
Gilang langsung melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi kepada David di kantornya.
"Kamu tahu siapa yang mengikuti mobilmu?" tanya David sambil duduk tegak di kursinya.
"Masih saya selidiki, Pak. Saya tidak begitu jelas melihat pelakunya, tetapi saya akan meminta anak buah saya untuk mengintai orang - orang Malvin dan akan lebih berhati - hati," ujar Gilang.
"Baik Gilang, tolong kamu jaga Rena dengan baik.Kalau perlu kamu kerahkan beberapa orangmu untuk ikut menjaganya dan segera laporkan pada saya begitu mendapatkan hasil," perintah David.
"Dan satu lagi Gilang, rahasiakan ini dari Rena. Aku tidak ingin dia menjadi takut dan khawatir," ujar David.
"Baik, Pak,"
Gilang pun langsung mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki hal ini, di mulai dari CCTV di luar apartemen Rena dan mengecek nomor mobil penguntitnya.
"Leo, adakah gerak - gerik mencurigakan dari Malvin Dirgantara dan anak buahnya?" tanya Gilang pada Leo, salah satu anak buahnya yang ia tugaskan secara khusus untuk memata - matai Malvin Dirgantara.
"Belum ada, Boss. Beberapa hari yang lalu memang ada perintah untuk mencari tahu siapa kekasih dari Alexander David Mahendra, tetapi belum ada pergerakan yang signifikan sampai saat ini," lapor Leo dari seberang telepon.
"Berarti Arka belum memberitahu Malvin Dirgantara tentang Rena," batin Gilang. Lalu siapa lagi orang yang mempunyai niatan untuk memata - matai Rena? Gilang pun sekarang harus bersabar menunggu laporan dari anak buahnya, sementara matanya memandang monitor CCTV di mejanya, menampilkan Rena sedang berbicara dengan rekannya Gita.
Rena yang sedang berbicara dengan Gita mengenai projek - projek mereka tiba - tiba mendapat telepon dari seseorang.
Ia tertegun melihat nama di layar telepon genggamnya, dan kemudian mengangkatnya.
"Selamat pagi," sapa Rena.
"Selamat pagi, Mbak Rena," sapa suara seorang perempuan dari sebrang telepon genggamnya.
"Iya Bu Andini, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Rena pada Ibu Andini yang meneleponnya.
"Maaf, kalau saya menganggu waktu, Mbak Rena. Kalau boleh saya ingin ketemu Mbak Rena siang ini?" tanya Ibu Andini.
"Kalau boleh tahu untuk keperluan apa ya, Bu?" tanya Rena dengan sopan.
__ADS_1
Gita yang ada di sebelahnya menunggu.Ia pun sempat melihat ID penelepon di telepon genggam Rena.
"Saya ingin berbicara pribadi dengan Mbak Rena, mengenai Bapak Alexander David Mahendra," ujar Ibu Andini setelah ia menghela nafas berat.
"Baik Bu Andini, saya ada waktu siang ini. Kita ketemuan di mana, Bu?"
Bu Andini pun akan menemui Rena di sebuah restoran yang tak jauh dari Mahendra Tower jam 11 dan Rena pun menyetujui.
"Ada apa, Na? Kenapa Ibu Andini meneleponmu?" tanya Gita dengan heran.
"Git, ada sesuatu yang ingin Ibu Andini bicarakan denganku, bukan masalah pekerjaan tetapi masalah pribadi," ujar Rena menerangkan. Ia tidak ingin Gita salah paham mengenai hubungannya dengan Ibu Andini, karena project PT. HUBB dari awal adalah project milik Gita, dan ia hanya membantu Gita saja.
"Ok. Apakah ada sesuatu masalah?" tanya Gita dengan khawatir.
"Tidak ada, hanya pembicaraan mengenai masa lalu saja. Jangan khawatir," ujar Rena dengan tersenyum.
"Aku harus pergi sekarang. Nanti setelah selesai makan siang kita pergi PT. Raksa ya, Git," ujar Rena mengingatkan akan janji temu mereka dengan klien baru PT. Raksa.
"Oke, hati - hati ya, Ren." ujar Gita.
Manda sudah memandangnya dengan sinis sejak dari awal mereka memasuki lift, hanya saja Manda tidak berkata apa - apa karena ada beberapa orang dari divisi lain yang berada di lift itu. Saat mencapai lantai 5, dan hanya mereka berdua yang ada di dalam lift, Manda kembali memulai aksinya.
"Upik Abu jaman sekarang pura - pura sok sibuk. Padahal kerjaannya hanya menggoda lelaki berduit saja!" Ujar Manda yang menyindir Rena.
Manda tidak menanggapi. Menurutnya tidak penting menanggapi omongan Manda, selain itu pikirannya masih fokus pada apa yang akan di bicarakan dengan Ibu Andini padanya. Dan mengapa Ibu Andini ingin mengajaknya berbicara mengenai Alexander David Mahendra?
"Rena, sebenarnya kamu peliharaan siapa sih? Baru dapat projek - projek kecil saja sudah belagu! Asal kamu tahu ya, di bagian marketing saya itu nomor satu, jadi kamu tidak ada apa - apanya di bandingkan saya!" Ujar Manda tak berhenti menyindir walaupun tidak di hiraukan oleh Rena.
"Manda, jangan ganggu saya! Lebih baik kamu fokus saja pada pekerjaanmu!" Ujar Rena yang mulai kesal dengan kata - kata Manda. Ia tidak suka dengan tuduhan Manda padanya. Meski pun ia kenal dekat dengan David. Tetapi Rena tidak pernah menerima fasilitas atau bantuan untuk masalah pekerjaannya dan projek - projeknya pada David. Semua pure ia lakukan bersama dengan Gita.
Manda hendak memukul Rena karena kesal dengan jawaban Rena, namun pintu lift terlanjur terbuka dan Gilang segera masuk ke dalam lift.
"Ada masalah, Mbak Rena?" tanya Gilang sambil memandang Manda.
"Tidak... tidak ada masalah Gilang," jawab Rena lalu melangkah ke luar lift, di ikuti oleh Gilang di belakangnya.
__ADS_1
Manda yang melihat Rena berjalan di kawal oleh Gilang masuk ke sebuah mobil mewah menjadi bertambah dongkol. Ia semakin yakin bahwa Rena adalah simpanan seseorang, dan ia sangat penasaran, siapa orangnya? Apakah salah satu manager di perusahaan itu?
Rena meminta Gilang untuk mengantarkannya ke hotel tempat pertemuannya dengan Ibu Andini dan Gilang pun selalu sangat waspada baik saat mengendarai mobil ataupun saat Rena bertemu dengan Ibu Andini di restoran hotel itu. Ia duduk tidak jauh dari meja Rena dan Ibu Andini.
Ibu Andini tersenyum dengan sangat ramah dan hangat saat melihat Rena memasuki restoran tempat janji temunya. Ia pun menyadari kehadiran Gilang. Dan ia yakin bahwa David lah yang telah menyediakan seorang bodyguard buat Rena.
"Apa kabar Ibu Andini?" sapa Rena saat bertemu dengannya.
"Baik Mbak Rena, Mbak Rena sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Ibu Andini.
"Saya baik - baik saja, Bu," jawab Rena dengan sopan.
Mereka pun duduk dan memesan minuman.
"Mbak Rena, saya meminta maaf jika sudah menganggu waktu Mbak Rena. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan secara pribadi," ujar Ibu Andini mengawali pembicaraan mereka.
"Tidak apa Bu, sebenarnya apa yang ingin Ibu bicarakan,"
"Saya tahu Mbak Rena dekat dengan Pak Alexander David Mahendra. Apakah Pak David pernah menceritakan sesuatu tentang saya?" tanya Ibu Andini sambil menatap wajah Rena.
Rena tersenyum.
"Semalam David menceritakan kepada saya," ujar Rena dengan jujur.
Ibu Andin tidak terkejut. Namun, ia tidak terkejut dan menarik nafas panjang.
"Jadi Mbak Rena sudah tahu siapa saya," ujar Ibu Andini sambil mencoba tersenyum. Dan Rena pun mengangguk.
"Apa yang David katakan mengenai saya?"
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1