Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Abian Dan David


__ADS_3

"Ren Ayo!" Panggil Gita saat mobil mereka telah sampai.


"Git, aku nggak ikut balik, kamu duluan aja," ujar Rena.


"Kamu yakin, Na? Nanti kamu pulang gimana?" tanya Gita.


"Gampang, kebetulan ada temanku di sini. Kamu duluan aja Git." ujar Rena sambil tersenyum.


"Oke kalau begitu, hati - hati ya, Na!" Ujar Gita sambil cipika cipiki dengan Rena.


Gita pun pergi meninggalkan Rena.


Rena menunggu David dan duduk di sebuah lobby dekat cofe shop di pelataran lobby gedung itu.


"Mbak Rena masih di sini?" tanya Abian yang tiba - tiba berdiri di depannya.


"Pak Abian? Iya Pak, saya masih menunggu teman," ujar Rena sambil tersenyum.


"Boleh saya duduk di sini, sementara teman Mbak Rena belum datang?" tanya Abian.


"Kebetulan semua tempat duduk sudah terisi penuh, tapi kalau Mbak Rena keberatan....." tambah Abian lagi.


Rena melihat ke sekeliling cofe shop itu dan memang saat itu semua meja telah terisi penuh dan hanya meja Rena yang masih tersisa satu bangku kosong.


"Silahkan Pak," jawab Rena.


Dan Abian pun duduk. Tak lama seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan Abian dan ia memesan segelas cofe latte.


Rena memperhatikan Abian, wajah Abian tampak mirip dengan seseorang yang ia kenal, tapi ia tidak ingat siapa.


"Suatu kebetulana hari ini kita sudah 3 kali bertemu secara tidak sengaja Mbak Rena," ujar Abian sebelum menyesap minumannya.


Rena tersenyum kemudian menjawab, " Sangat mungkin terjadi Pak Abian, anda kan berkantor di gedung ini dan saya mengunjungi gedung anda,"


Abian tertawa.


"Panggil saya Abian. Saya rasa usia kita tidak jauh berbeda, ya kan Rena?" ujar Abian lagi.


"Tetapi anda Wakil Direktur di sini Pak Abian, tidak mungkin saya memanggil anda hanya dengan nama," ujar Rena masih bersikap formal.


"Itu hanya jabatan Rena, saya lebih suka berbicara santai seperti ini;" ujar Abian sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan memanggil Abian," ujar Rena akhirnya. Ia pun merasa usia Abian tidak jauh berbeda darinya.


"Siapa yang kamu tunggu Rena? Saya harap bukan pacar kamu?" ujar Abian sambil menatap wajah Rena.


Sebuah mobil ferari merapat di lobby gedung itu dan David keluar dari kursi pengemudi. Ia menuju ke arah Rena yang duduk dengan Abian. David tidak melihat Abian karena ia duduk membelakanginya, dan tubuh Abian tertutup tanaman hias yang menghiasi coffe shop itu.


"Rena!" Panggil David sambil tersenyum.


David sangat senang akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis yang di rindukannya itu.


Rena menoleh saat David memanggilnya. Ia pun beranjak dan tersenyum saat melihat senyuman David mengembang di bibirnya.


Abian ikut menoleh dan berdiri, namun terkejut saat melihat pria yang di tunggu oleh Rena.


Begitu pula David, wajah David berubah saat ia melihat Abian.


Senyum menghilang dari wajah David dan ia memandang David dengan tatapan dingin.


"Apa kabar Kak?" ucap Abian pada David.


Rena terkejut. Kak? Bukankah David hanya mempunyai satu orang adik yaitu, Audrey.


"Aku bukan Kakakmu!" Ujar David dengan dingin.


Rena yang tidak tahu apa yang terjadi, mengikuti David masuk kedalam mobil Ferrari yang terparkir tak jauh dari mereka


Rena menoleh ke arah Abian saat mobil David mulai melaju dan Abian hanya tersenyum sambil memandang mobil David yang dalam sekejap menghilang ke belokan depan PT. HUBB.


Wajah David terlihat murung. Ia sama sekali tidak berbicara selama perjalanan. Dan Rena tidak berani menanyakan. Namun ia merasa ada sesuatu yang David tidak ceritakan malam itu saat mereka di rumah pantai. Apapun itu membuat David sangat terpukul.


Mereka sampai di depan sebuah gedung dan David menghentikan mobilnya di depan pintu masuk gedung itu. David terdiam. Tidak bergeming.


"Kalau kamu tidak ingin makan di sini, kita bisa cari tempat lain," ujar Rena sambil menyentuh pergelangan tangan David, untuk menarik perhatiannya dari apa pun yang ada di pikirannya saat itu.


David menoleh ke arah Rena, Rena benar ia memang tidak bernafsu untuk makan saat itu karena pertemuannya dengan Abian telah menghilangkan nafsu makannya. Walaupun begitu, Alvin telah membooking tempat di sana untuk mereka dan ia memang ingin mengajak Rena ke tempat itu.


"Hei, bagaimana kalau kita makan di tempatku? Aku yakin bisa memasakkan sesuatu untukmu," ujar Rena sambil tersenyum. Rena berpikir mungkin bisa membuat David lebih rileks dengan berada di apartemennya dan David bisa lebih leluasa untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Aku pasti senang sekali memakan masakanmu. Tapi Alvin telah membooking tempat untuk kita, dan aku ingin mengajakmu kesini. Bagaimana kalau kita makan di sini dan nanti malam kamu memasakkan aku masakanmu?" ujar David sambil tersenyum.


"Kamu yakin?" tanya Rena sambil memperhatikan mimik wajah David.

__ADS_1


"Ya, ayo kita keluar," jawab David sambil mengangguk.


David pun keluar dan begitu pula dengan Rena.


David menyerahkan kunci mobilnya pada Vallet Service dan menggandeng tangan Rena masuk ke dalam gedung.


Mereka menaiki lift menuju restoran di lantai gedung 10 itu.


"Selamat datang Pak David, mari Pak kami sudah siapkan tempat untuk Bapak," ucap seorang staf restoran sambil tersenyum ramah saat mereka memasuki restoran tersebut. Staf itu memandu mereka ke sebuah ruangan VIP.


Rena terkesima dengan indahnya interior ruangan restoran itu maupun pemandangan yang terhampar di depan mereka. Ruangan mereka menghadap ke jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan gedung - gedung pencakar langit di padu dengan birunya langit yang indah.


Rupanya suasana hati David pun ikut berubah saat memasuki ruangan itu, apalagi saat ia melihat senyum di wajah Rena.


"Mau pesan apa?" tanya David saat mereka telah duduk di kursi mereka.


"Yang enak di sini apa?" tanya Rena sambil melihat buku menu yang ada di hadapannya.


David kemudian menerangkan menu masakan Eropa yang ada di sana. Ia sudah kenal betul dengan menu - menu yang disajikan. David memang menyukai masakan di restoran itu dan itu sebabnya ia mengajak Rena kesana.


Akhirnya mereka memesan Truffle Pizza, Smoked Salmon dan Tasmanian Trout yang merupakan signature dish di restoran tersebut.


"Makanan ini enak sekali! Pantas saja harganya mahal," ujar Rena setelah mencicipi makanan yang ia pesan.


"Kamu suka?" tanya David sambil tersenyum melihat raut wajah Rena.


"Suka, tapi kalau harus mengeluarkan kocek sendiri, nanti dulu...." ujar Rena sambil tertawa mengingat harga makanan yang ia lihat di daftar menu tadi. Buat Rena sayang sekali mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk satu kali makan.


Walaupun dulu Alfaro adalah pengusaha sukses, tetapi Alfaro mendidik anak - anaknya untuk tetap sederhana. Dan gaya hidup seperti itu masih di terapkan oleh Rena dan juga Austin sampai sekarang.


"Buat aku, kalau aku suka sesuatu aku tidak perduli berapa pun biaya yang harus aku keluarkan," ujar David sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Kamu suka sekali dengan makanan itu?" tanya Rena sambil melirik makanan di atas piring di depan David.


Rena berpikir jika David sangat menyukai masakan di restoran itu, bagaimana ia akan memasak makanan untuknya nanti malam? Masakannya tidak ada apa - apanya di bandingkan masakan di restoran itu.


"Suka, tapi sejujurnya.....,"


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2