
Rena akhirnya menginap di rumah David semalam, karena David tidak memperbolehkan Rena pulang.
Pagi itu Rena membenamkan tubuhnya di bathtub yang berisi air hangat dan bubble foam beraroma Vanila Marshmallow kesukaannya. Ia menyandarkan tubuhya di sandaran bathtub dan menggosok tubuhnya dengan foam yang lembut, membiarkan wangi tersebut menyerap ke dalam kulitnya.
Rena termenung memikirkan perkataan David tadi malam.
Kenapa David tiba - tiba menyebutkan nama asliku? Apa kami pernah bertemu sebelumnya di Albatros?
Rena berusaha keras mengingat di mana ia pernah bertemu dengan Alexander David Mahendra sebelumnya sehingga David bisa mempunyai niatan untuk menikahi Renatta Azaria?
Nama terakhir Renatta Azaria di pakainya saat ia berusia 16 tahun dan ia masih sekolah saat itu.
"Apakah David pernah satu sekolah denganku? Atau aku yang sudah benar - benar hilang ingatan sehingga tidak bisa mengingatnya?" batin Rena.
Rena sangat penasaran sekali dengan janji David yang mengatakan bahwa ia akan memberitahu alasanya mengapa ia ingin menikahi Renatta Azaria.
Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit untuk berendam. Akhirnya Rena membilas dirinya dengan air dan memakai baju kerjanya.
"Pagi sayang," sapa David pada Rena yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Pagi," jawab Rena sambil tersenyum.
Rena berjalan mendekati David yang sedang duduk di kursi makan.
"Duduk sini, Ren." ujar David sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Rena pun duduk di kursi itu, sementara Jefri menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Audrey mana Jefri?" tanya Rena menanyakan adik David yang juga tinggal di sana.
"Masih tidur, Mbak. Mungkin masih capek karena tadi malam pulang larut malam," jawab Jefri dan Rena pun mengangguk.
"Alvin, sudah kau atur kembali jadwalku untuk hari ini?" tanya David.
"Sudah Pak. Jadi semua jadwal akan di pindahin senin depan?" ujar Alvin.
"Kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Rena heran dengan jadwal David yang di rubah ke minggu depan.
"Hari ini aku mau ajak kamu bertemu Opa dan Omaku?"
"Oma dan Opamu datang hari ini?" tanya Rena.
"Tidak, kita yang akan mengujungi mereka," ujar David sambil tersenyum.
"Oke, dimana mereka tinggal?" tanya Rena ingin tahu.
"Di kota C . Kita akan naik mobil barumu ke sana," ujar David.
"Sama Eddy?
David menggeleng dan berkata, " Hanya kita berdua,"
__ADS_1
"Kamu yakin mau nyetir sendiri?" tanya Rena meyakinkan David.
"Ya. Apa kamu meragukan keahlian menyetirku?" tanya David sambil mengerutkan dahinya dan menatap Rena.
"Bukan, bukan itu. Maksudku, kamu kan sudah terbiasa ada yang menyetirkan dan ini perjalaan ke luar kota," ujar David.
"Hanya 2 - 3 jam perjalanan tidak masalah. Aku bahkan pernah lebih lama dari itu," jawab David.
"Oke, kalau itu maumu. Tapi aku harus minta izin Bu Zelda dulu," ujar Rena teringat pada pekerjaan kantornya.
"Ya tentu saja atau aku bisa meng ACCnya langsung," ujar David sambil mengerlingkan matanya.
"Tidak usah, aku akan menelfon Bu Zelda sendiri," ujar Rena. Walaupun Rena kekasih David, tetapi ia tidak mau menerima perlakuan istimewa dari hal pekerjaan.
"Kita berangkat nanti siang, pagi ini ada suatu hal yang harus aku kerjakan," ujar David sambil menoleh ke arah Rena dan Rena mengangguk.
"Dokter Bimantara sudah datang?" tanya David pada Alvin.
"Sudah dalam perjalanan, Pak." jawab Alvin.
"Siapa yang sakit?" tanya Rena.
"Tidak ada. Aku... aku ingin melakukan Tes DNA. Jadi, aku minta Dokter Bimantara untuk mengambil sample darah ku dan anak Aleta," terang David dengan santainya.
"Kamu sudah siap?" tanya Rena
"Aku? Aku siap. Apa kamu sudah siapa?" David balik bertanya.
"Kalau ternyata dia benar anakku. Apa kamu sudah siap untuk menerimanya?" tanya David dengan cueknya.
Uhukk..uhukk! Rena tersedak makanannya.
"Adu Yang, hati - hati makannya," ujar David dengan khawatir sambil mengambil segelas air putih.
Alvin dan Jefri yang melihat adegan itu menahan tawa. Bos mereka itu, kadang - kadang memang tidak berfikir kalau bertanya.
Rena meneguk air putih hingga habis, bukan hanya karena tersedak, namun juga terkejut karena pertanyaan David.
Rena melirik ke arah Alvin dan juga Jefri yang langsung berpura - pura sibuk mengerjakan hal lain.
"Maksud kamu apa?" tanya Rena dengan suara pelan kepada David setelah rasa terkejutnya itu mereda.
"Kalau kita menikah, apa kamu akan bisa menerima anak Aleta dan aku?" tanya David.
Rena memandangi wajah David. Bukankah David mengatakan ia hanya akan menikahi Renatta Azaria? Apa ia sudah tahu, kalau aku adalah Renatta Azaria?
"Jefri, Alvin. Bisa tinggalkan saya dan Pak David?" ujar Rena tanpa menoleh ke arah Jefri maupun Alvin.
"Baik Mbak," jawab Alvin dan Jefri hampir bersamaan.
__ADS_1
David menaikkan alisnya dan melipat tangannya di depan dada melihat sikap Rena yang mulai berani memerintah pekerjanya. Namun, ia diam saja menikmati pemandangan yang ada di hadapannya.
"Alexander David Mahendra, dari mana kamu bisa tahu kalau aku adalah Renatta Azaria?" tanya Rena langsung begitu Jefri dan Alvin meninggalkan ruang makan.
"Apa kamu benar Renatta Azaria?" David kembali balik bertanya.
"Jangan memutar balikkan pertanyaanku, jawab dari mana kamu tahu?" tanya Rena kesal, bukannya David menjawab Pertanyaannya malah balik bertanya.
"Apa yang tidak di ketahui oleh Alexander David Mahendra? Aku sudah pernah bilang padamu bukan, kalau aku akan mengetahui semua rahasia mu," ujar David sambil mencuri kecupan di pipi Rena.
"David, aku serius!" Ujar Rena, lagi - lagi David memanfaatkan kelengahannya untuk mencium pipinya.
"Panjang ceritanya, kalau aku harus menceritakannya semuanya. Yang pasti kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan membocorkan rahasiamu," ujar David.
"Kamu aman bersamaku," ujar David sambil tersenyum dan menggenggam tangan Rena.
"Siapa lagi yang tahu?" tanya Rena.
"Hmmm.... Alvin dan Gilang itu saja. Dan aku yakin mereka tidak akan membocorkan rahasiamu," ujar David berusaha meyakinkan Rena.
"Gilang? Tentu saja ia tahu," batin Rena.
"Rena, aku tahu kenapa kamu berganti identitas. Tapi, sekarang waktunya untuk membuka jati dirimu yang sebenarnya," ujar David.
"Aku tidak bisa," jawab Rena.
"Kenapa? Apa karena Malvin?" tanya David dan membuat ekspresi wajah Rena berubah.
"Kamu tidak perlu takut pada Malvin, kamu punya aku, sayang. Aku yang akan melindungimu," ujar David sambil memandang wajah Rena.
"Malvin tidak akan berani menyakitimu, atau dia akan tahu akibatnya!" Ujar David dengan tatapan tajam.
Tiba - tiba mata Rena menggenang.
"Kamu tidak tahu, dia... dia... sudah menghancurkan orang - orang yang aku sayangi.... Ayahku....dan Bundaku," ujar Rena sambil menerawang, mengingat kejadian 7 tahun yang lalu saat Ayahnya di bawa ke rumah sakit karena terkena serangan jantung setelah bertemu dengan Malvin.
Rena berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam - dalam, menahan air matanya.
"Bahkan, aku dan Abang Austin harus hidup terpisah dan jauh dari rumah orang tuaku. Dan yang paling menyakitkan, aku tidak ada saat Bundaku.... Bundaku.. menghembuskan nafas terakhirnya," ujar Rena akhirnya ia tidak dapat membendung air matanya.
"Sayang...." ucap David sambil memeluk Rena.
Rena yang sudah tidak dapat menahan perasaan sedihnya pun akhirnya menangis, meluapkan kesedihan yang di tahannya selama ini.
David memeluk Rena dan membiarkan gadis itu mengeluarkan apa yang di pendamnya selama ini.
"Kalau kamu mau, aku bisa membalaskan semua rasa sakit hatimu, Ren. Aku bisa menghancurkan Malvin. Yang kamu harus lakukan hanya meminta aku melakukan itu dan aku akan lakukan," ujar David.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya.