.


"Ada apa, Himai?" tanya Ibu memegangi pundak dan menatapku.


"Em, Kak Azri besok ...." Ya Tuhan, kok susah banget sih?


"Kenapa, Nak Azril?" tanya Ibu tidak sabaran.


"Besok mau datang ... datang. Em, datang ...."


"Ya Allah, Nak! Datang, datang apa?" Ibu mulai kesal.


"Besok mau datang untuk nikahi, himai!" ucapku cepat seperti kilat.


"Apa? Coba ulang, Nak. Ibu tidak terlalu mendengarnya.


Ya Tuhan! Ibuku tersayang! Tidakkah kamu tahu, aku mengucapkannya dengan penuh tenaga juga keberanian. Lalu Ibu tidak mendengarnya. Kupukul jidatku pelan. Ya, iyalah pelan kalau keras nanti sakit.


"Cepat, Himai! Jangan membuat ibu penasaran!" desak Ibu.


"Besok, Kak Azril mau datang untuk nikahi, himai!" ucapku pelan.

__ADS_1


"Apa! Secepat itu?" tanya Ibu dengan mata melotot. Sebegitu kagetnya.


__ADS_2