
"Selamat pagi Alvin! Selamat pagi Jefri!" Sapa David dengan sangat ceria pagi itu.
Ia sangat bersemangat karena nanti malam ia akan makan malam bersama dengan Rena di rumahnya.
"Selamat pagi Pak," balas Alvin dan Jefri hampir bersamaan. Mereka berdua sangat terheran - heran dengan keceriaan Bosnya pagi itu.
"Jefri, jangan lupa siapkan bahan makanan. Apapun yang Rena minta harus kamu sediakan!" Titah David, entah sudah keberapa kalinya. Jefri tersenyum dan ia menjawab " Baik Pak,"
David duduk di meja makan dan mulai sarapan sambil mendengarkan penuturan Alvin untuk jadwalnya hari ini.
"Oke, jadi hari ini tidak terlalu padat ya," gumam David.
"Iya Pak," jawab Alvin.
"Alvin, tanyakan pada Gilang apakah ada berita mengenai Malvin Dirgantara dan bagaimana situasinya dan bilang padanya untuk tetap waspada menjaga Rena," perintah David pada Alvin.
"Baik Pak. Akan saya sampaikan," jawab Alvin.
__ADS_1
Keceriaan David tak berhenti hanya di rumah saja. Di kantornya pun ia banyak menyapa karyawannya dan tersenyum sepanjang waktu, bahkan karyawan yang mengenal dirinya dengan baik pun menjadi heran. Begitu pula Ratih, Sekretaris David pun di buat terheran - heran pada sikap Alexander David Mahendra hari itu.
Bagaimana caranya melamar Rena? Agar Rena mengatakan 'Ya'? Pikir David di ruang kantornya.
Ia baru saja selesai meeting dengan salah satu kliennya, dan saat itu ia mempunyai jadwal yang kosong selama satu jam sebelum makan siang. Biasanya ia akan melakukan pengecekan ulang atas laporan bawahannya atau mengecek flukultasi nilai saham perushaannya atau memfollow up opportunity kerja sama baru. Tapi pagi itu ia sepertinya malas melakukan itu semuanya.
Pikirannya teringat pada Adrena Clarissa Putri, pada hari pertama gadis itu menginjakkan kaki di ruangan kantornya. Ia teringat melihat Rena meraba - raba meja kerjanya dan melakukan sesuatu di bawah mejanya. Atau mungkin mencari sesuatu? David pun tidak yakin. Ia pun menjadi penasaran apa yang di lakukan oleh Rena pada hari itu.
Meja kayu itu memang sangat kokoh. David pun langsung jatuh hati dan sangat menyukai meja kayu itu saat pertama kali melihatnya. Oleh sebab itu, ia tetap menggunakan meja itu sebagai meja kerjanya dan tidak menggantinya dengan meja lain saat ia membeli gedung itu.
David pun meraba meja kerja di hadapannya. Tidak ada yang aneh, pikirnya. Ia kemudian mulai meraba - raba sisi - sisi meja yang berhadapan dengannya. Dan tidak menemukan apa pun yang janggal.
Tangan David mulai menjangkau bagian bawah dari meja. Ia ingat Rena sedang berjongkok hari itu dan sempat terantuk kepalanya saat ia menegurnya. Tiba - tiba saja tangan David merasakan sesuatu, beralur dan permukaan yang tidak rata, tidak seperti permukaan meja yang lainnya.
David pun berjongkok untuk memastikan apa yang di sentuhnya. Dengan menggunakan senter handphonenya ia bisa melihat dengan jelas dengan ukiran nama ' Austin dan Rena' di bagian bawah meja kayu itu.
David pun tersenyum menemukan apa yang di cari oleh Rena saat itu. Dan David pun baru saja menyadari jika meja kayu ini begitu istimewa dan menyimpan kenangan bahagia bagi Rena.
__ADS_1
...******...
"Bang, bisa aku ijin pulang sebentar?" tanya Rena pada Austin di ruang kerja Austin.
"Pulang? Jam segini? Ada sesuatu yang penting? Ada masalah?" tanya Austin sambil melirik jam tangannya. Saat itu baru pukul 09.30 pagi.Ia heran kenapa Rena ijin pulang pada saat itu.
"Nggak Bang, aku mau memasak makan siang," jawab Rena.
"Masak makan siang? Kan ada Bi Sumi? Abang juga tidak pernah meminta kamu untuk memasak makan siang, kita bisa beli atau makan di restoran saja, Ren?" tanya Austin yang makin heran.
"Bukan itu Bang. Rena mau.., masak buat David." jawab Rena malu - malu.
"Kamu... mau masak buat David? Memangnya David tidak mempunyai juru masak? Bukannya dia bisa beli makan siangnya? Kenapa harus kamu yang masak?" tanya Austin heran sambil melipat tangannya di depan dada.
Matanya penuh selidik. Jangan - jangan David memanfaatkan Rena selama ini untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumahnya! Batin Austin.
Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.