Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Kemarahan Aleta


__ADS_3

"Egois sekali aku," ucap Rena dalam batin yang menyadari keegoisannya tanpa memikirkan keinginan David


"Maafkan aku, Yang. Aku hanya merasa butuh sedikit waktu," ujar Rena sambil melingkarkan tangannya di leher David dan mendekatkan wajahnya.


"Aku yakin kamu akan siap saat kita mendapatkannya," ujar David sambil menyentuh hidung Rena dengan hidungnya. Dan mereka pun tersenyum satu sama lain.


David mencium bibir Rena beberapa kali untuk menggodanya membuat Rena tertawa lepas.


"I love you, Ren," ucap David tiba - tiba sambil memandang wajah Rena dengan tatapan sayang.


"I love you more," bibir Rena melafalkan kalimat itu tanpa bersuara.


David pun memagut bibir Rena yang ada di depannya tanpa ragu dan semakin lama semakin intens.


"Yang...., aku mau mandi dulu," ujar Rena yang merasa badannya sangat lengket terkena pasir dan udara pantai.


David menyeringai dan langsung mengangkat tubuh Rena dalam pelukkannya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.


"Yang, kamu mau apa?" tanya Rena dengan terkejut sambil melingkarkan kakinya di pinggang David, khawatir terjatuh.


"Mau mandi!" Jawab David sambil mendaratkan sebuah kecupan di bibir Rena.


"Kamu mau ikutan mandi?" tanya Rena yang melingkarkan tangannya makin erat, membalas ciuman David hingga mereka pun saling memagut dalam perjalanannya menuju ke kamar mandi.


David menurunkan Rena di tempat shower dan mereka saling melucuti pakaian satu sama lain dan mengatur suhunya untuk mereka.


"Sini sayang," panggil David sambil meraih tangan Rena dan membawanya ke bawah pancuran air.


Rena meraih tangan David dan berjalan dengan senyum menggoda. Apalagi ia melihat milik David yang sudah mengeras dan berdiri tegak.


Di bawah pancuran air David menyabuninya sekaligus mencium tubuhnya, membuat Rena mendesah oleh sentuhan David.


David memeluk Rena dari arah belakang, mencium telinga, leher dan pundak Rena, sementara tangan David bergerilya tidak hanya di kedua bukit kembar Rena, tetapi juga turun ke bawah dan memberikan banyak perhatian di sana, membuat Rena terbang ke langit ke tujuh.


"Kamu sudah siap, sayang," bisik David, kemudian membalikkan tubuh Rena menghadapnnya dan menyandarkkan Rena ke tembok kamar mandi. Kemudian David mengangkat salah satu kaki Rena melingkar di pinggangnya sebelum ia menancapkan miliknya ke arah milik Rena, membuat Rena memekik tertahan dan memegang erat bahu David, bersamaan dengan David melenguh nikmat, merasakan masih ketatnya milik Rena.

__ADS_1


David mulai bergerak sambil menyesap candunya berkali - kali di antara ******* dan lenguhan kenikmatan yang mereka berdua rasakan.


Tidak hanya membuat Rena bergetar hebat di sana, David pun membawa Rena kembali ke ranjang tanpa melepaskan penyatuan mereka. Ia merebahkan Rena di tepi ranjang dan menghujamnya berkali - kali sambil memegang kedua kaki Rena ke atas.


David membuat Rena mengalami pelepasan berkali - kali siang itu dengan berbagai macam posisi, sebelum ia sendiri mendapatkan pelepasannya dalam tempat hangat milik Rena yang meremas miliknya dengan sangat dahsyat.


Mereka berdua terkulai lemas di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Meredakan gejolak yang baru saja mereka rasakan bersama.


"Ya ampun, kalau tahu se enak ini, sudah dari dulu aku bilang 'Iya' " batin Rena pada dirinya sendiri sambil tersenyum geli.


David yang berbaring di sebelahnya pun memandang heran pada Rena yang tiba - tiba tersenyum sendiri.


"Kenapa kamu tiba - tiba tersenyum sendiri?" tanya David sambil berbaring menyamping menghadap Rena.


Rena menoleh padanya.


"Aku merasa rugi," jawab Rena sambil tersenyum geli.


"Rugi? Kamu menyesal menikah denganku?" tanya David dengan raut wajah yang berubah.


Kemudian Rena menoleh ke arah David kembali dan mendekatinya, bergulir di atas tubuh David.


"Aku merasa rugi, baru merasakannya sekarang," jawab Rena kemudian mengecup bibir David dengan bergairah.


Mendapatkan kecupan seperti itu, David pun kembali merasakan gairahnya bangkit dan akhirnya mereka melakukannya sekali lagi, membayar ganti rugi Rena.


Sementara itu di unit apartemennya, Aleta memegang surat pemberitahuan hasil Tes DNA Farhan di tangannya.


Tangannya bergetar hebat bahkan sebelum ia membuka amplop surat itu dan membacanya. Kemudian langsung di sobek - sobek surat itu sambil berteriak.


"AHHHHH SIAL!"


Aleta sangat marah karena David berinsiatif melakukan Tes DNA atas anaknya. Aleta yang sudah dari awal mengetahui jika Farhan adalah anak Varell merasa kecolongan. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mendapatkan David kembali dengan adanya Rena di sisi David. Aleta bahkan sudah melayangkan gugatan cerai pada Varell, karena ia ingin bersama kembali dengan David.


"Apa pun caranya aku harus mendapatkan David. Sebelum ia menikahi Rena!" Geram Aleta sambil meremas sisa surat hasil Tes DNA yang ada di tangannya.

__ADS_1


...********...


Aleta mendatangi kantor David siang itu. Ia sudah berdandan dengan sangat cantik, memakai baju terusan yang sedikit terbuka di bagian dadanya. Ia berniat menggoda David siang itu. Aleta bertekad untuk mendapatkan David kembali, apapun resikonya. Tanpa melapor pada petugas di lobby. Ia langsung menaiki lift ke lantai 60, tempat kantor CEO berada.


Di lantai 60, kantor itu terlihat sepi, hanya ada Ratih, Sekretaris David yang duduk di mejanya sedang mengetik sesuatu.


"Selamat pagi," sapa Aleta.


"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Ratih yang sedikit heran dengan kehadiran Aleta. Ya, tentu Ratih mengetahui siapa Aleta. Ia pun pernah mendengar desas - desus hubungan Bosnya itu dengan Aleta. Selain itu, Aleta adalah publik figur yang sudah di kenal oleh banyak orang.


"Saya mau bertemu dengan Bapak David? Apakah Bapak David ada di kantor?" tanya Aleta dengan sopan.


"Maaf Bu, tapi saat ini Pak David sedang tidak ada di kantor," jawab Ratih.


"Kira - kira Pak David kembali jam berapa ya?" tanya Aleta dengan nada kecewa karena tidak menemui David di kantornya.


"Maaf Bu, Pak David sedang cuti saat ini. Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya? Mungkin bisa di bantu oleh staf kami yang lainnya?" tanya Ratih dengan sopan.


Sedang cuti?


Aleta merasa heran mendengar David yang sedang cuti bekerja. Setahu dia, David adalah seorang yang workaholic, ia tidak akan cuti jika tidak ada sesuatu yang teramat penting. Sebenarnya ada apa? bantin Aleta terus bertanya - tanya.


"Cuti sampai kapan Mbak?" tanya Aleta ingin tahu.


"Beberapa hari, Bu. Mungkin sampai minggu depan. Ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya Ratih lagi.


Sampai minggu depan? Seperti bukan David? Pikir Aleta.


"Apa Pak David ada di rumahnya?" tanya Aleta lagi mengabaikan pertanyaan dari Ratih.


"Maaf Bu, saya tidak bisa memberikan informasi apapun," jawab Ratih, ia tidak di perbolehkan untuk membocorkan informasi mengenai pernikahan Rena dan David yang sedang berpergian berlibur bersama dengan istrinya.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2