Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Rumah Pantai


__ADS_3

Di apartemen penthouse milik Malvin Dirgantara, Darwin datang dengan memberikan laporan mengenai penyelidikannya.



"Darwin, apa yang kau temukan?" tanya Malvin pada asistennya itu di ruang kerjanya.


"Maaf Pak. Kami tidak bisa menemukan rekaman CCTV saat kejadian di gedung milik Ibu Mira. Sehingga kami tidak bisa memgetahui siapa yang telah melukai Ibu Mira." ujar Darwin memberikan laporan kepada Malvin.


"Bagaimana mungkin kamu tidak menemukan apapun! Cari sampai ketemu! Saya tidak peduli jika kamu harus menyapu bersih setiap orang bayaran di kota ini! Saya tidak membayar kamu untuk tidak menemukan apapun!" Ujar Malvin dengan marah.


Gilang memang sudah sangat profesional dalam bekerja. Sehingga, ia tidak akan meninggalkan jejak apapun, jika ia telah selesai melaksanakan tugasnya, dan hal ini tentu saja sangat merepotkan bagi Darwin.


"Ba... baik Pak," jawab Darwin takut dengan kemurkaan Malvin.


"Periksa semua klienku yang bermasalah, ini pasti salah satu ulah mereka!" Ujar David.


"Baik Pak. Saya juga akan memerintah Arka untuk menyisir orang - orang bayaran, jika mereka mengetahui siapa yang membayar untuk mencelakai Ibu Mira," ujar Darwin. Arka adalah salah satu anak buah Malvin yang mengerjakan berbagai dirty job baginya.


"Kerjakan malam ini, dan besok pagi laporkan kepada saya!" Ujar Malvin sambil menggebrak mejanya.


"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi,"ujar Darwin izin meninggalkan ruangan itu.


Malam itu pun Darwin langsung menghubungi Arka untuk menyisir orang - orang bayaran di kota B dan mencari informasi mengenai pemukulan Mira.


"Baik Pak Darwin, akan saya kerjakan!" Ujar Arka dengan suara yang keras.


Arka berpawakan tinggi besar dengan rambut gondrong dan bekas luka panjang di bagian pipinya. Ia memang terkenal tidak punya rasa takut dan siap melakukan apapun untuk menjalankan perintah Bosnya.


Malam itu juga Arka langsung mendatangi markas - markas preman dengan berpuluh - puluh anak buahnya.


Geng X dan Gambino Boys yang terkenal garang pun di datangi.


Bug!Bug!

__ADS_1


Dor!Dor!


Perkelahian tak dapat di hindari dan terjadi baku tembak di beberapa tempat di kota itu.


Namun Arka masih tidak mendapatkan sebuah nama yang bisa di kaitkan dengan pemukulan Mira.


Darwin tidak habis pikir, siapa orang yang berkuasa di kota itu yang bisa menutupi jejaknya dengan sangat rapi. Bahkan ia juga telah menyuruh Arka untuk mendatangi klien bisnis Bosnya yang bermasalah. Namun, sepertinya bukan mereka karena mereka tidak cukup berkuasa untuk menghilangkan jejak dengan begitu rapinya.


Dan ia melirik pada beberapa orang penting di kota itu yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk berbuat hal itu. Selain beberapa pejabat di kota itu, ia pun telah membuat beberapa list pengusaha yang sangat berkuasa, diantaranya ada Alexander David Mahendra. Ia berada di urutan paling atas dalam listnya, tetapi ia ragu. Karena, Bosnya tidak pernah bersinggungan dengan Alexander David Mahendra, kecuali baru - baru ini untuk urusan bisnis yang tidak bermasalah. Darwin benar - benar di buat pusing malam itu.


******


Mereka berdua kini turun dari lift dan menuju keparkiran tempat dimana sebuah mobil Hypercar berwarna silver terparkir di sana.


"Na, apa kamu mau menyetir?" tanya David, sambil menawarkan kunci mobilnya. Tentu saja David hanya menggoda Rena.



David tertawa dan membukakan pintu penumpang bagi Rena. Ia pun masuk ke kursi pengemudi, setelah menutup pintu mobil Rena.


David mengendarai mobilnya menyusuri jalan yang padat, masuk ke dalam jalan bebas hambatan dan melajukan mobilnya melewati pinggiran kota B.


"Kita mau kemana?" tanya Rena heran, karena perjalanan mereka cukup jauh dan hari pun sudah malam.


"Kamu akan lihat," jawab David sambil tersenyum.


Sekitar 30 menit kemudian, mereka sampai di daerah pantai, dan mobil David memasuki sebuah gerbang, yang langsung di buka begitu mobil mereka mendekat. Penjaga yang ada di sana memberi hormat dan membiarkan mobil David masuk.


Rena menatap keluar jendela, memandangi rumah pantai yang tidak terlalu besar dengan eksterior kayu mendominsai bangunan itu, bahkan beranda dan pagar terasnya terbuat dari kayu. Mobil David berhenti di depannya.


"Di mana kita Pak?" tanya Rena heran, karena ia belum pernah ke tempat itu, dan juga tidak mengerti mengapa David kini mengajaknya kesana.


Dan lagi - lagi Rena lupa memanggil David dengan sebutan Pak! Rena tidak menyadarinya sampai bibir David kembali menyentuh bibirnya. Rona merah kembali menghiasi pipi halus Rena.

__ADS_1


"Ucapkan terus dan aku akan sangat senang sekali untuk mencumbumu sepanjang malam," ucap David tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apa maksudya sepanjang malam?" batin Rena yang masih merasakan sisa kecupan dari bibirnya David.


"Ayo!" Ajak David sambil membuka pintu mobilnya. Rena pun mengikutinya dan memasuki rumah pantai itu.


Walaupun tidak terlalu besar, tetapi interiornya terlihat sangat mewah, dengan ukiran perabotan dari kayu yang terawat.


Rena mengitari ruangan luas tanpa sekat dan memperhatikan foto - foto yang tergantung di salah satu sisi tembok.


Sebagian besar adalah foto - foto dua orang dewasa dan dua orang anak. Rena dapat mengenali foto anak laki - laki yang ada di sana adalah David, dan yang satu lagi Rena bisa menebak itu adalah Audrey, adik David. Rena sama sekali belum pernah bertemu dengan Audrey, tetapi ia memiliki mata yang sama dengan David.


Dan dua orang dewasa yang ada di sana, kelihatannya bukanlah kedua orang tua David, karena mereka terlihat lebih tua dari pada usia orang tua David yang sesungguhnya.


Rena mengerutkan keningnya, memandangi kedua orang tua yang ada di foto itu. Ia seperti pernah bertemu dengan mereka , tapi dimana?


David yang datang dari dapur membawa dua buah gelas, 1 botol jus jeruk dingin dan 1 buahan kemasan keripik, berhenti dan berdiri di belakang Rena.


"Mereka keluargaku dan kamu akan menemui mereka minggu depan." ujar David kemudian mengecup pipi Rena dari belakang.


Ah, si songong ini selalu saja menacari kesempatan! Gerutu Rena yang sering sekali lengah dan memberikan kesempatan bagi David menciumnya berkali - kali.


"Ayo!" Ajak David sambil berjalan mengajak Rena, sambil berjalan menuju sebuah pintu yang terbuat dari kaca. Dari tempatnya berdiri, Rena dapat melihat, apa yang ada di balik pintu kaca itu. Sebuah kolam renang dan jacuzzi, di kelilingi oleh dek kayu dan beberapa sofa yang terlihat sangat nyaman berada di pinggirnya. Dengan atap langit dan pemandangan laut di depannya. Siapapun, akan senang menghabiskan waktu di sana.


"Tolong buka pintunya sayang," ujar David sambil meminta Rena untuk membukakan pintu, karena tangannya penuh dengan makanan dan minuman yang di bawanya dari dapur.


Rena pun langsung membuka pintu, yang menghubungkan mereka dengan area kolam renang dan hembusan angin laut yang langsung menyentuh kulit mereka.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2