
David beranjak dari duduknya karena emosi yang teramat sangat.
"Tapi apa yang dia lakukan! Dia pergi! Dia pergi dengan laki - laki itu! Meninggalkan aku dan juga Audrey!" Ujar David.
Air mata mulai menetes di pelupuk mata David. Dan Rena pun langsung memeluknya dan menenangkannya.
Rena belum pernah melihat David menangis atau pun se emosional ini. Ia selalu tampak kuat, dominan dan arogan selama ini. Tapi malam ini, David benar - benar menangis. Mengingat kembali malam itu saat Mamanya pergi meninggalkannya dan David belum memaafkannya.
Rena memeluk David dan membiarkan David menangis. Ia dapat merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang di sayanginya.
Rena kehilangan Bundanya, bukan kehendak Bundanya untuk meninggalkannya dan Abang Austin, tapi karena Bundanya di panggil sang maha kuasa. Sedangkan Mama David pergi atas kemauannya sendiri. Rena dapat merasakan betapa pedih hati David saat itu.
Setelah tangis David mereda, Rena membimbing David untuk duduk di sofa kembali, dan mengambilkannya air untuk di minum.
"Aku berharap aku bisa memaafkannya seperti Audrey. Tetapi aku belum bisa, Ren. Berat bagiku," ujar David lagi. Rena mengangguk mengerti maksud David.
"Tidak apa, mungkin kamu masih membutuhkan waktu," ujar Rena.
"Mungkin kalau kamu mau mencoba membuka hatimu sedikit demi sedikit. Kamu akan mulai bisa menerimanya," ujar Rena lagi.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya David.
"Ikuti kata hatimu," ujar Rena.
__ADS_1
...****...
David terbangun pagi itu, ia sulit bergerak dengan leluasa. Saat ia membuka matanya, baru ia teringat apa yang terjadi tadi malam.
Di sampingnya Rena masih tertidur dengan pulasnya. Wajah Rena tepat di hadapannya dan tangannya tepat berada di dadanya. Sedangkan kaki Rena memeluknya seakan - akan tubuh David adalah sebuah guling.
David tersenyum memandangi wajah Rena yang tidur dengan polosnya. Walaupun tanpa memakai riasan apapun, ia terlihat sangat cantik.
Mereka berdua sedang tidur di atas sofa ruang tamu, apartemen Rena. David memang tidak pulang kerumahnya tadi malam, setelah kegelisahan dan emosi luar biasa yang di alaminya.
Setelah menceritakan ganjalannya selama ini di pendamnya terhadap Mamanya, David meminta Rena untuk memeluknya. Dan tanpa di sadari mereka berdua pun akhirnya tertidur di sofa.
David tidak ingin beranjak dan memanfaatkan waktu yang sangat langka itu, untuk mengamati wajah Rena, memindahkan anak - anak rambut Rena dari pelipis ke belakan telinga. Membuat David bisa memandangi wajah Rena dari dekat.
Kelopak mata Rena yang tertutup, bergerak - gerak dan bibirnya mengeluarkan suara pelan. Badan Rena ikut bergerak, bukannya menjauhi David, justru mendekat dan membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
Tak ayal David meraih bibir Rena dengan bibirnya dan menahan tulang rahang Rena dengan tangannya agar tetap di posisinya, sehingga ia bisa dengan leluasa menyesap candunya di pagi hari itu.
Rena tiba - tiba saja membelalakan matanya dan ia mendorong tubuh David. Akan tetapi posisi tubuh David ada di dekat sandaran sofa, sehingga justru tubuh Rena lah yang terdorong, dan menyebabkan ia terjatuh di karpet ruang tamu itu.
"Aduuh!" Teriak Rena, merasakan sakit di punggungnya.
"Yang, kamu nggak apa - apa?" tanya David sambil terburu - buru bangkit dan membantu Rena untuk bangun.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih?" tanya Rena sambil menatap wajah David.
"Aku cium kamu, Yang," jawab David sambil tersenyum puas. Ia pun mengulurkan tangannya dan menarik Rena dan bangun dari karpet.
"Sakit, Yang?" tanyanya penuh perhatian sambil memeriksa punggung Rena.
"Aku nggak apa - apa, cuma kaget saja," jawab Rena dengan wajah yang menghangat. Mengingat apa yang David lakukan baru saja. Rena merasa canggung, karena walaupun tertidur ia bisa merasakan efek yang luar biasa dari sentuhan bibir David terhadap tubuhnya.
"Jam berapa ini?" tanya Rena sambil menoleh ke arah jam dinding.
Rena terkejut dan langsung melompat dari duduknya saat melihat waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Aku telat!" Teriak Rena sambil berjalan cepat menuju ke kamarnya.
David tertawa tertahan melihat tingkah Rena.
David bahkan tidak mencari tahu, jam berapa saat ia bangun tadi. Fokus perhatiannya hanya tertuju pada wajah Rena yang tertidur pulas di sampingnya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1