
Rena terbangun pagi itu, dan mendapati David masih tertidur di sampingnya, memeluknya. David tampak tertidur dengan lelap, dan Rena tidak sampai hati membangunkannya. Entah jam berapa David masuk ke dalam kamarnya dan tidur di sampingnya, Rena tidak ingat tetapi ia dapat merasakan kehadiran David tadi malam.
Perlahan di pindahkannya tangan David yang melingkar di pinggangnya dan ia pun beranjak dari ranjangnya perlahan, tidak ingin membangunkan David.
Rena melihat surat yang di titipkan oleh Ibu Andini tergeletak di meja nakas tak jauh dari tubuh David. Rena tersenyum mendapati surat itu yang sudah terbuka yang berarti David telah membacanya. Rena berharap David dapat berdamai dengan hatinya untuk membukakan pintu maaf bagi Ibu Andini.
Rena berjalan perlahan ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan rutinitas paginya, setelah itu ia mengambilkan satu set pakaian renang yang di ambilnya dari dalam lemari. Ia melihat pakaian renang model bikini itu.
Karena tidak ada pilihan lain lagi, Rena kemudian membawa bikini itu dan bathrobe yang ada di kamarnya. Ia berencana memakainya di ruang ganti dekat kolam renang. Ia akan berenang selama beberapa menit saja sebelum David benar - benar terbangun.
Untung saja area di kolam renang saat itu sedang sepi tidak ada orang lain sehingga Rena dengan leluasa bisa memakai bikini itu tanpa merasa risih.
Setelah berganti pakaian di ruang ganti yang telah di sediakan di dekat kolam renang. Rena pun langsung turun ke kolam renang yang awalnya terasa dingin namun setelah beberapa saat tubuhnya telah terbiasa dengan suhu air di dalam kolam tersebut.
Rena pun renang beberapa lap bolak - balik di kolam renang itu sambil menikmati suasana pagi yang masih sunyi.
Sekitar setengah jam kemudian, David terbangun dan mendapati dirinya hanya sendirian di kamar tidur Rena. David berharap ia bisa melihat wajah Rena lagi saat ia terbangun seperti kemarin saat mereka tidur di sofa dia partemen Rena.
David hendak beranjak dari ranjang saat matanya menangkap surat yang di tulis oleh Mamanya. Ia meraih surat itu dan melipatnya dengan rapi, kemudian mengantonginya.
Lagi - lagi ia bertemu dengan Jefri saat ia keluar dari kamar Rena.
"Selamat pagi, Pak." sapa Jefri terkejut melihat Bosnya tidur di kamar itu dengan cepat.
"Pagi Jefri, Rena mana?" tanyanya sambil matanya mencari Rena ke sekeliling ruangan.
"Mbak Rena sedang berenang, Pak," jawab Jefri yang sempat melihat Rena melompat masuk ke kolam renang setengah jam yang lalu.
"Berenang?"
"Iya Pak," jawab Jefri.
"Siapkan sarapan di dekat kolam renang saja kalau begitu," perintah David.
"Baik, Pak." jawab Jefri dengan patuh.
David berjalan ke kolam renang dan dari kejauhan melihat Rena sedang berenang bolak - balik dengan cepat.
__ADS_1
Belum sampai ke kolam renang, telefon genggam David berbunyi, dan ia melihat Gilang meneleponnya. David berhenti melangkah dan mengangkat telefon dari Gilang.
"Selamat pagi, Pak David," suara Gilang terdengar memberi salam.
"Pagi Gilang, ada apa?" tanya David langsung.
"Saya menemukan indentitas pelaku yang membuntuti Mbak Rena kemarin," ujar Gilang.
"Siapa dia? Dan siapa yang menyuruhnya?" tanya David ingin mengetahui siapa pelakunya.
"Namanya Bastian, dan dia bekerja pada Austin Leonard Alfaro," lapor Gilang.
Austin? Walaupun David merasa aneh Austin menyuruh seseorang untuk membuntuti Rena, tetapi ia tidak begitu khawatir lagi, karena ia yakin Austin tidak akan menyakiti Rena.
"Kamu tahu kenapa Austin melakukan itu?" tanya David.
"Mungkin ia hanya ingin melindungi adiknya saja, Pak." jawab Gilang.
"Austin sangat menyayangi Mbak Rena dan ia bukanlah ancaman," ujar Gilang memberikan pendapatnya.
"Oke Gilang, kerja bagus. Kalau ada hal lainnya langsung laporkan kepada saya," puji David.
"Terima kasih, Pak." jawab Gilang kemudian ia menutup percakapan telefonnya.
David meneruskan jalannya ke arah kolam renang dan duduk di salah satu kursi kayu di pinggir kolam renang. Ia pun memperhatikan Rena yang sedang berenang. Seketika ia tersenyum saat menyadari Rena memakai pakaian yang di pilihkan untuknya.
Dari sudut matanya Rena melihat David yang sedang duduk di salah satu kursi kayu di pinggir kolam. Rena pun mulai menghampiri.
"Yang, bisa ambil kan bathorebku?" pinta Rena dari dalam kolam renang.
Rena merasa risih jika harus keluar kolam dengan bikini yang hanya menutupi private part miliknya saja.
"Ambillah sendiri, Yang. Tidak terlalu jauh kok," jawab David yang sengaja tidak ingin mengambilkan bathrobe itu untuk Rena. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan melihat Rena memakai bikini itu.
Rena berdecak kesal karena David tidak ingin membantunya. Rena pun akhirnya beranjak dari dalam kolam renang dan menaiki tangga kolam renang dengan cepat. Di raihnya bathrobe yang hanya berjarak 2 meter dari pinggir kolam dan langsung memakainya.
Walaupun David bergerak cepat, namun David masih dapat melihat tubuh Rena yang hanya terbungkus dua helai bahan yang sangat minim itu. Manik mata David menggelap sesaat.
__ADS_1
"Sialan! Seandainya Rena sudah menjadi istrinya pasti akan langsung di lahapnya gadis itu!" Batin David yang sudah terpesona oleh kemolekan tubuh Rena.
"Halo, David to Earth!" Seru Audrey yang tiba - tiba saja datang dan melihat apa yang terjadi. Ia tersenyum geli melihat ekspresi wajah David yang memandang Rena dengan tak berkedip.
Rena yang tadinya canggung karena David melihatnya berpakaian minim pun ikut tersenyum geli di antara rona merah wajahnya.
"Siapa suruh tidak mau mengembalikkan bathrobe," batin Rena.
Rena pun duduk di dekat David, begitu pula Audrey.
"Segeralah kalian menikah, sebelum Kakakku ini menjadi buas," ujar Audrey meledek David dan juga Rena.
"Diamlah Audrey! Kamu ini memang merusak suasana saja," ujar David sambil berdecak.
"Mungkin Audrey benar, ia akan menjadi buas jika tidak ada Audrey di dekatnya saat ini," batin David menertawai dirinya sendiri.
Tak lama Jefri dan beberapa pelayan datang membawakan sarapan pagi untuk mereka dan mereka pun akhirnya sarapan di dekat kolam renang itu.
"Audrey, apa kau masih sering bertemu dengan Mama?" tanya David tiba - tiba.
Audrey tertegun dan begitu pula dengan Rona.
"Ya Kak, aku sering bertemu dengan Mama. Dia juga sering menanyakanmu," ujar Audrey..
"Aku ingin menemui Mama," ujar David sambil memandang Rena dan kemudian Audrey.
Rena tersenyum dan mengenggam erat tangan David.
"Apa kamu mau menemani?" tanyanya pada Audrey.
"Tentu saja, Kak." jawab Audrey dengan tersenyum. Ia kemudian memeluk Kakaknya dan mengeluarkan air mata bahagia.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1